SEJARAH BANTEN: Upaya pemetaan sejarah lokal di Banten dalam dimensi perubahan sosial

Oleh : N. Wachyudien

Sejarah lokal berbeda dengan sejarah daerah, meski sejarah daerah dapat bersumber dari data-data atau semacam fakta sosial yang sudah lama berkembang. Tidak dapt dipungkiri konstruksi sejarah nasional kita bermula dari tradisi sejarah Lokal seperti itu. Hal ini bisa kita hubungkan dengan berbagai sejarah daerah dengan nama-nama tradisional seperti babad, tambo, riwayat, hikayat, dsb, yang dengan cara-cara yang khas (mitis-religius) menguraikan asal usul suatu daerah tertentu.

Tradisi penulisan sejarah dengan tekanan pada local identity dan simbolism daerah tertentu masih berlanjut sampai sekarang. Tradisi penulisan tersebut disebut terkadang kurang bermutu dilihat dari disiplin ilmu sejarah. Namun peranan sejarah setidaknya dapat menjadi pembuka informasi dan frame realitas yang sangat membantu kajian lebih lanjut. Karya-karya yang perlu terus dibaca dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Hal yang mengingatantara lain para “sejarahwan” ini kurang berdaya dalam mengelaborasi metode-metode yang tepat dan cenderung hasil belajar sendiri yang cenderung serampangan mencampuradukan antara fakta, fiksi, fabel serta cenderung bermain dengan asumsi-asumsi yang bertentangan dengan logika jaman yang ditulisnya.

Pengabaian terhadap metodologi menjadikan kajian monoton, pada tempatnya akan bertabrakan dengan pendekatan multidisiplin bahkan interdisipliner. Ini mestinya tidak terjadi, meskipun mereka berbeda dalam latar belakang pendidikan ataupun minat yang menyangkut masalah search serta interpetasinya”. Lebih lanjutnya mengapa hal seperti diatas tidak perlu terjadi karena pada dasarnya sejarah itu berawal dari sejarah lokal.

Batasan pengertian serta Ruang Lingkup Sejarah Lokal

Sejarah lokal bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penulisan sejarah dalam lingkup yang terbatas yang meliputi suatu lokalitas tertentu. Keterbatasan lingkup itu biasanya dikaitkan dengan unsur wilayah ( unsur spatial ).

Di indonesia sejarah lokal bisa disebut pula sebagai sejarah daerah. namun tidak jarang yang mengklaim bahwa sejarah lokal sama dengan sejarah daerah. Taufik Abdullah misalnya dia tidak setuju lokal disamakan dengan daerah. karena daerah indentik dengan politik. Dan bisa mengabaikai etnis kultural yang sebenarnya, lebih mencerminkan unit lokaliotas suatu perkembangan sejarah.banyak sekali persamaan sejarah Lokal itu. Jordan menggariskan ruang lingkupm sejarah Lokal yaitu keseluruhan Lingkungan sekitar yang bisa berupa kesatuan wilayah seperti desa, kecamatan, kabupaten, kota kecil dan lain-lain. Pengertian lain yang diangkat sebagai definisi Sejarah lokal dalam buku ini yaitu studi tentang kehgidupan masyarakat atau khususnya komunitas dari suatu lingkungan sekitar (neighborhood) tertentu dalam dinamika perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Arti Penting Kajian Sejarah Lokal.

Berbicara arti penting dari sejarah lokal pastilah kaitannya dengan sutu hibingan atau peran serta dari sejarah Lokal terhadap keberlangsungan Sejarah nasional. Antara sejarah lokal dan Nasional sangatlah berhubungan. Dengan melakukan penelitian tentang sejarah lokal, kita tidak hanya memperkaya pembendaharaan sejarah Nasional, tapi lebih penting lagi memperdalam pengetahuan kita tentang dinamika sosiokultural dari masyarakat Indonesia yang majemuk ini secara lebih intim. Dengan begini kita makin menyadari pula bhwa ada berbagai corak penghadapan manusia dengan lingkungannya dan dengan sejarahnya. Selanjutnya pengenalan yang memperdalam pula kesadaran sejarah Kita. Yaitu kita diberi kemungkinan untuk mendapatkan makana dari berbagai peristiwa sejarah yang dilalui. Lapian mengemukakan beberapa arti penting dari sejarah Lokal ini diantaranya :

a). Pengembangan sejarah yang bersifat nasional seperti sekarang ini, sering kurang memberi makna bagi orang-orang tertentu terutama yang menyangkut sejarah daerahnya sendiri. Banyak sejarah nasionala tidak emnggali lebih mendalam tentang suatu kajiannya, biasanya bersifat umum saja. Olehkarenanya sejarah daerah kita sendiri terkadang luput dari pengetahuan kita. Selain itu juga sejarah lokal juga bisa diguankan untuk mengoreksi generalisasi-generalisasi dari Sejarah nasional.

b). Sejarah lokal dibuat sengaja, dibuat untuk orang-orang dari zaman kemudian dari hidup pembuatnya.

Sebagai sorotan berikutnya dari Sejarah lokal yaitu lingkung studi Sejarah sebagai kritik sejarah. Kritik sejarah ini biasa dibedakan menjadi dua yaitu Kritik ekstern dan kritik Intern. Mengenai kritik intern, secara teoritis langkah ini baru baru dilaksanakan sesudah kritik Ekstern selesai menentukan bahwa dokumen yang kita hadapai memang dokumen yang kita cari, yang bukan saja berarti relevan dengan topik yang sedang disusun, tapi lebih penting lagi bahwa sumber-sumber itu adalah sumber yang autentik. Dari sana kita bisa melihat bahwa dengan kritik sejarah jejak-jejak sejarah itu kemudian dapat diwujudkan sebagai fakta sejarah, yaitu sesudah jejak-jejak itu lolos dari pengujian kritis. Dengan demikin fakta Sejarah itu sebenarnya adalah keterangan atau kesimpulan yang kita peroleh dari jejak-jejak sejarah setelah disaring atau diuji kebenarannya melalui kritik sejarah.

Tipe-tipe Sejarah Lokal

Sejarah Lokal Tradisional.

Yang dimaksud dengan Sejarah Lokal Tradisional adalah hasil penyusunan Sejarah dari berbagai kelompok etnik yang tersebar diseluruh Indonesia yang sudah bersifat tertulis. Tipe ini merupakan tipe sejarah lokal yang paling pertama muncul di Indonesia. Sifat lokalitasnya mudah dimengerti karena belum berkembangnya kesadaran akan kesatuan antar etnik, yang meliputi seluruh Indonesia seperti sesudah kabngkitan nasional pada permulaan abad ke-20.

Kelompok-kelompok etnik ini biasanya membuat lukisan tentang asal-usul peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh kelompoknya diwaktu yang lampau. Awalnya berupa Lisan yang diturunkan secara turun-temurun akan tetapi sesudah adanya tulisan diabadikan dalam bentuk tulisan, disamping masih ada yang masih dalam bentuk lisan. Diindonesia mengenai sejarah tradisional tersebut dikenal dengan : babad, hikayat, tambo, lontara, dsb.

Akhirnya penting disadari bahwa jenis sejarah Lokal ini, meskipun boleh dikatakan merupakan sejarah Lokal yang pertama–tama berkembang di Indonesia, namun pada kenyataanya masih tetap bertahan, bukan saja sebagai wwarisan masa lampau komunitas, tapi sering juga isinya masih dipercaya sebagai gambaran sejarah masa lalu jadi bersifat fungsional dalam kehidupan kelompok itu.

Sejarah Lokal Diletantis.

Salah satu karakteristik yang menonjol dalam Sejarah Lokal Diletantis adalah tujuan penyusunannya pada umumnya terutama untuk memenuhi rasa estetis individual melalui lukisan peristiwa masa lampau. Jadi apabila Serah lokal tradisional lebih mementingkan kelompok di sini lebih mementingkan Individu atau keinginan pribadi. Untuk mencapai tujuan kesenangan itu maka beberapa peminat sejarah, bukan saja ingin membaca gambaran sejarah yang sudah jadi tapi lebih dari itu tergugah untuk menulis sejarah dirinya sendiri. Biasanya mereka tertarik menulis sejarah Lingkungannya sendiri dengan memanfaatkan sumber-sumber yang umumnya sudah dikenalnya dengan baik.

Siapakah yang biasanya mengembangkan diri sebagai sejarawan diletantis ini ? tentu saja jawabannya adalah mereka itu termasuk kalangan terdidik (tradisional maupun modern) dilingkungan masyarakatnya, yang karena itu mempunyai pandangan yang lebih luas dan bisa membaca sumber-sumber sejarah terutama yang berupa dokumen dan kemudian mampu melukiskan degan baik lukisan sejarah yang disusunnya. Biasanya yang dihasilkan adalah naratif kronologis dengan sedikit banyak bumbu emosional yang mencerminkan kecintaannya akan lingkungannya.

Sejarah Lokal Edukatif Inspiratif

Yang dimaksud dengan Sejarah lokal edukatif Inspiratif adalah jenis sejarah lokal yang disusun dalam rangka mengembangkan kecintaan Sejarah terutam kepada sejarah Lingkungannya, yang kemudian menjadi pangkal bagi timbulnya kesadaran sejarah dalam artian yang luas (kesadaran lingkungan dalam rangka kesadaran sejaran nasional).

Menyusun sejarah Lokal seperti di atas memang tercermin dalam kata Edukatif dan Inspiratif, yang sering diangap merupakan salah satu aspek penting dalam mempelajari sejarah. Menyadari guna edukatif dari sejarah berarti menyadari makna dari sejarah sebagai gambaran peristiwa masa lampau yang penuh arti. Sedangkan kata inspiratif mengandung makna yang hampir sama dengan pengertian edukatifr seperti dijelaskan diatas hanya disini yang lebih ditekankan adalah “daya gugah” yang ditimbulkan oleh usaha mempelajari sejarah itu. Jadi kedua kata itu menunjukan semangat yang diharapkan bisa dikembangkan dalam sejarah.

Jadi penulis sejarah lokal ini menyusun sejarah Lingkungannya untuk mencapai tujuan-tujuan seperti digambarkan diatas. Biasa Lembaga pendidikan atau badan pemerintah daerah yang menggunakan Tipe ini yang mengnggap tugas ini sebagai bagian dari upaya pembangunan, khususnya pembangunan mental masyarakat juga pembanguna fisik karena diyakini apabila mental berhasil yaitu adanya kebangaan serta harga diri kolektif akan memudahkan bagi pemerintah setempat untuk memotifasi masyarakat untuk berpartisifasi dalam pembangunan fisik.

Biasanaya kegiatan ini dilakukan oleh para sejarawam non-profrsional seperti guru-guru, khususnya guru Sejarah. Tapi tidak jarang sejarawan profesional juga terlibat. Terutama yang mempunyai putera daerah.

Sejarah Lokal Kolonial.

Sejarah lokal Kolonial merupakan kategori tersendiri dalam tipologi sejarah lokal, terutama karena memiliki beberapa karakteristik yang dimilikinya. Karakteristik yang pertama dari Jenis sejarah Lokal ini adalah bahwa sebagian besar dari penyusunannya adalah pejabat-pejabat pemeerintah kolonial seperti Residen, asisten Residen, Kontrolir atau pejabat-pejabat pribumi tetapi atas dorngan dari pejabat Hindia Belanda.

Sebagian besar tulisan dari sejarah Lokal kolonial adalah tulisan-tulisan dari pejabat-pejabat kolonial di daerah-daerah. Laporanya bisa berupa memori serah jabatan, atau laporan khusus kepada pemerintah pusan Batavia tentang suatu perkembangan khusus di daerah kekuasaan pejabat yang bersangkutan. Mengenai tulisan-tulisan sejarah lokal Kolonial bisa dikemukakan beberapa sifatnya yang menarik. Pada umumnya kelihatan ada usaha untuk mengemukakan data yang cermat meskipun dengansendirinya dak unsur subjektivitas atas dasar adanya kepentingan kolonial yang mendasari berbagai macam tulisan itu.

Sejarah Lokal Kritis Analitis

Salah satu karakteristik yang paling mudah dilihat dalam sejarah lokal Tipe ini adalah sifat uraian atau pembahasan masalahnya yang telah menggunakan pendekatan Metodologis sejarah yang bersifat ketat. Mulai dari pemilihan obyek studi, langkah-langkah atau proses kerja samapai kepada penulisan laporan.

Yang mudah dikenal juga ialah bahwa pelaksanaan penelitiannya umumnya ditangan oleh sejarawan Profesional. Profesionalisme ini bukan saja ditentukan oleh latar belakang pendidikan formal ke sejaranya. Tetapi juga keterampilan dilapangan yang dikempangkan terutama pemngalaman penelitian yang memadai. Hal kedua yang penting ditekankan adalah karena pendidikan formal kesejateraan saja belum cukup merupakan jaminan bagi pencapaian hasil yang diharapkan.

Ada empat corak penulisan dalam sejarah lokal kritis analitis yaitu :

– studi yang difokuskan pada satu peristiwa tertentu (studi peristiwa khusus atau apa yang disebut”evenemental”.

– Studi yang lebih menekankan pada struktur

– Studi yang mengambil perkembangan aspek tertentu dalam kurun waktu tertentu (studi tematis dari masa ke masa).

– Studi sejarah umum, yang menguraikan perkembangan daerah tertentu (profinsi, kota, kabupaten) dari masa ke masa.

Sejarah Lokal dan Tradisi Lisan

Disamping sumber-sumber tertulis yang memang banyak jumlahnya, hanya tidak langsung dapat digunakan, maka kebanyakan pula sumber-sumber yang ada masih bersifat tradisi lisan, yang labih-lebih memerlukan kemampuan khususn untuk emngambil fakta-fakta sejarahnya sebagai bahan penyusunan sejarah Lokal.

Tradisi Lisan dan Beberapa Aspeknya.

Pertama perlulah kiranya diketahui dahulu tentang apa yang dimaksud dengan tradisi lisan (oral tradition). Yaitu berkaitan dengan usaha mengabadikan pengalaman-pengalaman kelompok di masa lampau melalui ceritera yang diteruskan secara turun temurun dari generasi kegenerasi. Tradisi lisan menyangkut pesan-pesan yang berupa pernyataan-pernyataan lisan yang diucapkan, dinyanyikan atau disampaikan lewat musik ( alat bunyi-bunyian). Kemudian yang perlu diperhatikan dari tradisi lisan ini selanjutnya adalah tradisi ini berasal dari generasi sebelumnya paling sedikit satugenerasi sebelumnya. Dalam hal ini tradisi lisan dibedakan dengan sejarah lisan. Ada bebrapa jenis tradisi lisan, yang pertama : Petuah-petuah yang sebenarnya merupakan rumusan kalimat yang dianggap punya arti khusus bagi kelompok. Yang kedua adalah : kisah tentang kejadia disekitar kehidupan kelompok, baik sebagai kisah perseorangan maupun kelompok. Sesuai dengan alam pemikiran alam masyarakat magis Religius, faktanya biasanya selalu diselimuti dengan unsur kepercayaan atau terjadi pencampuradukan antara fakta dan kepercayaan. Bentuk yang ketiga adalah: cerita kepahlawanan yang berisi tentang gambaran berbagaia macam tindakan kepahlawanan yang mengagumkan bagi kelompok pemilikya biasanya berpusat pada tokoh tertentu dari kelompok tersebut. Bentuk yang terakhir adalah: dongeng yang umumnya bersifat fiksi belaka. Unsur faktanya boleh dikatakan tidak ada berfungsi untuk menyenangkan bagi pendengarnya. TRADISI lisan juga sangat berkaitan erat dengan yang namanya Folklor. Ada beberapa ciri folklor yang dirumuskan oleh Danandjaja yaitu :

1.penyebaran dan pewarisannya dilakukan secara lisan dengan tutur kata mulut ke mulut.

2.mempunyai sifat tradisional dalam penyebarannya artinya relatif tetap atau dalam bentuk standar dalam beberapa generasi.

3.terjadi banyak variasi atau versi-versi tertentu sebagai hasil proses interpolasi yang diakibatkan oleh cara penyebaran sevara tututr kata, meskipun variasi itu sering hanya bentu luarnya saja bukan apada inti ceritanya.

4.bersifat anonim (nama pencipta tak jelas).

5.digunakan sejumlah kata-kata klise baik untuk kata-kata pembukaan atau penutupnya…..

6.punya fungsi yang penting dalam kehidupan kolektivitas yang memilikinya

7.punya logika yang sering disebut prologis yang memang berbeda dengan logika umum

8.merupakan milik bersama suatu kolektivitas

9.merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

Peranan Tradisi Lisan Dalam Penulisan Sejarah.

Menghubumgkan tradisi lisan dengan sejarah, khususnya sejarah Lokal, berarti mencoba melihat peranannya sebagai sumber sejarah untuk mewujudkan fakta-fakta dalam rangka penyusunan sejarah Lokal tersebut. Adanya keterbatasan dalam tradisi lisan jika harus dijadikan sebagai sumber dalam penulisan sejarah. Keterbatasan itu karena tidak diperhatikannya urutan waktu, namun ini tidak heran karena mereka mempunyai konsep waktu yang berbeda dengan konsep waktu modern.

Keterbatasan lai dari tradisi lisan adalah adanya unsur subjektifitas yang lebih besar dibandingkan dengan sumber tertulis. Makin banyak generasi yang dilaluinya maka tradisi lisan (sumber lisan) itu akansemakin banyak atau besar unsur subjektivitasnya. Ada juga hal positif yang dapat kita ambil dari tradisi lisan ialah bahwa tradisi lisan sebenarnya memuat informasi yang lebih luas tentang kehidupan suatu komunitas dengan berbagai aspeknya. Hal lainy adalah tradisi lisan sifatnya sebagai informasi dari dalam. Jadi apabila kita ingin mengetahui suatu masyarakat atau komunitas dengan cara bagaiamana masyarakat atau komunitas itu sendiri memandang segala persoalan yang mereka hadapi.

Perilaku Kolektif

Neil Joseph Smelser (born July 22., 1930) is a University of California, Berkeley sociologist who studied collective behavior. He received his undergraduate degree from Harvard University in 1952. From 1952 to 1954, he was a Rhodes scholar at Oxford University where he studied philosophy, politics and economics. He earned his Ph.D in sociology from Harvard in 1958, and was also a junior fellow of the Society of Fellows. At the young age of 24, He co-authored “Economy and Society” with Talcott Parsons. He was the fifth director of the Center for Advanced Study in the Behavioral Sciences from 1994 to 2001. He retired from the University of California in 1994 and is now an emeritus University Professor.

His ‘value added theory’ (or strain theory) argued that six things were necessary for a particular kind of collective behaviour to emerge:

• Structural conduciveness – things that make or allow certain behaviors possible (e.g. spatial proximity)

• Structural strain – something (inequality, injustice) must strain society

• Generalized belief – explanation; participants have to come to an understanding of what the problem is

• Precipitating factors – spark to ignite the flame

• Mobilization for action – people need to become organized

• Failure of social control – how the authorities react (or don’t)

Beberapa contoh kasus

Dalam tahun 1808 dan 1809 terjadi pemberontakan oleh “bajolaut” di Teluk Merica dan di muara Cibungur menentang kerja paksa dan pembuatan pelabuhan di Ujung Kulon yang diberlakukan Daendels atas penduduk negeri. Di Cibungur, Caringin, timbul huru-hara, disambung dengan pemberontakan Pasir Peuteuy, Pandeglang, di bawah pimpinan Nuriman.

pada tahun 1811 para pemberontak yang dipimpin oleh Mas Jakaria dapat menguasai hampir seluruh kota Pandeglang. Melalui pertempuran hebat akhirnya Mas Jakaria ini tertangkap dan dipenjarakan, tapi dalam bulan Agustus 1827 ia dapat melarikan diri untuk kembali menyusun kekuatan ─ yang dalam tahun itu juga ia kembali menyerbu kota Pandeglang.

Pada tahun 1815 terjadi serangan besar dan pengepungan pada keraton Sultan di Pandeglang, dipimpin oleh Mas Bangsa, Pangeran Sane dan Nuriman atau dikenal dengan nama Sultan Kanoman. Meski pun pasukan pemerintah akhirnya dapat memukul mundur mereka, namun sebagian pasukan pemberontak dapat melarikan diri, yang kemudian menyusun kekuatan untuk mengadakan penyerangan kembali.

Pada tahun 1818 dan awal 1819, Haji Tassin, Moba, Mas Haji dan Mas Rakka memimpin pemberontakan di Banten Selatan, dengan mengadakan perusuhan-perusuhan dan berhasil membunuh beberapa pejabat pamongpraja di Lebak.

Pada tahun 1820, 1822, 1825 dan 1827 yang dipimpin oleh Mas Raye, Tumenggung Muhammad dari Menes dan Mas Aria dibantu oleh beberapa pemuka agama.

Pada tahun 1836 terjadi lagi pemberontakan yang dipimpin oleh Nyai Gumparo (Nyai Gamparan). Meski pun pemberontakan ini dapat dipadamkan, namun pengikut-pengikutnya yang dapat meloloskan diri, tetap berusaha kembali meneruskan perlawanan.

Tahun 1839 terjadi persiapan pemberontakan yang dipimpin oleh Ratu Bagus Ali (pada pemberontakan tahun 1836 dikenal dengan nama Kiyai Gede), Pangeran Kadli dan Mas Jabeng, putra Mas Jakaria. Atas usaha Bupati Serang, usaha pemberontakan itu dapat digagalkan

Tahun 1840 Mas Jamin dan pengikutnya, yang sebagian besar pernah ikut dalam pemberontakan tahun 1836 dan 1839, kembali mengadakan perlawanan bersenjata.

Pada tahun 1842, mereka berhasil membunuh seorang Belanda pemilik perkebunan nopal di Pandeglang. Tetapi mereka pun akhirnya dapat ditangkap dan di hukum buang

ketika Mas Anom, Mas Serdang dan Mas Adong ─ yang kesemuanya anak Mas Jakaria ─ bergabung dengan sisa pasukan ini, maka pemberontakan berkobar lagi pada tahun 1845 yang dikenal sebagai Peristiwa Cikande Udik (Arsip Nasional, 1973: lvii).Peristiwa itu bermula pada tanggal 13 Desember 1845 di mana kaum perusuh merebut rumah tuan tanah di Cikande Udik dan kemudian membunuh tuan tanah Kamphuys beserta istri dan kelima anaknya kecuali tiga anak lainnya diselamatkan oleh Mas Gusti Sarinten, salah seorang kepala perusuh, sedangkan semua orang Eropa di sekitarnya dibunuh. Jumlah perusuh bertambah sekitar 600 orang. Untuk menumpas pemberontakan itu, Residen segera meminta bantuan tentara dari Batavia. Mendengar akan adanya penyerangan penumpasan di Cikande ini, para pemberontak di daerah lain segera bangkit mengadakan perlawanan dan segera menguasai pos-pos militer di Warunggunung, Pandeglang dan Caringin.

Beberapa pemimpin pemberontakan yang dikenal dalam peristiwa ini ialah: Mas Endong, Mas Rila dari Cikupa dan Mas Ubid dari Kolle (kemenakan dan menantu Mas Jakaria), Kiyai Gede, Samini, Pangeran Amir dari Bayuku, Raden Yintan, Pangeran Lamir, dan seorang wanita bernama Sarinem. Peristiwa Cikande ini dapat dikatakan merupakan awal dari pemberontakan bersenjata yang terkoordinir dengan mengikutsertakan beberapa kelompok penentang di hampir seluruh daerah Banten (Kartodirdjo, 1985: 176).

Pada tanggal 24 Pebruari 1850 telah terjadi pula pembunuhan terhadap Demang Cilegon dan stafnya yang sedang mengadakan inspeksi di Rohjambu. Kerusuhan ini dipimpin oleh Raden Bagus Jayakarta, Tubagus Suramarja, Tubagus Mustafa, Tubagus Iskak, Mas Derik, Mas Diad, Satus, Nasid, Asidin, Haji Wakhia dan Penghulu Dempol. Di antara mereka Haji Wakhia-lah yang terkenal perjuangannya, ia sudah sejak tahun 1850 selalu mengadakan huru-hara menentang kolonial Belanda. Haji Wakhia adalah penduduk kampung Gudang Batu, orang kaya dan dianggap ulama besar.

Haji Wakhia, atas ajakan Tubagus Iskak dan dengan dukungan penuh dari penduduk Gudang Batu, terus mengobarkan perjuangan menentang politik kolonial Belanda dan mengajak mengadakan “perang sabil”; dan persiapan-persiapan untuk itu dilakukan terus menerus di bawah pimpinan Penghulu Dempol. Pusat kerusuhan lainnya ialah Pulomerak, di sana dapat dihimpun orang-orang Lampung di bawah pimpinan Mas Diad.

Dalam strategi pertahanan “pemberontak Wakhia” ini, pasukan dibagi dalam tiga kelompok besar; kelompok yang dipimpin Mas Derik dan Nasid berada di pegunungan sebelah timur Pulomerak, kelompok pimpinan Mas Diad dan Tubagus Iskak di distik Banten, dan kelompok pimpinan Haji Wakhia dan Penghulu Dempol bergerak di sebelah barat bukit Simari Kangen; yang ketiga daerah tersebut dilingkungi oleh hutan dan pegunungan yang sulit ditembus.

Dalam beberapa kali penyerbuan, pasukan kolonial akhirnya dapat memukul mundur pemberontak ini. Pertempuran di Tegalpapak pada tanggal 3 Mei 1850, beberapa pemimpin pejuang dapat ditawan dan dibunuh. Haji Wakhia dan Tubagus Ishak dapat meloloskan diri ke Lampung, dan kemudian ia bergabung dalam perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Singabranta dan Raden Intan. Dalam satu pertempuran akhirnya Haji Wakhia dapat ditangkap dan dihukum mati pada tahun 1856.

Setelah pemberontakan Haji Wakhia berakhir, maka muncul pulalah peristiwa pemberontakan lain seperti “Peristiwa Usup” (1851), “Peristiwa Pungut” (1862), “Kasus Kolelet” (1866), serta “Kasus Jayakusuma” (1868). Peristiwa Usup ialah terjadinya pembunuhan terhadap Mas Usup, Jaro Tras Daud dengan keluarganya oleh orang yang tak dikenal pada tanggal 15 April 1851.

Pejabat pemerintah telah mendengar adanya pertemuan yang diselenggarakan oleh para pemberontak di Tegalpapak, yang kemudian terjadi percobaan pembunuhan terhadap Residen. Semua peristiwa ini dipelopori oleh Ki Mudin, yang meramalkan bahwa pemerintahan kolonial sudah akan ambruk. Gerakan Mudin ini dibantu oleh Kamud dan Nur. Pemerintah kolonial akhirnya berhasil menangkap 20 orang pemberontak, dan mereka dibuang.

Tahun 1862, Mas Pungut dan kawan-kawannya melakukan huru-hara dan pemberontakan lagi. Dengan mengaku sebagai anggota keluarga sultan dan anak Mas Jakaria, ia berhasil menarik simpati rakyat untuk menjadi pengikut-pengikutnya. Pada tanggal 19 September 1862, diketahui oleh pemerintah kolonial, bahwa ia sedang berada di hutan Cilanggar. Ketika Mas Pungut sedang singgah di rumah Usip ─ salah seorang pengikutnya ─ di desa Ciora, ia dengan 25 orang pengikutnya tertembak dalam perlawanan yang seru.

Namun pada tahun 1866 muncul lagi gerakan perlawanan yang lebih besar, dikabarkan mereka akan menyerang dan menghancurkan kota Pandeglang, dan mengirimkan surat ancaman kepada para pejabat terutama Residen dan Bupati. Pemerintah kolonial berhasil menangkap Asmidin, dan dua orang yang diduga terlibat yaitu Mas Sutadiwirya, bekas Demang di Baros dan R.A.A. Natadiningrat, bekas Bupati Pandeglang. Para pemberontak ini berjumlah 30 orang yang berasal dari Kolelet, Cikande dan Kramatwatu, semuanya itu bekas pemimpin kerusuhan terdahulu

Kilasan:

1. pemberontakan Nyai Gumpara, 1818, milenaristis

2. pemberontakan Tumenggung Muhammad, demang Menes, 1825, protes pungutan pajak;

3. pemberontakan Mas Zakaria, 1811;

4. pemberontakan Ratu Bagus Ali, 1836;

5. pemberontakan Cikande Udik, motif perang sabil;

6. 1850, pemberontakan demang Cilegon yang dicetuskan oleh Tubagus Iskak, Mas Derik dan Haji Wakhia;

7. 1851, perlawanan Usup;

8. 1862, peristiwa Pungut;

9. 1866, kerusuhan Kolelet;

10. 1888, Geger Cilegon, motif perang sabil, dipimpin para ulama, peristiwa terbesar dan paling banyak korban di kedua belah pihak.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 36Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13973Dibaca Per Bulan:
  • 346869Total Pengunjung:
  • 32Pengunjung Hari ini:
  • 13306Kunjungan Per Bulan:
  • 1Pengunjung Online: