Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5

Artikel

0

Perjanjian Gianti

Diposting oleh Ciciren

Share

Perselisihan intern di dalam kerajaan Mataram abad 18 dimanfaatkan oleh Belanda dengan menetrapkan politiknya “VERDEEL EN HEERS” itu. Belanda selalu berhasil muncul kalau ada perselisihan atau pemberontakan yang dilakukan oleh para anggota keluarga kerajaan Mataram. Atas keberhasilannya mengatasi konflik internal Mataram ini, Belanda memperoleh keuntungan, baik yang berupa konsesi ekonomi dan politik, maupun konsesi wilayah. Itulah sebabnya Mataram semakin melemah dan menciut hingga akhirnya tinggal sebesar daerah Surakarta dan Yogyakarta sekarang ini.

Perselisihan itu dimulai dari beberapa Adipati didaerah pesisir utara pada zaman pemerintahan Sinuhun Amangkurat dan Sinuhun Pakubuwono ke I dalam permulaan abad 18.

Perselisihan macam inilah yang berhasil dimanfaatkan kompeni dengan aksi memberi bantuan pada salah satu pihak yg berselisih. Dengan bantuan kompeni, kerajaan Mataram yang sudah ada bibit konflik didalamnya, salah satu yang dibantunya dapat bangkit kembali, tetapi sudah barang tentu Belanda mendaptkan konsesi-konsesi pada pihak pemenangnya.

Tahun 1746 timbulnya perang saudara antara Sinuhun Pakubuwono ke-II dengan Pangeran Ario Mangkubumi, yang masih saudara sendiri dari Sinuhun Pakubuwono ke I, yang mengangkat senjata karena merasa diingkari janji oleh Sinuhun Pakubuwono ke II. Dalam janjinya itu Pangeran Ario Mangkubumi akan diberi hadiah wilayah Soekawati, apabila berhasil memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Martonegoro yang menyerbu kraton Kartosuro dengan mengerahkan pasukan Cina. Pemberontakan ini oleh pangeran Ario Mangkubumi dipadamkan setelah mengerahkan pasukan bantuan dari Madura.

Pembatalan janji Sinuhun Pakubuwono II tentang penberian hadiah tanah Sukowati, dilakukan oleh Sinuhun Paku Pakubuwono II atas nasehat dan desakan patihnya yang bernama Pringgolajo, karena patih Pringgolojo sendiri sebenarnya merasa iri hati pada pangeran Ario Mangkubumi. Menurut nasehat patih Pringgolojo, sebaiknya hadiah wilayah Sukowati diganti saja dengan tanah seluas 1.000 cacah.

Dapat dimengerti mengapa Pangeran Ario Mangkubumi tidak senang atas pembatalan janji ini, sebab dianggapnya tidak layak seorang raja membatalkan apa yang pernah dijanjikannya. –sabdo pandito ratu-. Maka karena itulah Pangeran Ario mangkubumi akhirnya mengangkat senjata.

Dengan seluruh pengikutnya Pangeran Ario mangkubumi meninggalkan Kraton Kartasura, menuju ke selatan dan akhirnya sampai di Sukowati. Disinilah Pangeran Ario Mangkubumi mendirikan kubu pertahanannya, malah sekaligus mengangkat dirinya sebagai Susuhunan. Dalam gerakan ini Pangeran Mangkubumi mendapat bantuan dari Raden Mas Said, Pangeran Sambernyowo, yang juga adalah menantunya.

Sementara itu Sinuhun Pakubuwono II sakit keras, akhirnya wafat pada tahun 1749, dan digantikan oleh putranya Sinuhun Pakubuwana III.

Parang saudara yang berkepanjangan ini akhirnya dapat diakhiri berkat usaha kompeni, sehingga tercapai perdamaian berdasarkan suatu perjanjian, yang dinamakan Perjanjian Gianti, yaitu perjanjian damai antara Sinuhun Pakubuwono III dengan Pangeran Ario Mangkubumi. Perjanjain ini terjadi pada tahun 1755 dengan disaksikan kompeni, disuatu desa kecil Gianti, dekat dengan kota Karanganyar sekarang.

Dalam perjanjian ini disepakati bahwa wilayah Mataram dibelah menjadi dua bagian yang sama, “sigar semongko” istilahnya. Bagian barat untuk Sinuhun Pakubuwono III dan bagian timur untuk Pangeran Ario Mangkubumi.

Pada saat itu pula Pangeran Ario Mangkubumi sekaligus dinobatkan menjadi SULTAN HAMENGKUBUWONO KE I dengan gelar, Sultan Hamengkubuwono Senopati ing Ngalogo Abdurahman Sajidin Panotogomo Khafilatolah.

Namun kedua raja itu diikatkan dengan perjanjain dengan kompeni, dimana antara lain ditetapkan bahwa jika salah satu raja bertindak diluar perjanjian, raja dapat digantikan oleh orang lain atas tunjukan kompeni.

Demikianlah menurut Gerge D Larson dalam bukunya “Prelude to revolution Palaces and Politics in Soerakarta 1912-1942”. Sumber tulisan Gerge D Larson ini berasal dari MVO-MVO (Memorie van Overdracht) yang dibuat oleh para Gubernur Djendral, yang dapat dibaca di arsip pada pemerintah negeri Belanda.

Menurut versi lain yang ditulis oleh seorang dosen dari Universitas Gajah Mada, pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Ario Mangkubumi, yang benar ialah bukan ditujukan kepada Sinuhun Pakubuwono III, melainkan kepada kompeni. Perang lawan kompeni ini dengan tujuan untuk membatalkan suatu perjanjian yang dibuat oleh Sinuhun Pakubuwono II dengan kompeni, dalam perjanjian mana Sinuhun Pakubuwono ke-II menyerahkan seluruh wilayah Mataram kepada kompeni. Oleh Pangeran Ario Mangkubumi perjanjian itu dianggap kurang wajar, sebab perjanjian itu dibikin dan ditanda-tangani oleh Sinuhun Pakubuwono ke-II, 3 hari menjelang wafatnya. Karena itu Pangeran Ario Mnagkubumi menuntut dibatalkannya perjanjian itu. Untuk inilah Pangeran Ario Mangkubumi angkat senjata melawan kompeni.

Sebenarnya Pangeran Ario Mangkubumi belum bersedia mengadakan perdamaian dan diangkat menjadi Sultan, sebelum perjuangannya membatalkan perjanjian tercapai. Tetapi atas desakan Pangeran Ario Mangkubumi bersedia mengadakan perdamaian, dan menandatangani PERJANJIAN GIANTI pada tahun 1755 .

Perjanjian antara Sinuhun Pakubuwono ke-II dengan kompeni menurut ceritanya, nantinya dibatalkan sendiri secara sepihak oleh Sinuhun Pakubuwono ke-III, setelah ternyata ada tanda-tanda bahwa penandatanganan perjanjian itu dilakukan secara tidak wajar.

Menyusul kemudian PERJANJIAN SALATIGA pada tahun 1757. Dalam perjanjian ini Raden Said alias Pangeran Samernyowo dinobatkan menajadi Pangeran Adipati Mangkunegoro dan diberi tanah seluas 4.000 cacah yang diambil dari tanah Sinuhun Pakubuwana ke-III. Berikutnya muncul PERANG JAWA, atau yang oleh Belanda disebut PEMBERONTAKAN DIPONEGORO dari tahun 1825-1830. Sayang Pangeran Diponegoro gagal mengusir Belanda, malah berhasil ditangakap oleh Belanda di Magelang, kemudian ke Makasar.

Karena Yogyakarta dianggap ikut bertanggungjawab atas aksi Pangeran Diponegoro ini, maka wilayah Yogyakarta dipotong sehingga tinggal sebesar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang.

Diamping itu, demi keadilan, kata Belanda, wilayah Surakarta ikut dipotong sehingga tinggal wilayah Karesidenan Surakarta sekarang. Bagi Surakarta, alasan yang ada dibelakangnya ialah bahwa Sinuhun Pakubuwono ke-IV pada saat itu juga diam-diam menyusun perlawanan terhadap Belanda.

Disinilah tampak bentuk politik VERDEEL EN HEERS Belanda. Tidak hanya wilayahnya dipersempit, tetapi yang terutama ialah kerajaannya dipecah menjadi 4 kerajaan. Akibatnya sukar sekali untuk bersatu padu dan selalu akan timbul “conflict of interest”. Para raja ingin menonjolkan eksstensinya masing-masing, bahkan mulai menganut pandangan dan cara hidup yang berlainan, yang ikut mempengaruhi rakyatnya, sehingga orang Jawa-pun ikut tepecah belah. Ini dapat dilihat baik dalam cara bicara, cara berbusana dampai pada seni gamelan dan seni tarinya. Dalam semua hal ini orang Surakarta berbeda dengan orang Yogyakarta.

Harapan akan pulihnya kembali kerajaan Mataram semakin menipis. Beberapa Sinuhun telah mencobanya, seperti yang terakhir dilakukan Sinuhun Pakubuwono ke-VI dalam Perang Jawa bersama-sama dengan Pangeran Diponegoro. Namun Belanda sudah terlalu kuat, Sinuhun Pakubuwono ke-IV tertangkap ketika mau nepi di Parangtritis, yang kemudian dibuang ke Ambon. Dan meninggal disana.

Sri Susuhunan Pakubuwono ke-VI, setelah wafat berganti nama menjadi Susuhunan Bangoentopo, diangkat menjadi pahlawan Nsional berdasarkan Surat Keputusan Presiden 17 November 1964 Nomor 294. Pada waktu pemindahan kerangkanya dari Ambon ke Imogiri ternyata ditengkorang Sinuhun terdapat peluru bekas tembakan. Ini bukti bahwa beliau meninggal karena dibunuh.

Lain ceritanya mengenai Sinuhun Pakubuwono ke-IX. Dimasa pemerintahannya Sinuhun Pakubuwono ke-IX, Belanda mendekati Sinuhun Pakubuwono ke-IX dengan maksud membujuk Sinuhun agar mau menyerahkan dengan baik-baik wilayah Bagelen dan Banyumas, atas dasar perjanjian sewa-menyewa. Tetapi Sinuhun Pakubuwono ke-IX tidak berkenan memberikan.Karena lewat jalan ini usahanya tidak berhasil, maka Belanda pernah mencoba dengan paksaan yaitu dengan kedatangan utusan Belanda ke Keraton Kasunanan Solo. Tetapi Sinuhun Pakubuwono ke-IX saat itu tetap bertahan dan tidak mau menuruti permintaan Belanda itu, sekalipun jika terpaksa sanggup mati bersama dengan seluruh anggota keluarga untuk mempertahankan wilayah itu.

Pada jaman Sinuhun Pakubuwono ke-X saat itu, juga berusaha, dengan menempuh jalan diplomasi, dengan membantu dan melindungi gerakan nasional, sekalipun dengan resiko tinggi, berhasil menggugah semangat rakyat untuk berani melawan Belanda.

Silakan Beri Komentar

© Copyright Prodi Sejarah 2011. All rights reserved.