Sisi lain Sukarno menurut Dr. Lambert Giebels

Dr. Lambert Giebels, 66 tahun, penulis biografi Soekarno : “Soekarno, 1901-1950” dan “Soekarno, 1950-1970” yang keduanya dipersiapkan selama 5 tahun (1996-2001) hingga “Giebels sampai serasa hidup dan tinggal dengan Sukarno,” kata Giebels kepada TEMPO. Banyak sekali masalah kontroversial dalam fase hidup Sukarno yang diungkapkan, misalnya soal Sukarno di masa Jepang. Giebels mengabdikan halaman yang cukup panjang untuk mengulas apakah Sukarno seorang kooperator atau kolaborator Jepang.

Beberapa hal yang cukup kontroversial diulas Giebels, diantaranya :

1. Soekarno tidak berperan dalam Soempah Pemoeda

Giebels merujuk Abu Hanifah yang menulis Dongeng dari Masa Revolusi (Tales of a Revolution). Dari dialah, Giebels kumpulkan sebagian besar informasi seputar Sumpah Pemuda. Menurut Hanifah, Sukarno hanyalah saksi mata pasif di pertemuan 28 Oktober 1928 yang kondang itu. Dari riset yang Giebels lakukan, tak ada informasi yang membantah hal tersebut, kecuali pernyataan dari Sukarno sendiri. Sukarno menyatakan bahwa dirinya berada di tengah-tengah panggung. Di sini tampak kepribadiannya yang narcissistic?.

2. Soekarno bertanggung jawab atas suksesnya program Romusha

Ada dua disertasi sejarawan Jepang yang mendasari analisis Giebels terhadap kasus romusha, yakni War and Peasants: the Japanese Administration in Java and Its Impact on the Peasantry 1942-1945 karya Shigeru Sato dan Mobilization and Control: a Study of Social Change in Rural Java 1942-1945 karya Aiko Kurasawa. Referensi lain adalah tulisan Tan Malaka tentang pengalamannya di Banten. Di tahun-tahun pertama penjajahan Jepang, rekrutmen romusha merupakan kebijakan rasional yang bertujuan memobilisasi jutaan penganggur untuk merehabilitasi dan membangun Pulau Jawa. Kebijakan ini tak banyak berbeda dengan rekrutmen tenaga kerja di berbagai negara Barat selama krisis ekonomi tahun 1930-an. Hatta pun setuju dengan gagasan ini. Sebab, saat menjadi mahasiswa di Rotterdam, Hatta pernah melihat kebijakan semacam ini diterapkan di Barat. Masa kerja paksa ini berlangsung selama 3 bulan saja. Pekerja romusha bekerja di wilayah masing-masing dan mendapatkan makanan secara cukup. Kondisi romusha ini berubah pada akhir 1943, ketika Tokyo memutuskan agar Jepang mengambil sikap bertahan dan mengamankan belahan Jepang dengan bantuan militer selama waktu tertentu. Pada titik itulah kerja paksa berubah menjadi perbudakan. Banyak dari mereka yang dikirim jauh dari kampung halaman selama lebih dari tiga bulan. Sukarno layak dipersalahkan. Dalam otobiografinya, ia memang menyalahkan diri sendiri karena mempropagandakan program rekrutmen romusha tersebut. Apakah Hatta juga bertanggung jawab soal romusha ini? Ya, Hatta, yang menjadi Ketua Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), pun mesti dipersalahkan. Begitu juga pemerintah setempat Indonesia (kebanyakan kalangan priayi) yang mengeruk untung atas setiap tenaga kerja pria yang mereka serahkan kepada tim rekrutmen seraya melindungi keluarga dan teman-teman mereka sendiri. Begitu juga pemuda yang dilatih oleh pihak militer yang mengejar orang-orang yang berpotensi jadi romusha sampai ke desa-desa. Di sisi lain, peran Sukarno dalam skandal romusha tampak dibesar-besarkan. Misalkan, ada sebuah foto yang begitu terkenal, Sukarno berpose sebagai romusha ideal. Giebels sarankan Anda berbicara dengan Rosihan Anwar tentang proses pembuatan foto ini di Bogor. Ia saksi mata peristiwa itu. Satu hal baru lagi yang Giebels temukan seputar skandal romusha adalah soal jumlah romusha yang meninggal dunia. Jumlah ini terlalu dibesar-besarkan. Hal ini merupakan kebijakan yang disengaja oleh pemerintah Indonesia di era 1950-an. Jumlah korban romusha merupakan argumen kuat untuk menuntut pampasan perang (war reparation) yang tinggi dari pemerintah Jepang

3. Menyetorkan ratusan jugun ianfu

Giebels tidak mengerti kenapa informasi ini begitu mengejutkan Anda (yg dimaksud wartawan TEMPO Seno Joko Suyono, Gita W. Laksmini, dan Leila S. Chudori). Sukarno menyebut hal ini kepada Cindy Adams. Anda mesti sadar bahwa ketika itu Sukarno hanyalah seorang pemimpin lokal, pemimpin setempat. Apabila ia memprotes, besar kemungkinan Sukarno akan langsung dilempar ke dalam hotel prodeo alias masuk bui. Giebels berpendapat bahwa Sukarno membuat keputusan yang terbaik yang bisa ia perbuat ketika itu. Sukarno melindungi para perempuan dari perilaku serdadu Jepang dan menyediakan kesempatan kerja kepada pekerja seks komersial profesional di Padang.

Sukarno melihat adanya kesempatan untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan Jepang ketika Imamura memimpin. Sukarno cukup realistis dalam hal ini. Sebelumnya, Jepang sudah memberikan kemerdekaan kepada Filipina dan Burma. Bulan September 1944, deklarasi Koiso menjanjikan kemerdekaan Indonesia. Lepas dari perasaan utang budi Sukarno kepada Jepang atas kesempatan tersebut, Sukarno memang menyukai Negara Jepang dan orang-orangnya. Jepang menjadi negara tujuan kegemarannya.

Sukarno bahkan menikahi dua hostesu Jepang (hostesu pertama bernama Sakiko, yang bunuh diri pada 30 September 1959 dengan mengiris nadinya di kediamannya di Menteng karena malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit Sukarno)

4. Menolak 2 naskah proklamasi, dari para pemuda yang menolak campur tangan Jepang dan dari Sutan Sjahrir.

Sjahrir menulis satu teks proklamasi kemerdekaan. Giebelsngnya, teks tersebut lenyap entah ke mana. Ini juga menyulitkan riset Giebels. Sekalipun demikian, Soebadio Sastrosatomo almarhum sangat yakni bahwa teks ini pernah ada. Ia mengatakan kepada Giebels bahwa ketika Sjahrir sempat membuat beberapa perubahan, Sjahrir melakukan perbaikan di sana-sini menggunakan pena milik Soebadio yang lupa ia kembalikan. Soebadio ingat bahwa teks tersebut kira-kira terdiri atas 100 kata. Isinya sangat anti-Jepang dan tidak terlalu kritis terhadap kolonialisme Belanda. Sukarno dan Laksamana Maeda kemudian memilih teks versi Hatta. Tapi itu pun menghapus kalimat Hatta yang berbunyi “Kekuasaan direbut dari tangan para penguasa.” Sukarno dan Hatta sadar bahwa kerja sama dengan pihak Jepang perlu untuk menghindari banjir darah. Tapi, di saat yang sama, hal tersebut menunjukkan Sjahrir memang tidak ingin bergabung dengan Sukarno-Hatta. Mereka akhirnya sepakat bekerja sama ketika di rumah Laksamana Maeda.

Giebels pun menyebutkan Sukarno sebenarnya menginginkan enam orang mahasiswa radikal agar ikut menandatangani teks proklamasi bersama dirinya dan Hatta. Tapi para pelajar tersebut menolak karena beranggapan teks proklamasi versi Hatta merupakan hasil kompromi Indonesia-Jepang. Sumber utama dari peristiwa tersebut adalah memoar dari Nishijima yang disusun oleh Anthony Reid dan Oki Akari (editor) dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs 1942-1945, di mana terdapat pernyataan Nishijima kepada komite interograsi Belanda, yang Giebels temukan dalam arsip-arsip organisasi intelijen KNIL (Nefis) dan memoar Hatta

5. Melakukan negosiasi rahasia dengan Belanda

Sukarno, menurut Giebels, diam-diam mengatur kesepakatan dengan pemerintah Belanda melalui seorang agen rahasia bernama Bob Koke. Isi negosiasi adalah Sukarno tidak keberatan apabila pemerintah Belanda kembali menunjuk seorang gubernur jenderal untuk memerintah Indonesia, asalkan dia yang menjadi perdana menteri dan asalkan Indonesia bisa memperoleh 50 persen keuntungan perusahaan-perusahaan Belanda.

Nama Robert Koke pertama kali Giebels baca ketika Giebels menerjemahkan buku Revolusi dari Nusa Damai (Revolt in Paradise) karya K’tut Tantri (nama asli perempuan Amerika ini: Muriel Pearson) ke bahasa Belanda. Di awal 1930-an, Koke dan istrinya membuka hotel pertama di Kuta, Bali, bernama Hotel Kuta. Peran Koke sebagai agen itu Giebels dengar dari seorang Australia bernama Timothy Lindsey, yang berkawan dengan K’tut Tantri, semasa K’tut tinggal di Sydney, dan berharap bukunya yang best seller itu difilmkan. Timothy Lindsey menulis biografi tentang K’tut Tantri berjudul Romantika K’tut Tantri dan Indonesia (The Romance of K’tut Tantri and Indonesia), yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1997. Dalam buku ini, Timothy Lindsey mengungkapkan peran Koke, di halaman 164-165, termasuk pertemuan Bob Koke dengan Sukarno di halaman 386. Giebels sendiri kurang tahu apakah Timothy Lindsey pernah bertemu dengan Bob Koke. Di buku ini, Koke menyatakan bahwa Mohammad Diah beserta keluarga berada bersama dirinya dalam pertemuannya dengan Sukarno sebagai penerjemah. Mungkin Pak Mohammad Diah dan istrinya bisa memberikan informasi lebih banyak tentang hal ini.

Sebagai sebuah disertasi, karya Timothy Lindsey itu Giebels anggap punya otoritas yang bisa diandalkan. Tapi, apabila pertemuan tersebut betul-betul terjadi dan isinya memang demikian, Giebels tidak sependapat dengan pernyataan bahwa Sukarno “menjual” Indonesia. Sebab, Sukarno sendiri adalah laki-laki yang gemar omong kosong. Kemungkinan negosiasi ini hanyalah gagasan sekilas Sukarno untuk mencari tahu bagaimana musuh bereaksi?.

6. Sangat gandrung teosofi

Konon, Sukarno orang yang sangat terpengaruh teosofi. Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional Indonesia sendiri seperti tokoh Boedi Oetomo, H. Agoes Salim, Tjipto Mangoenkoesumo, adalah penganut teosofi. Sementara itu, di masa remajanya, Sukarno sering bergelut di perpustakaan teosofi karena sang ayah merupakan pengikut teosofi.

Informasi tentang latar belakang teosofis pada diri ayah Sukarno Giebels peroleh dari studi mendalam tentang gerakan teosofi di Indonesia dalam buku The Politics of Divine Wisdom 1875-1947 karya Herman de Tollenaere (Nijmegen, 1996). Giebels kira buku ini pun layak untuk diresensi TEMPO. Anda sebaiknya langsung menghubungi pengarangnya. Giebels yakin, ia pasti antusias dan segera mengirimkan contoh bukunya kepada Anda. Sesungguhnya Sukarno tidaklah terlalu taat menjalani kepercayaan yang diturunkan dari ayahnya. Sejak ia menetapkan Demokrasi Terpimpin pada 1959, Sukarno melarang Masyarakat Teosofi Indonesia (Theosophical Society of Indonesia) dengan menggunakan dekrit presiden (bersama dengan Freemasonry dan musik rock ‘n’ roll).

7. Kencan Marylin Monroe?

Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, katanya .

“Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, kata Soekarno menangkis cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke Italia bulan Oktober 1964.

Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana.

Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.

Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS).

Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.

Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya (Marilyn)”, kata Soekarno, sedikit diplomatis.

Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan.

Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1432Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15369Dibaca Per Bulan:
  • 348152Total Pengunjung:
  • 1315Pengunjung Hari ini:
  • 14589Kunjungan Per Bulan:
  • 11Pengunjung Online: