Perkembangan Religi dan Ketuhanan Manusia Indonesia.

Oleh: Oktapian Permana & Neneng Khairunisa

Berbicara mengenai Religi di dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) Religi di artikan sebagai “kepercayaan manusia pada kekuatan yang ada di luar dirinya”. Maka akan berkaitan dengan aspek Batiniah manusia, dimana manusia meyakini suatu kekuatan yang “ada” being dan yang “meng-ada” Being to be , yang senantiasa melindunginya, adalah bahwa kekuatan tersebut merupakan kekuatan yang bersifat Adi kodrati atau yang berada di luar kemampuan manusia dalam segala kualitas ,berdasar kepada kepercayaan inilah yang melahirkan agama-agama di Dunia. Menurut Karen Amstrong di dalam bukunya History Of Good , dia dengan begitu fasih berhasil menggenarilasikan berbagai gagasan mengenai keberagaman Agama dan kepercayaan Manusia yang ada di dunia, bahwa pada dasarnya manusia di liputi oleh ketakutan dan Perasaan Eksistensialis di mana perasaan-perasaan inilah yang kemudian menjadi ide yang justru sesungguhya bersifat penyemangat hidup (Spiritualism) dan kemudian melahirkan gagasan tentang adanya kekuatan yang Adi kodrati tersebut yang di sebut dengan nama ”Tuhan”.

Kecemasan-kecemasan yang memuncak mengenai pristiwa-pristiwa alam yang bersinggungan langsung dengan dunia tempat kehidupan manusia, perasaan keterasingan dan pencarian akan identitas diri, mengantarkan manusia kedalam Dunia Eksistensialisme murni dan akhirnya mengarahkan manusia kedalam pandangan Teologis , sebagai jawaban dari segala pertanyaan akan perasaan keterasingan dari misteri-misteri Alam semesta yang ada di balik gejala dan pristiwa alam serta manusia , inilah yang menjadikan manusia kemudian meyakini akan adanya sebab dari segala sebab yang “Ada”. Pada mulanya manusia mencari kekuatan itu dalam gejala-gejala alam tadi seperti : petir, api, matahari dan bahkan hujan mengasosiasikankanya kedalam peristiwa-peristiwa kehidupan manusia ke dalam sosok-sosok pribadi manusia yang di sebut Deva atau Dewa yang dalam bahasa Sangsekerta kurang lebih artinya adalah pribadi yang “Bercahaya” yang menguasai dan mengendalikan Alam seperti : Poseidon dalam tradisi Yunani Kuno sebagai dewa penguasa lautan, Surya dalam Tradisi Hinduisme sebagai Dewa matahari, Adapula dewa yang di asosiasikan dengan kehidupan manusia seperti dewa Indra sebagai Dewa Peperangan, selain itu ada pula kepercayaan yang meyakini eksistensi kebendaan yang memiliki sifat-sifat Tuah atau adanya kesaktian. Berkenaan dengan kehidupan manusia mereka juga mulai berfikir tentang adanya hidup sesudah kematian, yang di pandang oleh Sigmund freud sebagai gejala pelarian dari kenyataan-kenyataan pahit kehidupan dunia ini. Kehidupan sesudah kematian berkaitan dengan adanya kekuatan tak kasat yang kekal yang menggerakan tubuh manusia atau yang di sebut sebagai Roh. Roh-roh ini di identifikasikan dengan kekuatan yang juga berpengaruh terhadap kehidupan manusia dan kemudian menjadikan mereka sesuatu yang yang patut di hormati, roh-roh ini juga di anggap berpengaruh terhadap jalanya pristiwa-Pristiwa alam dan Sejarah umat manusia. yang selanjutnya di jadikan sebagai sesembahan dalam bentuk Sesajen agar Roh-Roh manusia yang sudah meninggal kemudian justru memberikan kebaikan kepada hidup manusia dan bukan justru keburukan-keburukan yang mungkin terjadi. Kepercayaan ini kemudian di sebut Animisme , selain itu ada pula kepercayaan akan adanya objek-objek benda yang memiliki kekuatan magis atau spiritual yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia , benda-benda seperti Nekara, senjata ,batu , pohon dan lain nya kepercayaan ini kemudian di sebut dengan nama Dinamisme.

Kepercayaan-kepercayaan di atas kemudian berevolusi lagi menjadi bentuk yang lebih tinggi lagi yaitu kepercayaan yang bersifat Monotheistik, yaitu kepercayaan kepada adanya kekuatan yang maha tunggal yang tidak ada bandingan nya , kepercayaan terhadap adanya Roh yang Maha tinggi roh yang menguasai tiga alam yaitu : Alam nyata , Alam para dewa , dan Alam Ilahiah . kekuatan ini merupakan kekuatan yang tidak ada bandinganya dan tidak terdefinisikan melalui wujud materi yang menguasai batin setiap manusia atau dalam istilah lain di sebut yang Transendental ,berkedudukan singgasana di alam ilahiah dan berkuasa atas segala apa yang di kehendakinya, termasuk kehidupan manusia dalam setiap takdirnya.

Sosok ini didalam agama hindu di sebut Atman yang menjadi awal mula dari segala sesuatu , di dalam tradisi Semitik di sebut Elohim, Yahweh dan Allah oleh Bangsa Arab, di dalam tradisi sunda di sebut Hyang yang di manifestasikan dalam Guriang Tujuh , bahkan di dalam hinduisme Atman bermanifestasi dalam wujud tiga Dewa utama yaitu : Brahma, Visnu dan Shiwa yang nyatanya kepercayaan ini berkembang pada tradisi Jaman Upanisad yang sebelumya justru berpusat pada dewa Indra sebagai dewa pemimpin perang. kepercayaan terhadap adanya Atman sebagai penjelma dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu berasal dan dan merupakan bagian dari pribadi Nya di sebut sebagai yang Imanen atau segala sesuatu tercipta dan menjelama dari pribadinya Nya. Dalam kepercayaan Monotheisme bangsa semitik ( Abrahamik) kepercayan kepada Tuhan justru berasal dari ritus-ritus yang sudah ada sebelumnya terhadap kepercayaan akan dewa-dewa yang menguasai kekuatan alam, kemudian berdasarkan kebiasaan di kota-kota benteng yang di timur dekat di sekitar daerah bulan sabit subur, yang setiap kota memiliki dewanya masing-masing bisa jadi dewa pelindung yang juga merupakan dewa yang menjadi pemimpin dari para dewa lainya seperti dalam tradisi israel utara “ Elohim “ dan yehuda di selatan “ yahweh” yang menjadi ketua dewan para dewa yang berkedudukan di Bait Allah Salomon di Yerusalem sebagai manifestasi singgasana surgawinya di dunia, dan Allah sebagai dewa pelindung para pengembara di gurun-gurun Arabia yang kejam, kedudukan mereka umumnya bersifat Transendental.

Dalam perkembangan ke agamaan yang ada di indonesia, tadisi keagamaan justru berkisar pada tiga priode jaman yaitu: Religi Jaman Praaksara, Jaman Hindu Budha dan Religi jaman Islam, pada jaman-jaman ini berkisar geliat keagamaan yang luar biasa bahwa agama-agama berkembang dengan pesat seperti tiga agama yang paling berpengaruh terhadap kehidupan orang indonesia di masa silam yaitu: Hindu,Budha dan Islam.

Pada jaman pra aksara keagamaan indonesia di dominasi oleh kepercayaan akan adanya kekuatan Roh nenek moyang (Animisme) dan kepercayaan akan adanya kekuatan yang ada pada benda-benda yang memiliki tuah seperti , senjata , nekara, batu , pohon , bahkan gunung ( Dynamisme). Yang mereka pada waktu itu melakukan pemujaan dalam bentuk saji-sajian berupa hasil bumi dan hasil ternak , mereka beranggapan bahwa jika mereka tidak memberikan saji-sajian, maka akan membawa dampak buruk bagi kehiduapan manusia dan sebaliknya dengan melalui saji-sajian ini mereka berharap akan membawa dampak baik bagi kehidupan manusia seperti : hasil panen yang melimpah , keamanan dari bencana alam , jauh dari penyakit, ketentraman keluarga dan masyarakat. Berkenaan dengan jaman ini Ada hal yang menarik berkaitan dengan kepercayaan yang ada pada suku-suku lokal di indonesia yang menjadi kegelisahan penulis, apakah di pandang sebagai gejala Monotheisme Transisi atau Monotheisme purba? seperti kepercayaan adanya Sang Hyang seperti dalam tradisi masyarakat Baduy dan komunitas Sunda Wiwitan pada umumnya , juga komunitas-komunitas masyarakat lainya di mana Hyang merupakan Eksistensi yang “being to be” atau mengada dengan sendirinya dan menjadi asal muasal dari segala sesuatu “emanesi”, dan yang berkedudkan di alam yang Ilahi “Transendensi” yang dapat di capai lewat kontemplasi mistis dalam kegiatan-kegiatan Ruhani, jika memang ini monotheisme purba maka monotheisme sudah ada semenjak jaman pra Aksara, sedang yang para orientalis pahami adalah hanya lewat tradisi yang di bawa Abraham dan Anak cucunyalah yang paling tua, sedang jika ini adalah monotheisme Transisi maka bisa di bilang bahwa terjadi persinggungan antra Suku-suku lokal di Indonesia dengan Pengaruh yang datang dari luar seperti Monotheisme Emanasi dari India.

Pada masa berikutnya yaitu jaman Hindu-Budha, seiring dengan masuknya pengaruh India dalam kehidupan bangsa indonesia seperti aksara palawa dari india ,dan juga masuknya agama hindu-budha kepercayaan masyarakat indonesia berubah seiring dengan di adopsinya system politik india dalam bentuk kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha, menandakan bangsa indonesia mulai menganut agama-agama yang sudah di bilang mapan. Namun di sisi lain masih mempertahankan ritus-ritus kepercayaan asal seperti dalam bentuk sesajen dan juga Singkretisme dalam aspek- aspek yang bersifat teologis.

Datanganya agama islam menandai revolusi keagamaan yang besar di indonesia , bahwa dengan datangya islam memberikan suasana dan budaya baru di indonesia yang datang dari dunia yang asing di tanah Arabia. Bahwa di dalam islam tampaknya sedikit sekali di temui kompromi terhadap kepercayaan yang sudah ada sebelumya. Plihannya adalah kalau tidak menerima Islam adalah kafir , jadi sedikit ruang bagi terjadinya Singkretisme , adapaun itu tradisi-tradisi lokal masih bisa bertahan dan pelan-pelan bisa di terima oleh komunitas Islam di indonesia dalam bentuk Akulturasi .

Sumber Pustaka

1.Harun Nasution, Filsafat Agama

1.DR. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2

2.Marwati Djoened Pusponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1

3.Agus aris Munandar dkk, Bangunan Suci Sunda Kuno

4.Karen Amstrong 1, Sejarah Tuhan

5.Karen Amstrong 2, Sejarah Singkat Islam

6.Karen Amstrong 3, Sejarah Alkitab

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1532Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13630Dibaca Per Bulan:
  • 346606Total Pengunjung:
  • 1427Pengunjung Hari ini:
  • 13043Kunjungan Per Bulan:
  • 13Pengunjung Online: