PIDATO KETUA STKIP SETIA BUDHI RANGKASBITUNG PADA WISUDA SARJANA VIII TAHUN 2011

Puji syukur sepenuhnya kita panjatkan ke hadlirat Illahi Robbi, yang memberi ruang dan kesempatan paripurna ini bagi kita untuk hadir di tempat ini dalam keadaan sehat wal afi’at.

Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada teladan kita sepanjang jaman Nabi Besar Muhammad SAW, teladan akan kecerdasan dan kearifan, serta peletak dasar kemauan intelektual menuju masyarakat yang berkarater.

Sidang senat yang mulia dan hadirin yang kami hormati,

Tiap-tiap wisuda sebagaimana hari ini, merupakan kesempatan yang ideal bagi refleksi pencapaian dan ungkapan harapan. Untuk itu perkenankan saya menyampaikan beberapa pokok pikiran berkenaan dengan pencapaian dan tantangan yang dihadapi STKIP Setiabudhi, di dalam mewujudkan paradigma kependidikan kita

Memelihara eksistensi di tengah hiruk-pikuk kehidupan bangsa yang tengah mengharu biru dengan dinamika sosial-politik, tuntutan keadilan, transparansi dan berbagai fenomena lainnya, secara langsung ataupun tidak mempengaruhi virtualisasi kehidupan kampus.

Kampus sebagai centre of exellent merupakan kawah candradimuka bagi integrasi etika, moral, dan ilmu, sebagaimana nenek moyang mewariskannya. Meneguhkan kembali Ke-indonesia-an kita seperti membaca catatan-catatan kecil yang mengulas keberadaan kami di tengah dinamika masyarakat luas. Catatan tersebut telah memunculkan identitas, wawasan, kesejatian, sikap dewasa dan mawas diri.

Kami menyadari sepenuhnya, lingkungan strategis telah menuntut kami untuk turut pula bersama-sama segenap komponen warga bangsa meramu dan menemu kembali karakter kesejatian kita sebagai pendidik. Pada tataran lokal tempat kami berkiprah, Masyarakat Banten yang heterogen tengah berada dalam semangat menemu kembali tersebut. Kerinduan masyarakat akan nilai-nilai asasi manusia Banten; yang menghargai sebuah proses, gandrung dan bangga dengan keterampilan, bukan style dan gengsi, menghargai keunggulan, serta mau dan jujur untuk mengakui kekurangan dan kelemahan, telah sedemikian mengkristal, termasuk menuntut institusi perguruan tinggi agar segera menemukan kembali formula yang telah tersusut oleh derasnya peradaban dewasa ini.

Derasnya peradaban popular sekarang ini, yang ditandai oleh penetrasi media yang sedemikian masiv dan terstruktur, telah menginspirasi banyak masalah dan perubahan sampai ke pojok-pojok ruang kelas kita. Dan kembali, hal ini telah mendorong masyarakat secara terbuka menuntut kita untuk mampu mengeliminasi dampak negatifnya, termasuk bagaimana mengatasi kekerasan dan vandalisme di ruang pendidikan, dengan harapan pendidikan tetap dan kembali mengedepankan kearifan dan kasih sayang.

Tuntutan pemeranan yang nyata dan harus dijalankan oleh STKIP Setiabudhi Rangkasbitung, bagaimana peserta didik kami dapat menempuh pendidikan dan mengadaptasi perkembangan jaman dengan kultur profesi dan karakter yang kuat.

Hadirin yang kami hormati,

Perlu ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah institusi yang berfungsi untuk mencetak tenaga kerja semata. Logika link and match yang dianut adalah kurang tepat dan terlampau pragmatis. Dampaknya, dunia pendidikan kita terbawa arus industrialisasi mulai dari komersialisasi lembaga hingga pada cara berfikir positivistik dengan mematok angka dan ranking sebagai indikator keberhasilan.

Komersialisasi pendidikan yang sudah, dan kemungkinan besar akan justru semakin jelas terjadi, bukan hanya merugikan mereka yang secara finansial tertutup peluangnya untuk menikmati pendidikan. Dalam jangka panjang, negara dan bangsa inilah yang akan merasakan akibatnya. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan ditemukan di kelompok atau kelas masyarakat yang latar belakangnya memang memungkinkan secara materiil.

Bahaya lain dari industrialisasi ialah pragmatisme dalam cara berfikir dan bertindak. Dengan cara pandang bahwa pendidikan hanya dilihat sebagai investasi, maka nilai–nilai yang ditanamkan di dalam dunia pendidikan akan terbatas pada nilai-nilai yang berguna bagi dunia usaha dan bukan untuk pengembangan ilmu serta pengetahuan itu sendiri.

Padahal, pendidikan yang menurut H.A.R. Tilaar pada hakikatnya berperan untuk memerdekakan dan mengembangkan potensi anak manusia, semakin terpinggirkan oleh peran media massa dan juga arus globalisasi. Untuk bisa kembali kepada hakikat pendidikan tersebut, maka komponen utama pendidikan, yakni guru itu sendiri, juga harus dijauhkan dari cara berfikir pragmatis yang menjebak guru dalam perangkap prestasi. Cara belajar yang dialogis harus dikembangkan untuk mengajak peserta didik berfikir secara kritis.

Dalam banyak laporan kajian selama ini, termasuk uji petik yang kami lakukan terhadap para alumnus yang tersebar di banyak daerah, diketemukan fakta: banyak faktor yang mempengaruhi kualitas guru, mulai fasilitas pendidikan yang serba kurang, daya dukung pendanaan yang birokratis dan terbatas, kurikulum yang selalu berubah, membuat guru selalu gamang dalam memberikan pembelajaran kepada siswanya. Beberapa faktor ini telah membuat guru terkendala dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya masing-masing. Belum lagi beban keluarga yang mengharuskan mereka untuk mencari tambahan lain akibat gaji yang tak memadai.

Dengan tetap berpegang pada konsepsi diri, kesadaran akan keberlangsungan dan kemajuan suatu masyarakat tergantung pada proses pendidikan yang dijalankan. Kampus menjadi pilihan bagi generasi muda mempersiapkan hidupnya di masyarakat. Disinilah berlangsung relasi yang bersifat edukatif-formatif antara generasi muda dan orang dewasa. Dalam hal ini peran dan posisi perguruan tinggi masih sangat penting bagi suatu daerah, lebih-lebih bangsa dan negara.

Perguruan tinggi masih dituntut komitmen dan keberpihakannya terhadap cita-cita dan hukum eksistensi. Perjumpaan-perjumpan dengan realitas sosial-politik, mempengaruhi cara pandang masyarakat luas. Secara langsung ini melahirkan tantangan yang khusus bagaimana kami dapat melahirkan tenaga pendidik yang diharapkan masyarakat tersebut. Realitas yang berbanding terbalik dengan pandangan idealistik yang kami pegang teguh selama ini. Kami berprinsip guru adalah agen perubahan dan pembaharuan dan mampu melibatkan diri dalam dinamika masyarakat secara multi dimensi.

Kami yakin sepenuhnya masih banyak guru yang bertumpu pada dimensi eksistensialisme sebagai panggilan hidup. Sebuah sarana pengabdian pada sejarah dan kemanusiaan dimana dengan mengamalkannya secara bebas, penuh cinta, dan dedikasi, serta terus berharap mampu mengembangkan secara maksimal seluruh potensi manusiawi yang dimilikinya secara hakiki dalam relasinya dengan subyek lain. Dengan demikian segalah jerih payahnya menjadi bermakna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat.

Sidang Senat dan hadirin yang kami hormati,

Analisis kita terhadap keadaan seperti ini adalah perlu langkah strategis yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk bersegera memperbaharui peta pendidikan secara komprehensif. Dari peta inilah cara yang mungkin kita lakukan untuk menemukan kelemahan yang terjadi. Apabila kita amati, pendidikan sebagai suatu sistem, maka pada dasarnya pendidikan itu terdiri dari banyak komponen yang saling terkait, saling bergantung, dan saling mempengaruhi, sehingga apabila ada salah satu komponen yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka proses kerja sistem secara keseluruhan akan terganggu.

Secara sederhana kita bisa membaca apabila hasil dari pendidikan kita tidak seperti yang kita harapkan, terpuruk, dan berkualitas rendah, maka berarti ada diantara komponen pendidikan kita yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Komponen-komponen yang yang dimaksud diantaranya adalah pendidik dan tenaga kependidikan, siswa, orang tua, masyarakat, sarana dan prasarana, materi (kurikulum), sistem evaluasi, dan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Idealnya setiap komponen tersebut dianalisis dan dievaluasi, seberapa jauh masing-masing komponen tersebut telah berfungsi sesuai tugas dan fungsinya.

Sidang senat yang mulia,

Salah satu komponen yang patut kita telusuri akan kekuatan dan kelemahannya adalah komponen pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana telah saya sitir dimuka. Hal ini menjadi penting karena pendidik dan tenaga kependidikan merupakan komponen yang paling vital dan strategis dalam menentukan keberhasilan proses dan hasil pendidikan; Pendidik dan tenaga kependidikan menentukan kualitas proses pembelajaran serta hasil belajar, Sebagus dan selengkap apapun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan, kalau tenaga pendidik dan kependidikannya tidak kompeten maka sarana dan prasarana itu pun tidak akan banyak membantu proses belajar, demikian juga sebagus apapun konsep dan isi kurikulum yang dikembangkan, namun apabila tenaga pendidik dan kependidikannya tidak mampu mengejawantahkan dengan tepat, maka kurikulum itupun tidak akan berdampak apa-apa, dan pengalaman belajar yang diharapkan akan menjadi sangat lemah.

Intinya adalah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan hendaknya berangkat dari perbaikan dan peningkatan kualitas dan kompetensi para pendidik dan tenaga kependidikan agar mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, yaitu melaksanakan proses pembelajaran yang kondusif dan efektif. Pada posisi inilah kami mencoba menakar ulang berbagai aspek, agar peran sebagai LPTK turut mampu memecahkan dan member solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada.

Hadirin Yang berbahagia,

Sebagai acuan, Pendidik dan tenaga kependidikan adalah profesi yang sangat berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari pengertian yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sementara Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Dari definisi di atas jelas bahwa tenaga kependidikan memiliki lingkup profesi yang lebih luas, yang juga mencakup di dalamnya tenaga pendidik. Pustakawan, staf administrasi, staf pusat sumber belajar. Sementara mereka yang disebut pendidik adalah orang-orang yang dalam melaksanakan tugasnya akan berhadapan dan berinteraksi langsung dengan para peserta didik dalam suatu proses yang sistematis, terencana, dan bertujuan. Penggunaan istilah dalam kelompok pendidik tentu disesuaikan dengan lingkup lingkungan tempat tugasnya masing-masing.

Sidang Senat yang mulia,

Dari gambaran tadi, pendidik memerlukan dukungan dari berbagai pihak, sehingga ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Mencermati tugas yang digariskan oleh Undang-undang jelas bahwa ujung dari pelaksanaan tugas adalah terjadinya suatu proses pembelajaran yang berhasil. Segala aktifitas yang dilakukan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan harus mengarah pada keberhasilan pembelajaran peserta didiknya. Ruang lingkup tugas yang luas menuntut kemampuan melaksanakan aktifitasnya secara sistematis dan sistemik, maka langkah taktis yang harus dilakukan adalah bukan melawan perkembangan jaman, akan tetapi mengkaji dan memahami konsep teknologi dan menjadikannya sebagai perangkat yang menjanjikan bagi kemajuan kita.

Untuk itulah penggunaan dan pemanfaatan teknologi, khususnya teknologi informasi akan menjadi keterampilan yang wajib dikuasai peserta didik kami. Selain itu terdapat pula tuntutan bagaimana turut serta dalam perngambangan teknologi tersebut agar tepat guna dan sasaran. Kehadiran teknologi harus diramu dan dikembangkan sesuai dengan progresivitas dan karakter yang kita miliki, sehingga dengan demikian kehaditan teknologi menjadi familiar dan efektif dan tidak menyudutkan kita bersama pada lorong sempit konsumerisme semata.

Hadirin yang kami hormati,

Sistematiknya tugas menuntut penguasaan teknologi, suatu keniscayaan dari orientasi peningkatan kualitas pendidikan, teknologi menjadi mediasi yang menjembatani teori dan praktek dalam disain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber untuk belajar, sekaligus mengandung kerangka pengetahuan yang didasarkan pada hasil penelitian dan pengalaman. Hal inilah yang sedang kita inisiasi dan diharapkan memperkuat fokus studi yang lebih dalam dan rinci. Terdapat beberapa faktorial yang akan segera dilaksanakan di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung, studi tentang disain sistem pembelajaran, disain pesan, strategi pembelajaran, dan karakteristik pebelajar dengan mempertajam kawasan pengembangan yang dikategorikan ke dalam empat kategori, yaitu teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu. Maka secara manajerial Institusi bertekad untuk mengarahkan secara konsisten terhadap pemanfaatan media, difusi inovasi, implementasi dan pelembagaan, dan kebijakan dan regulasi. Dengan kata lain teknologi diposisikan pada dua dimensi, yaitu pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif dan terpadu dalam memecahkan masalah belajar.

Sidang Senat yang mulia,

Mengapa teknologi menjadi pilihan?, setidaknya kita harus melihat kembali permasalahan yang sedang kita hadapi, tantangan dan kendala dunia pendidikan, Tantangan tersebut antara lain rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, kesenjangan pendidikan negeri dan swasta. Kualitas pendidikan yang rendah, akibat belum mampunya pemenuhan standar kompetensi tenaga pendidik dan inefisiensi serta in efektivitas manajemen pendidikan. tudingan bahwa LPTK lah yang paling bersalah dalam standar penyediaan kualitas pendidik, nampaknya masih memerlukan perdebatan panjang, sebagai Perguruan Tinggi berbasis masyarakat, kamilah yang merasakan dan menyadari sejak awal tentang perlunya pembaharuan sistem pendidikan yang menyeluruh.

Sidang Senat yang berbahagia,

Apa yang bisa kita lakukan? Kita harus bersegera menentukan pilihan-pilihan yang variatif, dan mengadopsi teknologi secara tepat guna dan tepat kembang. Tidak selamanya kita bertumpu pada bantuan teknologi yang bersifat by design, tetapi kita harus mampu memilih teknologi dasar dan mengembangkannya sendiri. Baru-baru ini kami telah mencoba mengembangkan pembelajaran berbasis Laman (Website) pada beberapa program studi, dan untuk kebutuhan itu secara berkala kita telah memulai melakukan pelatihan penerapannya kepada dosen-dosen di lingkungan STKIP Setiabudhi Rangkasbitung. Pada bagian lain STKIP Setiabudhi turut mendorong dan membantu pernyebarluasan kesempatan akses media maya ini melalui jaringan kerjasama agar masyarakat turut juga berkembang secara beriringan. Dalam impian dan cita-cita kami, masyarakat Lebak khususnya, dan Banten umumnya dapat seluruhnya atau sebahagian besar sudah dapat menikmati layanan internet dalam beberapa tahun ke depan, secara murah dan terjangkau. Sungguh ini harapan yang terukur. Bagaimanapun Perguaruan tinggi tidak dapat melacu sendiri dan meninggalkan masyarakatnya.

Hadirin Yang kami hormati,

Kami juga memiliki kehendak untuk menempatkan Budaya sebagai modal dan upaya sadar membangun hubungan-hubungan sosial melalui interaksi sosial dalam konteks politik, ekonomi, dan kultural. Kebudayaan atau warisan budaya yang adi luhung akan menemui salurannya yang luas dengan teknologi komunikasi tersebut. Namun demikian kecakapan dan kebijaksanaan kita akan penggunaanya dapat memberi arti lebih. Maka pilihannya kearifan lokal dijadikan model pendidikan, memanfaatkan teknologi dipayungi kearifan lokal akan mempengaruhi sikap, pandangan, dan kemampuan di dalam mengelola lingkungan dan pemanfaatannya, yang memberi kami daya tahan dan daya tumbuh menapaki perkembangan jaman selanjutnya.

Dengan kata lain kearifan lokal disinergikan dengan teknologi adalah jawaban kreatif terhadap situasi geografis-geopolitis, historis, dan situasional. Meskipun bersifat lokal Kearifan ini akan memberi kami berbagai strategi kehidupan yang berwujud dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan kita dewasa ini.

Motivasi mengedepankan kearifan lokal dan teknologi adalah idiom sentral. Kearifan lokal dapat dijadikan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang, generasi nenek moyang dan generasi sekarang, demi menyiapkan masa depan dan generasi mendatang.

Pada gilirannya, kami memimpikan kearifan lokal dapat dijadikan semacam simpul perekat dan pemersatu antargenerasi. Oleh karena itu, menjadi semacam imperatif yang mendesak untuk terus menggali dan memproteksi kearifan lokal, termasuk di dalamnya melalui pendidikan baik formal maupun informal. Dengan selalu memperhitungkan kearifan lokal melalui pendidikan budaya niscaya manusia didik diharapkan tidak terperangkap dalam situasi keterasingan. Atau menjadi “orang lain” dalam realitas dirinya.

Wisudawan yang berbahagia,

Perancangan berikutnya adalah Bagaimana mengoptimalkan peran mahasiswa sebagai kaum intelektual muda, pejuang idealis, agent of change and social control, dan mau mengambil peranan penting dalam perubahan masyarakat. Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat berpendidikan dan sehari-harinya bergelut dengan pencarian kebenaran mampu melihat kenyataan yang berbeda dalam kehidupan

Sidang senat yang mulia,

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa memberi kesempatan bagi peserta didik untuk berani berkompetisi, meningkatkan kemandirian, karakter, akan memberi warna terhadap eksistensi bangsa. Bangsa yang mampu bertahan, berperan, dan bersaing di era global saat ini adalah bangsa yang memiliki keunggulan kompetitif, dan dunia pendidikan memiliki kontribusi besar bagaimana menghasilkan lulusan yang berdaya saing global sebagaimana tuntutan skenario globalisasi. Sebagai ungkapan rasa syukur dan rasa bangga, saya atas nama pimpinan dan seluruh elemen sivitas akademika menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan. Saya bangga saudara semua merupakan ujung tombak partisipasi lembaga ini di tengah masyarakat, maka apresiasi masyarakat dan atau sebaliknya terhadap lembaga ini bertumpu pada pundak saudara semua, dan ini merupakan gugus tugas yang harus diemban dalam kerangka pemeranan kolektif kita menjawab tantangan jaman. Maka orientasi STKIP Setiabudhi yang berwawasan budaya dan berorientasi daya saing menjadi keniscayaan di tengah masyarakat selamat berjuang, dan semoga menjadi amal kebajikan saudara semua..

Wabillahi taufik wal hidayah,..Wassalamu alaikum Wr Wb….

Rangkasbitung, 02 Pebruari 2011

Ketua,

Ttd

H. Suharja, Drs.,MPd.

NIDN. 04 180548 01

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1509Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15446Dibaca Per Bulan:
  • 348223Total Pengunjung:
  • 1386Pengunjung Hari ini:
  • 14660Kunjungan Per Bulan:
  • 16Pengunjung Online: