Ringkasan Serat Pararaton

Serat Pararaton dimulai dari cerita Ken Arok yang disebut Katuturanira Ken Arok dan berakhir dengan runtuhnya pemerintahan Bhre Kertabhumi. Kitab Pararaton adalah sumber sejarah Singasari dan Majahapit. Merupakan hasil penulisan sejarah pada tahun 1613 M.

a. Di dalam Nagarakretagama menyebut Ranggah Rajasa sebagai raja pertama dari kerajaan Singasari. Terbukti dari Pararaton bahwa nama kecil raja Rangga Rajasa adalah Ken Arok. Dalam Pararaton di uraikan bahwa Ken Arok adalah anak Ken Endok dengan dewa Brahma. Suami Ken Endok ialah Gajah Para. Akibat persetubuhan antara Ken Endok dengan dewa Brahma, maka terjadilah perpisahan antara Ken Endok dan gajah Para Ken Endok pulang kedusun Pangkur seberang utara, Gajah Para kembali kedusun Campara seberang selatan. Lima hari setelah perpisahan itu Gajah Para meninggal. Dalam Pararaton diuraikan bahwa meninggalnya Gajah Para disebabkan karena ia melanggar larangan batara Brahma untuk berkumpul dengan Ni Endok, dan karena panasnya anak yang masih dalam kandungan. Setelah sampai masanya, lahirlah jabang bayi laki-laki. Anak itu kemudian di buang di kuburan. Pada malam hari datang seorang pencuri bernama Lembong dikuburan; dilihatnya sinar berpancaran. Sinar itu didekatinya dan nampak olehnya seorang jabang bayi sedang menangis. Anak itu dipungutnya dan dibawa pulang. Salah seorang diantara pembantu Lembong menyiarkan berita, bahwa Lembong mempunyai anak pungut, yang didapatnya dikuburan. Anak itu memancarkan sinar. Ken Endok mendengar berita itu, lalu datang mengunjungi Lembong dan berceritera bahwa sebenarnya anak pungutnya adaiah anak Ken Endok, keturunan batara Brahma.

b. Selanjutnya Pararaton menguraikan Ken Arok tinggal didusun Pangkur sampai seumur anak yang dapat menggembalakan kerbau. Ia suka berjudi sehingga menghabiskan harta kekayaan orang tua angkatnya dan orangtuanya sendiri. Kemudian ia diserahi menggembalakan sepasang kerbau kepala desa Lebak. Ken Arok diusir dari rumah karena kerbau tersebut dijadkan alat judi. Setelah itu Ken arok bertemu dengan seorang botoh dari dusun Karuman, bernama Bango Samparan. Ken Arok dianggap sebagai anak. Ia diajak pulang dan didajikan anak pungut bini tua Bango Samparan, si Genuk, yang kebetulan mandul. Isteri muda Bango Samparan yang bernama Tirtaja, mernpunyai beberapa anak laki-laki.. Lama Ken Arok tinggal di Karuman, tetapi tidak dapat bergaul dengan anak dari ibu tirinya. oleh karena itu ia lalu pergi dari Karuman. Ia bertemu dengan Tita anak Sahaja, ketua desa Sagenggeng. kedua orang anak itu saling mencintai. Mereka berdua giat belajar menulis dan membaca pada Djanggan di Sagengeng; mereka berdua tinggal dirumah Djanggan Sagenggeng. Ken Arok disitu memperlihatkan kenakalannya.

c. Pengarang Pararaton yang hidupnya diliputi kepercayaan Hindu, menguraikan segala tindak-tanduk Ken Arok dalam rangka kepercayaannya. Meskipun Ken Arok dikejar oleh orang-orang Daha dari tempat yang satu ketempat yang lain, namun ia selalu dapat meloloskan diri dari kejaran. Ia selalu mendapatkan tempat sembunyi. Dalam berbagai peristiwa yang membahayakan hidup Ken Arok, kekuasaan dewa yang tertinggi selalu memberikan perlindungannya. Setelah Ken Arok berguru kepada mpu Palit di Turijantapada dan diakui sebagai anaknya, Ia diutus oleh mpu Palot untuk mengambil emas pada ketau dusun Kabalon. Orang-orang dusun Kabalon tidak percaya bahwa ia adalah utusan mpu Palot. Karena marah Ken Arok menikam salah seorang diantara mereka itu lalu lari menghadap ketua dusun. Semua penghuni dusun dikerahkan untuk mengejar Ken Arok, dengan senjata palu. Mereka bermaksud untuk membunuhnya. Se-konjong-konyong terdengar suara dari langit yang mengatakan: Janganlah dibunuh orang itu. Ia adalah putraku. Belum selesai tugasnya didunia “ Mendengar seruan itu para pengejarnya berhenti. Demikianlah ia tertolong dari bahaya maut. Ia kembali ke Turijantapada membawa mas yang diserahkan kepada mpu Palot. Kemudian Ken Arok mengabdi di Tumapel. Tunggul Ametung mempunyai istri yang sangat cantik, bernama Ken Dedes. ia adalah anak tunggal pendeta Buda di Panawijen, mpu Purwa. Kemudian Ken Arok berencana membunuh Tunggul Ametung, kemudian mengambil Ken Dedes sebagai isterinya. Ken Arok pergi ke Lulumbang, menemui pandai keris mpu Gandring. Mpu Gandring adalah kawan karib Bango Sampatan. Oleh mpu Gandring ia disuruh kembali lagi 5 bulan. Mpu Gandring sedang sibuk menggurinda keris Ken Arok. Dimintanya keris yang sedang dikerjakan itu, Karena marahnya keris ditikamkan kedalam mpu Gandring. Mpu Gandring mati dan menjatuhkan kutukan kepada Ken Arok. Setelah itu Ken Arok pulang ke Tumapel. Di Tumapel Ken Arok mempunyai kenalan karib bernama Kebo Ijo. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memfitnah Kebo Ijo sehingga kebo Ijo di tangkap dan dibunuh.

d. Sepeninggalan Tunggul Ametung Ken Arok menikah dengan Ken Dedes. Pada waktu itu Ken Dedes telah hamil tiga bulan. Sepeninggalan Tunggul Ametung Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel, itu terjadi pada tahun 1182 M. kemudian Ken Arok menyerang kerajaan Kediri dan berhasil mengalahkannya. Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memperoleh tiga orang putra dan seorang putri. Dari perkawinannya dengan Ken Umang Ken Arok mendapat tiga orang putra dan seorang putri.

e. Di sini menceritakan akhir hayat dari Ken Arok. Anusapati memanggil seseorang dari dusun Batil. Ia diperintahkan membunuh sang Amurwabumi dengan keris pusaka mpu Gandring. Orang Batil itu kemudian berangkat menuju kedaton. Pada waktu itu sang Amurwabumi sedang bersantap. Dengan serta merta keris Gandring ditikamkan kepadanya. Ketika itu Kamis Pon Wuku Landep pada waktu senja, matahari baru saja terbenam. Orang Batil itu tergopoh-gopoh lari, mengungsi kepada Anusapati, Dengan serta merta pula orang Batil itu dihabisi hidupnya oleh Anusapati. Menurut Pararaton peristiwa itu terjadi pada tahun Saka 1169 atau tahun Masehi 1247. Nagarakretagama mencatat peristiwa itu pada tahun Saka 1149. Demikianlah ada selisih 20 tahun.

3. Silsilah raja – raja Kediri.

1. Sri Maharaja Samarawijaya.

Dilihat dari Prasasti Turun Hyang

2. Aji Lingga Jaya (1042 – 1052).

3. Sri Jayawarsa Sastra Prabu (1052 – 1104).

4. Sri Maharaja Sri Bameswara.

5. Jayabhaya

6. Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara

7. Sri Maharaja Rakai Hino

8. Sri Maharaja Sri Krancaryadipa.

9. Sri Maharaja Kamesware.

10. Sri MaharajaSarweswara.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1569Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13667Dibaca Per Bulan:
  • 346636Total Pengunjung:
  • 1457Pengunjung Hari ini:
  • 13073Kunjungan Per Bulan:
  • 13Pengunjung Online: