Permasalahan Umum Pembelajaran Sejarah

Dua hal pokok yang sering menjadi dasar timbulnya keragu – raguan akan posisi dari pelajaran sejarah di Sekolah. Yang pertama adalah bahwa dalam abad teknologi moderen sekarang ini , yang sangat menekankan pada unsur produktifitas maupun keuntungan baik secara ekonomis dan tujuan-tujuan materialistis lainnya, banyak orang mempertanyakan tentang keuntungan yang bisa ditawarkan oleh sejarah sebagai suatu mata pelajaran yang memang sering dianggap sebagai “ Studi Perenungan “ ( meditative study ).

Keragu-raguan akan pelajaran sejarah di sekolah juga bersumber pada kalangan ahli – ahli psikologi pendidikan yang bersama-sama dengan beberapa ahli sejarah sendiri melihat bahwa sejarah sulit diajarkan disekolah karena memerlukan tingkat kemampuan intelektual yang matang untuk mampu menyerap konsep-konsep sejarah (perkembangan waktu) yang abstrak, serta dilain pihak sejarah juga menuntut kemampuan teknis yang tinggi.Seperti antara lain ditegaskan oleh G. R. Elton (seorang profesor sejarah dari Inggris), sejarah sulit diajarkan secara sewajarnya sebelum murid mencapai tingkat perkembangan intelektual yang cukup matang (tingkat “formal operational’ menurut kategori Piaget, yaitu disekitar umur 16 tahun) (dikutip dari Zaccaria 1978 : 333).

Memang kelihatannya perlu disadari,terutama oleh guru sejarah, hambatan-hambatan mental yang harus dihadapi murid dalam menangkap konsep waktu. Akan tetapi hambatan-hambatan ini rupanya terutama berlaku bagi anak-anak pra-adolessensia. Disamping itu,anggapan ini sebenarnya belum sepenuhnya didukung oleh penelitian-penelitian yang sebenarnya memang masih sangat terbatas jumlahnya. Malah ada yang masih mempertanyakan hasil-hasil penelitian yang ada, yang dikatakan lebih menunjuk pada kesimpulan tentang kajian “pencapaian hasil belajar” daripada suatu hasil pengkajian “kemampuan intelektual murid”. Kalau benar demikian, maka masalahnya lebih banyak sebenarnya terletak pada “proses belajar mengajarnya” daripada masalah “perkembangan kemampuan intelektual” murid (Maitland 1977 : 26). Dengan kata lain, memang harus diakui keterbatasan kemampuan intelektual anak-anak pra-adolessensia untuk menangkap konsep-konsep abstrak tentang waktu,tapi dengan pendekatan metodologis pedagogis yang memadai,beberapa konsep sejarah sederhana sudah bisa diserap oleh anak-anak pada tingkat perkembangan intelektual yang lebih awal.

Anggapan seperti digambarkan diatas ini juga dikemukakan oleh E.A. Peel, seperti dikutip oleh Zaccaria, yang antara lain menyatakan bahwa sejarah memang sulit diserap oleh anak-anak,karena sejarah sebenarnya terutama menaruh perhatian pada aktivitas orang dewasa yang hidup pada jaman yang berbeda dengan jamannya anak-anak yang belajar sejarah itu. Karena itu Peel menyimpulkan bahwa tugas utama yang perlu dipikirkan sebelum kita mengajarkan sejarah pada anak-anak ialah menemukan cara-cara menyambungkan celah antara dunia anak-anak dengan dunia orang dewasa yang digambarkan dalam sejarah. Guru sejarah perlu menemukan cara untuk mengadakan pendekatan terhadap pengalaman orang dewasa diwaktu lampau (yang tercermin pada sejarah) dengan cara yang lebih riil dilihat dari alam pikiran anak-anak. Masa lampau orang dewasa tersebut perlu dibangun kembali dalam wujud yang lebih dimengerti anak-anak. Tegasnya, kesenjangan antara dunia pengalaman orang dewasa yang tercermin pada sejarah perlu dijembatani dengan memanfaatkan apa saja yang memungkinkan murid menangkap gambaran masa lampau itu; dalam hal ini kelihatannya berlaku prinsip, makin kongkrit pendekatannya akan makin bagus, dalam artian makin mudah menimbulkan pengertian pada anak tentang masa lampau tersebut (Zaccaria 1978 : 334)

Dengan demikian masalah kita sebenarnya tidak terletak pada pertanyaan “apakah kita mungkin atau perlu mengajarkan sejarah”, tapi “apakah kita mampu mengajarkan sejarah itu?” ini berarti bahwa yang perlu dipikirkan, terutama oleh guru sejarah, ialah bagaimana mengembangkan cara-cara mengajarkan sejarah yang sesuai dengan sifat sejarah itu sendiri.

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas , tentu saja ada  kiat – kiat tertentu agar siswa tertarik belajar sejarah .Apa yang sebaiknya upaya guru sejarah agar peserta didik tertarik untuk belajar?  Schneider ( Ed)(1994) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh guru , antara lain :

  1. Bahan pelajaran hendaknya menyajikan pengetahuan, keterampilan,nilai-nilai dan sikap yang berguna baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  2. Proses pembelajaran menawarkan gagasan-gagasan yang penting melalui topik-topik yang terpilih untuk membangun pemahaman,apresiasi peserta didik dan aplikatif dalam kehidupan nyata.
  3. Signifikansi dan kebermaknaan dari isi materi sejarah yang disajikan oleh guru dan diraih oleh peserta didik, tergantung dari cara penyajiannya dan perkembangannya melalui berbagai kegiatan.
  4. Guru melalui refleksi membuat perencanaan ,melaksanakan dan mengevaluasi keberhasilan proses belajar mengajar untuk kemudian merubah.memodifikasi,merenovasi demi kebutuhan.
  5. Proses pembelajaran harus memberikan tantangan bagi peserta didik dengan mengajak mereka berpikir,mengemukakan pendapat,menyusun argument yang bernalar.
  6. Guru menyusun strategi yang membawa peserta didik aktif berpartisifasi, dan mengurangi cara-cara penyampaian yang selalu menerangkan atau memberikan informasi, dan karenanya memberikan peranan pasif kepada peserta didik, dengan mendorong mereka lebih mandiri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan kepada peran guru sebagai sumber informasi, dengan melakukan inkuiri sendiri.
  7. Pendidikan nilai melalui sejarah perlu dilakukan untuk mengembangkan etika dan kehalusan rasa peserta didik melalui latihan membahas controversial, agar mereka mulai belajar berpikir reklektif di dalam menanamkan kepedulian terhadap kesejahteraan bersama dengan mengaplikasikan nilai – nilai sosial yang mereka pelajari.
  8. Pembelajaran nilai ini melatih mereka berpikir ktitis dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai yang telah mereka pahami dan miliki ( value-based decision).melatih mereka menghormati pendapat orang lain,menghormati adanya perbedaan dan keragaman budaya, serta belajar memikul tanggung jawab sosial.

 

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 488Dibaca Hari Ini:
  • 1675Dibaca Kemarin:
  • 19886Dibaca Per Bulan:
  • 352408Total Pengunjung:
  • 465Pengunjung Hari ini:
  • 18845Kunjungan Per Bulan:
  • 6Pengunjung Online: