Pertempuran Surosowan

Halwany Michrob)*

Kesempatan yang terbaik untuk mengambil keuntungan dari politik adu domba selalu dinantikan oleh Kompeni Belanda. Persatuan yang telah diusahakan oleh Sultan Ageng Tirtayasa selalu diganggu dan dicari-cari siasat pemecahannya. Kompeni Belanda berhasil merenggangkan persatuan antara Cirebon dan Banten yaitu setelah Sultan Cirebon diakui kedaulatannya terlepas dari pengaruh-pengaruh Banten. Karena itu pula maka pasukan Kompeni di bawah pimpinan Kapten Michielsz berhasil memasuki daerah Cirebon dan dapat mengurangi bahkan mendesak gerilyawan-gerilyawan Banten dari daerah itu. Monopoli perdagangan terhadap Cirebon mulai berlaku bagi Kompeni. Disamping itu persahabatan yang mesra antara Kompeni dengan Sultan Haji makin dipererat dengan sementara melupakan syarat-syarat perjanjian yang pernah dibicarakan di antara kedua belah pihak.

Pimpinan Kompeni di Jakarta ialah Gubernur Jendral berganti dari Rijklof van Goens kepada Speelman. Sultan Haji segera mengirimkan utusannya pada tanggal 25 Nopember 1680 ke Jakarta untuk menyampaikan rasa gembira dan rasa persahabatan berhubung dengan pengangkatan Speelman itu. Perbuatan-perbuatan Sultan Haji yang sejak beberapa tahun lamanya menyakiti hati ayahnya serta hati seluruh rakyat Banten yang mempunyai kepribadian dan kedaulatan penuh itu makin menggerakkan hati rakyat serta ayahnya untuk segera menumpasnya. Terutama karena pihak ketigalah yang amat dahsyat yang menjadi dalang dalam meretakkan hubungan ayah dan anak dan memecah persatuan rakyat Banten. Pihak ketiga itulah yang mesti dihancurkan yaitu Kompeni.

Meskipun demikian pada tahun tersebut amarah rakyat serta Sultan Ageng Tirtayasa belum mencapai puncaknya. Dalam tahun 1681 dan seterusnya ketegangan-ketegangan diantara ayah dan anak makin terasa dan tinggal menunggu saat meletusnya peperangan. Sultan Haji dan agaknya dengan persetujuan ayahnya masih sempat mengirimkan utusan ke London. Utusan dari Banten itu berangkat dengan kapal Inggris “London ” pada tanggal 10 Nopember 1681. Di antara pimpinannya yang amat dikenal adalah Jaya Sadana. Selama utusan-utusan pergi ke negeri Inggris, di Banten ketegangan-ketegangan antara kedua belah pihak hampir memuncak. Menginjak tahun 1682 dan tepat pada bulan Pebruari amarah rakyat dan Sultan Ageng Tirtayasa meletus untuk segera mengumumkan peperangan.

Sultan Ageng Tirtayasa sudah bulat tekad dan semangatnya. Segera ia mengadakan mobilisasi, menghimpun serta memanggil rakyat yang masih cinta akan kemerdekaan. Setiap warga laki-laki dipanggil untuk menjadi tentara dengan tidak membedakan asal dan keturunan. Mereka terdiri dari orang : Makasar, Melayu, Banten dan rakyat sekitarnya seperti dari Pontang, Caringin, Tanara, carita dan Tirtayasa. Demikian pula rakyat dari Lampung, Salebar dan Bengkulu yang masih setia kepadanya menyatukan diri untuk menjadi tentara sultan Ageng Tirtayasa. Lebih-lebih bagi mereka yang sudah sejak sediakala mendapat rintangan dari Sultan Haji, mereka segera mendaftarkan diri lebih dahulu untuk membaktikan dirinya berkurban di medan perang melawan kejahatan dan kedholiman.

Mobilisasi tentara oleh Sultan Ageng Tirtayasa itu sudah dirasakan bahkan menakutkan Sultan Haji. Tetapi bagaimanapun juga telah terlambat ! Tentara Sultan Ageng Tirtayasa sudah siap menunggu komando untuk menyerbu ke Surosowan. Di Surosowan tentara yang amat sedikit memihak Sultan Haji dengan sejumlah serdadu-serdadu Kompeni Belanda itu pun sudah berjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya serangan. Dalam saat-saat yang kritis, penuh ketegangan itu segera Sultan Haji mengirimkan sejumlah tentaranya ke Pontang mendekati dan meninjau pertahanan tentara ayahnya. Tentara serta perwira-perwiranya yang dikirimkan ke Pontang bukan melakukan peninjauan atau penyerangan melainkan segera menggabungkan diri dengan tentara Sultan Ageng Tirtayasa dan menyatakan kesetiaannya untuk berperang di pihak yang benar.

Pada malam yang gelap gelita tepat pada tanggal 26 malam 27 Pebruari tahun 1682 Sultan Ageng Tirtayasa mengeluarkan perintahnya untuk segera menyerang Surosowan. Tentara mulai menyerang dari berbagai arah dan sasaran terutama ialah keraton dan alun-alun tempat serdadu-serdadu Kompeni yang akan membantu tentara Sultan Haji. Sebelum tentara Sultan Ageng Tirtayasa menyerbu ke tempat sasaran, maka terlebih dahulu mereka mengadakan pengacauan, yaitu membakari kampung di berbagai tempat di sekitar Surosowan. Peristiwa itu amat menggentarkan semua penduduk bahkan wakil-wakil dagang bangsa asing, termasuk wakil Kompeni beserta keluarganya. Mereka lari kian kemari tak tentu arah dan tujuan. Anak-anak kecil, tua, muda, laki-laki perempuan berteriak-teriak ketakutan sambil berlari-lari mencari perlindungan yang lebih aman. Keraton tempat Sultan Haji diserbu sambil melakukan pembakaran. Sultan Haji segera lari keluar menuju ke tempat pertahanan tentaranya dan Kompeni untuk minta perlindungan. Jacob de Roy, seorang bekas Kompeni segera melindungi Sultan Haji yang lari ketakutan. Panah, tombak, senapan serta sangkur bergemerencing bersentuhan satu dengan yang lain di dalam pertempuran yang amat dahsyat di alun-alun Surosowan, Gelegaran serta dentuman meriam di saat malam gelap gelita itu menambah kegentaran serta mendirikan bulu tengkuk. Api dari kampung serta bagian bangunan di ibukota yang dibakar ditambah dengan semburan api dari meriam dan senapan memecahkan malam yang kelam menjadi kemerah-merahan membara. Mesjid Agung dengan menaranya yang menjulang tinggi dan semula tidak tampak karena kegelapan tiba-tiba menjadi terang kemerahan. Perkelahian seorang lawan seorang, perkelahian bercampur kelompok demi kelompok berjalan terus semalam suntuk.

Setelah siang menjelang maka pertempuran berhenti. Bantuan Kompeni terhadap tentara Sultan Haji kurang sehingga diminta lagi bantuan dari Jakarta. Bantuan dari Jakarta tidak dapat segera datang dan baru beberapa hari kemudian, bahkan baru tanggal 6 Maret 1682 Kompeni berhasil mengirimkan bantuannya terdiri dari dua buah kapal perang yang penuh serdadu serdadu di bawah pimpinan Saint Martin. Tetapi setibanya di pelabuhan Banten praktis kapal-kapal itu tidak dapat segera mendarat. Karena perlawanan dari tentara Sultan Ageng Tirtayasa tiada hentinya dengan penembakan meriam-meriam ke pelabuhan tempat berlabuhnya dua kapal Kompeni itu. Kapten Sloot dan wakil Kompeni di Banten W. Caeff segera menetapkan niatnya untuk minta bantuan, yang lebih besar ke Jakarta. Setibanya kedua utusan di Jakarta dan setelah memberi laporan seperlunya kepada Pemerintah Tinggi Kompeni maka diperintahkan Kapten Francois Tack seorang opsir yang sudah banyak pengalamannya di daerah-daerah pertempuran pergi ke Banten untuk memimpin pasukan Kompeni. Francois Tack segera berangkat dan sampailah di pelabuhan Banten. Ia menemui Saint Martin di kapalnya untuk merundingkan siasat pendaratan. Setelah itu maka pendaratan dilakukan dan berhasil, yaitu di Kapatian meskipun mengalami tembakan yang gencar dari tentara Sultan Ageng Tirtayasa.

Ayip Ismail Muhammad, Banten & Penunjuk Jalan dan keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan tersebut Banten, 1375 H/1956 M.

Chijs J.A. Mr. van der, “Oud-Bantam” T.B.G. 26, 1881.

Colenbrander, Dr. H.T., Koloniale Geschiedenis, tweede deel, ‘S-Gravehage, Martinus Nijhoff 1925. (khusus mengenai Locale Geschiedenis XIV).

Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum , Uitgegeven door Prof. Mr. J.E. Heeres,derde (1676 -1691) BKI. 91,1934.

Dagh Register 1651 – 1682 gehouden in’t Casteel Batavia, Uitgegeven door het Koninlijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.

Deventer, M.L. van, Geschiedenis der Nederlanders op Java, eerste dan tweede deel, 1886, 1887, Haarlem, H,D. Tjeenk Willink.

Drewes, Dr. G.W..J., “Sech Joesoep Makasar” Jawa 1926, 6e jrg,

Graaf Dr. H.J., Geschiedenis van Indonesia, N.V. Uitgeverij W. van Hoeve, ‘s-Gravenhage-Bandung,1949.

Haan, Dr. F., Priangan. De Preanger Regentschappen onder bet Nederlandsch Bestuur tot 1811, derde deel, Commentaar I 1-1500, Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, batavia-‘S-Gravenhage, 1912.

Haan, Dr. F., Oud Batavia tweede herziene druk, A.C. Nix & Co., Bandung, MCM XXXV.

Hazen, Dr. G.A.J., “Een Beschreven Koperen Plaat uit de Lampongs”. T.B.G. XLVIII, 1902 hal. 1-12.

Hoesein Djajadiningrat, Critische Beschouwing van de Sejarah Banten, bijdrage ter ken Schetsing van de Javaansche Gesehiedschrijving, Academisch Profefsdrift, Leiden, Haarlem, Joh Enschede en Zonen,1913.

Holle, K.F., “Bijdragen tot de Geschiedenis der PreangerRegentschappen.” T.B.G. XVII, 1868.

Jonge, Mr. Jhr. J.K.J., “De Opkomt van bet Nederlandgch Gezag in Oost Indie”, verzameling van onuitgegeven stukken uit het Oud-Koloniaal Archief, zesde, zevende deel, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff, MDCCLXXII, MDCCLXXlll.

Leur, J.C. van, Indonesian Trade and Society, W. van Hoeve, Bandung, 1955.

Chijs, J.A.W. “lets over het ontstaan van eenige regentschappen assistent-residentie Bengkoelen. ” T.B.G. XI, 1862

Raffles, Th. St., The History of Java, vol. 1,11, London, 1817.

Stapel, Dr. F.W., Cornelis Janszoon Speelman, ‘s-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1936.

Terstra, Dr. H., Insulinde Nederland’s verleden in Verre Oosten, N.V. Uitgeverij W. Van Hoeve, Den Haag, 1949.

Valentijn, Fr., Francois Valentijn’s Oud en Nieuw Oost-Indien, Derde deel Tweede uitgave, Uitgegeven door Mr. S. Keijzer, Amsterdam, Wed. J.C. van Kesteren & Zoon 1862, Ibid., IVe deel.

Veth, Prof. P.J., Java, Geographisch, Etnologisch, Historisch, tweede deel gewerkt door Johff. Snellemen en J.F. Niermeyer, Haarlem, De Erven-F. Bohn, 1898.

Warnsinch, J.C.M., Reisen van Nicolous De Graff Gedaan naar alle Gewesten des Werelds. Beginnende 1639 tot 1687 incluis,’S-Gravenhage, Martinus Nijhoff,1930.

Wawancara dengan pejabat-pejabat pemerintah di Serang dan informan di kampung Kasunyatan, Banten Lama, Tirtayasa, Pontang, Tanahara, Pandeglang dan sebagainya sewaktu kami mengadakan fieldwork antara tanggal 26-30 Mei 1964.

 

)* alm. Merupakan Putra Banten yang memiliki Perhatian lebih atas perjalanan sejarah kampung halamannya

2 Komentar

  • budak pandeglang

    Oct 03, 2011

    di lobakeun deui tutulisanna.ja masih loba anu can publikasikeun.manfaat pisan keur pangatahuan.p

  • aslan

    Oct 04, 2011

    sosoito ino pokondau meambo dahu untuk tuangguru yang berbobot

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 558Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14495Dibaca Per Bulan:
  • 347342Total Pengunjung:
  • 505Pengunjung Hari ini:
  • 13779Kunjungan Per Bulan:
  • 20Pengunjung Online: