Artikel

0

RIWAYAT MAKAM KERAMAT SYEH JAWAHIR

Diposting oleh Ciciren

Share

Pada tahun 2000 Makam Keramat Syeh Jawahir dibangun masyarakat Kampung Pakuhaji Tengah RT 001/RW 11 Kelurahan Pagerbatu. Menurut Riwayat/sejarah makam tersebur telah ada sejak jaman penjajahan Belanda ke Indonesia dan waktu jaman Penyebaran Agama Islam ke Banten diantaranya Syeh Jawahir ikut membantu pula Sultan Banten menyebarkan Agama Islam di Kabupaten Pandeglang pada khususnya di wilayah Kecamatan Pandeglang kampung Pakuhaji Kelurahan Pagerbatu yang konon masyarakat Kelurahan Pagerbatu pada saat itu masih menganut kepercayaan animisme atau mempercayai benda, Agama Hindu dan Budha. Syeh Jawahir sekuat tenaga menyebarkan Agama Islam dengan cara membuka Pondok Pesantren Salafiyah dan mengajarkan ajaran-ajaran Islam diantaranya Al-Quran Hadits, Ijma, Qiyas dan kitab-kitab lainnya. Syeh Jawahir ke Kampung Pakuhaji bersama-sama saudara sepupunya yaitu Syeh Rako yang dimakamkan di Simpeureum, sekarang pemakamannya dikenal dengan Pemakaman Simpeureum di Kampung Pakuhaji Girang RW 04. Syeh Jawahir, Syeh Karan dan Kibuyut Sumed yang berada di Kampung Ciherang Pandeglang sama-sama berasal dari Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat, Beliau meninggal pada usia 35 Tahun menurut Riwayat Syeh Jawahir tidak mempunyai keturunan kecuali keponakannya Syeh Rako, mempunyai menantu yaitu Syeh Karan yang kebetulan orang Pakuhaji Girang mempunyai seorang istri bernama Nyi Masriah dan mempunyai keturunan dan seterusnya mempunyai anak dan cucu yang tersebar di Kampung Pakuhaji Girang, Kampung Pasir Angin dan di seluruh peloksok Kabupaten Pandeglang mendirikan Pondok Pesantren yang namanya kini Miftahul Khoir

Dengan sekilas sejarah tersebut sehingga fanatisme keagamaan di Kelurahan Pagerbatu sampai dengan sekarang sangat kuat dan kental sekali, adat istiadat masih mengakar/tradisi masyarakat. Fanatisme agama, histories khususnya di wilayah Pagerbatu pada umumnya di Kabupaten Pandeglang dengan kemajuan jaman yang serba cepat dan persaingan di segala bidang yang tidak sehat sehingga moto tersebut membias dan hampir sirna/musnah hal mana sekalipun Indonesia dijajah oleh Belanda 350 tahun dan oleh Jepang naluri keenakan dijajah dan tidak mau capek sehingga hasil yang didapat secara nyata belum bisa menjadi kebanggaan bangsa ini, sifat serba instant, malas-malasan dan merasa puas dan mengkulturkan diri masih kelihatan di semua unsur dan lapisan masyarakat. Yang secara Moral/Mental dan fisik tidak seimbang sehingga Masyarakat di Kabupaten Pandeglang bukan maju malahan mundur ke belakang seperti halnya zaman Purbakala, hanya dikemas Moderenisasi yang sehingga menyongsong, abad ke-20 ini bukan tinggal landas malahan tinggaleun landas kalau orang Sunda bilang. Mohon dengan segala hormat kepada Bapak Bupati Pandeglang, DPRD Kabupaten Pandeglangdan Bapak-bapak Muspida yang ada di Kabupaten Pandeglang, Pandeglang bukan hanya di pengajian menyadari akan tetapi Implementasinya di segala bidang diantaranya: Ekonomi, Sosial, Politik, Budaya, Agama, Hankamrata Perlu adanya pelaksaan yang betul-betul mendasar dan ikhlas berjuang di jalan Allah Subhannahuwataala dan seyakin-yakinnya kita semua bakal kembali Kehadirat Illahi Robbi dan takut akan murka-Nya ( A m i e n ).

Sumber : Koko Bin Nurjaya.

Kecamatan : Pandeglang.

Silakan Beri Komentar

© Copyright Prodi Sejarah 2011. All rights reserved.