Perjanjian Portugis Pajajaran 1522

Pada tanggal 21 Agustus 1522, Henrique Leme, utusan Gubernur Malaka menandatangani perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran, Pangeran Surawisesa, pengganti Sri Baduga, yang isinya antara lain:

1) Portugis dapat mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kalapa.

2) Raja Pajajaran akan memberikan lada sebanyak yang diperlukan Portugis sebagai penukaran barang-barang kebutuhan Pajajaran.

3) Portugis bersedia akan membantu Pajajaran apabila diserang tentara Demak atau yang lainnya.

4) Sebagai tanda persahabatan, raja Pajajaran menghadiahkan 1000 karung (1000 x 10600 caxas Jawa = 160 bahar = 351 sentenar) lada setiap tahun kepada Portugis.

Untuk memperingati dan sebagai tanda adanya perjanjian tersebut, dibuatlah tugu batu di pinggir kiri muara sungai Ciliwung. Tindakan raja Pajajaran ini bukannya menyelesaikan masalah, melainkan membuat situasi semakin tidak menentu. Rakyat kerajaan Pajajaran, yang sudah banyak beragama Islam, menyambut perjanjian persahabatan Portugis ini dengan ketidakpuasan. “Pamor” raja di mata rakyat semakin menurun. Beberapa daerah pesisir berusaha pula melepaskan diri dari pengawasan Pajajaran. Terjadilah perlawanan rakyat yang antara lain dipimpin oleh Hasanuddin yang menentang perjanjian itu.( Halwany Microb dan A Mujahid Chudari. 1993.Catatan Masa Lalu Banten.Serang,Penerbit Saudara.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1535Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13633Dibaca Per Bulan:
  • 346609Total Pengunjung:
  • 1430Pengunjung Hari ini:
  • 13046Kunjungan Per Bulan:
  • 19Pengunjung Online: