TARUMANAGARA

Kelanjutan Salakanagara

Kerajaan Maurya di India dengan rajanya Samudragupta pada tahun 345 berhasil mengalahkan dua kerajaan, Salankayana dan Pallawa. Sang raja tak kenal belas kasih. Banyak penduduk dan pembesar yang melarikan diri ke luar negeri karena takut akan kediktatoran Samudragupta.

Salah seorang pembesar Salankayana, Maharesi Jayasingawarman bersama para tentara dan pengikutnya melarikan diri ke arah selatan dan menetap di Jawa bagian barat. Di tempat baru ini Jayasingawarman mendirikan permukiman baru di tepi Kali Citarum, wilayah yang termasuk kekuasaan Salakanagara. Ia pun dijadikan menantu oleh Dewawarman VIII penguasa Salakanagara.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, dusun yang baru dibuka oleh Jayasingawarman ini berkembang. Banyak penduduk baru yang mendiami dan menetap di pemukiman tersebut. Jayasingawarman bekerja keras memperluas wilayah kekuasaannya sehingga terwujudlah sebuah negara baru. Ia pun memproklamasikan kerajaan baru: Tarumanagara, dan memiliki gelar Rajadirajaguru Jayasingawarman Gurudharmapurusa. Ia memerintah selama 24 tahun (358-382). Pusat pemerintahan pun beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara pun otomatis berubah status menjadi kerajaan bawahan.

Tak seperti raja-raja Salakanagara, keberadaan Jayasingawarman jelas tertulis dalam Prasasti Tugu. Pada prasasti berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa ini, ia disebut gelarnya saja, Rajadhirajaguru, bersama dua raja Tarumanagara setelahnya, yakni Rajarsi dan Purnawarman. Berikut terjemahan Prasasti Tugu yang ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara (kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta).

Dulu kali (yang bernama) Chandrabaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan memiliki lengan kuat (Raja Purnawarman) buat mengalirkannya ke laut, setelah (kali ini) sampai di istana kerajaan yang termahsyur. Dalam tahun ke-22-nya dari takhta Yang Mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian serta kebijaksaannya serta menjadi panji segala raja, (kini) beliau menitahkan pula menggali Kali (Gomati) yang permai dan berair jernih di tengah-tengah tanah yang mulia Sang Pendeta nenekda (Rajadhirajaguru). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paro-peteng bulan Phalguna dan disudahi pada tanggal 13 paro-peteng bulan Caitra; jadi hanya 21 hari, sedang galian itu panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan baginya dilakukan oleh para brahmana, disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan.

Berdasarkan keterangan Prasasti Tugu, setelah wafat pada 382, abu jenazah Rajadhirajaguru Jayasinghawarman di-larung-kan (dihanyutkan dengan rakit) di Sungai Gomati (sekitar Bekasi), maka itu dikenal sebagai Sang Lumah ing Gomati. Prasasti tersebut dibuat oleh Purnawarman, cucunya. Ia lalu digantikan oleh anaknya, Rajarsi (Rajaresi) Dharmayawarmanguru yang memerintah tahun 382-395 M. Dinamakan rajarsi dan guru karena ia juga pemimpin agama. Setelah meninggal, Dharmayawarman bergelar Sang Lumah ri Chandrabaga karena dipusarakan di Sungai Chandrabaga. Dharmayawarman memiliki dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Setelah wafat, ia digantikan oleh anak sulungnya, Purnawarman yang bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati atau Sang Puramdara Saktipurusa.

Zaman Purnawarman: Masa Keemasan

Purnawarman merupakan raja Tarumanagara paling terkenal. Banyak prasasti yang memuat namanya. Ia memerintah selama 39 tahun, dari tahun 395 hingga 434, dibantu adiknya, Cakrawarman, panglima angkatan perang Tarumanagara. Sementara pamannya, Nagawarman, adalah panglima angkatan laut. Dari permaisurinya (putri dari seorang raja bawahan Tarumanagara), Purnawarman memiliki beberapa anak lelaki dan perempuan.

Purnawarman membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai yang dinamainya Sundapura. Sundapura mengandung arti “Kota Suci” atau “Kota Murni”. Inilah pertama kali nama Sunda secara resmi dipakai sebagai nama administratif.

Pada masanya, kekuasaan Tarumanagara mencakup wilayah Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah bagian barat. Prasasti lain yang memberitakan Purnawarman, yakni Prasasti Cidanghiyang atau disebut juga Prasasti Lebak karena ditemukan di Kampung Lebak di tepi Sungai Cidanghiyang, Kec. Munjul, Pandeglang, Banten. Hal ini membuktikan bahwa daerah Banten dan pantai Selat Sunda juga termasuk wilayah kekuasaan Tarumanagara.

Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional, Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja di Jawa Barat masa silam.

Daerah-daerah kekuasaan Tarumanagara pada masa Purnawarman di antaranya: Salakanagara, Cupunagara, Nusa Sabay, Purwanagara, Hujungkulwan (Ujung Kulon), Gunung Kidul, Purwalingga, Agrabinta, Mandalasabara, Bhumisagandu, Paladu, Kosala, Legon, Indraprahasta, Manukrawa, Malabar, Sindangrejo, Wanagiri, Purwagaluh, Cangkwang, Gunung Gubang, Gunung Cupu, Alengka, Gunung Manik, Salakagading, Pasirbatang, Karangsidulang, Gunung Bitung, Tanjungkalapa, Pakwan Sumurwangi, Kalapagirang, Tanjungcamara, Sagarapasir, Rangkas, Puradalem, Linggadewa, Wanadatar, Jatiagong, Satyaraja, Rajatapura, Sundapura, Dwakalapa, Pasirmuhara, dan Purwasanggarung.

Berita dari luar negeri tentang Kerajaan Tarumanagara ini datang dari seorang pendeta Buddha asal Cina bernama Fa-Hsien. Dalam catatannya, Fa-Shien menyebutkan adanya Kerajan “Tolomo” di Jawa sebelah barat. Tolomo adalah ucapan lidah orang Cina bagi kata “Taruma”. Syahdan, pada 414 M (jadi pada masa Purnawarman), Fa-Hsien berangkat dari Sri Lanka untuk balik ke Kanton di Cina. Pendeta Buddha ini sebelumnya sudah bertahun-tahun belajar tentang agama Buddha di kerajaan-kerajaan yang bercorak Buddha, seperti di Sriwijaya. Setelah dua hari berlayar, kapal yang tumpanginya diterjang badai. Sang pendeta pun terdampar dan terpaksa mendarat di “Ye Po Ti”, ejaan Cina bagi kata Jawadwipa atau Pulau Jawa. Besar kemungkinan, tanah yang ia darati adalah Tarumanagara yang memang terletak di Jawa bagian barat.

Peninggalan Purnawarman yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta lainnya adalah Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi. Prasasti Ciaruteun ditemukan di bukit rendah bepermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten, dan Ciaruteun. Prasasti ini semula terletak di aliran Sungai Ciaruteun, 100 meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane. Prasasti Ciaruteun ditulis dalam bentuk puisi 4 baris, berbunyi:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termahsyur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Pada Prasasti Ciaruteun terdapat pandatala atau jejak kaki, yang berfungsi mirip tanda tangan pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti ini menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama Rajamandala (raja daerah) Pasir Muhara. Sampai abad ke-19, tempat itu masih disebut Pasir Muara (kini termasuk wilayah Kec. Cibungbulang).

Sementara itu, Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan sebaris puisi berbunyi:

Kedua jejak telapak kaki ini adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Dewa Indra, Dewa Perang dan Dewa Guntur. Gajah perang Purnawarman pun diberi nama Airawata. Bahkan, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah. Ukiran bendera dan sepasang lebah itu ditatahkan pada Prasasti Ciaruteun (para ahli sejarah masih berdebat tentang maknanya). Ukiran kepala gajah bermahkota teratai dan ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki tersebut masih belum terpecahkan bacaannya sampai kini. Sebagian ahli menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar, atau kombinasi matahari dan bulan (surya-candra).

Di daerah Bogor, ada satu prasasti lainnya, yaitu Prasasti Batu yang berada di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kec. Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir Sungai Cikasungka. Prasasti ini pun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris, berbunyi:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma, serta baju perisai (warman)-nya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya. Kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Pemberontakan Cakrawarman

Setelah meninggal, Purnawarman bergelar Sang Lumah ing Tarumanadi karena abu jenasahnya di-larung-kan di Sungai Citarum. Selanjutnya, takhta turun kepada anak sulungnya, Wisnuwarman dengan nama nobat Sri Maharaja Wisnuwarman Iswara Digwijaya Tunggal Jagatpati. Wisnuwarman dinobatkan pada tanggal 14 paro-terang bulan Posya tahun 356 Saka (434 M).

Tiga tahun setelah penobatan Wisnuwarman; Cakrawarman, adik Purnawarman dan paman Wisnuwarman, melakukan pemberontakan karena merasa lebih berhak atas takhta kerajaan. Awalnya Cakrawarman tak secara terang-terangan melakukan kudeta. Mulanya, ia menyuruh seseorang untuk membunuh Raja Wisnuwarman ketika tertidur di peraduan. Namun, orang suruhan tersebut gagal melakukan perintahnya karena kagum akan kecantikan permaisuri Raja yang terlelap di sebelah Raja. Ia pun tertangkap dan diadili. Ketika disidang, ia mengaku bahwa dirinya disuruh Cakrawarman, orang kedua di Tarumanagara. Sementara itu, Cakrawarman yang telah mengetahui bahwa rencananya bocor langsung meninggalkan istana dan beserta para pengikutnya berkumpul di Wanagiri, sebelah tengah Jawa Barat, guna merencanakan langkah berikutnya. Ia merasa yakin bahwa pemberontakannya akan berhasil karena didukung oleh sejumlah pembesar dan panglima dari negara-negara taklukan Tarumanagara yang mendukungnya menjadi raja pengganti kakaknya, Purnawarman.

Setelah markasnya di Wanagiri berhasil direbut oleh pasukan Tarumanagara, Cakrawarman segera meminta bantuan kepada Kerajaan Cupunagara di mana yang menjadi rajanya tak lain adalah mertuanya sendiri, yanki Prabu Satyaguna, bawahan Tarumanagara. Satyaguna yang masih setia kepada Tarumanagara hanya memberi Cakrawarman perbekalan dan senjata dan meminta menantunya itu segera meninggalkan wilayah Cupunagara. Cakrawarman pun pergi dan tiba di hutan yang termasuk wilayah Indraprahasta. Ia tak tahu bahwa Raja Indraprahasta, Prabu Wiryabanyu, telah diperintah oleh Wisnuwarman untuk menghadang pasukan Cakrawarman. Singkat cerita, pasukan Tarumanagara setelah mengetahui kemah persembunyian pasukan Cakrawarman, segera menyerang musuh pada pagi hari sekali. Semua perwira dari pihak Cakrawarman terbunuh dan tertawan; Cakrawarman sendiri tewas dalam pertempuran tersebut.

Wisnuwarman berkuasa selama 21 tahun dari 434-455. Permaisurinya bernama Suklawarmandewi, adik raja Bakulapura. Suklawarmandewi tak memberikannya keturunan karena keburu wafat akibat sakit. Yang menjadi permaisuri selanjutnya adalah Suklawatidewi, putri Wiryabanyu yang terkenal kecantikannya. Dari Suklawatidewi, Wisnuwarman memiliki beberapa putra. Putra yang sulung, Indrawarman, kemudian menggantikan kedudukannya.

Indrawarman bergelar Sri Maharaja Indrawarman Sang Paramartha Saktimahaprabhawa Lingga Triwikrama Bhuwanatala, dan berkuasa selama 60 tahun (455 – 515). Setelah wafat, ia digantikan putranya, Candrawarman, yang bergelar Sri Maharaja Candrawarman Sang Hariwangsa Purusasakti Suralagawageng Paramartha, yang bertakhta tahun 515-535.

Prasasti Pasir Muara di Bogor yang dibuat pada 458 Saka (536 M) menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada seorang penguasa Kerajaan Sunda oleh pihak Tarumanagara. Pada tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman yang memerintah dari 535-561 M. Bunyi prasasti tersebut adalah:

Ini sabdakalanda Rakryan Juru Pangambat i kawihaji panyca pasagi marsan desa barpulihkan haji Sunda (Ini tanda ucapan Rakeyan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan negara dikembalikan kepada raja Sunda).

Nama Rakeyan Juru Pengambat pada prasasti di atas kemungkinan merupakan seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja Tarumanagara di daerah Sunda tersebut. Bisa jadi, daerah tempat ditemukan prasasti tersebut (Pasir Muara, Bogor) merupakan pusat Kerajaan Sunda atau sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda, di mana Kerajaan Sunda sendiri termasuk ke dalam wilayah Tarumanagara. Inilah sumber sejarah tertua (abad ke-6) yang menuliskan nama “Sunda” sebagai nama wilayah administratif.

Prasasti Pasir Muara juga memberitakan bahwa Raja Sunda pada 536 M telah mengubah status Ibukota Sundapura menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, besar kemungkinan pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain, bukan lagi di Sundapura. Ada pun Kampung Muara, tempat Prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah kota pelabuhan sungai yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Sungai Cisadane-Sungai Cianten. Hingga abad ke-19, jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Kini sungai itu masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Pustaka Jawadwipa memberikan keterangan bahwa pada masa pemerintahan Candrawarman, ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Pada 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru bernama Kendan yang berlokasi di Nagreg (antara Bandung dengan Limbangan, Garut). Adapun putra Manikmaya yang bernama Rajaputera Suraliman tinggal bersama kakeknya, Suryawarman, di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Kelak, cicit Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan Kerajaan Galuh pada 612 M.

Kehidupan Sosial-Ekonomi Tarumanagara

Hanya sedikit sumber sejarah yang dapat melukiskan bagaimana kehidupan sosial dan ekonomi rakyat Tarumanagara. Dalam hal keagamaan, jelas bahwa raja dan kalangan istana menganut kepercayaan Hindu-Wisnu dan sebagian lagi Buddha. Praktik Hindu-Wisnu oleh raja-raja Tarumanagara ini terbukti dengan adanya selamatan yang dilakukan para kaum brahmana yang disertai 1.000 ekor sapi yang dihadiahkan yang diperuntukkan bagi Purnawarman dalam Prasasti Tugu. Akan tetapi, apakah masyarakat Tarumanagara juga mayoritas memeluk Hindu. Bisa jadi, mereka kebanyakan masih memegang kepercayaan terhadap leluhur (nenek moyang) dan alam sekitar (animisme-dinamisme).

Dalam hal profesi, masyarakat Tarumanagara adalah komunitas peladang, yang hidupnya tak menetap alias nomaden. Maka dari itu, perekonomian mereka tergantung kepada hasil berladang yang akan mereka tukarkan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan lainnya. Barang yang ditawarkan di antaranya adalah beras dan kayu jati. Kehidupan perekonomian Tarumanagara tercatat dalam kronik Fa-Hsien, seorang rahib Buddha dari Cina yang sempat singgah di Jawa Barat. Ia begitu terkesan dengan keterampilan para pedagang Tarumanagara.

Pembangunan “kanal” Chandrabaga dan Gomati sangat berpengaruh terhadap kehidupan perekonomian. Kedua sungai tersebut selain berfungsi sebagai sarana pencegah banjir, juga berfungsi sebagai sarana lalu lintas air dan perdagangan antara Tarumanagara dengan kerajaan atau daerah lain. Penggalian Kali Chandrabaga dan Gomati yang dilakukan secara bersama-sama ini memperlihatkan semangat “gotong-royong” masyarakat Tarumanagara. Pustaka Jawadwipa menyebutkan, pada masa Tarumanagara aktivitas “gotong royong” ini disebut karyabhakti.

Kemunduran Tarumanagara

Setelah Suryawarman, berturut-turut Tarumanagara diperintah oleh Kretawarman (561-628 M), Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).

Untuk mengingat kembali, berikut adalah raja-raja Tarumanagara dari yang pertama hingga yang terakhir.

1. Rajadirajaguru Jayasinghawarman Gurudharmapurusa (358-382).

2. Rajarsi Dharmayawarman-guru (382-395).

3. Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaparakrama Suryamahapurusa Jagatpati atau Sang Puramdara Saktipurusa (395-434).

4. Sri Maharaja Wisnuwarman Iswara Digwijaya Tunggal Jagatpati (434-455).

5. Sri Maharaja Indrawarman Sang Paramartha Saktimahaprabhawa Lingga Triwikrama Bhuwanatala (455-515).

6. Sri Maharaja Candrawarman Sang Hariwangsa Purusasakti Suralagawageng Paramartha (515-535).

7. Suryawarman (535-561).

8. Kretawarman (561-628 M).

9. Sudawarman (628-639 M).

10. Dewamurti (639-640 M).

11. Nagajayawarman (640-666 M).

12. Linggawarman (666-669 M).

Pada 669 M Linggawarman, raja terakhir Tarumanagara, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman memunyai dua orang putri: yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi istri Dapunta Hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Nama Dapunta Hyang terdapat pada Prasasti Kedukan Bukit yang bertahun 605 Saka (683 M), yang terletak di tepi anak Sungai Musi, di kaki Bukit Siguntang sebelah barat Palembang. Teks yang berbahasa Melayu Kuno tersebut menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan membawa serta 2.000 orang. Dalam perjalanannya ia berhasil menaklukkan beberapa daerah.

Ada pun Tarusbawa berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Ia menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara. Karena pamor Tarumanagara sudah memudar, ia ingin mengembalikan keharuman masa Purnawarman yang berkedudukan di ibukota (purasaba) Sundapura. Pada 670 M, ia mengubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Tarusbawa sengaja mengirimkan utusan yang memberitahukan bahwa ia telah menjadi raja dari sebuah kerajaan baru kepada Raja Cina.

Tarusbawa sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka (18 Mei 669 M). Memang, tak ada keterangan pula yang mengungkapkan, apakah Kerajaan Sunda Sambawa ini sama dengan Kerajaan Sunda yang pada abad ke-6 disebutkan dalam Prasasti Pasir Muara di Bogor. Namun, bila diteliti bahwa tempat prasasti tersebut ada di sekitar Bogor, bisa jadi Kerajaan Sunda yang dikuasai Tarusbawa merupakan kerajaan yang dulu diberi wilayah kekuasaannya kembali oleh Suryawarman melalui Rakeyan Juru Pangambat. Dan jarak dari masa Suryawarman ke masa Tarusbawa hanyalah seabad.

Mengenai peralihan dari Tarumanagara ke Sunda, ada kronik Cina yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri Cina adalah pada tahun 669 M. Di Cina sendiri ketika itu yang berkuasa adalah Dinasti Tang. Setelah tahun tersebut, tak ada lagi berita tertulis dari Cina yang menyinggung Kerajaan “Tolomo” ini. Besar kemungkinan, pada masa tersebut memang kerajaan ini telah “berganti nama” menjadi Kerajaan Sunda.

Sementara itu, putra mahkota Kerajaan Galuh menikahi Parwati, anak Ratu Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga (Keling atau Ho Ling), Jawa bagian tengah. Dengan dukungan Kalingga, penguasa Kendan-Galuh, Wretikandayun, menuntut Tarusbawa agar bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Untuk menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Pada 670 M, Tarumanagara dibagi menjadi dua kerajaan: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai tapal batas.

Kepustakaan

Atja dan Edi S. Ekadjati. 1987. Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara I.1: Suntingan Naskah dan Terjemahan. Bandung: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 707Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 14644Dibaca Per Bulan:
  • 347479Total Pengunjung:
  • 642Pengunjung Hari ini:
  • 13916Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: