SEJARAH ASIA BARAT PRA ISLAM DAN ZAMAN DINASTIK

a. MASYARAKAT ARAB PRA ISLAM (ZAMAN JAHILIYAH=ZAMAN KEBODOHAN)

KONDISI GEOGRAFI TANAH ARAB

• Jazirah Arab adalah jazirah yang terbesar di atas dunia. Pada awalnya negeri ini merupkan sambungan padang pasir Sahara dengan daerah padang pasir yang membujur melintas Asia, Iran-tengah dan padang pasir Gobi.

• Wilayah bagian utara, Arabia berbatasan dengan lembah gurun Syria, sebelah Timur berbatasan dengan Persia, sedang sebelah Barat berbatasan dengan Laut Merah. Karena dikelilingi laut pada ketiga sisinya, maka wilayah ini dikenal sebagai “jazirah Arabia” (Kepulauan Arabia).

• Negeri Arablah salah satu daerah yang paling kering dan paling panas di atas bumi. Walaupun negeri itu berbatasan dengan laut di sebelah Timur dan Barat, tetapi perairan itu masih terlampau kecil untuk dapat mengimbangi.

• Samudra di sebalah selatan memang membawa hujan, akan tetapi musim2 kemarau yang silih berganti menimpa negeri itu tidak seberapa meninggalkan hujan bagi daerah pedalaman.

• Wilayah Arabia terbagi menjadi beberapa propinsi, seperti Hijaz, Najd, Yaman, Handramaut, dan Uman.

• Bagian utara Arabia merupakan wilayah tandus, karena sepertiga lebih dari wilayah ini adalah padang pasir. Wilayah padang pasir yang terbesar adalah al-Dahna. Adapun bagian selatan Arabia merupakan wilayah subur yang padat penduduknya. Handramaut dan Yaman merupakan wilayah tersubur di Arabia Selatan.

• Masyarakat Arab sebagai bangsa keturunan Semit terbagi menjadi dua kelompok, yaitu penduduk kota dan penduduk gurun atau Badui.

ADAT KEBIASAAN (KEHIDUPAN)

Kebejatan moral, kebiadaban, hokum rimba –siapa yang kuat dialah yang menang—(bahkan hamper tidak ada hokum yang pasti)

Pekerjaan sehari-hari= mengendarai unta/keledai, berburu, menggembala domba, menyerang musuh-membalas seranngan musuh (berperang), menjarah.

Perang menjadi pekerjaan harian (pekerjaan kami menyerang musuh, tetangga, bahkan saudara kami sendiri jika tidak ada orang lian yang bisa diserang)

Kesetiaan kuat terhadap sesama klan/bani/warga suku.

KEGEMARAN

Minum minuman keras, mabok, judi

Merampok, bahkan pada bekas tamunya (kami akan melindungi tamu kami dari musuh selama 3 hari, setelah itu kami boleh merampas hartanya)

Pesta pora dengan nyanyian dan tarian (Tari Kaima)

Perang dan permusuhan antar suku

Menanam bayi perempuan hidup-hidup (terutama tradisi bani Asod dan Tamim) karena:

1. Perempuan dijadikan harta rampasan bila suku kalah perang.

2. Perempuan banyak kebutuhan.

Hebatnya: pemberani, daya ingat kuat, fisik prima, kesedaran akan harga diri dan martabat besar, setia pada suku, ramah.

PERKAWINAN

1. Kedudukan Wanita

Wanita dipandang sebagai binatang peliharaan tetapi selalu disanjung setinggi langit

Wanita tidak memilki hak apapun

Laki-laki dapat mengawini wanita sesuka hati tetapi gampang sekali menceraikannya

Laki-laki(suami) membolehkan wanita(istri) bergaul dengan laki-laki lain untuk tambahan penghasilan (menjual istrinya)

Saat perang di garis belakang sebagai pemompa semangat (bernyanyi dan meranari)

Dihormati, apabila suku/bani kalah perang akan menjadi harta rampasan yang berarti kehormatannya hilang

2. Macam-macam perkawinan

Kawin biasa

Poligami (jumlah tidak terbatas)

Kawin marah (menikahi istri ayah)

Poliandri (maksimal 10 suami)

Kawin mut’ah (kawin kontrak)

Kawin pinjam (tukar menukar istri)

Orang arab tidak mau kawin dengan orang non-arab

SENI-BUDAYA

Terampil menggunakan senjata

Mahir menunggang kuda dengan berbagai varian sambil memainkan senjata

Kefasihan bersyair:

Syair paling menonjol

Ada festifal syair d ukra

Isi syair:

Memuji/membanggakan leluhur suku/kabilah

Kemenangan-kemenangan peperangan

Tokoh-tokoh/pahlawan

Pujian bagi wanita

POLITIK

Masyarakat terpecah dalam beberapa suku

Tiap-tiap suku dipimpil seorang syaikh (syarat syaikh: penyantun, pemurah, pemberani)

Tidak selamanya syaikh ditaati

Terikat persaudaraan sesama suku

Ada upacara la aqodah

Upacara percampurab darah orang-orang yang akan maju perang

AGAMA DAN KEPERCAYAAN

Agama hanif

Agama yahudi

Agama nasrani

Zoroaster

Paling dominan pemujaan terhadap berhala (Al-Uzza, al-Latta, Manah, dan Hubal berhala yang terbesar dan paling dimuliakan)

penyembahan berhala Lahir sebagai dampak dari kebiasaan kabilah bangsa arab ke ka’bah. Tiap kabilah punya patung pujaan (tempat untuk menyampaikan permohonan, hajat, upacara korban. Pada pecan raya ukaz ada penyembahan masal (masa damai/larangan perang)

Mereka juga menyembah dewa matahari, bulan dan bintang

b. PADA MASA NABI MUHAMMAD

Sekitar 571 M, Nabi Muhammad lahir di Mekah. Karena mendapat perintah dan dipicu oleh tugas baru yang harus ia laksanakan sebagai utusan Allah, Muhammad menemui dan berbaur di tengah masyarakatnya untuk mengajar, berdakwah, dan menyampaikan risalah barunya. Selama menyebarkan agama Islam, beliau banyak mendapat halangan, hinaan. Banyak yang dilakukan oleh Muhammad, misalnya umat Islam berhasil menaklukan kota Mekah, menghancurkan seluruh berhala.

Dari Madinah, Islam menyebar keseluruh penjuru dunia. Dalam waktu yang singkat Muhammad telah menginspirasikan terbentuknya sebuah bangsa yang tidak pernah bersatu sebelumnya. Muhammad berhasil membangun sebuah agama yang luas wilayahnya mengalahkan Kristen dan Yahudi.

c. Khulafaur Rasyidin

Masa Abu Bakar ra. ( 11-13 H / 632-634 M)

Dia menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad SAW, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, bersifat sentral, kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum. Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah. Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Salah satu hal monumental pada era Abu Bakar ra adalah pengumpulan mushaf al Quran dari para sahabat-sahabat yang lain, yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit.

Masa Umar Ibn Khatab ra. (13-23 H / 634-644 M)

Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi, ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan menciptakan tahun hijrah. Salah satu hal yang monumental pada era sayidina Umar ra adalah mengenai sholat tarawih. Masa jabatannya berakhir dengan kematian. Dia dibunuh oleh seorang budak dari Persia bernama Abu Lu’lu’ah.

Masa Utsman Ibn ‘Afan ra. ( 23-35 H / 644-655 M)

Di masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristall berhasil direbut. Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini. Pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Karena umurnya yang lanjut dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H 1655 M, Usman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu. Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh karabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh Usman sendiri. Usman berjasa membangun bendungan, jalan, jembatan, masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah. Penulisan Al Quran dilakukan kembali pada masa sayidina Utsman ra. ini terjadi pada tahun 25 H.

Masa Ali Ibn Abi Thalib kwh. ( 35-40 H / 655-660 M)

Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan. Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta). Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Terjadi juga pertempuran dikenal dengan nama perang shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), yang menyebabkan timbulnya golongan ketiga, al-Khawarij. Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut) Ali, dan al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok al-khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.

d. Dinasti Bani Umayyah

Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan Muawiyah Ibn Abi Sufyan, dimana pemerintahan yang bersifat Islamiyyah berubah menjadi kerajaan turun temurun, yaitu setelah al-Hasan bin ‘Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan kepada Mu’awiyah Ibn Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada saat itu sedang dilanda fitnah akibat terbunuhnya Utsman Ibn Affan, perang jamal dan penghianatan dari orang-orang al-khawarij dan syi’ah.

Suksesi kepemimpinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah Ibn Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid Ibn Muawiyah. Para khalifah di zamn ini : Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Yazid Ibn Muawiyah, Muawiyah Ibn Yazid, Marwan Ibnul Hakam, Abdullah Ibn Zubair Ibnul Awwam (Interegnum), Abdul-Malik ibn Marwan (685- 705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Yazid ibn Abdul Malik Umar ibn Abdul-Aziz (717- 720 M) dan Hasyim ibn Abd al-Malik (724- 743 M), Marwan II Al-Himar.

Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana.

e. Dinasti Bani Abbasiyyah

Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:

a) Periode Pertama (132 H/750 M-232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama.

b) Periode Kedua (232 H/847 M-334 H/945 M), disebut pereode pengaruh Turki pertama.

c) Periode Ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.

d) Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/l194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.

e) Periode Kelima (590 H/1194 M-656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.

Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. karena itu, pembina sebenarnya dari daulat Abbasiyah adalah Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M). Dia dengan keras menghadapi lawan-lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekusaan.

Al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif dan yudikatif. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan perananya dengan tambahan tugas. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Diantara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.

Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat.

f. Kerajaan Turki Utsmani (1300-1900 M)

Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putera Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada masa pemerintahan Orkhan dapat menaklukkan Azmir (Smirna), Thawasyanli, Uskandar, Ankara, dan Gallipoli.

Ketika Murad I, pengganti Orkhan berkuasa selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerahke Benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani.

Sultan Bayazid I ( 1389- 1403 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu putera-putera Bayazid saling berebut kekuasaan.

Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.

Usahanya ini diteruskan oleh Murad II ( 1421-1451M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad al-Fatih (1451-1484M). Ketika Sultan Salim I (1512-1520M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Syria dan dinasti Mamalik di Mesir.

Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni (1520 – 1566M). Ia mengarahkan ekspansinya ke wilayah yang berada di sekitar Turki Usmani. Dengan demikian, luas wilayah Turki usmani pada masa Sultan Sulaimanal-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia, Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika, Bulgaria,Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria,dan Rumania di Eropa.

Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, namun Kerajaan Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabnz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri urusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M. Namun kehidupan moral Sultan yang jelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri.

Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III (1595-1603M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Usmani. Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar. Sesudah Sultan Ahmad I (1603-1617 M), situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dari tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki keadaan. Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623 – 1640 M). Situasi politik yang sudah mulai membaik itu kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim (1640-1648 M), karena ia termasuk orang yang lemah. Pada tahun 1770M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkan kembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya. Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd al-Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah.

Seorang raja yang lemah dan tidak cakap akan mudah untuk diserang oleh kerajaan lain.

g. Dinasti Safawiyah

Kerajaan Safawi menyatakan Syiah sebagai mazhab negara. Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil, kota di Azerbaijan. Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Usmani. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya, Syekh Safiuddin ( 1252-1335 M). Syekh Safiudin berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah bertujuan memerangi orang-orang, kemudian memerangi golongan yang mereka sebut “ahli-ahli bidah” .

Kecenderungan memasuki dunia politik itu mendapat wujud konretnya pada masa kepemimpinan Junaid (1447-1460 M). Pada tahun 1459 M Junaid mencoba merebut Sircassia, tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Syirwan. Oleh karena itu kepemimpinan gerakan Safawi baru dapat diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Kemenangan Alaq Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh Alaq Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya.

Wangsa Safawiyah bermula daripada gerakan Sufi di kawasan Azarbaijan yang digelar Safawiyeh. Pengasas gerakan Sufi ini ialah Sheikh Safi Al-Din (1252–1334). Sheikh Safi al-Din Abdul Fath Is’haq Ardabili berasal dari Ardabil, sebuah bandar di wilayah Iran Azerbaijan. Beliau merupakan anak murid seorang imam Sufi iaitu Sheikh Zahed Gilani (1216–1301, dari Lahijan.) Safi Al-Din kemudiannya menukar Ajaran Sufi ini kepada Ajaran Safawiyeh sebagai tindak balas kepada pencerobohan tentera Mongol di wilayah Azerbaijan. Pada kurun ke 15, Safawiyeh mula meluaskan pengaruh dan kuasanyanya dalam bidang politik dan ketenteraan ke seluruh Iran dan berjaya menawan seluruh Iran dari pemerintahan kerajaan Timurid.

Kegemilangan Safawiyah mula menurun ketika abad ke 17. Raja-raja Safawiyah semakin lama menjadi semakin tidak efisien dan hidup berfoya foya. Iran pula sentiasa diserang oleh tentera Turki Uthmaniyah, Afghani dan Arab. Pada tahun 1698, Kerman berjaya ditawan puak Balochi dan Khorasan pula jatuh ke tangan Afghani pada tahun 1717. Selain itu, Safawiyah turut berhadapan dengan ancaman baru iaitu kemaraan Empayar Rusia di sebelah utara serangan tentera Mughal di sebelah timur. Turut memburukkan keadaan, ekonomi Safawiyah merosot akibat perubahan jalan perdagangan antara timur dan barat, dimana Jalan Sutera tidak lagi digunakan. Pada tahun 1760 Karim Khan, seorang general tentera mengambil alih kuasa sekaligus menamatkan dinasti ini.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1628Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13726Dibaca Per Bulan:
  • 346682Total Pengunjung:
  • 1503Pengunjung Hari ini:
  • 13119Kunjungan Per Bulan:
  • 14Pengunjung Online: