REVOLUSI TEKNOLOGI (- 3000 SM)

Setiap Spesies hidup,dan setiap angota masing-masing spesies, selalu mempengaruhi dan memodifikasi biosfir dalam rangka mempertahankan kehidupannya sendiri yang tidak berlangsung lama.Namun demikian, tidak ada spesies pra-hominid yang memiliki kekuatan untuk mendominasi biosfir atau untuk merusaknya.Sementara itu manakala seorang hominid memecah batu untuk membuatnya menjadi sebuah alat yang lebih bermanfaat, aksi sejarah ini,mungkin terjadi pada dua juta tahun yang silam, menunjukkan secara pasti bahwa pada suatu hari suatu spesiesdari suatu genus keluarga hominid dari mamalia primate tidak lagi sekedar mempengaruhi dan memodifikasi biosfir,tetapi juga menguasai biosfir ini.Penguasaan atas biosfir ini telah dipegang oleh homosapien pada zaman kita sekarang.

Selama dua juta tahun perubahan alat-alat, kecuali 70.000 atau 40.000 tahun terakhirnya,kekuasaan potensial keluarga hominid atas biosfir nyaris tidak kunjung teraktualisasikan menjadi fakta utuh.Tentu saja ada sebagian kemajuan teknologi selama Zaman palaeolitik Rendah, tetapi pada zaman itu kemajuan teknologi tersebut berjalan lambat dan lemah,dan setiap inovasi teknologi yang muncul secara berurutan menyebar dengan seragam ke seluruh Ekumene (pada Zaman palaeolitik Rendah, Ekumene tidak mencakup Amerika). Diseminasi inovasi-inovasi teknologi Paleolitik Rendah berlangsung lambat; karena jenis peralatannya yang baru hanya disebarkan oleh warga pedalaman dari suatu komunitas ke komunitas lain, dan, pada fase ekonimi mengumpulkan makanan, komunitas-komunitas manusia tidak dapat hidup saling berdekatan karena masing-masing komunitas menbutuhkan area yang luas untuk mengembara dan mengumpulkan makanan.

Lebih dari itu,kita bisa menduga bahwa hominid Palaeolitik Rendah, termasuk spesies paling berhasil, yakni homo sapien, masih berpikiran konservatif, dan bahwa mereka tidak banyak mengadopsi inovasi teknologi baru, bahkan ketika tangan mereka telah tumbuh dengan fungsinya yang baru.Alasan mengapa jenis-jenis alat baru menyebar secara seragam keseluruh Ekumene adalah bahwa, meskipun transmisi ini berjalan lambat, inovasi tersebut jarang terjadi.Interval waktu antara inovasi yang satu dengan inovasi berikutnya cukup panjang untuk menyebarkan masing-masingnya ke seluruh Ekumene sebelum disusul oleh inovasi selanjutnya.

Dalam sejarah teknologi, revolusi Palaeolitik Tinggi, yang meletus sekitar 70.000/40.000 tahun yang silam, telah membuka zaman baru.Sejak saat itu sampai hari ini, kemajuan-kamajuan seluruh jenis peralatan berlangsung dengan cepat, dan, meskipun terdapat jeda-jeda local dan temporer, bahkan gangguan yang lebih parah, akselerasi kemajuan ini cenderung memuncak dalam rentang sejarah teknologi selama abad terakhir ini.

Selama periode sekitar 3000 SM-1500 SM,kecepatan diseminasi dan inovasi yang berurutan justru berbalik.Jenis-jenis peralatan babermunculan dengan cepat sebelum jenis-jenis yang lama tersebar keseluruh Ekumene.Konsekuensinya, keseragaman ekumenis yang menjadi cirri khas Zaman palaeolitik Rendah melapangkan jalan bagi proses diferensiasi pada zaman-zaman berikutnya. Penciptaan-penciptaan baru tidak cukup memiliki waktu untuk disebarkan dari tempat aslinya ke daerah-daerah ekstrim di Ekumene sebelum penciptaan-penciptaan tersebut sempat digantikan secara regional dengan yang lebih baru lagi.Kecepatan diseminasi ini tidak menyusul dan melampaui kecepatan pencitaan sampai setelah abad ke-15 ketika kondusivitas Ekumene tiba-tiba meningkat berkat penciptaan jenis kapal layar baru,oleh orang-orang Barat,yang mampu bertahan di laut selama berbulan-bulan dan karenanya mampu menjangkau setiap pantai serta megelilingi bola bumi ini.

Dalam lima ratus tahun terakhir,kecepatan diseminasi dan penciptaan peralataan menjadi sangat besar dibandingkan yang terjadi selama dua juta tahun pertama pembuata peralatan.Tetapi Zaman Modern dan Zaman Palaeolitik Rendah memiliki sebuah kesamaan. Pada Zaman Modern dan Zaman Palaeolitik Rendah, kecepatan penciptaan alat tidak setara dengan kecepatan diseminasinya, dan konsekuensi dari keduanya dalam bidang teknologi adalah tingginya tingkat keseragaman ekumenis.

Pada zaman Palaeolitik Tinggi, homo sapien meretas jalan dari Asia timur laut sampai Amerika Utara bagian Barat Laut, dan menyebar dari sana ke ujung selatan Amerika Selatan. Warga Amerika pada Zaman Palaeolitik Tinggi kehilangan kontak dengan Asia,kecuali mungkin penduduk di pantai-pantai Pasifik yang kini bernama Oregon, Washington dan Kolombia Inggris. Ada interval waktu mungkin 20.000 tahun antara kolonisasi Amerika dari Asia Timur Laut dan kolonisasi kedua dari Jazirah Eropa Asia. Selama masa interval ini, masyarakat dan kebudayaan di Amerika berkembang secara independen, dan fase-fase perkembangan ini tidak berkaitan dengan fase-fase perkembangan dalam sejarah kontemporer Asia dan daerah caplokan-caplokannya. Lebih jauh jagi, nama-nama dan penyebutan fase-fase dalam sejarah Dunia Kuno sejak berakhirnya Zaman Palaeolitik Rendah sampai batas-batas tertentu tidaklah tepat.

Misalnya, Zaman Palaeolitik Tinggi tidak dibedakan semata-mata dengan kemajuannya dalam teknik penyerpihan dan pemecahan alat-alat dari batu. Zaman tersebut juga menghasilkan setidaknya tiga penciptaan sebagai pionir: budidaya anjing, seni pemanahan dan lukisan, serta pembuatan model yang menyerupai binatang dan manusia. Prestasi para pemburu Palaeolitik Tinggi dalam menjinakkan anjing yang semula merupakan pesaing-musuhnya sehingga menjadi binatang pembantu yang taat merupakan keberhasilan pertama manusia dalam melatih binatang non-manusia dengan tugas tertentu demi tujuan-tujuan manusia. Dalam membuat busur panah, manusia Palaeolitik Tinggi memanfaatkan kekuatan sebuah benda fisik tak bernyawa, yakni elastisitas kayu, yang memungkinkan daya otot manusia untuk menarik busur dan menembakan anak panah yang lebih jauh daripada lemparan tangan manusia tanpa alat bantu. Sementara itu, lukisan dan pembuatan binatang serta manusia tiruan adalah karya seni rupa pertama yang diketahui. Para pelukis dinding gua di Prancis dan Sepayol memanfaatkan permukaan dinding yang tidak rata untuk membuat relief-relief dasar yang mirip dengan binatang. Di Lepenski Vir, di sisi Barat sungai Danube di Pintu Besi, seniman-seniman Palaeolitik Tinggi lain malangkah lebih jauh dengan membuat patung tiga dimensi penuh. Lukisan-lukisan gua ini mungkin memiliki tujuan religius, atau biasanya magis. Pusat upacara di lepenski Vir itu saja terletak di sebuah tempat ibadah. Situs Lepenski Vir adalah sebuah ujung dari jalan-jalan setapak alamiah yang dilalui para pengumpul makanan dan pemburu. Kita bisa menyimpulkan bahwa meskipun,sebelum diciptakan agrikultur, manusia terus berpindah-pindah untuk melangsungkan kehidupannya, sebagai komunitas Palaeolitik Tinggi telah menetap di daerah-daerah tertentu yang mereka kunjungi secara kurang-lebih periodik, mungkin untuk melakukan ritus-ritus komunal. Seolah-olah pusat-pusat seremonial permanen ini merupakan tanda-tanda dari habitasi permanen.

Makannya “Palaeolitik” merupakan sebuah nama yang tidak tepat untuk menggambarkan aktivitas-aktivitas dan prestasi-prestasi apa yang disebut manusia sebagai “Palaeolitik Tinggi”. Sebuah fortioris, zaman yang dimulai segesa setelah permulaan pencarian-yakni sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam-digambarkan secara tidak memadai dengan label “Neolitik”. Benarlah bahwa penciptaan teknologi paling awal di Zaman Neolitik berupa penemuan cara-cara untuk menggerida alat-alat menjadi bentuk-bentuk yang dikehendaki, selain menyerpih ini bukan hanya memungkinkanpembuatan alat-alat yang lebih tepat sesuai dangan tujuan pembuatannya; tetapi juga memungkinkan para pembuat alat menciptakan semakin banyak alat-alat dengan bahan-bahan mentah yang tersedia. Namun demikian, prestasi yang menonjol pada Zaman Neolitik ini bukanlah seni menggerinda alat-alat, melainkan budidaya sejumlah spesies tanaman dan binatang. Lebih dari itu, penciptaan pemintalan dan penenunan pada Zaman Neolitik serta pembuatan barang-barang tembikar menyebabkan sebuah perubahan besar lagi bagi kehidupan manusia yang hamper sama besarnya dengan perubahan yang ditimbulkan oleh penciptaan agrikultur dan peternakan hewan.

Agrikultur dan peternakan hewan secara pasti telah menjadi sebuah penemuan manusia terpenting sampai saat ini. Kedua penemuan ini tidak pernah berhenti menjadi fondasi ekonimi bagi kehidupan manusia, bahkan pada waktu dan tempat dimana keduanya telah dibayang-bayangi oleh perdagangan dan manufaktur. JIka dilihat secara retrospektip, agrikultur dan peternakan hewan dapat dianggap sebagai sarana yang sangat baik untuk merekonsilisasikan perkembangan kekuatan teknologi manusia dan pelestarian kesejahteraan dan biosfir-kesejahteraan sebagai syarat untuk kelangsungan hidup dari semua jenis kehidupan, termasuk manusia itu sendiri. Ketika manusia telah bisa membudidayakan sebagai spesies tanaman dan hewan, sebenarnya dia telah menggantikan seleksi alam dengan seleksi manusia dan, Ketika menentukan pilihanya demi tujuan-tujuannya sendiri, berarti dia memiskinkan biosfir untuk memperkaya umat manusia. Hasil panen, buah-buahan, sekawanan binatang dan pengembala telah mengubah banyak spesies yang tidak berguna dan merugikan manusia, yang bisebutnya sebagai “makhluk-makhluk liar dan hina” (weeds dan vermin) yang sebisa mungkin dilenyapkan. Pada saat yang sama, manusia menjamin kelangsungan hidup tanaman dan hewan yang bermanfaat. Manusia belajar menyimpan sebagian panen tahunannya, dan dia menggunakan sekawanan binatang dan pengembalanya untuk menjaga sebagaian anak-anak kambing dan sapinya yang lahir setiap tahun. Lebih jauh lagi, dengan pemeliharaan yang selektif,manusia telah mengubah sabagaian spesies piaraan secara lebih cepat dan radikal dibandingkan dengan perubahan yang dilakukan oleh alam, yakni membiarkan spesies tersebut mengikuti hokum alam.

Pembuatan barang-barang tembikar merupakan tonggak visual atas diferensiasi kebudayaan. Dalam dunia barang-barang tembikar, mode bentuk dan dekorasinya berubah hamper sama cepatnya dengan perubahan dalam dunia pakaian; dan pecahan-pecahan tembikar tidak bisa hancur, sedangkan pakaian yang lama akan rusak kecuali dalam kasus-kasus yang jarang terjadi di mana pakaian disimpan dalam pasir kering atau tanah berlumpur yang kedap udara.Makannya, selama interval waktu antara penciptaan barang tembikar dan penciptaan tulisan, startifikasi pecahan tembikar di situs-situs habitasi manusia merupakan penanda waktu yang paling pasti antara domain-domain kebudayaan yang berbeda-beda, dan juga indicator tentang campuran atau fusi antar kebudayaan melalui diseminasi seni dan migrasi serta penaklukan. Di Dunia Kuno dan Amerika, ragam gaya barang tembikar merupakan kunci untuk mempelajari sejarah perkembangan dan diferensiasi kebudayaan-kebadayaan regional pada Zaman Pra-Peradaban- dan juga setelah munculnya peradaban-peradaban, dimana perkembangan ini tidak disertai dengan penciptaan tulisan, atau dimana tulisan telah tercipta tetapi sudah tidak disa dipahami lagi.Kebudayaan-kebudayaan Neolitik regional menggantikan kebudayaan Palaeolitik Tinggi di sebagain besar Ekumene Dunia Kuno. (Di Amerika, sebagiamana telah disinggung sebelumnya,kebudayaan Palaeolitik Tinggi warga baru Asia Timur Laut berkembang lebih jauh pada garisnya sendiri).Di Dunia Kuno, kebudayaan Neolitik di Asia Barat Daya berkembang secara bertahap menjadi sebuah kebudayaan Zaman Tembaga melalui fase transisi yang disebut “Chalcolitik”. Kata ini berarti sebuah zaman di mana tembaga dan batu digunakan pada saat yang bersamaan sebagai bahan mentah untuk membuat alat-alat. Sebenarnya, batu masih terus digunakan untuk membuat beberapa alat-yang paling umum dan bermanfaat-lama setelah tembaga, perunggu dan besi pada gilirannya digunakan untuk merangkai senjata dan hiasan. Makanya zaman-zaman yang dilabeli dengan nama bahan-bahan pembuat alat yang berbeda-beda sesungguhnya saling bersamaan secara kornologis. Zaman Neolitik tidak benar-benar berakhir sampai kemudian, pada masa-masa yang berbeda di daerah-daerah yang berlainan pula, besi menggantikan batu sebagai bahan pembuat alat-alat agrikultur dan peralatan rumah tangga non-keramik.

Ketika budidaya tanaman-tanaman dan binatang-binatang liar penopang kehidupan manusia, penciptaan metalurgi (ilmu pengerjaan logam) ,menjadi chef d’oeuvre keahlian teknologis manusia.Metalurgi adalah produk akhir dari rantai penemuan-penemuan yang berurutan,dan rantai penemuan ini tidak terbukti dengan sendirinya. Masing-masing hubungan ditambah oleh sebuah gerak jenius intelektual.Manusia Neolitik mula-mula menganggap potongan-potongan logam yang kurang-lebih murni sebagai sekedar hiasan di permukaan tanah Ekumene.Dia semula juga menganggap potongan-potongan logam ini sebagai batu dan mengetahui bahwa, tidak seperti batu-batu biasa,logam ini bisa ditempa. Dia kemudian mendapati bahwa, jika dipanasi, logam ini menjadi lunak dan akhirnya mencair kalau suhunya dinaikan hingga cukup tinggi.Makanya, manusia memandang logam ini sebagai bahan mentah yang, seperti tanah liat, lebih mudah dibentuk dari pada batu. Penemuan selanjutnya adalah diketahuinya bahwa logam ini, bukan hanya dalam keadaan murni, tetapi juga bisa menjadi campuran biji besi, dan bahwa, dengan cara memenasi biji besi yang mengandung logam sampai derajat tertentu sehingga muatan logomnya meleleh, logam laten dapat dipisahkan dari teraknya. Penemuan terakhir adalah bahwa persediaan diji besi yang paling berlimpah berada di bawah tanah, dan penciptaan teknik-teknik penambangan.

Sebelumnya, metalurgi telah dipraktekkan hampir selama 6000 tahun di Ekumene Dunia Kuno dan mungkin selama 2800 tahun di peru, dan hal ini mempunyai dampak revolusioner pada kondisi-kondisi material dan social kehidupan manusia serta pada hubungan antara manusia dan biosfir sebagai satu-satunya habitat manusia. Metalurgi telah mengangkat standar hidup material manusia;tetapi biaya social yang harus dibayar akibat keahlian metalurgis adalah penggunaan bahan material secara progresif yang sekarang ini menjadi langka dan tidak dapat diperbarui.

Pandai besi dan penambangan merupakan keahlian-keahlian paling awal. Masing-masing ahli harus mencurahkan seluruh waktu kerjanya untuk keahliannya masing-masing selain terus menjadi seorang yang serba-bisa, seperti pemburu Palaeolitik dan peternak Neolitik.Pembagian kerja adalah konsekuensi teknologis. Dampak sosialnya berupa pertukaran produk-produk dari beraneka jenis keahlian, dan pada gilirannya menciptakan sebuah masalah etis yang masih belum terpecahkan sampai kini,dan mungkin tidak akan dapat dipecahkan. Berdasarkan prinsip apa seluruh produk masyarakat harus didistribusikan di antara berbagai kelas produsennya? Keseluruhan produk ini merupakan buah dari kerja sama seluruh partisipan di dalam masyarakat, tetapi kontribusi-kontribusi mereka yang berurutan itu tidak sama dalam hal efektivitas dan nilainya. Ketidaksamaan nyata adanya. Tetapi dapatkah ketidaksamaan ini direfleksikan dalam alokasi hasil yang akan dianggap sama oleh semua partisipannya? Haruskah dilakukan upaya untuk mengalokasikannya secara sama?Atau benarkah,tepatnya niscayakah, bahwa hasil terbanyak harus diambil oleh mereka yang memiliki kekuasaan lebih besar.

Penciptaan metalurgi menebarkan benih-benih perbedaan konflik kelas.Nama keluarga “Smith” yang pernah khas adalah bukti bahwa, di sebuah desa “Chalcolitik”, seorang pandai besi dianggap sebagai warga yang berbeda dari mayoritas warga desa yang tidak memiliki suatu keahlian. Benarlah bahwa pada Zaman Palaeolitik telah mulai muncul keahlian- keahlian teknologis. Manusia Palaeolitik tahu bahwa anekaragam batu api yang berbeda, baginya, memiliki nilai yang berlainan sebagai bahan mentah pembuat alat-alat. Manusia Palaeolitik bahkan menambang batu api sebagai jenis yang paling diminati. Namun tidaklah mungkin bahwa, sebelum penciptaan metalurgi, seorang pekerja menjadi seorang yang sangat ahli yang dapat memperoleh penghasilan seluruhnya dengan pertukaran tanpa terlibat langsung dalam pekerjaan dasar di komunitasnya sebagai penyanggah kehidupannya dirinya sendiri.

Perubahan penting kedua yang diakibatkan oleh penciptaan metalurgi adalah penggunaan bahan mentah yang tak tergantikan dan langka. Digantikannya panen dan peternakan dengan eksploitasi bahan-bahan tambang ditunjukan oleh fakta bahwa tanaman dan hewan adalah mahluk hidup, dan bahwa mahluk hidup ini memproduksi dirinya secara alamiah jila kerja alam tidak dihalang-halangi. Untuk memastikan langgengnya tanaman dan hewan piaraan, apa yang dibutuhkan oleh manusia adalah masa depan dan, konsekuensinya, pengendalian diri. Peternak harus ,menyinpan hasil panennya dan anak-anak kambing serta sapinya untuk benih dan bibit selanjutnya serta untuk mempertahankan jumlah ternak dan pengembalanya; dan dia juga harus menahan diri untuk tidak terlalu mengekploitasi dewi bumi ini. Dia harus menolak godaan untuk menguras bumi dengan menanam dan beternak secara berlebih-lebihan.

Asalkan peternak memperhatikan masa depan dan mampu mengendalikan diri, alam akan selalu subur yang tentu saja menguntungkan si peternak itu sendiri. Senyatanya, tidak ada alas an mengapa agrikultur dan peternakan hewan,setelah ditemukan, tidak boleh dijalankan sampai biosfir ini tidak lagi ditempati. Sebaiknya, sejarah metalurgi adalah sejarah pencarian abadi sumber-sumber bijih logam yang masih perawan untuk menggantikan sumber-sumber daya alam yang telah ditemukan dan dihabiskan. Logam-logam yang tak bernyawa ini tidak bisa mereproduksi diri demi kepentingan manusia, demikian juga bahan-bahan eksorganik seperti batu bara. Pada masa kita sekarang, skala eksploitasi sumber-sumber alam yang tidak tergantikan telah meningkat sedemikian rupa yang mengisyaratkan bahwa kita telah mangetahui bagaimana cara untuk menggunakan seluruh persediaan yang bisa diakses.

Dalam agrikultur dan peternakan, kekuatan teknologi manusia dan produktivitas alam masih dalam titik ekuilibrium. Dengan ditemukannya metalurgi, kemampuan teknologis manusia mulai menuntut bahwa alam tidak dapat memuskan manusia selamanya meski biosfir masih terus dapat tinggali. Jika kita mencermati 10.000 tahun terakhir sejarah manusia dengan 2.000 juta tahun potensi harapan hidup ke depan,kita mungkin disa menyimpulkan bahwa akan lebih baik bagi keturunan kita seandainya metalurgi tidak pernah dicaiptakan, dan seandainya manusia, setelah mencapi tingkat teknologi Neolitik, tidak perlu lagi meningkatkan kemajuan teknologinya. Jika kemajuan teknik pembuatan alat-alat berhenti segera setelah pemanfaatan logam,maka sekarang ini jumlah manusia dan kekayaan materialnya, tidak diragukan lagi, akan menjadi sekedar sejumput bagian dari apa yang senyatanya kini ada. Di lain pihak, kelangsungan hidup manusia akan jauh lebih terjamin, jika kita tidak mengurangi sumber-sumber alam yang tak tergantikan.Benarlah bahwa batu keras, seperti logam, tidak bisa diganti karena tidak bernyawa dan oleh karenanya tidak bisa memperbarui diri. Di sisi lain,batu sangat berlimpah persediaannya bahkan sekalipun dibandingkan dengan logam yang tidak begitu langka, sehingga batu tampak tidak pernah ada habisnya.Akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan seandainya nenek moyang Neolitik kita untuk tetap bertahan pada fase pra-logam daripada keturunan kita harus kembali ke zaman itu,jika, bagi mereka, ini merupakan satu-satunya alternative untuk menghindari kepunahan.

Di manakah tempat, di Ekumene ini, agrikultur, peternakan hewan dan metalurgi diciptakan untuk pertama kalinya? Empat kata terakhir dalam pertanyaan ini merupakan esensinya, kerena kita tidak pernah bisa memastikan bahwa penemuan apapun yang dahasilkan manusia di buat di sebuah tempat dan waktu tunggal. Sebuah penemuan yang dibuat di suatu tempat dan waktu tertentu tentu saja akan diadopsi pada waktu terkemudian oleh manusia di tempa lain. Ada juga bentuk diseminasi tidak langsung yang dikenal sebagai “difusi stimulus”. Visi atau laporan tentang sebuah penemuan masa depan bisa merangsang orang, tidak untuk mengadopsinya sebagaimana apa adanya, tetapi untuk menciptakan barang sejenis dengan gayanya sendiri. Namun demikian, sebuah penemuan yang identik bisa terjadi di beberapa tempat dan waktu tanpa perlu saling terpengaruh.Ini mungkin saja terjadi karena penemuan-penemuan adalah produk manusia, dan manusia itu seragam dalam cirri-ciri spiritual, piskologis dan fisiologis bagi seluruh anggota spesies, meskipun masing-masing anggota akan menampilkan kesamaan ciri tersebut secara individual.Penemuan apa pun memiliki salah Satu dari tiga alternative sejarah yang mungkin, dan dalam kasus tidak ada bukti yang menunjukan apakah sebuah penemuan khusus yang dibuat pada suatu waktu dan tempat tertentu merupakan penciptaan independen atau merupakan respon atas sebuah stimulus atau sekedar adopsi.

Tentang ketiga kemungkinan tersebut, kita bisa menduga dengan tingkat keyakinan tertentu bahwa, di Ekumene Dunia Kuno, agrikultur, peternakan hewan, metalurgi dan juga teknik-teknik untuk menggali dan mengangkut bongkahan-bongkahan batu yang besar dan berat,semuanya ditemukan pertama kali di Asia Barat Daya sebagai sebuah area pengangkutan sentral di sebagaian Ekumene Dunia Kuno. Kita bahkan dapat menggambarkanwilayah ini secara lebih pasti. Wilayah ini meliputi jizirah Arab kecuali pojok bagian selatannya. Ketika agrikultur dan peternakan hewan ditemukan, sebagaian besar jazirah Arab, termasuk perbatasannya paling utara yang sekarang menjadi gurun Syria, terlalu kering untuk dijadikan tempat budidaya tanaman dan binatang. Hanya pojok selatan Arab yang subur karena hujan musiman, dan wilayah Arab selebihnya yang kering-kerontang mengisolir pojok Yaman ini sebelum ditemukannya kapal-kapal laut komersial dan kemudian budidaya onta Arab.

Daerah pokok Asia Barat Daya untuk peternakan dan metalurgi tidak termasuk tanah baru di sepanjang sungai Tigris dan Eufrat yang surut airnya dan di daerah sekitarnya. Sebelum digenangi dan dialiri air untuk tempat tinggal dan pertanian, tanah baru ini tidak ramah bagi manusia dan tanaman-tanaman serta hewan-hewan piaraannya.Tanah ini merupakan jalinan perairan yang rumit yang menggalur melalui padang-padang ilalang-tanah rawa sebagai perubahan dari daerah rendah di sekitar sungai Eufrat. Di lain pihak, wilayah di mana peternakan dan kemudian metalurgi pertama kali diciptakan meliputi, setidaknya, sebagaian Asia Kecil bagaian selatan, Iran bagian barat dan Turkmenistan selain Mesopotamia dan Syria serta palestina. Tanaman-tanaman biji-bijian dan binatang-binatang yang bibudidayakan selama fase Neolitik tampaknya cocok di wilayah ini,yang sebelumnya merupakan tanaman dan binatang liar. Di tempat lain, tanaman dan binatang piaraan dibawa dari Asia Barat Daya oleh para pendatang dari Asia Barat Daya itu sendiri atau oleh penduduk local asli yang mengadopsi penemuan-penemuan dari Asia Barat Daya ini, dan dengan demikian mereka mengalami transisi cultural dari Palaeolitik ke Neolitik, serta akhirnya ke gaya hidup Zaman Chalcolitik, Tembega dan Perunggu.

Pada saat tulisan ini dibuat, strata Zaman Neolitik baru digali di sedikit situs di Asia Barat Daya dan Mesir; dan, jika eksplorasi dilanjutkan terus, gambaran kita tentang kehidupan Neolitik di daerah ini sebagai tempat kemunculannya pertama kali mungkin juga akan terus berubah, sebagaimana yang selama ini terjadi berkat eksplorasi-eksplorasi dan penemuan-penemuan yang berurutan. Namun demikian, beberapa hal telah menjadi jelas. Permulaan permukiman yang telah sebegitu jauh dieksplorasi berasal dari tahun sekitar 10.000 SM (perkiraan waktu permukiman Zaman Pra-tembikar di Jericho) sampai ,millennium ke-5 SM. Di situs-situs selain Jericho, permukiman dimulai pada millennium ke-7 atau awal millennium ke-6 SM. Kita juga tahu bahwa transisi dari fase pengumpulan makanan dan berburu ke fase agrikultur dan peternakan hewan terjadi di oase-oase yang memperoleh air pada musim semi, atau di daratan-daratan yang terkena banjir akibat menumpuknya arus-arus kecil dari kaki gunung-gunung sehingga tanahnya menjadi subur. Semua tanah potensial seperti ini diairi dengan irigasi alami. Tetapi ketinggian dan iklim di antara situs satu dengan situs lainnya sangat berbeda. Jericho berada di sebuah lembah yang ketinggiannya di bawah permukaan air laut dengan iklim tropis; di lain pihak, Catal Huyuk di plateau Asia Kecil dan Tepem Sailkon di plateau Irian tertutup oleh salju selama beberapa bulan dalam satu tahun.

Di tanah-tanah banjir dan oase-oase yang memperoleh air selama musim semi, pengolahan tanah dengan sendirinya berlangsung secara baik. Tanahnya subur karena membawa endapan-endapan lumpur. Oase Jericho dan Ghutan di Damaskus selamanya subur karena prose salami ini. Namun demikian, rahmat semacam ini jarang.Sebagaian besar daerah Asia Barat Daya di mana agrikultur ditemukan terletak di dalam apa yang sejak dahulu merupakan zono curah hujan. Sebagian komunitas agrikultural Asia Barat Daya awal hanya mewngandalkan air hujan. Hujan tadak membawa endapan lumpur, dan hasil panen dari agrikultural yang semata-mata bergantung pada curah hujan cepat habis. Tantangan yang mereka hadapi adalah bagaimana memperlakukan tanah yang dikuras kesuburannya secara temporer seolah-olah seperti bahan tambang yang dieksploitasi secara permanen, jika petani yang kecawa itu sadar bahwa ada tanah perawan di dekatnya yang bisa ditempati. Bahwa pada zaman modern, para petani Eropa Barat di Amerika Utara terus saja bergerak ke Barat, dan petani-petani Rusia di Dunia Kuno bergerak ke Timur, meskipun jauh sebelumnya nenek moyang mereka telah melakukannya semenjak menguasai teknik untuk memperbarui kesuburan tanah tadah hujan tanpa bantuan alam.

Teknik ini ditemukan secara bertahap. Di daerah-daerah berhutan, langkah pertama untuk membuat agrikultur tadah hujan menetap mungkin dengan penyuburan tiruan adalah membakar pepohonan yang telah ditebang sebagai pembuka untuk membudidayakan tanaman biji-bijian. Abu bekas pembakaran yang menyuburkan berkat pembukaan hutan tersebut kemudian memungkinkan petani memanen selama satu atau dua musim, dan proses ini dapat dilakukan lagi jika pepohonannya diberi cukup waktu untuk tumbuh di tanah yang telah dibuka tadi. Dengan teknik tebang dan bakar ini, sepetak tanah yang sama dapat diolah kembali mungkin setiap sepuluh petak tanah yang diolah, maka dia dapat menggilirnya secara bergantian.Masalah mata pencaharian dari agrikultur tadah hujan tanpa migrasi, lokal sekalipun,akhirnya terpecahkan dengan pemberian pupuk pada tanah yang sudah menjadi tandus dengan kotoran hewan piaraan,selain dengan cara menunggu tumbuhnya pepohonoan baru untuk selanjutnya dibakar lagi. Akan tetapi, sebelum pemupukan ini diketemukan, petani terpaksa, sebagaimana keterpaksaan para pencari bahan-bahan tambang yang terus melakukan eksplorasi sampai sekarang, berpindah-pindah ke daerah-daerah ekonomi yang masih belum dirambah.

Sementara itu, melalui migrasi atau pengolahan tanah kembali, juga ditambah dengan seni pemintalan, penenunan dan pembuatan tembikar serta selanjutnya diikuti dengan seni metalurgi, memotong dan mengangkut megalit-megalit (batu besar), para petani berkelana ke daerah asalnya di Asia Barat Daya ke berbagai penjuru Dunia Kuno. Kita akan menemukan berbagai peradaban regional di Dunia Kuno yang berasal, pada waktu yang berbeda-beda, dari kesamaan latar Neolitik yang selanjutnya dikembangkan ke berbagai belahan secara jauh dan luas dari basis aslinya di Asia barat Daya. Namun demikian, ekspansi bentuk terakhir dari kebudayaan pra-peradaban di Dunia Kuno tidak berlangsung denga tuntas dan seragam.

Australia, misalnya, tetap mempertahankan cara-cara mengumpulkan makanan pra-Neolitik ala homo sapien yang telah berhasil menyebrangi garis pemisah geografis antara wilayah continental dan flora serta fauna Australia. Warga manusia pertama di Australia dan anjing-anjing mereka merupakan mamalia tak berkantung pertama yang dating ke wilayah ini. Prestasi mereka ini tidak disamai oleh manusia-manusia Neolitik manapun,dan mereka tetap hidup terbelakang,terpisah dan tanpa gangguan sampai kemudian Australia “ditemukan” oleh orang-orang Eropa Barat modern pada abad ke-18. Para pelaut Neolitik berhasil menduduki kepulauan Polynesia, tetapi Selandia Baru sebagai territorial terbesar yang mereka temukan ditinggali hanya sekitar enema bad sebelum mereka juga disusul oleh ekspansi dunia orang-orang Eropa Barat modern.

Diferensiasi cara hidup Neolitik selama penyebarannya dari asal mulanya di Asia Barat Daya diilustrasikan oleh kontras antara varietas bentuk dab dekorasi belanga-belanga Neolitik dan keseragaman alat-alat Palaeolitik ekumenis. Perlu dicatat bahwa pecahan-pecahan belanga merupakan indikasi visual atas suatu cara hidup. Diferensiasi gaya-gaya tembikar Neolitik lokal di sebagaian besar wilayah disebabkan oleh inisiasi lokal, dan yang menjadi pertanyaan adalah apakah inspirasidari levant dapat dideteksi dalam monumen-monumen Megalitik yang belajar di sepanjang pantai-pantai Mediterranean Barat dan Atlantik di benua Eropa dan pulau-pulaunya yang tak berpantai, sejak dari spanyol selatan dan Portugal sampai Denmark dan dari Malta sampai Stonehenge di inggris.

Seperti pyramid-piramid pada Zaman Fir’ aun di Mesir megalit-megalit di Eropa tampaknya bertahan lebih lama daripada semua karya manusia lokal sesudahnya. Megalit-megalit ini bertahan selama dua millenia dari tahun sekitar 2500 sampai sekitar 1500 SM,ketika Eropa Barat keluar dari Zaman Neolitik melalui Chalcolitik menuju Zaman Tembaga dan perunggu.Meskipun para pembuanya tidak melek huruf, bangunan-bangunan dan karya-karya seni rupa mereka yang terkait menjadi saksi bisu bahwa semua ini dibuat sebagai kultus-kultus nenek moyang dan seorang dewi ibu yang mempunyai imbangan-imbangan Levan.Namun hubungan antara megalit-megalit Eropa Barat dan Levan ini mengandung enigma ganda.Pertama, daerah asal-mula penyebaran agama dan teknologi megalitik di sepanjang pantai Mediterranean dan Atlantik di Eropa Barat adalah Spanyol dan Portugal-yakni ekstrimitas Eropa yang palung jauh jaraknya dari Mesir Aegean.Kedua, sebagai karya Levant yang menyerupai monumen-monumen megalitik Eropa Barat berusia lebih muda, bukannya lebih tua, dari monument-monumen yang terakhir ini. Makam-makam yang menjadi sarang lebah di los Millares di pantai Mediterranean, Spanyol bagian selatan, tampaknya lebih tua 2000 tahun disbanding imbangan-imbangannya di Mycenae; dan meskipun Stonehenge hamper seribu tahun lebih muda dari pyramid-piramid Dinasti Keempat Fir’ aun di Mesir, bangunan pertukangan makam di los Angeles Millares yang tidak begitu masif mungkin lebih tua beberapa abad dibandingkan dengan bangunan pertukangan pyramid serupa milik Dinasti Ketiga Fir’ aun di Saqqarah.

Diferensiasi fase-fase terakhir dalam kebudayaan pra-peradaban tampak terjadi di sepanjang prestasi-prestasi domestifikasi yang orisinal. Tanaman-tanaman anggur, zaitun,ara, prem, ceri, persik, apel, dan pir, juga ternak, kambing dan biri-biri tampaknya telah menjadi tanaman dan binatang asli Asia Barat Daya, dan telah dibudidayakan di sana pada Zaman Neolitik. Tetapi padi, akar-akaran, pohon jeruk dan pisang, serta ternak, gajah dan onta Arab dan Asia Tengah dibudidayakan di daerah-daerah di luar Asia Barat Daya; dan,sejauh yang kita ketahui, prestasi-prestasi pembudidayaan ini mungkin tidak saling mempengaruhi sama sekali; prestasi-prestasi ini tidak diilhami dari Asia Barat Daya oleh difusi stimulus. Pohon kurma mungkin belum dibudidayakan sampai sumer dan Mesir yang beriklim panas terbuka bagi orang luar. Zaman paling awal ditemukannya budidaya onta Arab termasuk bagaian akhir millennium kedua SM. Bukti paling awal tentang budidaya onta di Asia Tengah tidak lebihn awal dari sekitar 600 SM, jika, “Onta-onta Keemasan” merupakan penafsiran yang benar atas nama Nabi Zarathustra.

Di Amerika, anjing merupakan satu-satunya binatang periaraan yang dibawa oleh para pendatang dari Asia, dan binatang-binatang asli Amerika yang mereka budidayakan adalah Ilama (sejenis onta), alpaca (sejenis domba), babi guinea dan lebah.Di lain pihak, jumlah tanaman asli Amerika yang dibudidayakan di Amerika sendiri sebanding dengan jumlah tanaman yang dibududayakan di Dunia Kuno. Amerika dan Dunia Kuno hampir tidak memiliki budidaya tanaman yang sama sebelum kedatangan orang-orang Eropa Barat modern di Amerika.

Hal ini tampaknya mengindikasikan bahwa agrikultur diciptakan di Amerika secara independen; dan, jika kita sampai pada kesimpulan ini, kita juga bisa menduga bahwa penciptaan perunggu, (yakni tembaga yang dicampur dengan timah) di Peru juga tidak dipengaruhi oleh penciptaan perunggu di Dunia Kuno. Pertayaan apakah peradaban-peradaban Amerika Pra- Colombian merupakan kreasi-kreasi independen atau tidak masih diperdebatkan secara sengit. Mungkin segelintir mahasiswa yang menekuni bidang ini akan menolak bahwa sebagian unsur dari peradaban-peradaban Amerika berasal dari Dunia Kuno, tetapi pendapat yang kini berlaku tampaknya menyebutkan bahwa unsur-unsur Dunia kuno ini kecil pengaruhnya dan bahwa, pada dasarnya, peradaban-peradaban pra-Columbian dibangun secara independen in situ oleh anak-cucu dari para imigran Zaman Palaeolitik Tinggi.

Waktu menyingsingnya fajar peradaban-peradaban tertua di Dunia kuno adalah sekitar 3000SM dan pada tahun tersebut kebudayaan-kebudayaan Amerika Pra-Columbian yang akhirnya mekar menjadi peradaban-peradaban yang sebanding dengan peradaban-peradaban di dunia kuno mungkin telah menjejakan langkah pertama menuju pembudidayaan tanaman jagung, yang menjadi tanaman pangan pokok mereka. Di Meso-Amerika, dan di gua Coxatlan dekat Puebla di daratan tinggi Meksiko pada tahun sekitar 4000SM, tongkol-tongkol jagung telah diketemukan yang mungkin berasal dari sebuah tanaman jagung liar atu mungkin juga dari tanaman yang sedikit dimodifikasi oleh langkah pertama menuju pembudidayaanya. Di gua Bat New Meksiko pada tahun sekitar 2500SM, tongkol-tongkol telah ditemukan dimana indikasi-indikasi pembudidayaanya terlihat lebih jelas. Makanya di Meso-Amerika, dimulainya agrikultur nyata-nyata bersamaan dengan dimulainya peradaban di dunia kuno, dan setidaknya 4000 tahun lebih muda dari permulaan agrikultur dunia kuno di Asia Barat Daya.

Kebudayaan-kebudayaan di dunia kuno dan Amerika pra-columbian berkembang di sepanjang garis yang terpisah, dan, diperbatasan-perbatasan dunia kuno itu sendiri, menyingsingnya fajar peradaban menandai adanya peningkatan diferensiasi regional.Sekitar 4500 tahun telah berlalu sebelum penaklukan samudera oleh Eropa Barat mengalami kemunduran menuju keseragaman dan juga unifikasi yang mustahil terjadi pada zaman Palaeolitik Rendah. Pada saat penulisan buku ini, kekuatan-kekuatan pemecah-belah yang telah ada selama abad-abad penyela berusaha sebuah aksi pasukan jalan belakang yang besar, dan belum bisa diramalkan apakah gerakan yang sedang mengupayakan unifikasi ini akan menang pada saat itu. Namun demikian, kita mengetahui secara pasti bahwa syarat yang tidak bisa ditawar-tawar bagi kelangsungan hidup manusia sekarang ini adalah unifikasi seluruh Ekumene, dan unifikasi ini bukan hanya terjadi pada ranah teknologi tetapi juga di setiap bidang kehidupan.

Dikutip dari : Arnold Toynbee. 2004. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analisis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif (MANKIND AND MOTHER EARTH: A Narrative History of the world).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 740Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16673Dibaca Per Bulan:
  • 349377Total Pengunjung:
  • 699Pengunjung Hari ini:
  • 15814Kunjungan Per Bulan:
  • 8Pengunjung Online: