Slide1 Slide2 Slide3 Slide4 Slide5

Artikel

0

Sunda Kalapa

Diposting oleh Wayah

Share

Pertahanan Sunda Kelapa

Pada tahun 1527 terdengar berita bahwa pasukan Portugis dengan enam buah kapal besar dan persenjataan lengkap telah meninggalkan Malaka dengan tujuan Sunda Kalapa. Mendengar berita ini, Fatahillah dan Hasanuddin mengumpulkan para senapati untuk merun-dingkan tindakan selanjutnya; dan diputuskan untuk segera menguasai Sunda Kalapa. Maka disiapkanlah pasukan gabungan Demak, Cirebon dan Banten untuk berangkat ke Sunda Kelapa melalui jalan darat dan laut. Penyerbuan ini dipimpin oleh Fatahillah, Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang dengan tentara berkekuatan 1452 orang (Purwaka, tt: 23). Dengan bantuan penduduk setempat, yang memang sudah banyak beragama Islam, maka dengan mudah Sunda Kelapa dapat dikalahkan pada tahun 1527. Atas persetujuan Sultan Demak dan Syarif Hidayatullah, maka Fatahillah diangkat menjadi Adipati di Sunda Kelapa. Dan untuk menyatakan rasa syukur atas kemenangan ini, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta yang artinya “kota yang menang”. (Halwany Microb dan A Mujahid Chudari. 1993.Catatan Masa Lalu Banten. Serang, Penerbit Saudara.)

 

Pemulihan Sunda Kelapa

Setelah berhasil mengamankan Sunda Kalapa dari ancaman Portugis, Hasanuddin dan Fatahillah bekerja sama menangani pembangunan di Banten dan Jayakarta. Hasanuddin bertanggung jawab dalam masalah pengembangan wilayah dan pendidikan kamasyarakatan, sedangkan Fatahillah menangani bidang keamanan dan pertahanan wilayah. Sehingga pada masa itu Islam menyebar dengan pesat dan keamanan negara terjamin. Kedua penguasa wilayah ini memerintah atas nama Sultan Demak.

Penguasaan Banten dan Sunda Kalapa ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kerajaan Demak, karena antara lain:

1) Dengan dikuasainya Banten dan Sunda Kalapa, akan memudahkan pengembangan pengaruh Islam ke Pajajaran di kemudian hari.

2) Banten dapat dijadikan tempat yang strategis bagi perluasan wilayah Demak ke pantai selatan Sumatra, Lampung dan Palembang yang kaya akan cengkeh dan lada.

3) Dengan dikuasainya pantai utara Jawa Barat yaitu Banten, Sunda Kalapa dan Cirebon, maka kekhawatiran Demak atas pengaruh Portugis di Pulau Jawa dapat diatasi.

4) Banten juga dapat dijadikan pusat penyebaran agama Islam untuk masyarakat Jawa Barat dan sebagian Sumatra Selatan yang masih animis.

Melihat perkembangan kemajuan daerah Banten yang pesat, maka pada tahun 1552 Kadipaten Banten ditingkatkan statusnya menjadi Kerajaan di bawah pengawasan Demak, dengan Hasanuddin sebagai raja Banten pertamanya. Sedangkan Fatahillah pada tahun yang sama (1552) diangkat menjadi penguasa di Cirebon mewakili Syarif Hidayatullah, karena Pangeran Pasarean yang memerintah sebelumnya telah meninggal pada tahun 1552 itu. Untuk menjalankan tugas pemerintahan di Jayakarta diangkat Pangeran Bagus Angke, menantu Hasanuddin.(Halwany Microb dan A Mujahid Chudari. 1993.Catatan Masa Lalu Banten. Serang, Penerbit Saudara

 

Silakan Beri Komentar

© Copyright Prodi Sejarah 2011. All rights reserved.