Sumeria dan Akkadia 3000-2230 SM

Nama peradaban Sumeria memang benar adanya. Karena pembukaan dan pendudukan tanah genting lembah bawah Tigris-Eufrat- sebuah prestasi kekuasaan kolektif manusia yang melahirkan peradaban ini- merupakan karya orang-orang Sumeria semata-mata yang memiliki kesamaan bahasa, agama dan kebudayaan. Namun demikian, pada awalnya, kekuasaan kolektif orang-orang Sumeria tidak berupa sebuah negara politik ekumenis yang menguasai seluruh dominan tanah genting Tigris- Eufrat yang telah menjadi milik mereka sendiri. Langlak pembukanya dilakukan oleh sejumlah komunitas Sumeria yang terpisah dan saling independen secara politik,yang berdatangan ke tanah genting itu dari titik-titik yang berbeda.Kita dapat membuat kesimpulan demikian berdasrakan struktur politik Dunia Sumeria yang telah kita temukan ekstensinya pada waktu pembuatan dokumen-dokumen paling awal dalam tulisan Sumeria yang sampai sekang masih bisa dibaca dan diterjemahkan. Sayangnya, pada saat sejarah peradaban Sumeria menyingsing, kesatuan kultural Dunia Sumeria tidak diimbangi dengan persatuan di bidang politik.

Selama lima atau enam abad pertama dalam sejarah peradaban Sumeria (sekitar 3100-2500 SM), negara-negara muncul berdampingan tanpa saling bersatu. Tidak diragukan lagi, tanah genting Tigris- Eufrat dibuka secara bertahap, dan, dalam jangka waktu yang panjang sawah-sawah yang diairi dan padang-padang rumput berairyang dibuat oleh para pendiri masing-masing kota menjadi tidak lebih dari sebuah oasis, yang dicemooh oleh domain- domain kota lain sebagai petak-petak rawa perawan yang luas seluruhnya melebihi total area di semua oase.Selama fase pertama dalam sejarahn peradaban Sumeria, luas rawa perawan yang di miliki setiap komunitas, di luar ujung teritorial yang yang telah dibuka oleh setiap komunitas, pasti tidak terhingga. Lebih dari itu, setiap komunitas dapat menguasai air di dalam rawanya masing-masing tanpa perlu bersaing dengan komunitas-komunitas lain yang menguasai petak-petak lainnya secara kontemporer.

Momentum politik penting terjadi ketika domain negara-negara kota lokal yang semakin meluas mengeliminasi zona-zona rawa yang mengisolasi dan menjadi saling bertetangga secara langsung. Kesempurnaan kemenangan teknologi manusia atas alam di Sumeria menimbulkan masalah-masalah politik dalam hubungan sesama manusia; dan sayangnya, orang-orang Sumeria tadak segera merespon tantangan sosial ini dengan cara radikal, yakni unifikasi ekumenis seperti yang telah berlangsung di Mesir ketika masalah sosial yang sama timbul di sana. Ketika, di Sumeria, keping-keping mosaik politik yang terisolir saling berhubungan,mareka tidak segera mempererat diri, sebagaimana yang terjadi di Mesir, menjadi sebuah kerajaan tunggal bersatu. Negara-negara kota terus bertahan, setelah menjadi saling

Pada fase ini,produktivitas tanah genting Tigris-Eufrat begitu luar biasa sehingga sebagaian hasilnya dapat menghidupi-serta menyediakan sarana kematian- anggota “ perusahaan “ di sebuah negara kota Sumeria secara mewah. Penggalian makam-makam kerajaan dinasti pertama sebuah negara kota,Ur,menyingkapkan bahwa kedaulatan negara berada di tangan seniman-seniman bawahan sang raja yang dapat membuatkan perhiasan indah untuk permaisurinya, dan bahwa pemimpin itu dapat ,membawa, bukan hanya lembu-lembu gemuk dengan kereta kerajaan, tetapi juga iring-iringan pembantu laki-laki dan perempuan,untuk melayaninya di akhirat kelak dengan cara dibunuh, atau bunuh diri secara sukarela,sebagai puncak dari ritus-ritus pemakaman kedaulatan seniman-seniman tersebut. Tingkat perbedaan kelas yang ekstrim ini, yang kita temukan di Ur pada awal sejarah peradaban Sumeria, tampaknya menunjukan keadaan-keadaan sosial di seluruh Dunia Sumeria kontemporer.

Pada fase sejarah Sumeria selanjutnya sekitar paro melenium ketiga SM, cirinya yang menonjol bukanlah terpeliharanya status istimewa “perusahaan “ di setiap negara kota.Relief dasar yang menggambarkan Raja Eannatum di Lagash sedang merayakan kemenangannya atas tetangganya, Umma, menunjukan bahwa, sebelumnya, peperangan antarnegara di Sumeria telah menjada sangat terorganisir dan secara proposional buram dan mematikan. Pasukan Eannatum tidak hanya dilengkapi dengan helm-helm (mungkin dari logam) yang mahal dan tameng-tameng yang memadai,tetapi mereka juga dilatih secara baik untuk menyerang musuh dalam formasi ruas jari.Ahli patung Eannatum menggambarkan pasukan itu, berbaris dengan pundak saling merapat dan berjajar ke belakang, dengan beberapa baris pasukan tombak yang menonjol di posisi depan sebagai tembok- tameng. Mayat-mayat tentara musuh yang tewas bergelimpangan di bawah kaki pasukan yang menang dan pemimpinnya. Sebelumnya, raja-raja di negara-negara kota Sumeria mungkin tidak lagi mengadakan persembahan korban manusia di makam-makam, tetapi mereka kini justru meminta korban manusia dalam skala yang lebih besar di medan pertempuran, dan para korban perang ini adalah anak-anak muda terbaik dalam komunitas-komunitas yang suka berperang.

Pangkal pertikaian antara Lagash dan Umma pada masa Eannatum adalah kepemilikan sebuah kanal di perbatasan antara dua negara tersebut- sebuah karunia alam yang menghasilkan tanah produktif di tengahnya yang bergantung pada irigasi dan drainase dari kanal yang diperebutkan itu. Dalam perang memperebutkan kanal sumber kehidupan ini, Eannatum mengklaim telah memenangkannya, tetapi kita bisa menyimpulkan bahwa, sekalipun benar-benar asli, kemenangan ini menelan biaya besar. Dan tampaknya keseimbangan kekuatan sosial domestik yang genting di Lagash telah rusak. Toleransi petani Sumeria terhadap privilese-privilese “perusahaan” bergantung pada kontunitas kepercayaan mayoritas tanpa privilese bahwa minoritas yang diistimewakan memberikan pelayanan sosial secara efektif yang sangat dibutuhkan bagi kemakmuran komunitas secara keseluruhan. Kepercayaan ini pasti talah goyah ketika Raja Urukagina di Lagash (sekitar 2378-2371 SM) mampu menentang otoritas kependetaan.

Jika Urukagina berusaha melakukan sebuah revolusi sosial, sebenarnya dia telah gagal. Dia digulingkan oleh Raja Lugalzaggisi, yang telah menancapkan kekuasaannya atas dua negara kota, yaitu Umma dan Uruk. Urukagina terus mencaplok bukan hanya Lagash tetapi juga seluruh negara kota Sumeria. Kemudian dia meluaskan kerajaannya melampaui batas-batas Sumeria hingga kerajaan itu “ membentang dari laut ke laut “ yakni dari ujung kepala teluk Persia sampai pantai Mediterranean di Syria sebagaian utara.

Lugalzaggisi (sekitar 2371-2347 SM) menaklukan kerajaan Urukagina dengan kekuatan pasukan, namun peperangan imperialistiknya ini tidak begitu sengit dibandingkan dengan antarnegara yang kronis dan inklusif akibat orang-orang Sumeria itu sendiri; dan, sebenarnya, unifikasi politik secara paksa merupakan satu-satunya obat untuk penyakit sosial ini. Di lembah bawah Tigris-dan Eufrat, sebuah jaringan jalur yang lengkap, baik alamiah maupun buatan, tidak dapat dipecah-belah; dan, selama jaringan ini tidak dikuasai oleh satu otoritas dengan kekuasaannya untuk mengatur dan mendistribusikan air sebagai sarana kehidupan, maka pengaturan air initidak dapat berlangsung secara efisien atau damai. Ini niscaya merupakan casus belli yang langgeng antara negara-negara berdaulat lokal, karena negara-negara ini terkondisikan untuk saling bersaing dan konflik guna meraih kontrol air yang maksimal demi kepentingan negara itu sendiri. Prestasi Lugalzaggisi dalam menyatukan Sumeria secara politik dan kemudian meluaskan kerajaannya ke arah barat laut menghasilkan kontrol tunggal atas air di Tigris dan Eufrat untuk pertama kalinya dalam sejarah; dan ini juga menyebabkan pengusaha Sumeria itu memiliki sumber kayu Sumeria di gunung Amanus, dan mungkin juga sumber-sumber tembaga yang lebih jauh.

Namun demikian, buah dari pembentukan kerajaan oleh Lugalzaggisi ini tidak dipanen oleh Lugalzaggisi sendiri atau oleh raja bangsa Sumeria lainnya. Kerajaan yang disatukan oleh Lugalzaggisi ini direbut dari genggamannya oleh seorang opsir Akkadia berbahasa Semitik, yakni Sargon, yang memulai kariernya sebagai penguasa Kish.Sargon keluar dari Kish dan membangun sebuah kotanya sendiri di Agade. Situs kota ini belum teridentifikasi,tetapi situs ini jelas terletak di suatu tempat di dekat situs Babylonia nantinya,dan lokasi ini memang dipilih secara tepat, karena, dengan menghampar ke pelosok baratdaya tanah genting tersebut,di mana sungai Tigris dan Eufrat bertemu, kota itu memberi warganya kekuasaan untuk mengendalikan seluruh jaringan air dari satu ujung tanah genting ke ujung lainnya, turun ke muara-muara sungai kembar.

Keberhasilan Sargon merebut kerajaan Lugalzaggisi mungkin bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh seorang penguasa berbahasa Semitik dalam catatan sejarah. Orang-orang Byblos mungkin telah menggunakan bahasa Semitik ketika mereka pertama kali menjalin hubungan-hubungan perdagangan dan kultural dengan Mesir semasa Fir’ aun; dan ini terjadi 600-700 tahun sebelum masa Sargon. Namun demikian, kerajaan Sumertia dan Akkadia Sargon merupakan kekuasaan besar pertama yang para penguasanya menggunakan bahasa Semitik. Akkadia semasa Sargon, dengan ibukotanya di Agade,mengangkangi sungai Tigris dan Eufrat yang mengalir dari Sumeria,dan membentang ke arah barat laut sejauh batas-batas tanah gentingnya. Kita tidak tahu apakah pembentukan penduduk berbahasa Semitik di tempat yang strategis ini dilakukan oleh Sargon, atau orang-orang Akkadia telah lebih awal menginfiltrasike bagaian lembah Tigris Eufrat. Namun demikian,bisa diasumsikan bahwa orang-orang Akkadia, dan juga orang-orang Kannan, yang dikenal sebagai penduduk pertama Palestina dan Syria yang berbahasa Semitik, berasal dari Arab; karena Arab asal- mula gelombang orang-orang Semitik berikutnya yang berturut-turut- gelombang Amoriah, gelombang Yahudi-Aramaean-Chaldaean,dan gelombang Arab- menyapu pantai-pantai utara di padangArab masuk ke Bulan Sabit yang subur.

Bahasa-bahasa keluarga Semitik memounyai keterkaitan erat, dan keluarga Semitik itu sendiri berjarak dengan kelompok-kelompok bahasa di Afrika Utara-bahasa Mesir kuno (yang kini diwakili oleh Coptic), bahasa-bahasa “Kushiah” di Afrika timur laut (Beja, Danakil, Galla, Somali),dan dialek-dialek Berber di Afrika barat laut. Berkat padang-padang rumput yang kondusif, bahasa-bahasa Semitik menjadi tersebar lebih luas daripada bahasa-bahasa lainnya kecuali bahasa Indo-Eropa dan Turki.Bahasa Arab, sebagai bahasa Semitik terakhir yang disebarkan dari Arab debgan sebuah Volkerwanderung, kini digunakan sepanjang Asia Barat Daya dan Afrika bagaian utara dari kaki barat Zagros Range dan pantai timur teluk Persia sampai pantai Afrika utara di samudra Atlantik. Bahasa Syria sebagai bahasa Aramaic modern masih digunakan di beberapa titik di Antilebanon Range dan di sepanjang pantai barat danaun Urmiyah, semantara bahasa Yahudi kini dipakai lagi di Palestina.

Sargon di Agade berkuasa dapa sekitar 2371-2316 SM dan dinasti yang didirikannya bertahan sampai sekitar 2230 SM. Kerajaan yang direbut dari Lugalzaggisi oleh Sargon dan diperintah oleh Sargon dan keturunan-keturunannya ini merupakan imbangan, dalam sejarah Sumero-Akkadia, dari kerajaan Kuno dalam sejarah Mesir Fir’ aun; tetapi kerajaan Kuno Mesir memiliki dua kelebihan dibanding kerajaan Sumeria dan Akkadia. Kerajaan Kuno Mesir berdiri pada saat fajar sejarah peradaban Mesir Fir’ aun menyingsing sebagai momentumyang menguntungkan,dan para pendirinya bukanlah orang-orang asing. Tempat aslinya,yakni dua kota kembar Nekhen-nekheb, terletak di perbatasan selatan Mesir. Penguasa-penguasanya adalah para pemimpin gerakan di Mesir bagaian selatan, dan dengan peran ini mereka mungkin memiliki keberanian berperang yang akhirnya ditampilkan dalam perang saudara yang dengannya mereka berhasil menyatukan Dunia Mesir secara politik. Sebaliknya, kerajaan Akkadia dengan ibukotanya di Agade terletak luar batas-batas Sumeria bagaian barat laut. Orang-orang Akkadia adalah penyelundup semi-barbar, dan Sargon beserta keturunannya, seperti pendahulunya, Ligalzaggisi,merupakan manusia-manusia perang, sedangkan kerajaan Mesir Fir’aun bersatu sejak berdirinya menyumbangkan seribu tahun perdamaian tanpa jeda bagi Mesir.

Sargon sendiri dilaporkan telah memimpin sebuah ekspidisi ke Asia kecil bagaian timur untuk merespon bantuan yang akan diberikan oleh sebuah permukiman para pedagang-mungkin orang-orang Akkadia-yang mendapat perlakuan buruk dari warga pribumi. Langkah Sargon yang luar biasa ini memang legendaris. Langkah ini mungkin mendahului sejarah permukiman autentik para pedagang Assyria, dari abad ke-20 sampai akhir abad ke-19 SM, di pinggiran kota Kanes,sebagai tempat penyimpanan dokumen-dokumen mereka. Namun demikian,kesejarahan,ekspidisi Sargonid Naramsim ke daratan tinggi Zagros tidak perlu diragukan lagi.Ini dibuktikan oleh relief dasar di Naramsin,s stele-sama kuatnya dengan dokumen visual relief dasar Eannatum dan pahatan Narmer.

Meskipun brutal dan pura-pura menang, ekspidisi Naramsim mungkin merupakan sebuah operasi ofensif-defensif, dilihat dari akibat-akibnatnya; dan, jika Naramsim benar-benar bersikap defensif, berarti dia bukan hanya mempertahankan Akkadia tetapi juga Sumeria dan peradabannya. Peradaban Sumeria ini memikat hati para penakluknya dari Akkadia. Mereka ini mengadopsi peradaban Sumeria nyaris secara enbloc, termasuk tulisan dan bahkan agamayna. Sebagaia besar dewa Akkadia adalah dewa-dewa Sumeria yang disamarkan secara halus dengan nama-nama Semitik; bahasa Akkadia ditulis dengan huruf Sumeria, walaupun huruf-huruf ini terasa janggal untuk mengekspresikan sebuah bahasa dari keluarga Semitik, karena akar sebuah kata Semitik bukanlah sebuah urutan dari silabel-silabel tetapi satu rangkaian dari tiga konsonan.

Peradaban Sumeria telah mengembangkan dua ciri yang menonjol ketika orang-orang Akkadia mengambil ahlinya. Salah satu ciri tersebut adalah kekuatan religius; ciri lainnya adalah kemampuan berdagang. Ketaatan tersebut kini diekspresikan secara hidup dalam arca-arca sesembahan yang kecil bentuknya yang pada zaman dahulu merupakan genre pokok dari seni rupa Sumero-Akkadia. Kedua tangan penyembah yang dilipat secara rendah hati dan matanya yang memandang tajam menunjukan semangat berapi-api si penyembah jika dinilai dengan kaca mata sekarang. Monumen-monumen yang memperlihatkan kemampuan berdagang Sumero-Akkadia berupa ratusan ribu lembaran dari tanah liat yang ditulis catatan berbagai jenis transaksi perdagangan. Dewa-dewa merupakan para pemilik kekayaan terbesar, dan para administrator kuil-kuilnya mungkin terjadi pionir yang menerapkan metode-metode perdagangan Sumeria secara sistematis dalam skala besar; tetapi sektor ekonomi publik Sumeria diimbangi dengan sektor swasta. Dalam berdagang, orang-orang Sumeria sama seriusnya dengan kegiatan ibadah. Di kedua bagaian ini, orang-orang Akkadia melebihi praktek orang-orang Sumeria dan berhasil menangkap semangatnya.

Pada sekitar 2230 SM, dinasti Sargon digulingkan oleh orang-orang gunung Gutaean yang barbar dari timur laut, dan sejak sekitar tahun 2130 sampai sekitar 2120 SM, baik Sumeria maupun Akkadia berada di bawah kekuasaan Gutaean. Selama periode kekuasaan Gutaean ini, orang-orang Amoriah yang berbahasa Semitik masuk ke Akkadia dari arah barat daya dan kemudian mendirikan kerajaan Babylonia. Orang-orang Gutaean yang dibenci oleh masyarakat masyarakat Akkadia dan Sumeria pada akhirnya dibunuh atau diusir. Dan orang-orang Amoriah yang membangkang di Akkadia memainkan peran kepemimpinan pada fase selanjutnya dalam sejarah Sumero-Akkadia.

Dikutip dari : Arnold Toynbee. 2004. Sejarah Umat Manusia: Uraian Analisis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif (MANKIND AND MOTHER EARTH: A Narrative History of the world).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1632Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13730Dibaca Per Bulan:
  • 346685Total Pengunjung:
  • 1506Pengunjung Hari ini:
  • 13122Kunjungan Per Bulan:
  • 9Pengunjung Online: