PERTEMPURAN LAUT ARU

Peristiwa pertempuran laut aru bermula pd tahun 1962, dibentuk suatu Operasi Militer, yang bernama Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dengan komandon Mayjen Soeharto-dibentuk tanggal 2 Januari 1962 sebagai manifestasi dari tiga Komando Rakyat (Trikora) yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 19 Desember 1961 ,strategi operasi militer yang terbagi dalam tiga fase : Fase Infiltrasi (penyusupan), Fase Eksploitasi (serangan massif terhadap pusat kekuatan lawan) dan Fase Konsolidasi (penguasaan secara mutlak Irian Barat). Pada fase infiltrasi, dilakukan dengan menyusupkan pleton tugas (kebanyakan orang dari irian) yang telah dilatih oleh AD ke irian barat (Vlakte Hoek) . Namun pada awal pembentukannya misi ini adalah sebuah task force dan belum menjadi operasi gabungan karena pada saat itu koordinasi antar angkatan masih buruk.Angkatan laut diminta membawa pleton tugas. Setelah sebelumnya TNI AU pun mengantar satgas yang lain ke letfuan.

Saat itu komandan eskader adalah direktur operasi MBAL Kolonel Laut Sudomo namun Komodor Yos Soedarso (sebagai deputi I operasi KSAL) yang nota bene pangkatnya lebih tinggi dari beliau turut serta.Agaknya hal ini agak disesalkan oleh sudomo(dlm wawancara dgn metro TV) krn bisa mengacau chain of comand (rantai komanndo). Namun karena semangat bertempur dan tekad dari Yos Soedarso akan membawa tanah langsung dari irian barat untukditunjukan pd anggota dewan dan akan menancapkan bendera merah putih di irian barat. Beliau berkata “Klo kamu (soedomo-red) ikut aku juga ikut”

Misi yang dilakukan empat kapal Motor Torpedo Boats/MTB terbilang sangat berani dan penuh risiko, karena sebelum bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok, senjata andalan pada keempat MTB yang berupa Torpedo 21 inci (bentuk awal dari Rudal tapi belum ber pengendali) telah dipreteli dulu, dengan maksud agar mampu mengangkut pasukan yang lebih banyak dan perahu karet untuk mendarat ke pantai.(sebagian mengatakan stock torpedo terbatas krn embargo dari inggris). Misi ini merupakan misi rahasia, bahkan saking rahasianya pengisian bahan bakar serta logistik tambahan untuk menempuh perjalanan dari Tanjung Priok ke Irian Barat harus dilakukan di tengah malam, tanpa boleh berlabuh di semua pelabuhan yang dilewati. Di tengah perjalanan KRI Singa kehabisan bahan bakar sehingga hanya tersisa tiga MTB yang harus melanjutkan misi tersebut. Ketiga MTB pun tidak diperkenankan menggunakan radio Komunikasi untuk berkomunikasi selain dengan sesama MTB peserta operasi (taktik radio silent)

Hari H pukul 17.00 waktu setempat, KRI Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol. Mursyid, dan Kapten Tondomulyo sebagai kapten kapal.Di belakangnya adalah KRI Macan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso dengan kapten kapal Wiratno. Sedangkan di urutan paling belakang adalah KRI Macan Kumbang.

Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di kiri.(2 kapal jenis freegat ,Hr Ms Evertsen dan Hr Ms Kortenaer ,satunya lagi adalah kapal Induk Karl Doorman) tanda blips tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI tetap melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat neptune belanda mendekat, lalu menjatuhkan flare (merah menyala terang) yang tergantung pada parasut. Keadaan menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama.

Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo memerintahkan untuk balas menembak.Lalu KRI macan tutul menembakan tembakan balasan namun tidak mengenai sasaran. Berbekal titik api dari moncong tembakan itulah mungkin belanda berhasil menargetkan sasaran tepat ke lambung kapal & ruang kendali KRI macan tutul.mengakibatkan beberapa anggota terluka termasuk kapten kapal wiratno.Dalam keadaan darurat, Komando kapal macan tutul kemudian diambil alih Yos Soedarso.

Keadaan semakin genting.Lalu Kol Soedomo memerintahkan ketiga kapal untuk berputar ke kanan arah 239 derajat. Kolonel soedomo menyadari pertempuran tidak seimbang.Karena ketiga KRI hanya dipersenjatai senapan mesin anti pesawat terbang berupa senjata 12.7mm dan meriam 40 mm yang tidak bisa menjangkau target kapal-kapal belanda dan tidak membawa torpedo sama sekali sehingga tidak mungkin menghadapi kapal belanda yang jauh lebih kuat(berjenis freegat dan destroy mempunyai meriam 4,7inci(12 cm), jadi bertahan dengan formasi apapun akan percuma.

Dua KRI berhasil berbalik arah,namun KRI macan tutul malah lurus (agak kekanan) mendekati kapal belanda Mr eversten. Ada beberapa versi mengapa KRI tsb malah menghampiri kapal belanda. Sebagian mengatakan kendali kapal macet sehingga tidak bisa berputar haluan, malah menuju kearah musuh. Ada pula yg mengatakan Yos Soedarso sengaja memerintahkan kapal tetap melaju kedepan untuk mengorbankan diri agar ke dua kapal lainnya selamat (Soedomo mengkritik keputusan yos soedarso ini yg dianggap salah olehnya), lainnya mengatakan komando salah dengar, harusnya kapal menuju 239derajat malah 329derajat sehingga arahnya lurus. Nakhoda kapal (kelasi suharmadji) dlm sebuah wawancara berkeyakinan dia mendengar perintah untuk tetap maju. Mungkin waktu itu keadaan sangat genting dengan ruang kendali yang sudah rusak. Komodor Yos soedarso melalui radio meneriakan perintah “kobarkan semangat pertempuran”.

Karena berusaha mendekati kapal musuh,dan pihak belanda menyangka KRI macan tutul membawa torpedo bersiap untuk melakukan torpedo run(serangan torpedo), karena untuk melakukan serangan tsb, MTB harus mendekat untuk memenuhi jarak tembak torpedo(sebagaimana diketahui efek rusak torpedo jauh lebih sadis daripada pluru meriam biasa) maka dari itu segala tembakan belanda dikonsentrasikan ke macan tutul hingga akhirnya ia tenggelam.

Dalam kejadian itu 25 ABK KRI macan tutul tewas selebihnya yang selamat ditawan belanda. Dalam tawanan belanda,saksi hidup dari ABK KRI macan tutul diperlihatkan photo-photo beberapa KRI termasuk photo KRI Macan Tutul.Ini menyiratkan bhw operasi rahasia ini sempat bocor. Blum lagi kapal2 belanda dengan persenjataan lengkap yang telah siap menyambut kedatangan KRI di perairan aru mengindikasikan adanya operasi kontra intelijen untuk melawan intelijen indonesia.

Operasi Trikora ,Secara militer tidak menghasilkan kemenangan secara taktis. tetapi secara strategis, Operasi ini membuahkan hasil untuk Indonesia. Amerika mendesak dan bahkan mengembargo Belanda agar terjadi perundingan antara indonesia dan belanda. Amerika pun khawatir indonesia berpaling ke Uni Soviet. Lagipula faktanya kekuatan militer indonesia lebih unggul dibanding belanda. Angkatan udara indonesia waktu itu adalah terbesar kedua di asia setelah china.

Setelah kejadian ini angkatan udara dipersalahkan karena tidak melindungi dari udara operasi KRI tsb.Saat itu angkatan udara adalah “anak emas” soekarno. Akhirnya panglima AU diganti dari Suryadharma ke Oemar Dhani.

simak hal miris dibawah ini

Gagal namun dinilai heroik

Hari Sabtu, 20 Januari 1962, diadakan rapat di Istana Bogor yang dipimpin oleh Bung Karno, untuk mengangkat Laksamana Muda Omar Dhani sebagai KSAU yang baru. Setelah itu langsung diadakan briefing mengenai peristiwa Aru. Kolonel Mursyid sebagai komandan tim juga sudah kembali untuk memberikan paparan. Begitu paparan selesai, suasana di ruang rapat yang terletak di sayap kiri Istana Bogor itu jadi mencekam, serius, sepi, dan semua diam. Seakan-akan menikmati rasa kemenangan dan kepahlawanan. Yos Sudarso gugur, operasi gagal, namun dinilai heroik.

Keheningan kemudian dipecahkan oleh Presiden Soekarno. “Siapa yang mau tanya atau minta penjelasan?”

Ternyata, Omar Dhani satu-satunya yang bertanya, “Tadi dikatakan oleh Kolonel Mursyid bahwa hari H -3, H -2, H -1, bahkan pada hari H-nya sendiri sudah ada pesawat Belanda melakukan pengintaian di tempat rendezvous. Artinya, Belanda sudah tahu iring-iringan kapal kita. Sebagai seorang komandan, entah komandan regu, komandan batalyon, bahkan panglima angkatan sekalipun yang diberi tugas dengan target tertentu, dengan data dan info pada saat itu, kalau dalam melaksanakan tugasnya itu kemudian menemui situasi dan kondisi yang berbeda, apalagi bertentangan dengan data dan info yang ia dapatkan sebelumnya, mereka punya hak untuk mengubah taktik guna mencapai sasaran semula. Apakah pada misi tanggal 15 Januari itu dilakukan perubahan taktik? Yaitu, setelah jelas-jelas ada pengintaian pesawat Belanda yang terus-menerus?”

Kolonel Mursyid menjawab, “Tidak ada perubahan karena ….” lalu beliau menekankan pentingnya operasi ini krn sebuah tugas negara,tuntutan rakyat dll.

Bung Karno kemudian bertanya, “Bagaimana Omar Dhani?”

Lalu Omar Dhani menjawab, “Sudah, Paduka Yang Mulia.”

Rapat diskors dan semua menuju beranda untuk makan siang.

Setelah mengambil makanan, Bung Karno duduk di kursi rotan sendirian. Ia memanggil Omar Dhani agar duduk di sebelah kirinya dan bertanya, “Kamu kelihatannya belum puas dengan jawaban Mursyid. Mengapa?”

Omar Dhani menjawab, “Pertama, mereka tidak melakukan revisi rencana operasi, itu kecerobohan. Kedua, tiga kapal Belanda, kalau benar laporan Kolonel Mursyid, bukannya sedang patroli seperti yang diberitakan pers, tetapi mereka berhenti pada jalur pelayaran kapal kita. Maar we werden opgewacht, tetapi tiga kapal kita disanggong. Ini berarti rencana kita sudah bocor, dan bocornya bukan di Aru, tetapi di Jakarta.

Langsung Presiden Soekarno bilang, “Je hebt gelijk, kamu benar.”

Setelah makan siang selesai, rapat dilanjutkan namun hanya seperempat jam. Presiden mengimbau agar pesan terakhir Komodor Yos Sudarso dilaksanakan dan kerahasiaan ditingkatkan. Kebocoran dalam peristiwa Aru sama sekali tidak disinggung.

Kebesaran Bung Karno

“Akan aku ceritakan kepadamu sesuatu yang belum pernah kuceritakan pada orang lain,” kata Omar Dhani beberapa saat setelah keluar dari penjara. Mantan KSAU itu menyadari bahwa Bung Karno telah mengambil keputusan yang tepat. Lebih mendahulukan kepentingan nasional daripada kepentingan angkatan, apalagi kelompok yang lebih kecil. Bung Karno telah dengan sangat jeli mengetahui bahwa Omar Dhani tidak puas dengan jawaban Kol. Mursyid, dan dengan cara elegan serta luwes memaksa Omar Dhani untuk menyatakan kepuasannya.

Bung Karno tidak membongkar adanya kebocoran karena hal itu bisa menimbulkan rasa tidak enak antarangkatan. Bung Karno membiarkan suatu kegagalan dan kesalahan menjadi suatu tindakan yang heroik. Ia menjadikan teriakan tempur Yos Sudarso, “Kobarkan semangat pertempuran,” secara maksimal. Itulah kebesaran Bung Karno yang akhirnya bisa dimengerti para pimpinan AURI, Sebagai ahli strategi militer, Bung Karno dengan cepat memanfaatkan kekalahan dalam satu pertempuran menjadi suatu kemenangan politis dan psikologis yang kemudian memenangkan peperangan. “kobarkan semangat pertempuran”

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 998Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14935Dibaca Per Bulan:
  • 347756Total Pengunjung:
  • 919Pengunjung Hari ini:
  • 14193Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: