PERGURUAN TINGGI WAHANA MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

N.WACHYUDIN

Pengantar.

Permasalahan karakter bangsa telah menjadi sorotan serius dalam kurun dasa warsa terakhir ini. Segenap komponen menyuarakan keprihatinan atas fenomena kebangsaan yang menukik pada kondisi demoralisasi dan diambang perpecahan yang akut. Kecemasan kolektif ini tidak saja menyangkut aspek-aspek sosial ekonomi, namun sudah mengarah pada pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dinamika politik dengan berbagai perdebatan yang tidak berkesudahan, amandemen konstitusi yang menyisakan banyak persoalan ketatanegaraan, korupsi, dan segenap aspek keadilan pada berbagai tingkatannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk sistem pendidikan hal harus pertama disentuh agar masalah multidimensi bangsa tidak menjadi berlarut dan membahayakan. Kurikulum dan kesadaran segenap komponen kependidikan menjadi priorotas dalam program penumbuhan dan pengembangan karakter berbangsa. Karakter harus dijadikan paradigma baru dalam menggelar proses pembelajaran. Ini merupakan sebuah langkah strategis dan signifikan demi melakukan sebuah perubahan sangat fundamental dan revolusioner mengenai arah baru dunia pendidikan.

Dimanakah Perguruan Tinggi?.

Pendidikan Tinggi sebagai tabung reaksi inti harus menjadi kawah pemerolehan dunia baru bahwa pendidikan bukan semata bertujuan menajamkan otak namun pendidikan merupakan sebuah media dalam menajamkan mata hati agar semakin menjadi sosok yang peduli bagi sesama, jujur, mandiri, dan menampilkan keunikan yang khas sebagai bangsa yang beragam. Implementasi tri dharma perguruan tinggi memungkinkan pengejawantahan semua hal itu secara sistematik dan terstruktur.

Perguruan tinggi merupakan lembaga akademik dengan tugas utamanya menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan ilmu, pengetahuan, teknologi, dan seni. Tujuan pendidikan, sejatinya tidak hanya mengembangkan keilmuan, tetapi juga membentuk kepribadian, kemandirian, keterampilan sosial, dan karakter. Oleh sebab itu, berbagai program dirancang dan diimplementasikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, terutama dalam rangka pembinaan karakter.

Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, atau pendidikan akhlak yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik itu, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Karena itu, muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour. Secara praktis, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai kebaikan kepada warga sekolah atau kampus yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (YME), sesama manusia, lingkungan, maupun nusa dan bangsa sehingga menjadi manusia sejati. Pendidikan karakter di perguruan tinggi perlu melibatkan berbagai komponen terkait yang didukung oleh proses pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan warga kampus, pengelolaan perkuliahan, pengelolaan berbagai kegiatan mahasiswa, pemberdayaan sarana dan prasarana, serta etos kerja seluruh warga kampus. Setidaknya, kampus dapat membangun dan mengembangkan kualitas penyelenggaraan pendidikan yang kondusif bagi:

1. berkembangnya kemampuan intelektual, emosional, sosial, dan religius secara terpadu.

2. Meningkatkan relevansi kurikulum terhadap lulusan yang mandiri,

kreatif, dan inovatif.

3. Meningkatkan penyelenggaraan pendidikan bermuatan nilai moral

agama dan moral kebangsaan.

4. Meningkatkan penyelenggaraan penelitian yang mendukung pengembangan kampus dan masyarakat.

5. Meningkatkan kualitas penyelenggaran pengabdian kepada masyarakat berbasis penelitian dan kebutuhan masyarakat.

6. Meningkatkan sinergi lembaga kemahasiswaan, kemandirian, kreativitas mahasiswa, dan kegiatan kemahasiswaan.

7. Mewujudkan otonomi kelembagaan perguruan tinggi.

8. Meningkatkan jejaring kerja sama dalam dan luar negeri.

9. Mengembangkan sistem komunikasi kelembagaan berbasis teknologi informasi.

Pada fase berikutnya kesepahaman bahwa langkah strategis dengan pemuatan karakter dalam proses pembelajaran diharapkan sebagai antitesa terhadap fenomena fragmatisme pendidikan yang anomali. Masyarakat disadarkan bahwa tujuan berpendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses yang mengedepankan kepentingan kognisi. Kita semua seperti dihadapkan pada sebuah persoalan hidup yang pelik, tidak memberikan fondasi mental yang kokoh, tidak memanusiakan manusia.

Berintikan internalisasi nilai.

proses pembelajaran harus didesain sedemikian rupa agar mampu melakukan internalisasi nilai-nilai, dalam kehidupan sehari-hari praktis dan nyata. Setidaknya memuat dimensi pengakuan atas keberadaan orang lain, menyatukan potensi dalam kohesi sosial, tanpa mengeliminasi Ciri khas” yang dimiliki oleh individu atau seseorang, Sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, atau fenomena yang memberi arah pemahaman psikologis yang bermakna: kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap, sehingga internalisasi nilai dapat menunjuk pada Kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta membedakannya dengan individu lain.

Secara sederhana kita membutuhkan keadaan, atmosfir yang Merupakan nilai-nilai kebajikan (tahu nilai kebajikan, mau berbuat baik, dan nyata berkehidupan baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Sebagai makhluk sosial maka akan tampil sosok peduli sebagai warga negara, kesopanan, mengindahkan aturan main, berpikir kritis, kemauan untuk mendengar, bernegosiasi dan berkompromi

beberapa alasan yang mendasari pentingnya pendidikan karakter bangsa bagi siswa adalah Dampak arus globalisasi yang membawa kehidupan menjadi semakin komplek merupakan tantangan baru bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia memasuki milenium ketiga sekarang ini. Persinggungan budaya lokal, nasional, dan budaya-budaya asing adalah bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tumbuh kembangnya budaya lokal dan nasional akan menghadapi dilema yang amat besar jika pengaruh budaya asing tidak segera disaring melalui gerakan peduli budaya. Kepedulian terhadap budaya sendiri akan memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kelokalan yang dapat menyaring hadirnya pengaruh budaya asing yang bisa membawa dampak terhadap dangkalnya pemahaman kita terhadap nilai-nilai keindonesiaan secara menyeluruh. Penguatan nilai-nilai budaya sendiri adalah wujud dari bangkitnya rasa nasionalisme yang mengedepankan kecintaan terhadap bangsa kita sendiri seperti ikrar yang dikumandangkan oleh para pemuda Indonesia melalui “Sumpah Pemuda” yakni kecintaan terhadap tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.

Adanya kenyataan bahwa telah terjadi penyempitan makna pendidikan dilihat dari perspektif penerapannya di lapangan. Pendidikan telah diarahkan untuk membentuk pribadi cerdas individual semata dan mengabaikan aspek-aspek spiritualitas yang dapat membentuk karakter peserta didik dan karakter bangsa, yang merupakan identitas kolektif, dan bukan pribadi (Kartadinata, 2009). Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa dalam sistem pendidikan nasional jelas tertuang bahwa tujuan pendidikan nasional bukan sekadar membentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan semata, melainkan juga harus beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, supaya menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan juga berfungsi membangun karakter, watak, serta kepribadian bangsa.

Pendidikan yang diselenggarakan saat ini masih didominasi oleh berbagai dogma, dalil-dalil, atau ajaran yang diperoleh dari Barat. Padahal secara kultural, pendidikan yang diselenggarakan harus tergali dari nilai luhur bangsa Indonesia sendiri. Berbagai pemikiran Ki Hajar Dewantara yang telah tertuang dalam berbagai referensi seharusnya dapat dikaji kembali agar dapat dirumuskan dan diimplementasikan. Ranah kognisi, afeksi, dan psikomotorik yang merupakan produk Amerika dalam taksonomi pembelajaran tidak lebih sempurna dari taksonomi KHD yang terdiri atas olah otak, olah rasa, olah hati, dan olah raga. Namun, dalam realitasnya, guru dan para perancang pembelajaran lebih cenderung merujuk pada taksonomi Bloom yang akar spiritualitasnya belum terintegrasikan. Hal ini dilakukan mengingat taksonomi Bloom telah dirumuskan lebih jelas sehingga indikator pencapaiannya mudah diukur dan dievaluasi.

Karakter Bangsa

Muncul berbagai pemikiran dari para praktisi pendidikan kita bahwa seharusnya pendidikan karakter bangsa penting dikembangkan untuk para siswa sejak usia dasar dan diimplementasikan ke dalam setiap materi pelajaran, sehingga semua guru mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam menanamkan karakter bagi siswa, jadi tanggung jawab ini tidak hanya milik guru yang bersangkutan langsung dengan materi kebangsaan dan moral saja. Oleh karena itu Perlu ada rekonstruksi bagi sistem pendidika, agar lebih mengedepankan paradigma pendidikan yang berbasis pembangunan karakter bangsa. Ini untuk mengantisipasi berkembangnya kerusakan moral dan semakin meluasnya penyakit sosial masyarakat seperti korupsi, terorisme, dan radikalisme”. Maka model pengembangan kurikulum yang bagaimanakah yang seharusnya dikembangkan diindonesia saat ini ?

Tujuan utama praksis pendidikan karakter adalah membentuk karakter bangsa. Karakter bangsa yang mandiri, terbuka dan lain sejenisnya dapat tercermin baik dalam kehidupan. Menjalani hidup dan kehidupan adalah proses membangun sebuah kepribadian bangsa yang luhur. Membangun pendidikan sebagai miniatur kehidupan sebelum terjun ke dunia masyarakat. Kesuksesan praksis pendidikan karakter terlihat dari ukuran bagaimana anak didik bisa melakoni kehidupannya dengan jalan yang lurus, penuh kejujuran dan keterbukaan. Yang selalu dipentingkan dan dikedepankan pelaksanaannya adalah pendidikan adalah media menciptakan cara pandang hidup adiluhung demi kemanusiaan. Oleh karenanya, marilah kita membiasakan diri menyelenggarakan pendidikan karakter dalam konteks apa pun sebagai bentuk keikutsertaan dalam mencetak kepribadian bangsa sesuai dengan akar sejarah berdirinya bangsa ini.

Paling tidak kita dapat mengungkap akar semua itu dalam pendapat Dorothy Law Nolte dalam Dryden dan Vos (2000: 104) menyatakan bahwa anak belajar dari kebiasaan hidupnya. Untuk itu marilah kita coba pahami hal-hal berikut ini:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah

Jika ia dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian

Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Jika anak dibesarkan dengan dorongan , ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan

Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dalam pikiran

Berbagai rujukan dan Referensi.

Adian Husaini,2010.Pendidikan islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab (Cet. 1-) Jakarta : Cakrawala Publishing.

Bambang Q-Annes, dan Hambali, Adang. 2008, Pendidikan Karakter Berbasis Al’quran: Simbiosa Rekatama Media, Bandung.

DoniKoesoema A, (2007), Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta, Grasindo.

Lickona, T. (1992), Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books, New York.

Megawangi,R. (1999). Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender, Bandung, Pustaka Mizan

Megawangi, R. (2004), Pendidikan karakter, Bandung, Pustaka Mizan.

Morgenthau, Hans. J. 1963, Politics Among Nations: The Strugge for Power and Peace. (third Edition). New York: Alfred A Knopf.

National Conference on Character Building. 2000, The Need For Character Education. Jakarta: Internasional Education

Foundation bekerjasama dengan DEPDIKNAS, BKKBN, DEPAG, UNDP, dan sejumlah LSM di Jakarta.

disampaikan pada acara POESAKA 2012, Pekan Orientasi Studi dan Kemahasiswaan STKIP Setiabudhi Rangkasbitung, 18 September 2012

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1355Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15292Dibaca Per Bulan:
  • 348082Total Pengunjung:
  • 1245Pengunjung Hari ini:
  • 14519Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: