Subjektivitas untuk Objektivitas Sejarah

HISTORIOGRAFI adalah perkembangan penulisan sejarah dari masa ke masa. Dalam penulisan historiografi di dalamnya memuat mengenai teori dan metodologi sejarah. Historiografi dapat diartikan sebagai sejarah penulisan sejarah untuk me-rekonstruksi masa lalu. Dalam historiografi terdapat pemahaman atau persepsi atau refleksi kultural sejarawan tentang masa lalu sehingga mengandung arti subjektif.

Historiografi juga dapat diartikan sebagai sejarah intelektual atau mentalitas. Historiogarfi juga mengajarkan untuk mencari pemikiran seorang penulis sejarah. Dalam hal ini sejarawan akan mengalami proses pemahan untuk mengerti subjektivitas penulis sejarah. Penulis sejarah akan selalu aktif melakukan seleksi terhadap gejala yang diamatinya. Gejala yang diamati akan menjadi titik pendirian masa kini yang dijadikan faktor penentu perhatian seseorang terhadap gejala masa lampau.

Dalam buku Subjektivitas Dalam Historiografi, W. Puspoprodjo menegaskan penulisan sejarah mestinya merupakan representasi atau ungkapan dari kesadaran sejarawan dalam zamannya dan lingkungan kebudayaan di tempat sejarawan itu hidup. Dalam arti subjektif, penulisan sejarah adalah suatu konstruk, yakni bangunan yang disusun penulis sebagai uraian atau cerita. “Subjektivitas penulis sejarah itu diakui, tetapi untuk dihindari,” pesan mendiang Kuntowijoyo.

Inilah yang disebut sebagai interpretasi, salah satu dari tahapan penulisan historiografi sejarah yang dapat diartikan sebagai ajang tafsir seorang penulis dalam menentukan alur cerita yang bersumber pada data dan fakta. Dalam interpretasi, ada tiga subpokok yang tidak mungkin dinafikan. Ketiga unsur itu ialah imajinasi, historical-min-dednes, serta historical issue.

Oleh karena itu, yang mesti dihindari, meminjam pernyataan Puspoprodjo, adalah pengedepanan subjektivisme yang jelas berbeda dengan subjektivitas. Subjektivisme akan melahirkan interpretasi sempit, sementara kekayaan subjektivitas bahkan hingga mencapai level “mesu budi” akan melahirkan sebuah upaya interprestasi yang kaya dan mewarnai kebenaran.

Dalam tulisannya, “Membuat Bangsa Ini Melek Sejarah”, sejarawan Dienaputra menjelaskan, untuk meminimalisasi timbulnya subjektivitas dalam penulisan sejarah, sejarawan haruslah mampu melakukan distansiasi (penjarakan) terhadap objek yang ditulisnya. Untuk dapat mendekati seoptimal mungkin objektivitas sejarah, ilmu sejarah memiliki metodologi yang di dalamnya memberi ruang bagi digunakannya konsep, teori, dan pendekatan dari ilmu-ilmu lainnya. Untuk itu, rekonstruksi

sejarah bisa didekati dari sosial, politik, ekonomi, budaya, seni rupa dan desain, teknologi informasi, dan sebagainya. Pendekatan tersebut bisa bersifat monodisiplin atau multidisiplin. Louis Gottschalk dalam Understanding Histoy A Primer Of Historical Method menulis bahwa selain peninggalan benda dan situs-situs sejarah, kadang-kadang faktor sejarah di peroleh dari kesaksian yang sering bermakna subjektif. Untuk dapat dipelajari secara objektif dalam arti tidak memihak dan bebas dari reaksi pribadi harus punya eksistensi yang merdeka di luar pikiran manusia. Akan tetapi, kenangan (memori) semata tidak mempunyai keberadaan di luar pikiran manusia, sedangkan banyak sejarah didasarkan kenangan yakni kesaksian tertulis atau lisan.

Dengan kata lain, pengayaan subjektivitas dilakukan demi semakin meminimalkan subjektivisme dalam mengonstruksi dan merekon-struksi karya historiografi. Pengayaan subjektivitas terutama oleh para penyusun historiografi teramat penting sebagai landasan untuk menghasilkan produk yang mendekati sisi objektivitas dari penulisan sejarah itu sendiri. Hal yang tak kalah pentingnya juga adalah karya historigorafi tak bisa diberangus. Ia hanya bisa dilengkapi, dikritisi, dan diperbaiki lewat produk historiografi lainnya.

(Supartini )

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 93Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14030Dibaca Per Bulan:
  • 346924Total Pengunjung:
  • 87Pengunjung Hari ini:
  • 13361Kunjungan Per Bulan:
  • 12Pengunjung Online: