RONTOKNYA MITOS KARAKTER BANGSA INDONESIA SEBUAH TAFSIR ANTROPOLOGIS

HEDDY SHRI AHIMSA PUTRA

1. PENGANTAR

Masalah karakter bangsa kembali menjadi salah satu topik hangat dalam pembicaraan mengenai keadaan masyarakat dan negara Indonesia di masa kini. Ada tiga pola paling tidak, yang dapat kita tengarai dari isi pembicaraan di situ. Pola pertama terda-pat pada pembicaraan informal di sebagian kalangan yang mengeluhkan dan merasa prihatin dengan terjadinya kemerosotan pada moral, akhlak dan karakter bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dari berita-berita dalam media massa. Namun, mereka merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Pola kedua berisi pembicaraan yang lebih mengarah pada mengeluhkan dan kemudian mencela, dan bahkan menertawakan moral dan karakter bangsa Indonesia yang bertambah buruk tersebut (pembicaraan sebagian an-tropolog termasuk dalam kategori ini).

Pada kalangan yang lain lagi, terutama di ka-langan ilmuwan (dan tentu saja di kalangan ahli antropologi Indonesia), birokrat dan budayawan pembicaraan terlihat lebih serius. Di sini isi pembicaraan bukan lagi hanya keluhan, keprihatinan, celaan atau kesinisan, tetapi juga cetusan-cetusan pemikiran tentang bagaimana karakter yang buruk tersebut sebaiknya diubah, sehingga menjadi lebih baik.

Dalam makalah ini saya mencoba untuk memahami munculnya berbagai variasi wacana tentang karakter bangsa Indonesia di atas, dengan menempatkannya dalam konteks teknososio  kultural masyarakat Indonesia di masa kini. Dari pemahaman ini bisa saja kemudian muncul pemikiran-pemikiran tentang siasat atau strategi yang sebaiknya diambil untuk membangun atau mewujudkan karakter bangsa yang diinginkan, tetapi bisa juga sebaliknya, yakni pemikiran tentang tidak perlunya masalah karakter bangsa tersebut terlalu dirisaukan.

2. ANTROPOLOGI DAN KARAKTER (SUKU)BANGSA

Masalah karakter bangsa sebenarnya bukan masalah baru dalam antropologi. Salah satu topik yang muncul dalam perbincangan antropologi di awal kemunculannya tidak lain adalah soal karakter bangsa tersebut. Bangsa ketika itu lebih banyak dimaknai sebagai ’sukubangsa’, bukan ’nation’. Etnologi (ethnology, ethnologie) yang merupa-kan istilah lain untuk antropologi adalah ilmu tentang bangsa dalam arti sukubangsa. Deskripsi yang diberikan oleh para penjelajah (explorer), pengelana (traveler), missionaris, dan pegawai kolonial mengenai suku-sukubangsa yang mereka temui biasanya berisi juga deskripsi tentang sifat-sifat.watak atau karakter yang umum terlihat pada warga sukubangsa tersebut.

Sebagaimana kita pernah ingat, Ruth Benedict ahli antropologi Amerika Serikat membuka lembaran baru wacana mengenai karakter suku-sukubangsa di kalangan ahli antropologi ketika dia menulis tentang sifat atau ciri-ciri watak beberapa sukubangsa di dunia dalam bukunya Patterns of Culture. Dari studinya mengenai etnografi sukubangsa tersebut Benedict sampai pada rumusan mengenai ciri-ciri watak suatu sukubangsa. Ada sukubangsa yang kemudian disebutnya tipe Dyonisian, ada pula yang disebutnya tipe Apollonian. Buku yang pernah populer di Amerika tersebut kemudian juga diterje-mahkan ke bahasa Indonesia, menjadi Pola-Pola Kebudayaan. Sayangnya, buku Be-nedict ini tidak pernah menjadi populer di kalangan ahli antropologi maupun kalangan awam d Indonesia.

Setelah studinya mengenai watak-watak sukubangsa tersebut, Benedict juga mela-kukan studi mengenai watak sebuah bangsa, yakni bangsa Jepang. Studi yang dida-sarkan pada berbagai data kebudayaan dan etnografi tentang orang Jepang yang ber-hasil diperoleh tanpa melalui penelitian lapangan ini kemudian menghasilkan sebuah buku berjudul The Chrysantemum and the Sword (Bunga Sakura dan Samurai). Buku Benedict inilah sebenarnya buku yang sangat relevan untuk perbincangan tentang wa-tak atau karakter bangsa dengan perspektif antropologi.

Dari buku-buku inilah kemudian muncul sebuah aliran pemikiran atau paradigma dalam antropologi yang dikenal sebagai aliran Culture and Personality (Kebudayaan dan Kepribadian) atau Culture Personality (Kepribadian Kebudayaan). Di sini ada anggapan bahwa sebuah masyarakat atau kebudayaan itu dapat memiliki ”kepribadian” tertentu sebagaimana halnya individu. Anggapan ini didasarkan pada fakta bahwa suatu masyarakat pada dasarnya terdiri dari individu-individu. Individu-individu ini memiliki kepribadian yang mirip satu sama lain, sebagaimana terlihat dari berbagai pola perilaku dan tindakan mereka sehari-hari. Kepribadian individu-individu ini kemudian juga me-wujud dalam kebudayaan mereka, sehingga kebudayaan mereka kemudian terlihat ju-ga memiliki corak tertentu, yang berbeda dengan corak kebudayaan yang lain.

Telaah lebih lanjut mengenai hubungan antara corak kebudayaan dan kepribadian tersebut membawa sejumlah ahli antropologi yang berminat pada bidang tersebut pada kajian mengenai proses terbentuknya corak-corak kepribadian, yang kemudian menghasilkan corak kepribadian dari sebuah kebudayaan atau sukubangsa. Dari sinilah lahir kemudian berbagai penelitian mengenai proses-proses sosialisasi anak-anak dalam keluarga, sebagaimana yang dilakukan oleh Cora du Bois di kalangan orang Alor dan dilakukan oleh Margaret Mead di kalangan orang Bali. Pandangan mengenai adanya hubungan antara corak kepribadian dan proses sosialisasi ini pula yang tampaknya telah mendorong Hildred Geertz meneliti mengenai keluarga Jawa dengan fokus pada proses pendewasaan anak-anak dalam masyarakat Jawa, yang hasilnya kemudian di-bukukan menjadi The Javanese Family, Keluarga Jawa. Minat untuk mempelajari hu-bungan antara corak kepribadian dan kebudayaan itu pula yang kemudian melahirkan satu spesialisasi baru dalam antropologi, yang kemudian dikenal sebagai antropologi psikologi.

Bidang antropologi psikologi ini pernah menjadi populer di kalangan mahasiswa antropologi Indonesia di pertangahan tahun 1970an dan awal 1980an. Ahli antropologi Indonesiayang kemudian mendalam bidang ini adalah James Danandjaja, sebagaimana terlihat dengan cukup jelas dalam disertasinya mengenai petani Trunyan di Bali. Dalam buku yang berasal dari disertasi ini Danandjaja memaparkan proses sosialisasi yang ada dikalangan anak-anak Trunyan. Pengaruh filsafat positivisme dari pembimbingnya yakni prof.Koentjaraningrat, membuat James Danandjaja kemudian banyak menggunakan metode penelitian kuantitatif. Akibatnya, sisi tafsiriah sebagaimana yang terlihat pada kajian Ruth Benedict kurang terlihat jejaknya di situ. Meskipun demikian, kajian yang dilakukan oleh Danandjaja ini perlu diakui sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan antropologi di Indonesia, walaupun penancapan tonggak antropologi psikologi tersebut ternyata tidak diikuti oleh penancapan tonggak-tonggak beri-kutnya oleh ahli antropologi Indonesia yang lain. Tonggak keilmuan berupa sebuah et-nografi tebal berjudul Petani Trunyan tersebut merupakan tonggak yang menunjukkan bahwa embrio kajian watak (suku)bangsa sebenarnya pernah ada dalam antropologi di Indonesia. Entah mengapa minat ini kemudian semakin lama semakin pudar, dan kini tampaknya hilang sama sekali dari kalangan ahli antropologi Indonesia.

Hilangnya minat terhadap kajian tentang sosialisasi anak, dan hubungannya dengan pembentukan kepribadian, dan watak (suku)bangsa yang semula tidak begitu dirasakan, bahkan juga tidak disedihkan, ini baru terasa ketka antropologi Indonesia diminta berbicara mengenai karakter bangsa, watak bangsa, sebagaimana yang terjadi seka-rang. Saya merasa mudah-mudahan ini hanya perasaan saya sendiri saja- bahwa an-tropologi Indonesia menjadi terlihat tidak siap sama sekali untuk membahas masalah tersebut. Padahal, di kalangan ahli antropologi di Barat (baca: Amerika Serikat) antro-pologi psikologi justru mengalami pertumbuhan terus, walaupun pertumbuhan ini tam-paknya sempat melambat di tahun-tahun 1970an.

Terlepas dari menghilangnya minat terhadap kajian tentang hubungan antara kebudayaan dan kepribadian di Indonesia, kajian antropologi mengenai watak-watak (suku) bangsa sebagaimana dirintis dan dilakukan oleh Ruth Benedict pada dasarnya meru-pakan sebuah upaya untuk membuat tipologisasi atau kategorisasi mengenai suku-sukubangsa di dunia berdasarkan atas sejumlah ciri-ciri kepribadian yang ada pada ba-nyak warga sukubangsa tersebut. Tipologisasi ini semacam ini dianggap penting, kare-na dengan mengetahui tipe-tipe tersebut sukubangsa lain atau pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu dengan sukubangsa tersebut.

Kajian tersebut juga dapat ditafsirkan sebagai upaya untuk menunjukkan lewat penelitian secara empiris dan seksama bahwa stereotipe-stereotipe yang biasa tumbuh dalam suatu masyarakat mengenai (suku)bangsa tertentu tidak harus dipercaya begitu saja, tetapi juga tidak berarti bahwa stereotipe tersebut tidak ada dasarnya sama se-kali. Penelitian secara empiris dan seksama dengan menggunakan metode penelitian yang dapat dipertanggung-jawabkan, dapat menunjukkan bahwa suatu (suku)bangsa itu memang dapat memiliki ciri-ciri watak tertentu. Meskipun demikian, penetapan ciri-ciri ini sebaiknya tidak dilakukan hanya atas dasar kesan, tetapi atas dasar hasil pene-litian yang dapat dipertanggung-jawabkan keakuratannya.

Dari penelitian antropologis seperti inilah mitos-mitos yang kurang tepat mengenai the Other biasa disebut ”the myth of the lazy natives”, mitos mengenai orang pribumi yang malas-, kemudian dapat sedikit demi sedikit berkurang, walaupun tidak hilang sa-ma sekali. Kajian Lévi Strauss misalnya mengenai nalar orang primitif (la pansee sau-vage) berhasil merontokkan stereotipe negatif masyarakat Barat mengenai masyarakat primitif (bukan dalam artian negatif, tetapi dalam arti sederhana) bahwa masyarakat atau sukubangsa yang masih sederhana juga memiliki cara berfikir yang sederhana. Dengan sangat jitu Lévi Strauss memaparkan bahwa orang-orang primitif tidak kalah canggih dalam pemikirannya dengan orang-orang Barat yang sangat modern. Bahkan dengan menggunakan data etnografi Lévi-Strauss mampu memberikan kritik telak ter-hadap pandangan ahli filsafat ternama Jean Paul Sartre, yang membahas nalar dialek-tik (dialectical reason). Berkenaan dengan watak bangsa ini seorang ahli antropologi Belanda, J.P.B. de Josselin de Jong, pernah mengemukakan pendapatnya tentang beberapa ciri budaya masyarakat Indonesia. Meskipun de Josselin de Jong tidak menyebut-nyebut tentang watak bangsa, akan tetapi paparannya mengenai ciri-ciri umum budaya Indonesia ini menurut pendapat sayadapat dikatakan sebagai sebuah deskripsi awal jika bukan yang paling awal- mengenai watak-watak umum masyarakat Indonesia. Salah satu ciri umum dari budaya masyarakat Indonesia dengan demikian juga ciri umum watak ma-syarakat Indonesia adalah keterbukaannya terhadap budaya asing dan kemampuan-nya menyerap berbagai macam unsur budaya asing tersebut. Pandangan de Josselin de Jong ini merupakan pandangan yang sangat maju di masa itu, karena sangat berbe-da dengan pandangan umum pegawai kolonial Belanda mengenai masyarakat pribumi –yang umumnya bersifat negatif, dan pandangan tersebut tidak muncul hanya dari ke-san-kesan saja, tetapi lahir dari kajian yang seksama atas fakta sejarah dan kebudaya-an (etnografis) yang telah berhasil dikumpulkanoleh para missionaris, pegawai kolonial dan para ilmuwan.

3. KARAKTER BANGSA INDONESIA: MITOS ATAU KENYATAAN ?

Kalau penelitian ahli-ahli antropologi Barat mengenai watak (suku)bangsa telahmemberikan sumbangan yang sangat penting terhadap pemahaman orang Barat me-ngenai masyarakat non-Barat, bagaimana dengan penelitian tentang watak atau karak-ter bangsa di Indonesia? Penelitian secara ilmiah mengenai watak bangsa Indonesia setahu saya memang belum pernah dilakukan baik oleh para ahli antropologi maupun ahli psikologi Indone-sia. Oleh karena itu, saya dapat mengatakan bahwa gambaran, pengetahuan atau pan-dangan tentang watak atau karakter bangsa Indonesia yang ada dalam pikiran kita se-benarnya adalah mitos atau dongeng tentang watak bangsa yang sebagian berasal da-ri kita sendiri dan sebagian lagi berasal dari bangsa atau orang lain. Menurut pendapat saya, tidak mungkin rasanya kita memiliki gambaran tentang karakter bangsa Indonesia, ketika bangsa Indonesia dalam kenyataannya terdiri dari lebih 800 sukubangsa. Dari 800an sukubangsa ini belum ada seperseratusnya -setahu saya- yang telah diteliti corak atau watak kepribadiannya. Padahal, secara empiris, watak bangsa Indonesia mestinya merupakan hasil abstraksi dari watak-watak suku-suku-bangsa yan ada di Indonesia. Kalau suku-sukubangsa yang membentuk bangsa Indo-nesia tersebut watakwatak atau karakternya belum seluruhnya diketahui, bagaimana kita akan dapat membuat abstraksi tentang watak-watak tersebut? Dengan pertanyaan lain, bagaimana kita akan dapat merumuskan tentang watak bangsa Indonesia, kalau watak atau karakter sukusukubangsa yang membentuknya belum diketahui seluruh-nya?

Bahwa apapun pandangan tentang karakter bangsa Indonesia di masa kini dapat dikatakan sebagai mitos, hal itu tidak berarti bahwa kita dapat mengabaikannya begitu saja. Lévi-Strauss, dengan sangat jelas telah menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada masyarakat tanpa mitos. Tidak ada (suku)bangsa yang tidak memiliki mitos, bah-kan (suku)bangsa yang paling majupun, karena melalui mitoslah suatu (suku)bangsa membangun keteraturan (order) -pada tataran kognitif- mengenai dunianya dan me-ngenai tempat mereka dalam dunia tersebut.

Dalam perspektif tersebut, maka wacana tentang karakter bangsa Indonesia setahu saya pernah mengalami episode-episode yang menarik, yang pada dasarnya merupa-kan ekspresi dari apa yang terjadi dalam benak masyarakat Indonesia ketika dia ber-fikir atau melakukan refleksi tentang dirinya. Episode pertama adalah ketika terjadi per-debatan serua antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan pemikir Indonesia yang lain tentang apa sebaiknya yang dilakukan oleh orang Indonesia di masa depan, atau ten-tang sebaiknya menjadi seperti apa orang Indonesia di masa setelah penjajahan (post-colonial), ketika mereka menyadari bahwa mereka berada di tengah sebuah masyara-kat dunia, yang di dalamnya terdapat pola-pola peradaban -pola-pola watak kebudaya-an- yang berbeda. STA berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus mengikuti pola budaya Barat. Dengan kata lain, bangsa Indonesia perlu memiliki watak budaya seperti budaya Barat, jika ingin tetap bisa survive di tengah kehidupan masyarakat dunia. Pi-hak lain (Sanusi Pane kalau tidak salah), sebaliknya berpendapat bahwa bangsa Indo-nesia tidak harus meniru watak budaya Barat. Bangsa Indonesia tetap dapat memper-tahankan wataknya sendiri di tengah pergaulan berbagai bangsa di dunia.

Perdebatan tersebut secara implisit menunjukkan dua pandangan yang berbeda mengenai karakter bangsa Indonesia. STA berpendapat bahwa karakter tersebut tidak cocok lagi dalam situasi baru yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, sedang Sanusi Pa-ne dan kawan-kawan berpendapat bahwa karakter tersebut masih tetap cocok, dan ka-renanya perlu dipertahankan. Yang satu memandang corak karakter tersebut sebagai karakter yang kurang baik, sedang yang lain berpendapat sebaliknya. Perdebatan ter-sebut berakhir tanpa kemenangan di salah satu pihak. Dalam kenyataannnya, karakter bangsa Indonesia kemudian memang mengalami perubahan setelah penjajahan tetapi tidak semua ciri-ciri karakter bangsa Indonesia yang sudah ada sebelumnya kemudian hilang sama sekali.

Episode kedua terjadi ketika Mochtar Lubis melontarkan pendapat mengenai sejum-lah watak yang umum ada pada orang Indonesia dalam buku yang diberinya judul Ma-nusia Indonesia. Watak umum yang dapat dikatakan sebagai watak bangsa ini, dalam pandangan Mochtar Lubis yang kritis, berisi sejumlah ciri watak yang buruk-buruk. Ti-dak mengherankan jika buku ini kemudian mendapat reaksi keras dari beberapa orang yang tidak sepakat dan berkeberatan terhadap pandangan Mochtar Lubis yang diang-gap berat sebelah; hanya menekankan sisi negatif watak-watak bangsa Indonesia. Lu-bis tampaknya memang sengaja melakukan hal itu, sebagai upaya untuk merontokkan mitos tentang bangsa Indonesia, yang berisi gambaran atau citra yang baik mengenai orang Indonesia, bangsa Indonesia, yang di mata Mochtar Lubis sebenarnya sama se-kali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Bagi Mochtar Lubis, pandangan, pengetahuan atau pendapat bahwa bangsa Indo-nesia merupakan bangsa yang ramah, bangsa yang baik hati, bangsa yang relijius, dan sebagainya, semuanya adalah ’mitos’, dongeng belaka, yang tidak ada alam kenyataan hidup orang Indonesia sehari-hari. Namun demikian, karena Mochtar Lubis kemudian mengemukakan pandangannya sendiri mengenai watak atau karakter manusia Indone-sia, yang tidak didasarkan pada hasil kajian yang ”ilmiah”, yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, maka Mochtar Lubis pun tidak dapat mengelak dari kritik bah-wa pada dasarnya dia juga tengah membangun sebuah mitos, tetapi mitos yang berla-wanan, bertentangan dengan mitos-mitos sebelumnya. Ketika Mochtar Lubis mende-konstruksi mitos yang sudah ada, pada saat yang sama ternyata dia juga membangun, mengkonstruksi sebuah mitos baru. Dengan kata lain mitos karakter bangsa yang su-dah relatif mapan berusaha untuk digantikan dengan sebuah mitos baru, melalui ta-ngan dan pemikiran Mochtar Lubis.

Episode ketiga muncul ketika Koentjaraningrat menerbitkan sejumlah tulisan ringan secara serial dalam suratkabar ”Kompas”, yang kemudian dibukukan dan diberi judul Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. Dalam salah satu tulisan di situ Koentjaraningrat menyebutkan bahwa salah satu watak atau karakter, yang disebutnya ”mental”, yang kurang baik dari bangsa Indonesia setelah kemerdekaan adalah ”mental menera-bas” atau pola perilaku untuk mencapai tujuan tertentu dengan tidak menghiraukan pa-da aturanaturan yang berlaku, karena kalau mengikuti aturan-aturan yang ada tujuan tersebut tidak akan dapat dengan segera dicapai. Watak yang lain adalah gotong-ro-yong, yang menurutnya tidak selalu bersifat negatif.

Berbeda dengan pandangan Mochtar Lubis yang menimbulkan pro dan kontra, pandangan Koentjaraningrat justru kemudian diamini oleh banyak orang, baik ilmuwan maupun awam. Mungkin karena orang melihat bahwa Koentjaraningrat adalah seorang ilmuwan, seorang ahli kebudayaan, sedang Mochtar Lubis adalah seorang wartawan,

sastrawan atau pengamat kebudayaan, yang pendapat-pendapatnya dianggap kurang memiliki bobot ilmiah. Mungkin juga karena cara Koentjaraningrat menyampaikan pandangan kritisnya mengenai watak bangsa Indonesia berbeda dengan cara Mochtar Lubis, yang bagi beberapa kalangan terasa cukup menyinggung perasaan. Mungkin pula karena pendapat Koentjaraningrat dianggap merupakan hasil dari sebuah penelitian ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya, sedang pendapat Mochtar Lubis tidak.

Mungkin pula karena Koentjaraningrat mengemukakan tidak hanya watak yang negatif, tetapi juga watak yang terlihat positif, seperti misalnya gotong-royong. Oleh karena itu pula pendapat Koentjaraningrat mengenai watak bangsa Indonesia di-anggap lebih seimbang dan karena itu juga lebih objektif, sehingga masih sering dikutip walaupun tidak sedikit juga yang telah melupakannya.

Episode yang keempat boleh merupakan merupakan episode yang paling lama durasinya, dan paling menyentakkan. Episode ini terlihat di akhir tahun 1990an, yang kemudian melahirkan era baru dalam kehidupan bangsa Indonesia, Era Reformasi. Berawal dari setahu saya- kerusuhan yang terjadi di Rengasdengklok dan Tasikmalaya, yang kemudian merembet ke berbagai kota kecil di Indonesia -yang sebelumnya jarang disebutsebut kerusuhan yang ditayangkan melalui layar televisi berulangkali itu -pagi, siang, sore dan malam sangat terasa menghentak, dan kemudian meluluh-lantakkan gambaran masyarakat Indonesia tentang diri mereka sendiri.

Citra diri yang kuat melekat, karena dengan sengaja ditanamkan, dan tanpa sengaja terbentuk, pada masyarakat Indonesia di masa itu tentang diri mereka sendiri adalah citra yang sangat positif. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berhasil membangun ekonomi yang kuat, bangsa yang berpengaruh di kawasan ASEAN, bangsa yang reliji-us, menyukai perdamaian, bangsa yang santun dan sebagainya. Citra sangat positif seperti ini rontok tidak lama setelah kerusuhan dan konflik antarsuku, yang disusul de-ngan konflik antarpemeluk agama, merebak di berbagai daerah di Indonesia dan dita-yangkan melalui layar kaca berulangkali setiap hari selama berbulan-bulan. Televisi dan media massa lain yang telah menjadi pilar utama pembentuk citra positif yang me-lekat kuat dalam benak masyarakat Indonesia, kini juga menjadi buldoser utama yang merobohkan, meluluh-lantakkan citra positif tersebut.

Tidak seorangpun kuasa menolak munculnya sebuah citra yang negatif, jika tidak sangat negatif, mengenai masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia, ketika citra terse-but tidak hanya ditampilkan melalui kata-kata tetapi juga gambar yang sangat nyata, re-kaman langsung, dari peristiwa yang terjadi. Mitos negatif mengenai bangsa Indonesia pun kemudian merebak, dan dalam waktu yang singkat menggantikan mitos positif yang sebelumnya pernah melekat kuat dalam benak kolektif masyarakat Indonesia. Mi-tos inilah yang kini masih terus bergulir, dan kadang-kadang menguat ketika peristiwa-peristiwa negatif baru yang populer muncul kembali dalam media massa, terutama tele-visi. Tidak mengherankan jika kemudian pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar pada pemberitaan media massa dan tayangan televisi, dan kemudian mencoba untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat mengurangi penyebaran mtios negatif tentang masyarakat Indonesia.

Kalau televisi menjadi sarana penyebaran mitos yang sangat transparan, berbeda halnya dengan jaringan internet. Jaringan ini menyebarkan mitos, yang biasanya nega-tif, secara agak tersembunyi. Kalau televisi relatif dapat diakses semua orang, tidak de-mikian halnya dengan internet. Oleh karena itu, mitos tentang bangsa Indonesia yang berkembang melalui jaringan ini tidak selalu diketahui oleh banyak warga masyarakat Indonesia, walaupun mitos-mitos tertentu yang semula bersifat tersembunyi tetapi sa-ngat menarik (karena begitu negatifnya), kemudian akan dicomot oleh media massa untuk disebarkan dengan lebih terbuka, sebagaimana mitos ”Luna Maya” yang kini ma-sih saja beredar, dan belum memperlihatkan tanda-tanda menyurut dari tengah perbin-cangan jaringan televisi tertentu.

4. MEMBANGUN KARAKTER BANGSA: MEMBANGUN MITOS?

Apa yang saya paparkan di atas barulah merupakan sebuah sketsa perkembangan dari

wacana yang pernah ada, dari mitos mengenai siapa diri kita sebenarnya. Mitos tersebut adalah mitos mengenai karakter kita sebagai sebuah bangsa. Diawali dari se-buah kajian antropologis dari belakang meja oleh seorang ahli antropologi Belanda, de Josselin de Jong, upaya untuk merumuskan, untuk menetapkan ciri-ciri umum yang ada dalam masyarakat Indonesia kemudian tumbuh dan berkembang. Meskipun hasil kajian de Josselin de Jong hampir tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, namun secara historis fakta tersebut tidak dapat diabaikan.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa pertemuan bangsa Indonesia dengan bangsa lain telah memungkinkan orang Indonesia melakukan refleksi atas bang-sanya, atas kemungkinan survivalnya di masa yang akan datang. Perdebatan menge-nai seperti apa sebaiknya bangsa Indonesia di masa depan, yang terjadi antara STA dengan SP (?), merupakan sebuah peristiwa yang mencerminkan mulai dpertanyakan-nya mitos watak bangsa yang selama ini dianut.

Episode berikutnya menunjukkan bahwa mitos-mitos lama tidak hanya dipertanyakan kebenarannya, tetapi bahkan mulai dicela, mulai diungkapkan keburukan-keburukannya.

Namun, karena celaan ini semuanya masih berada dalam tataran kata-kata, maka celaan atau kritik tersebut hanya berhasil menjangkau dan bergulir di kalangan tertentu saja, kalangan cendekiawan, kelas menengah. Mitos bangsa Indonesia yang positif tidak pernah berhasil dirontokkan dalam berbagai perdebatan tentang karakter bangsa.

Mitos tersebut baru berhasil rontok berantakan setelah dihadapkan pada sebuah mitos yang dibangun di atas basis yang lebih kuat, yakni kata-kata, foto dan video. Namun, tidak hanya basis tekno-material mitos ini yang lebih kuat, tetapi juga basis sosial-nya. Kalau upaya untuk merontokkan mitos positif tentang karakter bangsa sebelum-nya dilakukan oleh individu-individu tertentu (STA, Mochtar Lubis, Koentjaraningrat), dan karena itu kurang behrasil, pada tahap berikutnya mitos baru yan tidak sangat po-sitif dilontarkan oleh sebuah kolektiivitas yang berada di bawah sebuah payung berna-ma ”media massa”. Dua hal ini sedikit banyak menjelaskan mengapa mitos baru yang kini merebak menjadi lebih sulit dilawan daripada mitos-mitos yang berusaha dibangun secara individual.

5. PENUTUP

Di sini saya tidak akan berbicara tentang bagaimana dan/atau siasat apa yang dapat kita tempuh untuk membentuk atau membangun karakter bangsa yang kita ingin-kan, tetapi berbicara tentang kendala-kendala dan masalah-masalah apa yang meng-hadang atau dapat menghambat upaya-upaya kita membangun karakter bangsa yang kita inginkan. Asumsinya, jika kita dapat mengidentifikasi kendala dan hambatan ini maka upaya untuk membangun tersebut dapat dilakukan dengan lebih tepat dan efisi-en, karena kendala dan hambatannya dapat dihindari atau dihlangkan terlebih dulu se-belum upaya itu sendiri dilakukan.

Kendala yang pertama adalah belum adanya kesepakatan tentang apa yang dimaksud dengan karakter bangsa, dan ini karena kita tidak pernah membahas konsep ”karakter bangsa” tersebut secara serius, dan kemudian memikirkan dengan seksama implikasiimplikasi metodologis dan praktis dari konsep tersebut. Konsep karakter bangsa perlu dipahami dan direnungkan dengan teliti maknanya, dan kemudian dipaparkan secara runtut dan mudah dimengerti, sehingga orang biasapun memahaminya dan dapat melakukan upaya-upaya untuk bersama-sama membangunnya bersama orang lain.

Tidak ada atau belum adanya kesepakatan tentang apa yang dimaksud dengan ”karakterbangsa” membuat kita belum dapat menentukan cara-cara atau metode yang tepat untuk mencapainya. Memang, kita tidak harus mencapai kesepakatan sepenuhnya tentang hal itu, namun demikian hal itu etap akan dapat menghambat upaa-upaya un-tk mewujudkannya.

Karakter bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa secara historis dan antropologis merupakan karakter yang tengah menjadi, tengah terbentuk, dan proses pembentukan tersebut sekarang ini tampak berjalan secara alami, atau lebih tepatnya tanpa sebuah grand design, desain besar, karena kita belum memiliki kesepakatan nasional menge-nai karakter bangsa seperti apa yang kita inginkan

Daftar Pustaka

Benedict, R. 19… Patterns of Culture.

Koentjaraningrat. 19.. Tokoh-Tokoh Antropologi. Jakarta: Dian Rakjat.

_________. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 12Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13949Dibaca Per Bulan:
  • 346847Total Pengunjung:
  • 10Pengunjung Hari ini:
  • 13284Kunjungan Per Bulan:
  • 2Pengunjung Online: