SEJARAH SEBAGAI ILMU DAN SENI

Sejarah sebagai ilmu dan sejarah sebagai seni pada dasarnya keduanya tak dapat begitu saja dipisahkan. Pollard menyatakan bahwa both history is a science and as an art. Sejarah adalah keduanya, sebagai ilmu dan sebagai seni. Namun keduanya memang berbeda dalam objek dan cara kerjanya. Ilmu lebih banyak berbicara mengenai kebenaran, sedang seni lebih banyak membahas keindahan. Ilmu bekerja dengan rasional dan metode, sedang seni bekerja dengan intuisi dan kiat. Kerjasamna antara ilmu dan seni dalam sejarah menyatu pada proses penulisan sejarah ( historiografi ). Agar kebenaran hasil kerja pengkajian metode sejarah dapat dibaca dan memikat hati pembaca, maka kebenaran sejarah itu harus ditulis dengan bahasa yang indah dan menarik.

Sebagai ilmu, sejarah memiliki ciri-ciri ( Kuntowijoyo, 1995 ) sebagai berikut ) :

(1) Bersifat empirik.

Sejarah termasuk juga pada ilmu-ilmu empirik. Artinya sejarahpun mendasarkan diri pada pengamatan serta pengalaman manusia. Memang harus diakui bahwa pengamatan sejarah tidak mungkin dilakukan secara langsung ( Nugent, 1967 : 160 ) terhadap objeknya seperti halnya pada ilmu-ilmu alam. Objek ilmu sejarah adalah masa lampau. Masa lampau itu sendiri sudah tidak lagi dapat diamati dan dialami lagi, karena memang sudah lampau dan hilang ditelan waktu. Yang masih dapat diamati dalam sejarah adalah peninggalan-peninggalan yang masih tersisa, bukti-bukti serta kesaksian dari para pelaku sejarah.

(2) Objek sejarah adalah masa lampau.

Waktu menjadi objek ilmu sejarah. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial yang berupaya memahami perilaku manusia di waktu sekarang, maka ilmu sejarah lebih berusaha untuk memahami perilaku manusia di waktu lampau. Jika ilmu-ilmu alam membahas tentang waktu, waktu yang dibahas adalah waktu fisik. Waktu fisik adalah waktu objektif, waktu yang terjadi dalam alam. Waktu yang dikaji dalam sejarah adalah waktu subjektif, ialah waktu yang dialami dan dirasakan oleh manusia. Makna waktu bagi manusia tergantung relasinya terhadap dirinya.

(3) Sejarah memiliki metode tersendiri, ialah metode sejarah.

Metode yang digunakan dalam sejarah adalah metode sejarah. Dengan metode sejarah itulah akan dikaji keaslian sumber data sejarah, kebenaran informasi sejarah, serta bagaimana dilakukan interpretasi dan inferensi terhadap sumber data sejarah tersebut.

(4) Sejarah memiliki teori-teori dan konsep-konsep sendiri.

Sejarah memiliki teori ilmu pengetahuan ( epistemology ) sendiri yang memberikan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah ilmu sejarah. Sejarah memiliki teori-teori tersendiri mengenai kebenaran, objektivitas, subjektivitas, generalisasi dan hukum sejarah. Sejarah sebagai ilmu telah memiliki tradisi yang tua lagi panjang.Tiap kurun zaman berkembang pula fiulsafat sejarah tersendiri. Sejarah sebagai seni nampak dalam ciri-ciri ( Kuntowijoyo, 1995 ) sebagai berikut :

(1) Sejarah memerlukan intuisi.

Kerja sorang sejarawan tidak cukup hanya mengandalkan metode dan rasionalitas yang dimilikinya, melainkan pula memerlukan intuisi yang berlangsung secara naluriah atau instinktif. Ini terjadi bukan saja dalam tahap interpretasi ataupun historiografi, melainkan berlangsung pada seluruh proses kerja sejarawan. Proses heuristik juga memerlukan ars in veniendi ( seni mencari ).

(2) Sejarah memerlukan imaginasi.

Imaginasi sangat penting dalam menyusun deskripsi sejarah. Imaginasi membantu untuk mampu membayangkan bagaimana proses sejarah terjadi. Sekalipun sejarah tak dapat dilepas dari imaginasi, namun sejarah tetap sejarah dan bukannya fiksi. Kebenaran faktual dan objektivitas sejarah tetap menjadi landasan kerja bagi seorang sejarawan.

(3) Sejarah memerlukan emosi.

Sejarah adalah sejarahnya manusia. Manusia adalah keutuhan seorang pribadi yang bukan saja memiliki pikiran, namun juga perasaan. Untuk itu dalam membuat deskripsi sejarah seorang sejarawan harus mampu menyatukan diri secara padu dengan objek yang ingin dideskripsikan. Bercerita tentang sejarah harus mampu menghadirkan objek ceritanya kepada pembaca atau pendengarnya seolah-olah mereka berhadapan sendiri dengan tokoh yang diceritakan. Sejarawan memerlukan emphati ( perasaan ) dengan segala afeksi-nya.

(4) Sejarah memerlukan gaya bahasa.

Bahasa memiliki peranan penting dalam mengkomunikasikan kisah atau cerita sejarah. Menarik atau tidaknya cerita sejarah banyak bergantung pada gaya penyampaiannya. Gaya bahasa yang baik tidak harus berarti menggunakan bahasa yang berlebihan. Penggunaan bahasa harus efektif. Kadang-kadang bahasa sederhana justru lebih menarik dan komunikatif. Hanya harus diperhatikan bahwa seorang sejarawan harus mampu memberikan deskripsi secara detail. Sejarawan harus mampu mendeskripsikan peristiwa sejarah sebagai layaknya seorang pelukis melukiskan secara naturalis.

Kedudukan sejarah sebagai seni menjadi nyata dengan ditempatkannya Jurusan Sejarah di universitas-universitas sebagai bagian dari Fakultas Ilmu Budaya. Tentu saja bukan tanpa alasan. Sebagai ilmu sejarah berupaya menampilkan segala sesuatu yang sungguh faktual, namun yang faktual itu dikomunikasikan dengan cara dan gaya yang menarik, agar keindahan-nya dapat dinikmati.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 412Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14349Dibaca Per Bulan:
  • 347209Total Pengunjung:
  • 372Pengunjung Hari ini:
  • 13646Kunjungan Per Bulan:
  • 16Pengunjung Online: