Tentang Wilhem Dilthey

Nella Desriana (Semester IV)

Salah satu dari kelompok idealis atau humanis, mengkritik pendirian metodologis positivisme. Ia berpandangan bahwa tindakan manusia harus dimengerti bukan hanya dinalar, karena di samping memiliki dimensi fisik, individu juga memiliki dimensi moral yang hanya mungkin ditangkap dengan metode verstehen (pengertian). Pada abad ke-20 wacana methodenstreit diramaikan oleh kelompok filosof dari Frankfurt School, kubu anti-positivisme yang mengembangkan suatu ilmu sosial kritis. Salah satu ciri utama teori kritis adalah bahwa apa yang diperlakukan sebagai ‘kebenaran’ seharusnya ditentukan oleh cara-cara khusus di mana teori ilmiah harus berkaitan dengan tindakan praktis. Kritik ilmu sosial kritis terhadap ilmu sosial positivistik ialah wataknya yang ahistoris, karena proses-proses dan tindakan manusia tidak dapat dipaksakan menurut hukum-hukum universal model ilmu alam. Karena fenomena sosial secara historis dikondisikan oleh pengalaman-pengalaman sezaman dan secara kultural ditentukan oleh nilai-nilai dominan yang dianut, yang mana kemudian konsepsi ini menjadi dasar ilmu sosial.
Masalah ilmu sosial sekarang adalah bahwa sebagian besar wacana ilmu sosial sudah terlalu eurosentrisme, karena peradaban Barat yang konvensional dan hegemonik tidak mengakui adanya berbagai ilmu lain yang berasal dari peradaban dan budaya lain yang berbeda-beda. Ilmu modern Barat dianggap sebagai warisan orisinil peradaban dunia “maju” yang harus diadopsi oleh dunia non-Barat, walaupun sebenarnya peradaban di luar Barat tersebut dapat menghasilkan jenis-jenis ilmu yang berbeda dengan paradigma masing-masing. Hal ini juga menjadi permasalahan bagi perkembangan ilmu sosial di Indonesia, dimana ilmu sosial di Indonesia menjadi ahistoris. Dikarenakan pengabaian kekhususan historis-kultural dan kawasan geografi dalam menerapkan teori-teori dan metodologi Barat. Ilmu sosial harus dapat menerangkan realitas yang terjadi dalam masyarakat dan menawarkan alternatif pemecahan berdasarkan asumsi-asumsi keilmuannya sambil memperbarui dirinya sendiri hingga tetap menjadi ‘ilmu normal’. Masalah utama ilmu sosial adalah bagaimana ilmu sosial sekarang dikaitkan dengan ketidakpastian pada dirinya dan dalam dunia realitas yang mengitarinya serta risiko-risikonya. Kondisi keilmuan dari ilmu sosial di Indonesia masih memerlukan pemikiran lebih lanjut.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1426Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15363Dibaca Per Bulan:
  • 348147Total Pengunjung:
  • 1310Pengunjung Hari ini:
  • 14584Kunjungan Per Bulan:
  • 9Pengunjung Online: