Sasakala Citaman dan Batu Goong

Oleh: Dadan Sujana

Bukit mungil punden berundak yang teronggok di antara kokohnya Gunung Kailasa (Pulasari) dan deretan Gunung Aseupan ini bernama Kaduguling. Di sisi Barat Daya, tepat di bawah Kaduguling yang menyerupai candi ini, ada kolam mata air bening yang mengalir deras menyusur lembah menuju samudera di Selat Sunda.

Di tiap teras undakan Kaduguling terhampar batu-batu bulat melingkar, makin atas jumlahnya semakin sedikit, hingga di teras terakhir tinggal satu batu yang berbentuk berbeda menyerupai kenong (gong). Tepat di puncak bukit ‘suci’ ini, tertancap kokoh batu tegak berdiri (menhir).

Bukit Kaduguling yang selalu ‘tersenyum’, pagi ini terlihat ‘muram’. Angin bertiup sangat kencang, mentari seakan malu menyinari sang bumi yang tertutup awan hitam, udara berhembus dingin menusuk. Ratusan daun gugur melayang bebas tak tentu arah, air sungai bergolak berlari menuju lembah. Pulasari tak menyembulkan keelokannya, deretan puncak-puncak Aseupan seakan tertidur lelap.

“Buddham saranam gacami… Dharmam saranam gacami… Shanggam saranam gacami…” dalam khusyu pendeta biksu Buddha berulang-ulang memanjatkan doa, memohon perlindungan kepada Sang Buddha, meminta pertolongan kepada Sang Dharma, mengharap keselamatan Sang Sangga.

Sambil menggenggam ghanta (genta) bertahtakan vajra (kilat) bermotif padma (teratai), tangan kiri Mahabiksu bergerak menggoyangkan benda keramat itu. Denting nyaring dari genta yang dianggap sebagai gema suara OM, bersahutan dengan doa-doa yang dipanjatkan berulang-ulang.

Angin terus bertiup kencang, kelebat jubah kuning sang pendeta tertiup angin meliuk-liuk seperti kibar panji-panji raja.

Duduk bersimpuh membelakangi ‘candi’, tepat di depan kolam suci, Mahabiksu Buddha membuka salam menghadap puluhan sangga, “Namo Buddhaya…,” dalam sikap tangan kanan anjali (‘menyembah’ di depan dada), sementara tangan kiri erat menggenggang genta.

Serentak para sangga sambil menempelkan kedua telapak tangan di depan dada, dalam posisi anjali, menjawab, “Namo Buddhaya…,” memuji Sang Buddha.

“Saudara-saudaraku… putra Sang Buddha, pemegang teguh ajaran Dharma, yang tetap setia kepada Sangga. Sejak kedatangan ajaran baru di pesisir, semakin hari pengikut Sang Buddha semakin berkurang. Tanggungjawab memegang teguh Dharma ada di pundak kita. Di tempat suci ini, di antara Aseupan dan Kailasa disaksikan Sang Buddha, kita berdoa… kita memohon ditetapkan ajaran ini… Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami…,” ujar Mahabiksu kepada pengikutnya, sambil terus membunyikan genta di tangan kiri.

Dalam cemas, Mahabiksu menceritakan kedatangan Islam di pesisir utara Banten, di tengah-tengah masyarakat yang beragama Buddha Mahayana, Hindu dan pitarapuja (penyembah roh nenek moyang). Islam di Banten pesisir diperkenalkan oleh Ali Rakhmatullah (Sunan Ampel) yang kemudian dilanjutkan oleh Syarif Hidayat (Sunan Gunung Jati) cucu Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi yang mempersunting puteri Sang Surasowan, Bupati Banten Pasisir. Buah pernikahan dengan Nyai Kawung Anten itulah, Syarif Hidayat dikaruniai seorang putera bernama Sabakingkin alias Hasanuddin. Pendekatan kekeluargaan yang dilakukan oleh Hasanuddin, dengan menemui 800 ajar domas di Gunung Pulasari, berhasil memikat dan mengalihkan umat menuju ajaran Islam.

Desir angin terus berhembus kencang bersahutan dengan gemericik air dan kicau burung di tengah hutan. Langit semakin hitam, matahari hampir bergeser tepat di atas kepala meski masih tetap ragu menghujamkan sinarnya.

“Putra Sang Buddha… kita bersuci di tirtha amrta ini, kita panjatkan doa di atas sana, semoga sang Buddha tetap bersama kita. Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami…,” Mahabiksu berdiri berbalik menuju mata air, berjalan perlahan ke arah ‘candi’.

“Namo Buddhaya… Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami…,” puluhan pengikut setia Sang Buddha menjawab dan mengikuti langkah kepala pendeta.

Di kolam suci kaki Kaduguling, puluhan parawiku melakukan upacara penyucian diri, dilengkapi puspa (bunga), gandha (wangi-wangian), dan aksata (biji-bijian), yang sebagian ditumbuk di atas batu-batuan cekung menyerupai dakon, sambil melangkah menuju bukit ‘suci’ arah aisanya (Timur Laut).

Tiap langkah menuju altar, para pendeta tak henti memanjatkan doa bersahutan dengan gema suara genta yang terus berdenting. Dalam sikap tangan terus menyembah di depan dada, satu per satu para pendeta duduk di atas batu bulat melingkar di setiap undakan, sementara yang lain terus berjalan melangkah menuju teras-teras berikutnya. Hingga akhirnya sang Mahabiksu terlihat duduk bersimpuh di atas batu berbentuk kenong (gong) tepat pada undakan teratas menghadap menhir yang bertengger kokoh. “Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami…”

Bayangan makin pendek, matahari tepat di atas kepala, sedikit demi sedikit sinarnya mulai menampakkan diri, meski angin tetap berhembus kencang. Puncak Pulasari jelas terlihat diikuti deretan puncak-puncak Aseupan di sisi utara.

Di bawah dekat sungai, terlihat lima orang lelaki paruh baya berjanggut hitam keperakan dalam balutan jubah bersorban, berjalan berderet rapi membawa gendolan.

“Matahari sudah tinggi, waktu zhuhur telah tiba,” ujar lelaki muda.

“Ya… sebaiknya kita sholat di sini, tidak bagus menyia-nyiakan waktu,” ungkap lelaki lain yang terlihat lebih tua.

Bergegas kelima lelaki itu menuju mata air, melakukan ritual penyucian diri, berwudlu membasuh tangan, mulut, hidung, wajah, lengan, kepala, telinga, hingga membersihkan kaki dan bagian-bagian jarinya. Selesai berdoa, kelima lelaki itu berjalan menuju tanah lapang tak jauh dari sungai dan sumber air itu.

Dipimpin oleh yang paling tua, kelima lelaki itu melakukan shalat menghadap kiblat ke arah barat.

“Allahu Akbar…,” sang imam memulai takbiratul ikhram, memuji Sang Pencipta Allah Maha Besar, yang kemudian diikuti oleh keempat makmum.

Dalam khusyuk kelima orang ini bersujud beribadah mengharap ridho Sang Khalik, Allah Subhanahu Wata‘ala. Hingga akhirnya, setelah empat rakaat mereka penuhi, ritual wajib umat Islam ini ditutup dengan doa selamat, “Assalamua’alikum Warohmatullahi Wabarokaatuh…” yang diikuiti serentak oleh makmum.

Usai melakukan sholat zhuhur, kelimanya melanjutkan dengan doa dan dzikir, berulang menyembut Asma Allah, memanjatkan doa untuk Rasul Muhammad SAW, sang pemimpin ummat utusan Allah.

Langit makin terang, sang surya perlahan bergeser ke arah barat, teriknya yang menyilaukan pandang tak terasa panas oleh kelima lelaki itu. Bayangan pohon kenari, bagaikan payung yang meneduhkan mereka. Kelima lelaki masih tetap terlihat berdzikir, tubuhnya bergerak mengikuti irama ratib. Asma Allah yang diucap berulang bergema bagai orkestra, bersahutan dengan gemericik air sungai yang terus mengalir, dan ujung-ujung ilalang bergoyang tertiup angin seakan turut khusyuk dalam dzikir.

Saat matahari telah sampai di pertengahan jalan dalam gelincir menuju selat, kelimanya kembali berdiri berbaris rapih dan rapat, menghadap ka’bah di Mekkah al-Mukaromah, menunaikan ibadah shalat ashar.

Lembayung dari ujung samudera semakin jelas, langit mulai memerah, matahari nampak lurus di depan pandang. Rombongan para pendeta biksu terlihat turun dari puncak Kaduguling, melewati mata air, menghampiri kelima lelaki di tanah lapang.

“Namo Buddhaya… siapa dan dari mana paman-paman ini?” tanya Mahabiksu.

“Wa’alaikum Saa..m…, kami datang dari pesisir. Saya Syech Dalem Tuha, keempat saudara saya ini Dalem Nani, Dalem Ji’ah, Dalem Barus dan yang itu Ki Buyut Wangsa,” dalam santun lelaki berparas bersih menjawab seraya mengenalkan keempat saudaranya.

Syech Dalem Tuha menjelaskan kedatangan mereka mengikuti jejak pendahulunya Maulana Hasanuddin putera Susuhunan Jati Cirebon, yang datang menemui para ‘ajar’ di Gunung Pulasari. Satu persatu kelima pembawa risalah Rasul Muhammad itu membuka dirinya mengenalkan kepada puluhan pendeta biksu.

Langit mulai gelap, samudera di ujung barat perlahan menelan terang sang surya, diganti rembulan purnama penuh. Kelima lelaki itu menghentikan perbincangan, melakukan shalat maghrib setelah terlebih dahulu menengguk air pertanda waktu shaum hari itu telah usai. Purnama di atas kepala tampak cerah memancarkan sinarnya, Syech Dalem Tuha dan keempat saudaranya melanjutkan ibadah sholat isya. Sementara itu, puluhan biksu duduk bersimpun memanjatkan do’a menghadap bukit arah aisanya (Timur Laut).

Usai berdzikir dan melantunkan ayat-ayat suci al-Quran, kelima ulama sufi itu dan puluhan parawiku kembali terlihat akrab berbincang. Ada banyak yang terdengar dalam obrolan itu, mulai keadaan pesisir dan pedalaman saat ini, keadaan masyarakatnya, hingga tanya jawab mengenai ajaran dan agama masing-masing.

Semakin malam pembicaraan makin memanas, para Biksu membuka kitab suci, mengungkap kebenaran dan jalan menuju ‘swargaloka’. Syech Dalem Tuha bersama keempat saudaranya menimpali berdasar hadits dan Qur’an, menggiring ummat mencari jatidiri, mengembarkan kesejajaran dalam hidup di dunia juga di hadapan Allah Sang Pencipta. Tak jarang, Syech Dalem Tuha, yang tinggi ilmu agamanya ini, mengupas realita dan logika alam raya berdasar Al-Quran. Belum lagi keempat saudaranya yang lain ‘menelanjangi’ ajaran agama lain, yang tidak sempurna di sisi Allah.

“Bukankah jika orang Sudra mendengar Weda dibaca, harus mengecor kupingnya dengan timah? Dan, jika orang Sudra membaca mantra Weda, raja harus memotong lidahnya? Kalau orang Sudra itu terus memaksa membaca Weda, maka raja akan memotong tubuhnya. Bukankah demikian?” Syech Dalem Tuha mengutip Gotama Smarti yang pernah ia baca dan pelajari.

Dingin malam terus menusuk, gemerlap ribuan bintang dan cahaya purnama bagai lampion menerangi bumi, teriak burung hantu di atas batang kenari menambah suasana makin tegang. Melihat kemampuan Syech Dalem Tuha dalam penguasaan agama, parawiku terlihat bingung.

“Saba papasa akaranang, Kusalasa upasampada, Sacita pario dapanang…,” dalam bahasa Pali, Mahabiksu yang telah mencapai tingkatan Mahatera dan telah lebih dari 20 kali melakukan wasa, membuka inti ajaran Buddha, yang berarti tidak melakukan perbuatan jahat, memperbanyak perbuatan yang baik, dan sucikan hati serta pikiran.

“Namo Buddhaya, terpuji Sang Buddha.. kami telah teguh pada jalan kami,” tegas Mahabiksu.

Dengan tenang dan tetap santun, Syech Dalem Tuha menyampaikan sepenggal Firman Allah surat Al-Baqoroh ayat 256, “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada taghut, yaitu syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah, dan tetap beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Mendengar penjelasan Syech Dalem Tuha, puluhan biksu saling menoleh, batin mereka beguncang, keimanannya bergejolak.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya iman. Dan orang-orang kafir, pelindungnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya,” tambah Syech Dalem Tuha mengutip ayat 257 Al-Baqoroh.

Pemberontakan merasuk menembus qolbu para biksu, tubuh mereka bergetar, hawa panas terasa menyengat, keringat menetes mengalir deras membahasi jubah kuning yang diam membeku tak lagi berkibar bak panji-panji raja.

“Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami…,” dengan bibir bergetar, parau suara Maha Biksu terus menerus memanjatkan doa, seraya membuka kitab sucinya, ‘membalas’ mengungkap kebenaran menurutnya.

“Saudaraku… inikah yang disebut Anica, masa kehancuran, di mana segala sesuatu tidak pernah kekal, dan saat turunnya Sang Buddha Maetrea…?” kegelisahan para biksu Buddha menggelora, mereka berbisik sambil menatap satu dan lainnya, “Namo Buddhaya.. Budam saranam gacami… Darmam saranam gacami… Sanggam saranam gacami….”

Malam terasa sangat panjang, pacogregan (perdebatan) terus memuncak di atas tanah lapang, disaksikan rembulan, bintang, burung hantu, gemericik air, dan batu-batuan di atas Kaduguling.

Telah sepuluh purnama Syech Dalem Tuha bersama keempat saudaranya bermukim di daerah itu, semakin hari semakin ramai penduduk yang mengikuti ajaran Rasul. Satu persatu para rahib pun memeluk Agama Islam. Bukit Kaduguling mulai ditinggalkan, ilalang tumbuh liar di tiap altar.

Di tanah lapang di depan para penduduk, Syech Dalem Tuha mengajak ummat untuk tidak lagi menyembah selain Allah.

“Bukit ini harus tetap dirawat, tidak perlu dihancurkan, supaya menjadi bukti dan saksi untuk para penerus kita kelak, bahwa di tempat ini Islam pernah berjaya melawan kedhaliman.”

“Batu-batu yang bercecer itu kita kumpulkan di puncak Kaduguling, kita jadikan puncak itu sebagai tempat bermusyawarah. Kolam indah ini kita jadikan taman dan memanfaatkannya untuk mengairi sawah kita semua. Semoga Allah meridhoi dan memberikan barokah-Nya… Amin,” ujar Syech Dalem Tuha, seraya diamini oleh seluruh penduduk di sekitar Citaman dan Kaduguling.

Di antara Aseupan dan Pulasari, terhampar padi menguning di lembah subur Kaduguling. Alunan lesung bertalu setiap panen, bak irama gong yang keluar di sekitaran batu goong. Gemericik mata air Citaman yang mengalir membasahi sawah menuju samudera, menambah keindahan lukisan alam ciptaan Tuhan.

Situs Citaman dan Batugoong, terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kec. Menes, Kab. Pandeglang, Provinsi Banten

Sumber Bacaan:

1. ____, 1971. “Al Quran dan Terjemahnya”, Mujamma’ Al Malik Fadh Li Thiba’at Al Mush-Haf, Medinah Almunawarah

2. Ayatrohaedi, 1975. “Panji Segala Raja”, Pustaka Jaya, Jakarta

3. Fadillah, Moh. Ali., 2001. “Mitos ‘Gunung Suci’ di Pandeglang, Banten” Sebuah Kontemplasi Arkeologi”. Dalam “Manusia dan Lingkungan”, IAAI, Bandung

4. Iskandar, Yoseph, 1991 “Dasa Bagawa”, Rahmat Cijulang, Bandung

5. Pudja, G., 1971. “Wedaparikrama”, Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, Depag RI, Jakarta

6. Sukmawadi, Wadi. “Riwayat Sngkat Situs Batugoong dan Situs Citaman Pemandian” (tidak diterbitkan)

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1526Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13624Dibaca Per Bulan:
  • 346603Total Pengunjung:
  • 1424Pengunjung Hari ini:
  • 13040Kunjungan Per Bulan:
  • 10Pengunjung Online: