Perang Tani di Jerman ( 1 )

Engels (1850)

Para Pelopor: Pemberontakan Petani, 1475-1517

Kira-kira lima puluh tahun setelah ditindasnya gerakan Hussite, gejala-gejala pertama dari mulai tumbuhnya semangat revolusioner itu tampak nyata di kalangan para petani Jerman.

Persekongkolan pertama dari para petani itu mulai muncul dalam tahun 1476, di daerah keuskupan Wuerzburg, yaitu sebuah daerah yang sudah menjadi miskin “akibat pemerintahan yang buruk, pajak yang berlipat ganda, berbagai macam pembayaran, dendam kesumat, permusuhan, perang, kebakaran, pembunuhan, penjara, dsb.,” dan senantiasa dijarah oleh para uskup, pejabat gereja, dan kaum bangsawan, dengan cara yang tidak kenal malu. Ahli musik, yang juga seorang penggembala yang masih muda, Hans Boeheim dari Niklashausen, yang disebut pula “Pemukul Genderang” atau “Hans si Peniup Seruling”, tiba-tiba muncul di Taubergrund dalam peranannya sebagai seorang nabi. Ia menceritakan bahwa Perawan Suci telah menampakkan dirinya kepadanya dalam penglihatannya, bahwa Perawan Suci memerintahkan kepadanya untuk memukul genderangnya hingga berdengung, untuk berhenti melayani dansa maupun kepuasan indera lainnya yang mengandung dosa, dan mendesak orang untuk melakukan penebusan dosa. Oleh karena itu, katanya, semua orang harus mensucikan diri dari dosa dan nafsu duniawi yang sia-sia, meninggalkan semua hiasan dan perhiasan, serta pergi berziarah ke Madonna dari Niklashausen untuk memperoleh pengampunan.

Sudah ada di antara tanda-tanda dari gerakan ini, yang dapat kita amati, yaitu adanya asketisme, yang juga dapat dijumpai dalam semua pemberontakan di jaman pertengahan, yang diwarnai dengan warna agama, dan juga di jaman modern, pada awal setiap gerakan proletar. (Asketisme = pertarakan, perihal hidup seperti pertapa; atau kesederhanaan dan kerelaan untuk berkorban.) Kesederhanaan peri laku, dan kekerasan hati untuk melepaskan semua kesenangan hidup, dengan prinsip persamaan Sparta ini, berlawanan dengan kelas-kelas yang berkuasa. Meskipun demikian, ini merupakan tahap transisi yang diperlukan, karena tanpa tahap ini, lapisan masyarakat yang paling bawah tidak akan pernah dapat memulai suatu gerakan. Untuk mengembangkan energi yang revolusioner, untuk menjadi sadar akan posisi mereka sendiri yang bermusuhan dengan semua unsur lainnya dalam masyarakat, untuk memusatkan diri sebagai suatu kelas, lapisan masyarakat yang paling bawah ini harus dimulai dengan melepaskan diri mereka sendiri dari segala sesuatu yang dapat mendamaikan diri mereka dengan sistem yang ada dalam masyarakat. Mereka harus meninggalkan semua kesenangan yang hanya akan membuat posisi mereka tunduk terhadap tekanan yang paling kecil sekali pun, sehingga dengan demikian, tekanan yang paling keras sekali pun tidak akan dapat menghalang-halangi mereka.

Baik berdasarkan bentuk fanatiknya yang liar maupun berdasarkan isinya, asketisme kaum plebeian dan kaum proletar ini berbeda jauh dengan asketisme kelas menengah seperti yang dikhotbahkan oleh moralitas Lutheran kelas menengah maupun oleh kaum Puritan Inggris (untuk dibedakan dengan sekte-sekte yang merdeka dan berjangkauan lebih jauh), yang rahasia seluruhnya merupakan kehematan dari kelas menengah. Sangat jelaslah bahwa asketisme kaum plebeian dan kaum proletar ini akan kehilangan watak revolusionernya ketika perkembangan tenaga produktif modern meningkatkan jumlah komoditinya, sehingga menyebabkan persamaan Sparta itu menjadi berlimpah, dan sebaliknya posisi yang sebenarnya dari proletariat di dalam masyarakat, dengan demikian justru semakin lama menjadi semakin revolusioner. Secara berangsur-angsur, asketisme ini menghilang dari kalangan massa. Di antara sekte-sekte yang masih mampu mempertahankannya, kebanyakan akan mengalami kemerosotan sehingga berubah menjadi penghematan borjuis atau menjadi kebajikan bernada tinggi yang, pada akhirnya, menjadi tidak lebih daripada kekikiran tukang dan serikat sekerja maupun Filistin. Lagi pula, pelepasan terhadap kesenangan-kesenangn tidak harus dikhotbahkan kepada proletariat karena alasan yang sederhana, mereka nyaris tidak punya apa-apa untuk dilepaskan.

Seruan Hans si Peniup Seruling untuk menyesali dosanya itu ternyata mendapatkan sambutan yang sangat besar. Semua nabi yang memimpin pemberontakan itu memulainya dengan seruan untuk melawan perbuatan dosa, karena, dalam kenyataannya, hanya upaya dengan kekerasan saja, seperti pelepasan secara mendadak terhadap semua bentuk kebiasaan yang ada, akan dapat mendatangkan gerakan yang menyatu dari generasi petani yang terpencar-pencar di daerah yang sangat luas, tidak bersatu, dan dibesarkan dalam penyerahan diri secara membabi buta kepada penguasa. Pergi berziarah ke Niklashausen mulai dilakukan orang dan dengan cepat meningkat, sehingga semakin besar massa rakyat yang bergabung dalam arak-arakan itu, semakin terbuka pula pemberontak muda itu mengumumkan rencana-rencananya. Madonna dari Niklashausen, katanya, telah mengumumkan kepadanya bahwa mulai sekarang seharusnya tidak ada lagi raja maupun pangeran, tidak ada lagi paus maupun penguasa lainnya, baik penguasa awam maupun penguasa gereja. Setiap orang seharusnya menjadi saudara bagi yang lainnya, dan mencari nafkah dengan kerja keras dari tangannya sendiri, dengan memiliki tidak lebih daripada yang dimiliki tetangganya. Semua pajak, sewa tanah, pajak hamba, pajak jalan, pajak kelahiran, dan pembayaran-pembayaran lainnya haruslah dihapuskan untuk selama-lamanya. Hutan, air, dan padang rumput, semuanya itu haruslah bebas di mana-mana.

Rakyat menerima kitab Injil baru ini dengan suka cita. Ketenaran nabi, dan “pesan dari Bunda” ini, tersebar di mana-mana, bahkan sampai ke tempat-tempat yang jauh. Rombongan orang yang banyak sekali dari para peziarah datang dari odenwald, dari Main, dari Kocher dan Jaxt, bahkan dari Bavaria dan Suabia, dan dari Rhine. Mukjizat yang katanya telah ditunjukkan oleh si Peniup Seruling pun diceritakan; orang-orang berjongkok di depan nabi, berdoa kepadanya seperti kepada seorang suci, orang-orang berebut untuk mendapatkan secarik kain kecil dari topinya untuk disimpan sebagai jimat atau relik. (Relik = jimat, pusaka, bagian tubuh atau pakaian orang suci yang disimpan setelah meninggal.) Dengan sia-sia, para pastor memeranginya, dengan tuduhan bahwa penglihatannya tentang Perawan Suci itu hanyalah khayalan setan dan mukjizat-mukjizatnya juga hanya tipuan neraka saja. Tetapi massa yang percaya terus meningkat secara luar biasa. Sehingga sekte revolusioner ini mulai mengorganisasikan diri. Khotbah hari Minggu dari penggembala pemberontak ini membuat lebih dari 40.000 orang tertarik untuk datang ke Niklashausen.

Selama beberapa bulan, Hans si Peniup Seruling berkhotbah di depan massanya. Meskipun demikian, ia tidak berniat untuk membatasi diri hanya berkhotbah. Ia secara sembunyi-sembunyi berhubungan dengan pastor Niklashausen dan dengan dua orang ksatria, Kunz dari Thunfeld dan putranya, yang menerima kitab Injil baru itu dan dipilih sebagai pimpinan militer dari pemberontakan yang telah direncanakan. Akhirnya, pada hari Minggu sebelum hari St. Kilian, ketika penggembala itu percaya bahwa kekuatan cukup kuat, maka ia pun memberikan tanda. Ia menutup khotbahnya dengan kata-kata berikut: “Dan sekarang pulanglah, dan pertimbangkanlah dalam pikiran kalian tentang apakah yang telah disampaikan oleh Perawan Suci kepada kalian, dan pada hari Sabtu mendatang, tinggalkanlah istri dan anak-anak serta orang yang lanjut usia di rumah, kecuali kalian, yang lelaki, kembalilah ke mari ke Niklashausen pada hari St. Margaret, yaitu hari Sabtu yang akan datang, dan bawalah dengan kalian, saudara-saudara kalian yang lelaki, dan teman-teman kalian yang lelaki, sebanyak mungkin. Janganlah datang dengan tongkat peziarah, tetapi lindungilah diri kalian dengan senjata dan amunisi, satu tangan membawa lilin, tangan yang lain membawa pedang dan tombak atau kapak, dan Perawan Suci kemudian akan mengumumkan kepada kalian apa yang ia inginkan untuk kalian kerjakan.” Tetapi sebelum para petani datang dalam kumpulan massa yang besar, pasukan penunggang kuda dari uskup menangkap secara tiba-tiba nabi pemberontak itu pada mlam hari, dan membawanya ke istana Wuerzburg. Pada hari yang ditentukan, 34.000 petani bersenjata muncul, tetapi berita itu mempunyai pengaruh yang menjatuhkan semangat pada massa petani yang banyak itu; sebagian terbesar dari mereka pulang ke rumah, sedangkan yang telah terbakar semangatnya tetap menahan sekitar 16.000 orang, dan dengan massa petani sebanyak ini, mereka bergerak ke istana di bawah pimpinan Kunz dari Thunfeld dan anak lelakinya Michael. Sementara itu, uskup, dengan memberikan janji-janji, membujuk mereka untuk pulang ke rumah, tetapi begitu mereka mulai bubar, maka mereka pun segera diserang oleh pasukan penunggang kuda dari uskup, dan banyak dari mereka yang dipenjara. Dua orang dipenggal kepalanya, dan Hans si Peniup Seruling dibakar. Kunz dari Thunfeld melarikan diri, dan baru diperbolehkan kembali dengan harga penyerahan semua tanah miliknya ke biara. Perjalanan berziarah ke Niklashausen berlanjut terus selama beberapa waktu, tetapi akhirnya ditindas juga. Setelah upaya pertama ini, Jerman tetap tenang selama beberapa waktu, tetapi pada akhir abad itu, pemberontakan-pemberontakan dan persekongkolan kaum petani senantiasa muncul lagi.

Kita akan melewati pemberontakan petani Belanda tahun 1491 dan 1942 yang ditindas oleh Pangeran Albrecht dari Saxon dalam pertempuran di dekat Heemskerk; juga pemberontakan petani di daerah kekuasaan biara Kempten di Subia Hulu yang terjadi secara serentak, dan pemberontakan pimpinan Shaard Ahlva dari Friesland sekitar tahun 1497, yang juga ditindas oleh Pangeran Albrecht dari Saxon. Pemberontakan- pemberontakan ini kebanyakan terlalu jauh dari adegan Perang Tani yang sebenarnya. Sebagian dari pemberontakan ini merupakan perjuangan dari para petani yang sampai pada waktu itu masih merdeka dan yang melawan upaya untuk memaksakan feodalisme kepada mereka. Sekarang kita melewati dua persekongkolan besar yang mempersiapkan diri untuk Perang Tani: yaitu, Serikat Sepatu dan Konrad Miskin.

Naiknya harga komoditi yang menimbulkan pemberontakan petani di Belanda, ternyata menyebabkan, pada tahun 1493, di Alsace, munculnya perkumpulan rahasia para petani dan kaum plebeian dengan sedikit partai oposisi kelas menengah di sana-sini; dan sejumlah tertentu simpatisan yang bahkan juga ada di kalangan kaum bangsawan rendahan. Kedudukan perkumpulan ini ada di daerah Schlettstadt, Sulz, Dambach, Rossheim, Scherweiler, dsb. Para anggota komplotan ini menuntut penjarahan (penyitaan) dan pemusnahan orang-orang Yahudi, yang praktek lintah daratnya pada waktu itu, seperti sekarang, mengisap darah para petani Alsace, perkenalan tahun peringatan untuk menghapuskan semua utang, penghilangan pajak maupun beban berat lainnya, penghilangan istana gereja maupun istana (kaisar) Rottweil, hak menyetujui (atau menolak) pajak, pengurangan pendapatan pastor-pastor pada gajinya antara lima puluh sampai enam puluh gulden, penghilangan pengakuan dosa yang diucapkan, dan pendirian pengadilan masyarakat yang dipilih oleh masyarakat itu sendiri. Para anggota komplotan ini merencanakan, begitu mereka telah menjadi cukup kuat, untuk melumpuhkan kubu Schlettstadt, untuk menyita kekayaan biara dan kota, dan dari sana membangkitkan pemberontakan di seluruh Alsace. Panji-panji yang dikibarkan dari perkumpulan ini pada pemberontakan waktu itu, berupa sepatu petani dengan tali kulit panjang, yang disebut Serikat Sepatu, yang sekaligus memberikan symbol dan nama pada komplotan para petani ini selama dua puluh tahun berikutnya.

Para anggota komplotan ini mengadakan pertemuan-pertemuan mereka pada malam hari di Hungerberg yang sepi. Keanggotaan serikat dihubungkan dengan upacara yang paling misterius dengan ancaman hukuman yang paling keras terhadap para pengkhianatnya. Meskipun demikian, gerakan ini akhirnya menjadi terkenal juga kira-kira pada Pekan Paskah tahun 1493, yaitu saat yang ditentukan untuk menyerang Schlettstadt. Para penguasa pun segera campur tangan. Banyak dari para anggota komplotan ini yang ditangkap dan disiksa, untuk dipotong-potong atau dipenggal kepalanya. Banyak yang dilumpuhkan dengan memotong tangan dan jarinya, dan diusir dari negeri ini. Banyak dari mereka yang lari ke Swiss. Meskipun demikian, Serikat Sepatu jauh dari punah dan terus melanjutkan keberadaannya secara rahasia. Banyak yang dibuang ke luar negeri ini, yang tersebar di Swiss dan Jerman selatan, justru menjadi utusan. Karena di mana-mana ada penindasan yang sama dan kecenderungan yang sama pula untuk memberontak, maka mereka pun menyebarkan Serikat Sepatu di seluruh kawasan yang sekarang ini disebut daerah Baden. Yang luar biasa mengagumkannya adalah kegigihan dan ketahanan para petani Jerman hulu ini bersekongkol selama tiga puluh tahun setelah tahun 1493, sehingga mereka dapat mengatasi berbagai rintangan itu dengan organisasi yang semakin disentralisasikan meskipun dalam kenyataannya mereka tinggal terpencar di daerah pedesaan yang sangat luas, dan berkat organisasi itu, walaupun telah tak terhitung banyaknya pemimpin yang bubar, kalah, dihukum mati, dsb., namun mereka senantiasa dapat memperbaharui persekongkolan mereka berulang kali tanpa henti, sampai suatu kesempatan tiba untuk melakukan pemberontakan secara massal.

Dalam tahun 1502, keuskupan Speyer, yang pada waktu itu juga mencakup daerah Bruchsal, menunjukkan tanda-tanda adanya gerakan rahasia di kalangan petani. Ternyata di sini, Serikat Sepatu telah mengorganisasi diri dengan sukses yang luar biasa. Kira-kira 7.000 orang menjadi anggota organisasi ini, yang pusatnya di Untergrombach, di antara Bruchsal dan Weingarten, dan yang jaringannya menjangkau kawasan dari Rhine sampai ke Main, dan terus ke Margraviate di Baden. Tulisan-tulisannya mencakup: Hapuskan pajak tanah, pungutan hasil panen, pajak jalan atau pajak apa pun yang harus dibayar kepada para pangeran, kaum bangsawan, atau pejabat gereja; perhambaan harus dihapuskan; biara dan tanah milik gereja lainnya harus disita dan dibagi untuk rakyat, dan tidak ada lagi penguasa lainnya yang diakui selain kaisar.

Kita mendapatkan di sini untuk pertama kalinya dua tuntuan yang dinyatakan di kalangan petani guna mensekulerkan tanah milik gereja untuk kepentingan rakyat dan untuk kepentingan Jerman bersatu dan tidak terpecah yang sejak saat itu akan secara teratur dapat dijumpai dalam faksi yang lebih maju dari para petani dan kaum plebeian. (Mensekulerkan = menggunakan sesuatu untuk kepentingan duniawi.)

Dalam program Thomas Muenzer, pembagian tanah milik gereja diubah bentuknya menjadi penyitaan untuk kepentingan umum, dan kekaisaran Jerman bersatu, menjadi republik yang bersatu dan tidak terpecah.

Serikat Sepatu yang diperbaharui, seperti juga halnya dengan yang lama, mempunyai tempat-tempat pertemuan rahasia, sumpah diam, upacara penerimaan anggota baru, dan panji-panji serikat dengan tulisan, “Tidak ada keadilan, selain keadilan Tuhan.” Rencana aksinya serupa dengan serikat di Alsace. Bruchsal, yang merupakan tempat tinggal mayoritas penduduk yang menjadi anggota serikat, harus dilumpuhkan. Tentara serikat harus dibentuk dan dikirimkan ke kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya sebagai titikpusat-titikpusat gerakan.

Rencana ini dibocorkan oleh seorang pejabat gereja yang mendengar rencana itu diungkapkan oleh salah seorang anggota komplotan di tempat pengakuan dosa di gereja di mana seorang pastor duduk mendengarkan pengakuan dosa dari orang tersebut. Sehingga pemerintah pun segera mulai melakukan aksi untuk mendahului aksi mereka. Tentang betapa luasnya serikat ini jadinya, tampak dari terror yang dilakukannya untuk merebut tanah-tanah milik kaisar di Alsace dan Suabia. Tentara kaisar dikerahkan, dan penangkapan massal pun dilakukan. Kaisar Maximilian, “tokoh terakhir dari para ksatria”, mengeluarkan dekrit hukuman yang paling berlumuran darah terhadap perbuatan para petani ini. Kerumunan banyak petani berkumpul di sana-sini, dan perlawanan bersenjata dilakukan, tetapi pasukan petani yang terpencil ini tidak mampu bertahan untuk waktu yang lama. Sebagian dari para anggota komplotan dihukum mati dan banyak lainnya yang melarikan diri, tetapi kerahasiaan begitu bagus terjaga sehingga kebanyakan, termasuk juga para pemimpinnya, masih tetap tak tersentuh di tempat tinggal mereka sendiri, atau di daerah-daerah tetangganya.

Setelah mengalami kekalahan lagi, dalam jangka waktu yang lama tampaknya tidak ada perjuangan kelas. Meskipun demikian, perjuangan itu sebenarnya terus berlanjut di bawah tanah. Pada awal tahun-tahun pertama di abad ke-16, Konrad Miskin telah terbentuk di Suabia, yang tampaknya mempunyai pertalian dengan para anggota Serikat Sepatu yang terpencar-pencar. Di Rimba Hitam, Serikat Sepatu terus melanjutkan lingkaran-lingkaran terpencilnya sampai, sepuluh tahun kemudian, seorang pemimpin petani yang penuh energi berhasil menyatukan berbagai benang penghubung itu dan menggabungkan mereka ke dalam sebuah persekongkolan besar. Kedua persekongkolan ini menjadi memasyarakat, di mana yang satu muncul setelah yang lainnya, dalam tahun-tahun yang penuh keresahan dari tahun 1513 sampai 1515, di mana para petani Swiss, Hongaria dan Slovenia melakukan serangkaian pemberontakan yang cukup penting.

Tokoh yang menghidupkan kembali Serikat Sepatu di Rhine Hulu adalah Joss Fritz dari Untergrombach, seorang pelarian dari persekongkolan tahun 1502, yang juga bekas tentara, sehingga dalam semua segi menjadi seorang tokoh yang menonjol. Setelah pelariannya, ia berpindah-pindah tempat tinggal di berbagai tempat di antara Danau Constance dan Rimba Hitam, dan akhirnya menetap sebagai seorang vasal di dekat Freiburg, di daerah Breisgau, di mana ia bahkan menjadi seorang penjaga hutan. . (Vasal = pemilik tanah feodal besar yang setia dan tunduk kepada raja atau kaisar.) Rincian yang menarik mengenai caranya mengorganisasi lagi serikat itu dari tempat yang menguntungkan maupun mengenai keterampilannya menarik orang-orang yang berbeda-beda wataknya itu, tercantum dalam pemeriksaan terhadap tokoh ini nantinya. Berkat bakat diplomasi dan ketahanan yang tidak ada lelahnya dari model pemimpin persekongkolan inilah yang membuat banyak orang dari berbagai kelas yang sangat beraneka ragam menjadi terlibat dalam serikat: seperti para ksatria, pastor, warga kota atau orang merdeka, kaum plebeian dan petani, dsb., sehingga hampir pasti ia mengorganisasikan beberapa tingkat persekongkolan, yang satu sama lain sedikit banyak memiliki perbedaan yang tajam. Di luar utusan yang telah diterima menjadi anggota dan yang mengembara ke seluruh negeri dengan berbagai kedok ini, para gelandangan dan pengemis pun digunakan untuk berbagai misi tambahan. Joss berdiri untuk langsung berkomunikasi dengan raja pengemis, dan melalui mereka ia memegang di tangannya banyak sekali penduduk yang merupakan gelandangan. Dalam kenyataan, para raja pengemis ini memainkan peranan yang sangat besar dalam persekongkolannya. Para raja pengemis ini benar-benar merupakan tokoh yang sangat asli. Salah seorang dari mereka ada yang mengembara di seluruh negeri dengan seorang anak perempuan yang kakinya tampak sakit sebagai dalih untuk mengemis; raja pengemis ini mengenakan lebih dari delapan lambang di topinya — empat belas penyelamat, St. Ottilie, Bunda Maria di Sorga, dsb.; selain itu, ia juga berjenggot panjang merah, dan membawa tongkat besar berbonggol-bonggol dengan belati dan tombak. Yang lainnya lagi, mengemis atas nama St. Velten, sambil menawarkan telur cacing dan rempah-rempah; ia mengenakan sebuah jas panjang berwarna besi, sebuah baret merah, dengan Bayi Trient yang dilekatkan di sana, sebilah pedang tergantung di pinggangnya, dan banyak pisau serta sebilah belati tergantung di ikat pinggangnya. Yang lain-lainnya lagi, dengan luka-luka bikinan, selain perlengkapan pakaian serupa yang indah. Sekurang-kurangnya ada sepuluh orang di antara mereka, dan dengan harga dua ribu gulden mereka dianggap secara serentak dapat melakukan aksi bumi hangus di Alsace, di Margraviate dari dari daerah Baden, dan di Breisgau, dan dengan menempatkan mereka, bersama-sama sekurang-kurangnya 1.000 orang darinya, di bawah komando Georg Schneider, bekas kapten serdadu bayaran, pada hari Pasar Amal Paroki Zabern di Rozen, untuk menaklukkan kota itu. Pelayanan kurir dari stasiun ke stasiun didirikan di antara para anggota yang sesungguhnya dari serikat ini. Joss Fritz dan kepala utusannya, Stoffel dari Freiburg, selalu naik kuda dari satu tempat ke tempat lainnya, untuk meninjau pasukan dari para pengikut baru dari serikat ini pada waktu malam hari. Banyak sekali bahan dalam dokumen pemeriksaan pengadilan yang ada hubungannya dengan tersebarnya serikat ini di daerah-daerah Rhine Hulu dan Rimba Hitam. Dokumen-dokumen ini berisi banyak sekali nama anggota dari berbagai tempat di daerah itu, bersama-sama dengan perincian tentang orang-orangnya. Sebagian terbesar dari mereka yang disebutkan itu adalah para musafir, petani, pemilik penginapan, beberapa orang bangsawan, pastor (seperti Lehen sendiri), dan orang-orang dari serdadu bayaran yang menganggur. Komposisi seperti ini menunjukkan sifat yang lebih berkembang dari Serikat Sepatu setelah dipimpin oleh Joss Fritz. Unsur plebeian dari kota-kota mulai tampak semakin menonjol. Jaringan persekongkolan ini meluas sampai Alsace, wilayah yang sekarang disebut Baden, terus ke Wuerttemberg dan Main.

Pertemuan-pertemuan yang lebih besar diselengggarakan dari waktu ke waktu di daerah pegunungan yang terpencil, seperti di Kniebis, dsb., dan berbagai urusan serikat didiskusikan. Sedangkan pertemuan-pertemuan dari para pimpinan, yang kerap kali diikuti oleh para anggota setempat maupun oleh para delegasi dari tempat-tempat yang lebih terpencil, diselenggarakan di Hartmatte, di dekat Lehen, dan di sinilah empat belas pasal serikat dibuat: Tidak ada penguasa selain kaisar, dan (menurut sebagian orang) paus, penghapusan istana kaisar (Rottweil), pembatasan kekuasaan gereja hanya pada urusan agama saja, bunga sebesar 5 persen sebagai bunga tertinggi yang diperbolehkan; kebebasan berburu, menangkap ikan, menggembalakan ternak, dan menebang pohon; pembatasan pastor-pastor pada satu gaji untuk masing-masing pastor; perampasaan semua tanah milik gereja dan batu permata biara untuk kepentingan serikat; penghapusan semua pajak jalan dan pajak apa pun lainnya yang tidak adil; perdamaian abadi di seluruh dunia Kristen, tindakan yang keras terhadap semua lawan serikat; pajak serikat, penyerangan kota yang kuat, seperti Freiburg, untuk dijadikan pusat serikat; pembukaan perundingan dengan kaisar segera setelah pasukan serikat berkumpul, dan juga dengan Swiss apabila kaisar menolak — semuanya ini merupakan poin-poin yang telah disepakati. Kita melihat bahwa tuntutan-tuntutan para petani dan kaum plebeian ini semakin lama semakin mendapatkan bentuknya yang pasti dan menentukan, meskipun konsesi-konsesi juga telah dibuat dengan langkah yang sama dan menuju ke unsur-unsur yang lebih moderat dan malu-malu juga.

Pemberontakan itu seharusnya meletus sekitar musim gugur tahun 1513. Tidak ada yang kurang kecuali panji-panji serikat, dan Joss Fritz pergi ke Heilbrun untuk menyuruh orang membuatnya. Panji-panji ini, selain berupa segala jenis emblem dan gambar, juga berupa lambing Serikat Sepatu dengan tulisan “Tuhan menolong keadilan ilahi kalian”. Ketika ia sedang pergi, usaha pemberontakan yang belum saatnya sudah dilakukan orang untuk menyerang Freiburg, tetapi usaha itu terbongkar. Beberapa kecerobohan dalam melaksanakan propaganda telah membuat dewan Freiburg dan Margrave di Baden berhasil mencium jejaknya. Pengkhianatan dua orang anggota persekongkolan menyempurnakan beberapa rangkaian pengungkapannya. Dengan segera, Margrave, dewan Freiburg, dan pemerintah dari kaisar Ensisheim mengirimkan mata-mata dan pasukannya. Sejumlah anggota serikat ditangkap, disiksa, dan dihukum mati. Tetapi sebagian besar berhasil melarikan diri sekali lagi, termasuk Joss Fritz. Akan tetapi, pemerintah Swiss sekarang menganiaya para pelarian ini dengan luar biasa rajinnya dan bahkan menghukum mati mereka dalam jumlah yang tidak sedikit. Meskipun demikian, hal itu tidak mampu mencegah sebagian besar dari para pelarian ini untuk selalu mendekati rumah mereka sehingga berangsur-angsur kembali ke sana. Pemerintah Alsace di Ensisheim ternyata lebih kejam dari yang lain-lain. Banyak sekali yang dipenggal kepalanya, digilas dengan roda, dan dipotong-potong. Joss Fritz sendiri bertahan terutama di Swiss, di tepi Sungai Rhine, meskipun sering kali ada di Rimba Hitam tanpa pernah tertangkap.

Tampaknya kali ini Swiss berpihak kepada pemerintah-pemerintah tetangganya karena pemberontakan petani yang pecah tahun berikutnya, yaitu tahun 1514, di Berne, Sollothume dan Lucerne, telah mengakibatkan terjadinya pembersihan pada pemerintahan aristokratis maupun lembaga patrician. Para petani juga memaksakan beberapa hak istimewa untuk kepentingan mereka sendiri. Apabila pemberontakan setempat di Swiss ini berhasil, maka hal itu terjadi karena adanya kenyataan bahwa sentralisasi di Swiss memang lebih sedikit daripada di Jerman. Para majikan setempat di Jerman semuanya ditundukkan oleh para petani tahun 1525, dan apabila para petani kalah, maka hal itu karena massa pasukan para pangeran yang terorganisasi. Meskipun demikian, yang belakangan ini (yaitu pasukan para pangeran) tidak ada di Swiss.

Yang secara serentak dengan Serikat Sepatu di Baden, dan tampaknya mempunyai hubungan langsung dengannya, adalah terbentuknya persekongkolan kedua di Wuerttemberg. Menurut sejumlah dokumen, persekongkolan ini telah ada sejak tahun 1503, tetapi karena nama Serikat Sepatu telah menjadi terlalu berbahaya setelah bubarnya para anggota persekongkolan di Untergrombach, maka nama yang diambil pun diganti dengan Konrad Miskin. Kedudukannya ada di lembah Rems, di bawah Pegunungan Hohenstaufen. Keberadaannya tidak misterius sama sekali untuk waktu yang lama, setidak-tidaknya di kalangan rakyat. Tekanan yang tidak tahu malu dari pemerintahan Pangeran Ulrich, dan beberapa rangkaian kelaparan selama bertahun-tahun, yang secara sangat luar biasa membantu pecahnya pemberontakan tahun 1513 dan 1514, telah meningkatkan jumlah anggota persekongkolan. Pajak yang baru saja dikenakan pada anggur, daging dan roti, maupun pajak kapital sebesar satu sen setahun untuk setiap gulden, menyebabkan meletusnya pemberontakan baru. Kota Schomdorf, di mana para kepala komplotan biasanya bertemu di rumah pembuat pisau, gunting, dsb., bernama Kaspar Pregizer, harus direbut lebih dulu. Di musim semi tahun 1514, pemberontakan pecah. Tiga ribu, dan, menurut yang lain-lainnya, lima ribu orang petani muncul mendekati kota, sehingga dibujuk dengan janji-janji bersahabat dari para pejabat bangsawan itu untuk bubar. Pangeran Ulrich, setelah menjanjikan penghapusan pajak baru, datang berkuda dengan cepat dengan delapan puluh orang dari pasukan penunggang kudanya, untuk mengetahui apakah segalanya menjadi tenang setelah pemberian janji itu. Ia berjanji untuk memanggil diet (dewan) untuk bersidang dan membahas semua keluhan itu. Para kepala organisasi itu tahu betul bahwa Ulrich hanya ingin membuat rakyat diam sampai ia berhasil membentuk lagi dan mengerahkan cukup tentara untuk dapat membatalkan janjinya dan memungut pajak secara paksa. Mereka mengeluarkan dari rumah Kaspar Pregizer, “kantor Konrad Miskin,” sebuah seruan kepada kongres serikat, yaitu seruan yang mendapatkan dukungan dari semua utusan di mana-mana. Keberhasilan pemberontakan pertama di lembah Rems itu telah memperkuat gerakan di mana-mana di kalangan rakyat. Surat-surat dan utusan-utusan mendapatkan reaksi yang menguntungkan, sehingga dengan demikian kongres dapat diselenggarakan di Untertuerkhein pada tanggal 28 Mei, yang dihadiri oleh banyak sekali wakil dari semua bagian di Wuerttemberg. Keputusan yang segera diambil adalah melanjutkannya dengan propaganda dan melakukan serangan yang menentukan di lembah Rems pada kesempatan pertama untuk menyebarkan pemberontakan dari tempat itu ke segala penjuru. Ketika Bantelshans dari Dettingen, seorang bekas serdadu, dan Singerhans dari Wuertingen, seorang petani yang kenamaan, sedang membawa daerah Alp di Suabia masuk ke serikat, pemberontakan itu meletus pada setiap sisi. Meskipun Singerhans tiba-tiba diserang dan ditangkap, namun kota-kota Backnang, Winnenden, dan Markgroenningen akhirnya jatuh ke tangan para petani yang bergabung dengan kaum plebeian, sehingga seluruh wilayah dari Weinsberg ke Blaubeuren, dan dari sana sampai ke perbatasan Baden, terlibat dalam pemberontakan secara terbuka. Ulrich terpaksa menyerah. Meskipun demikian, sementara ia memanggil Diet (Dewan) untuk bersidang tanggal 25 Juni, ia juga mengirimkan surat edaran ke para pangeran di sekitarnya untuk membebaskan kota-kota itu, sambil meminta bantuan untuk melawan pemberontakan, yang, katanya, mengancam semua pangeran, penguasa, dan bangsawan di seluruh kekaisaran, dan yang “anehnya menyerupai Serikat Sepatu.”

Sementara itu, Diet (Dewan), yang mewakili kota-kota, dan banyak delegasi dari para petani yang juga menuntut kursi di Diet, bersidang tanggal 18 Juni di Stuttgart.

Para uskup atau yang setingkat uskup belum ada di sana. Para ksatria tidak diundang. Oposisi di kota Stuttgart, maupun dua lautan massa petani yang mengancam di Leonberg, di dekat lembah Rems, memperkuat tuntutan kaum petani. Para delegasi diperbolehkan masuk, dan diputuskan untuk menumbangkan dan menghukum tiga anggota dewan dari pihak bangsawan yang dibenci — yaitu, Lamparter, Thumb dan Lorcher — dan untuk ditambahkan pada Pangeran, sebuah dewan dari empat orang ksatria, empat orang warga kota atau orang merdeka, dan empat orang petani, untuk memberinya sebuah daftar sipil, dan untuk menyita biara-biara dan anugerah-anugerah untuk khazanah negara.

Pangeran Ulrich melawan keputusan revolusioner ini dengan kudeta. Pada tanggal 21 Juni, ia naik kuda dengan para ksatrianya dan para anggota dewan ke Tuebingen, di mana ia diikuti oleh para uskup. Ia memerintahkan kelas menengah untuk datang ke sana juga. Perintah ini dipatuhi, dan di sana ia melanjutkan sidang Diet (Dewan) tanpa para petani. Para warga kota atau orang-orang merdeka, yang dihadapkan dengan terorisme militer, mengkhianati para sekutunya, yaitu para petani. Pada tanggal 8 Juli, perjanjian Tuebingen menjadi kenyataan, yang mengenakan utang Pangeran pada negeri itu yang besarnya hampir satu juta gulden, mengenakan kepada Pangeran beberapa pembatasan kekuasaan yang tidak pernah dipenuhinya, dan membuang para petani dengan beberapa kalimat singkat yang bersifat umum dan mengenakan hukum pidana yang sangat pasti terhadap pemberontakan. Tentu saja, sedikit pun tidak disebutkan mengenai perwakilan petani di Diet (Dewan). Rakyat biasa berteriak, “Pengkhianatan!” tetapi Pangeran, setelah memperoleh kredit baru begitu utangnya diambil alih oleh kelas-kelas di Diet (Dewan), segera mengerahkan serdadunya sementara para tetangganya, terutama Pangeran Palatine, mengirimkan bantuan militer. Dengan demikian, menjelang akhir bulan Juli, perjanjian Tuebingen diterima di seluruh negeri, dan sumpah baru pun diambil. Hanya lembah Rems, Konrad Miskin memberikan perlawanan. Pangeran, yang naik kuda sendiri, nyaris terbunuh. Sebuah kubu petani dibentuk di pegunungan Koppel. Tetapi urusan itu berjalan lambat, karena kebanyakan dari para pemberontak melarikan diri akibat kekurangan makan; belakangan, yang masih tersisa juga pulang setelah mengakhirinya dengan perjanjian yang punya arti mendua dengan beberapa orang wakil dari Diet (Dewan). Ulrich, yang pasukannya pada waktu itu diperkuat oleh pasukan-pasukan yang ditawarkan secara suka rela dari kota-kota yang, setelah dikabulkan tuntutan-tuntuan mereka, sekarang secara fanatik berbalik melawan para petani, menyerang lembah Rems sehingga bertentangan dengan syarat-syarat perjanjian, dan menjarah kota-kota dan desa-desanya. Seribu enam ratus petani ditangkap, enam belas dari mereka dipenggal kepalanya, dan sisanya menerima hukuman denda berat untuk kepentingan Ulrich. Banyak dari mereka yang tetap dipenjara untuk waktu yang lama. Sejumlah hukum pidana dikeluarkan untuk mencegah hidupnya kembali organisasi petani ini, untuk melarang semua rapat-rapat para petani, dan kaum bangsawan Suabia membentuk serikat khusus untuk menindas segala usaha untuk memberontak. Sementara itu, para pemimpin utama Konrad Miskin berhasil melarikan diri ke Swiss, di mana kebanyakan dari mereka kembali ke rumah satu per satu, setelah selang waktu beberapa tahun.

Secara serentak, bersamaan dengan gerakan Wuerttemberg, gejala-gejala kegiatan Serikat Sepatu baru itu menjadi nyata di Breisgau dan di Margaviate dari daerah Baden. Dalam bulan Juni, sebuah pemberontakan dicoba di Buehl, tetapi segera dibubarkan oleh Margrave Philipp — di mana pemimpinnya, Gugel-Bastian dari Freiburg, berhasil ditangkap dan dihukum mati dengan dipenggal lehernya.

Di musim semi pada tahun yang sma, yaitu thun 1514, perang tani secara umum pecah di Hongaria. Perang salib dengan Turki sedang dikhotbahkan, dan, seperti biasa, kemerdekaan dijanjikan kepada para hamba dan budak-budak atau orang-orang terikat yang mau ikut serta. Kira-kira 60.000 orang berkumpul, dan akan ada di bawah komando György Dózsa, seorang Szekler, yang terkenal dalam beberapa kali perang dengan Turki dahulu, sehingga memperoleh gelar kebangsawanan. Meskipun demikian, para tokoh terkemuka lainnya dan para ksatria Hongaria memandang dengan rasa tidak suika terhadap perang salib yang mengancam hilangnya budak-budak atau orang-orang terikat dan hak milik mereka. Mereka buru-buru mengikuti masing-masing dari rombongan para petani (yang pulang dari perang salib) itu, dan menangkap kembali hamba-hamba mereka dengan kekerasan dan memperlakukan mereka secara sewenang-wenang. Ketika pasukan dari perang salib itu mengetahui hal ini, semua kemarahan dari para petani yang tertindas itu meledak. Dua orang, yang bersemangat membela perang salib, Lawrence Mészáros dan Barnabas, mengipas-ngipas api itu, dengan menghasut kebencian pasukan terhadap kaum bangsawan dengan pidato-pidato revolusioner mereka. Dózsa sendiri juga ikut marah seperti para anggota pasukannya terhadap pengkhianatan kaum bangsawan. Pasukan dari perang salib itu pun menjadi pasukan revolusi, dan Dózsa menjadi pemimpin gerakan.

Ia berkemah dengan para petaninya di lapangan Rakos di dekat Pest. Permusuhan dibuka dengan pertempuran-pertempuran antara para petani dan orang-orangnya kaum bangsawan di desa-desa sekitarnya dan di pinggiran kota Pest. Segera saja terjadi perkelahian kecil-kecilan, dan kemudian diikuti oleh pembantaian gaya Sisilia terhadap kaum bangsawan di tangan para petani, serta pembakaran semua istana di dekatnya. Pihak istana mengancam dengan sia-sia. Ketika tindakan-tindakan pertama dari pengadilan rakyat terhadap kaum bangsawan ini dilaksanakan di bawah tembok kota, Dózsa pun melanjutkan operasinya lebih lanjut. Ia membagi pasukannya menjadi lima barisan. Dua dikirmkan ke pengunungan Hongaria Hulu untuk mempengaruhi pemberontakan dan membinasakan kaum bangsawan. Yang ketiga, di bawah Ambros Szaleves, seorang warga kota Pest, tetap ada di Rakos untuk menjaga ibu kota. Yang keempat dan kelima dipimpin oleh Dózsa dan saudara lelakinya Gregor menyerang Szegedin.

Pada waktu itu, kaum bangsawan berkumpul di Pest, dan meminta bantuan Johann Zapolya, voivode dari Transylvania. Kaum bangsawan, yang diikuti oleh kelas menengah Budapest, menyerang dan memusnahkan pasukan di Rakos, setelah Szaleves dengan unsur-unsur kelas menengah dari pasukan petani menyeberang ke pihak musuh. Banyak tawanan yang dibunuh dengan cara yang paling kejam. Sisanya disuruh pulang tanpa hidung dan telinga.

Dózsa mengalami kekalahan di depan Szegedin dan pergi ke Czanad dan berhasil merebutnya, setelah mengalahkan pasukan kaum bangsawan di bawah Batory Istvan dan Uskup Esakye, dan melakukan penindasan berdarah terhadap para tawanan, termasuk uskup dan anggota dewan dari kanselir kerajaan Teleky, sebagai pembalasan atas kekejaman yang dilakukan oleh kaum bangsawan di Rakos. Di Czanad, ia memproklamasikan sebuah republik, penghapusan kaum bangsawan, persamaan umum dan kedaulatan rakyat, dan kemudian bergerak menuju Temesvar, di mana Batory telah bergegas dengan pasukannya. Tetapi selama pengepungan terhadap benteng ini yang berlangsung selama dua bulan, dan sementara ia diperkuat lagi dengan pasukan baru di bawah Anton Hosza, kedua pasukannya di Hongaria Hulu mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di tangan kaum bangsawan, dan Johann Zapolya, dengan pasukan Transylvania-nya, bergerak menyerangnya. Para petani diserang oleh Zapolya dan bubar. Dózsa ditangkap, dipanggang di atas singgasana yang merah membara, dan dagingnya dimakan oleh orang-orangnya sendiri, yang hidupnya hanya diberikan kepada mereka dengan persyaratan seperti ini. Para petani yang bubar, yang dikumpulkan lagi oleh Lawrence dan Hosza, dikalahkan lagi, dan siapa pun yang jatuh ke tangan musuh, ditikam dengan tombak atau digantung. Badan para petani ini digantung dalam jumlah ribuan di sepanjang jalan atau di pintu-pintu masuk desa-desa yang dibumihanguskan. Menurut berbagai laporan, sekitar 60.000 orang jatuh dalam pertempuran, atau dibantai. Kaum bangsawan tetap waspada pada sidang selanjutnya di Diet (dewan), sehingga perbudakan terhadap para petani dapat diakui lagi sebagai undang-undang negeri ini.

Pemberontakan petani di Carinthia, Camiola dan Styria, “daerah rawa-rawa berangin,” yang pecah pada waktu yang sama, berasal dari persekongkolan yang ada hubungannya dengan Serikat Sepatu, yang diorganisasikan pada awal tahun 1503 di daerah itu, yang diperas habis oleh para pejabat kaisar, dihancurkan oleh serbuan Turki, dan disengsarakan oleh musim paceklik. Persekongkolan inilah yang membuat pemberontakan itu dimungkinkan. Sudah sejak tahun 1513, para petani Slovenia maupun Jerman di daerah ini sekali lagi mengibarkan panji-panji perang untuk Stara Prawa (Hak-hak Lama). Mereka membiarkan diri mereka sendiri ditenangkan pada waktu itu, dan ketika dalam tahun 1514 mereka berkumpul lagi dalam massa yang sangat besar, mereka lagi-lagi dibujuk untuk pulang dengan janji langsung dari Kaisar Maximilian untuk mengembalikan hak-hak lama itu. Meskipun demikian, perang balas dendam dari rakyat yang ditipu ini pecah dalam musim semi tahun 1515 dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Di sini, seperti di Hongaria, istana-istana dan biara-biara dihancurkan, para bangsawan yang tertangkap diadili dan dihukum mati oleh pengadilan petani. Di Styria dan Carinthia, kapten kaisar, Dietrichstein, segera berhasil menumpas pemberontakan. Di Carniola, pemberontakan dapat ditindas hanya melalui serangan hujan (musim gugur, tahun 1516) dan melalui kekejaman-kekejaman Austria selanjutnya, yang membentuk rekan imbangan yang berharga bagi keburukan kaum bangsawan Hongaria.

Jelaslah mengapa, setelah serangkaian kekalahan yang begitu menentukan, dan setelah kekejaman-kekejaman massa dari kaum bangsawan ini, para petani Jerman tetap diam untuk waktu yang lama. Meskipun demikian, persekongkolan mupun pemberontakan setempat bukannya tidak ada sama sekali. Sudah sejak tahun 1516 kebanyakan dari para pelarian Serikat Sepatu dan Konrad Miskin telah kembali ke Suabia dan Rhine hulu. Dalam tahun 1517, Serikat Sepatu lagi-lagi dengan ayunan penuh muncul lagi di Rimba Hitam. Joss Fritz sendiri, yang di dalam dadanya masih membawa panji-panji Serikat Sepatu tahun 1513, melintasi Rimba Hitam ke berbagai arah, dan mengembangkan banyak sekali kegiatan. Persekongkolan diorganisasikan lagi. Pertemuan-pertemuan lagi-lagi diselenggrakan di Kniebis seperti empat tahun sebelumnya. Meskipun demikian, kerahasiaannya tidak dipertahankan. Sehingga pemerintah segera mengetahui kenyataan itu dan campur tangan. Banyak dari mereka yang ditangkap dan dihukum mati. Para anggota yang paling aktif dan cerdik terpaksa melarikan diri, termasuk Joss Fritz, yang meskipun belum tertangkap, bagaimana pun, tampaknya telah meninggal di Swiss tidak lama kemudian. Tetapi, bagaimana pun juga, namanya sudah tidak disebut orang lagi.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 14Dibaca Hari Ini:
  • 1675Dibaca Kemarin:
  • 19412Dibaca Per Bulan:
  • 351957Total Pengunjung:
  • 14Pengunjung Hari ini:
  • 18394Kunjungan Per Bulan:
  • 0Pengunjung Online: