Tambang Emas Cikotok Tinggal Sejarah?

Charly Silaban

Kami kira sudah tiba waktunja untuk mentjantumkan negeri Tjikotok di atas peta ilmu bumi… Kepada chalajak ramai terutama si pemakai dan pedagang emas selajaknja diterangkan, bahwa emas jang diperdagangkan dewasa ini adalah a.l. berasal dari Tambang Mas Tjikotok….”

Kalimat yang ditulis dalam ejaan Soewandi itu berasal dari sebuah fotokopian buku bertajuk Tambang Mas Tjikotok Membangun. Tanpa tahun, tanpa penulis, isinya bercerita tentang proses penambangan emas di Cikotok, mulai dari penggalian bebatuan andesit, penggilingan, sampai pemurnian emas yang siap jual.

Saking melegendanya Cikotok, buku teks ilmu bumi untuk siswa sekolah dasar tahun 1960-an dan 1970-an selalu mencantumkan Cikotok sebagai tambang emas di Jawa Barat, yang berdiri sejak 1936. Sebelum menjadi bagian Provinsi Banten tahun 2000, seluruh Banten masuk Jawa Barat, termasuk Cikotok.

Cikotok yang merupakan wilayah di Kecamatan Bayah, Lebak, Banten Selatan, memang sempat menjadi primadona karena di sana pernah terdapat satu-satunya tambang emas terbesar di Indonesia. Namun, era kemasyhuran dan kejayaan Cikotok mulai memudar seiring dengan berkurangnya cadangan emas. Dari satu ton batuan andesit yang ditambang, kandungan emasnya hanya mencapai lima gram.

“Tambang yang masih prospek adalah yang kadarnya di atas delapan. Artinya, dari satu ton batu dihasilkan delapan gram emas,” ujar Manager Pascatambang PT Antam Resourcindo (Ari), anak perusahaan PT Aneka Tambang, Junarso.

Menurut dia, PT Ari kini tinggal mengandalkan tambang emas di Cikidang, sekitar 34 kilometer barat daya Cikotok. Prospek emas di Cikidang ditemukan pada tahun 1991. Daerah seluas 426,4 hektar ini terdiri atas vein (urat emas) Cikidang, yang merupakan mineralisasi utama dengan urat sepanjang 1.200 meter.

Kegiatan eksplorasi untuk urat Cikidang telah selesai dilakukan pada akhir tahun 1997. Sementara itu, urat Cibodas, tengah, barat, dan timur mulai dieksplorasi lebih lanjut sejak tahun 2002. Cadangan emas di Cikidang diperkirakan habis pada tahun 2008. Namun, PT Ari masih berharap ada cadangan baru sehingga tambang bersejarah itu tidak harus tutup selamanya.

Menurut Junarso, dari 3.000 ton batuan yang ditambang dalam sebulan, precipitate atau lumpur “kaya” yang dihasilkan rata-rata 250,32 kilogram. Dari jumlah tersebut, dihasilkan 19,8 kilogram emas dan 77,5 kilogram perak. Didin, salah seorang pegawai di bagian tambang PT Ari, mengatakan, hasil yang diperoleh dari pengolahan batuan tidak optimal karena peralatan yang digunakan sudah tua. Peralatan yang digunakan untuk mengolah emas itu sudah berumur lebih dari 50 tahun. “Mungkin ini pabrik pengolahan emas tertua di dunia,” katanya.

Proses pengolahan batuan menjadi emas cukup rumit. Awalnya, dari tambang yang terletak di bawah tanah, batuan diangkut menggunakan kabel ban. Alat itu mirip dengan kereta gantung, yang terbentang melintasi jurang curam dari Cikotok hingga ke Pasir Gombong. Namun, sejak tahun 2005, seiring dengan banyaknya pencurian kabel yang terjadi, PT Ari menghentikan operasional kabel ban itu.

Sebelum diolah, batuan berukuran raksasa itu dikecilkan ukurannya agar siap diolah. Proses pengecilan ukuran itu meliputi penggerusan (crushing), pelumatan (grinding), klasifikasi ukuran butiran, dan peningkatan kandungan padatan umpan (thickening). Bijih hasil penggerusan lalu ditampung pada fine ore bin (FOB) atau tangki bijih dari baja. Setelah itu, bijih-bijih tadi dimasukkan ke dalam ball mill. Setelah ditambahkan CaO atau kalsium oksida dengan kadar 15 kilogram per ton, bijih yang digiling tadi menghasilkan campuran pasir-lumpur-air.

Bijih yang sudah halus dan nyaris berupa lumpur lalu diperkaya di dalam thickener I melalui proses pengendapan. Hasil pengendapan pada thickener I (underflow thickener) dengan kandungan 40 persen solid, lalu diproses pada unit sianidasi. Sedangkan cairan yang lebih jernih (overflow thickener) digunakan ulang untuk proses presipitasi.

Sianidasi merupakan proses pelarutan logam Aurum (Au/emas) dan Argentum (Ag/perak) dalam media larutan sianida. Proses itu berlangsung pada empat tangki agitator.

Lumpur yang mengandung larutan sianida, yang telah kaya dengan emas dan perak, lalu dialirkan ke tangki dua dan tiga. Sementara lumpur yang nyaris tak berharga mengalami proses filtrasi atau pemisahan cairan dengan lumpur.

Proses terakhir adalah presipitasi. Pada proses ini, ion Au dan Ag yang terkandung dalam air kaya didesak oleh serbuk seng (zinc). Hasil akhir dari proses presipitasi adalah presipitat dengan kandungan Au = 10 persen, Ag = 35 persen, dan Zn = 55 persen. Hasil akhir inilah yang kemudian diolah lagi di unit logam mulia PT Aneka Tambang di Jakarta. Limbah sisa presipitasi lalu diolah di instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Tujuannya, untuk menurunkan kandungan sianida hingga mencapai ambang batas (0,5 ppm).

Hampir berakhir

Mencapai Cikotok ibarat melakukan perjalanan wisata melintasi tepi laut dan perbukitan. Tambang emas tua itu seolah menjadi museum hidup yang sekaligus saksi sejarah kegemilangan penambangan emas.

Namun kini, museum itu makin terengah berpacu dengan zaman. Seiring dengan menipisnya cadangan emas di Cikotok, mesin-mesin tua dan para pekerjanya yang berdedikasi kini tinggal menunggu “cerita tamat” Cikotok.

Valentinus, pekerja yang mengoperasikan sistem presipitasi (proses pengikatan air emas), terlihat hati-hati memperlakukan setiap bagian mesin yang bekerja. Di bagian akhir proses pengolahan emas, Valentinus bersama rekannya menjadi penjaga terakhir proses logam mulia.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1770Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15707Dibaca Per Bulan:
  • 348463Total Pengunjung:
  • 1626Pengunjung Hari ini:
  • 14900Kunjungan Per Bulan:
  • 15Pengunjung Online: