THE CLASH OF CIVILIZATION DALAM PERSIAN WAR (490-480 SM)

Harianti, M. Pd.

Indah Sri Pinasti, M. Si.

Sudrajat, S. Pd.


PERADABAN SEBAGAI IDENTITAS

A. Makna Peradaban

Salah satu karakteristik manusia sebagai makhluk hidup yang membedakannya dengan makhluk hidup lain adalah dimilikinya peradaban sebagai sebuah way of life. Wikipedia menyatakan a civilization is a society in which large numbers of people share a variety of common elements. Budaya, bahasa, agama atau kepercayaan serta pengalaman historis merupakan elemen-elemen penting yang mendasari dan membentuk sebuah peradaban. Sebuah peradaban adalah bentuk budaya yang paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat dan tataran yang paling luas dari identitas budaya kelompok masyarakat manusia yang dibedakan secara nyata dari makhluk-makhluk lainnya.

Tonggak terpenting dalam perkembangan peradaban adalah agri-kultur dan peternakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa agrikultur merupakan sebuah revolusi kehidupan terpenting yang mampu merubah sejarah kehidupan umat manusia. Tanpa adanya budaya agrikultur barangkali sampai saat ini umat manusia masih terus hidup di gua-gua di tepi sungai dalam suasana berburu dan mengumpulkan bahan makanan (hunting and food gathering).

Dengan ditemukannya budaya agrikultur dan peternakan maka ditemukan sarana yang amat baik untuk merekonsiliasi perkembangan teknologi manusia dan pelestarian kesejahteraan biosfir. Ketika manusia telah bisa membudidayakan sebagian spesies tumbuhan dan binatang maka sebenarnya mereka telah mampu menggantikan seleksi alam dengan seleksi manusia.

Pada saat yang bersamaan manusia juga mulai hidup menetap di suatu wilayah sehingga sejarah perkembangan umat manusia memasuki fase baru dengan dimensi yang lebih bervariasi dan makna yang amat signifikan. Ditemukannya metalurgi memberikan dampak yang revolusioner pada kondisi material dan sosial manusia. Metalurgi telah mengangkat standar kehidupan material manusia meskipun diiringi dengan biaya sosial dan habitat. Biaya sosial yang dimaksud adalah adanya pembagian kerja sedangkan biaya habitat disebabkan oleh eksploitasi dan penggunaan material yang tidak dapat diperbarui.

Dalam perjalanannya, peradaban-peradaban mengalami dinamika, kemunduran dan berkembang. Ia bersifat dinamis, bangkit dan jatuh, menyatu dan saling terpisah. Menurut Toynbee, sebuah peradaban yang berkembang merupakan respons terhadap tantangan dan melampaui suatu periode pertumbuhan yang melibatkan bertambahnya kontrol terhadap lingkungannya yang dihasilkan oleh sebuah minoritas yang kreatif dan diikuti oleh suatu masa yang penuh tantangan, bangkitnya sebuah negara universal dan setelah itu mengalami suatu disintegrasi.

Peradaban memiliki relevansi yang signifikan dengan kebudayaan. Peradaban merupakan bentuk yang paling luas dari peradaban, dimana sebuah peradaban mencakup entitas kultural, perkampungan, wilayah, kelompok etnis, nasionalitas, kelompok keagamaan, dan lain sebagainya. Pada tataran yang lebih luas, dalam sejarah umat manusia peradaban besar pada umumnya mengacu kepada agama-agama besar dunia; dan orang yang memiliki kesamaan etnis dan bahasa namun berbeda dalam agamanya bisa saja saling membunuh satu dengan lainnya.

Mengutip pendapat Melko, Huttington membagi peradaban mayor umat manusia menjadi 8 yaitu: Peradaban Tionghoa (China); Jepang; India; Islam; ortodoks; Barat; Amerika Latin, dan peradaban Afrika. Sedangkan tujuh peradaban sebelumnya sudah tidak eksis lagi yaitu: peradaban Mesopotamia, Mesir, Kreta, Klasik, Byzantium, Amerika Tengah dan peradaban Andea. Dalam hal ini Huttington memandang peradaban sebagai broadest cultural entity, kebudayaan merupakan sebuah representasi dari wilayah yang sempit dan bervariasi menurut wilayahnya. Misalnya: Jerman, Inggris, dan Perancis adalah kebudayaan sedangkan Eropa adalah peradaban. Demikian juga Arab adalah kebudayaan sedangkan Islam adalah peradaban, Taiwan adalah kebudayaan sedangkan China adalah peradaban dan seterusnya.

B. Hubungan Antarperadaban

Sebagai individu setiap manusia mempunyai kebutuhan akan kebudayaan dan keagamaan, karena sebagai anggota masyarakat manusia akan mengatur hubungan dengan manusia yang lain. Demikian juga dengan peradaban sebagai entitas kultural dan keagamaan yang terpisahkan oleh ruang dan waktu, ia juga mengatur hubungan dengan peradaban lain. Huttington menyebutkan bahwa sebelum tahun 1500, hubungan antarperadaban, dengan beberapa pengecualian, tidak jelas, terbatas, sekaligus intens. Beberapa peradaban saling berafiliasi melalui hubungan yang intens.

Tenggelamnya sebuah peradaban segera diikuti dengan munculnya peradaban baru yang melanjutkan, memodifikasi, atau memodernisasi peradaban yang terdahulu. Hal ini dapat dilihat dalam kasus runtuhnya peradaban Kreta yang kemudian muncul peradaban baru yaitu Mycenae dengan mengadposi beberapa unsur peradaban Kreta. Dalam hal ini pertumbuhan dan perkembangan peradaban Mesopotamia jauh lebih kentara. Di wilayah tersebut, bangsa-bangsa Sumeria, Assyria, Akadia, Babylonia, Persia dan lain jatuh bangun membangun peradaban baru di atas puing-puing peradaban sebelumnya. Hal ini dapat terjadi karena peradaban satu dengan lainnya berhubungan secara politis, ekonomis, kultural maupun diplomatis.

Hubungan antar peradaban yang paling signifikan dan dramatis adalah ketika orang-orang dari peradaban lain menundukkan atau mengeliminasi peradaban lain. Hubungan-hubungan seperti ini menurut Huttington terjadi secara samar, sesaat dan bersifat kasar. Penyebab dari adanya eliminasi suatu peradaban oleh peradaban lain barangkali disebabkan oleh peperangan ataupun invasi suatu kelompok masyarakat terhadap masyarakat lainnya. Pada zaman kuno, hal seperti ini sangat sering terjadi sebagai akibat konflik politik atau karena adanya perluasan wilayah dari suatu imperium tertentu.

Namun tidak semua peperangan atau invasi militer dilanjutkan dengan eliminasi peradaban, budaya, dan sistem kemasyarakatan lainnya. Kadang-kadang seorang penakluk mengadopsi budaya dari masyarakat yang ditaklukkan. Alexander the Great dan Kubilai Khan adalah contoh. Hellenisme merupakan akulturasi budaya Yunani dan budaya Timur (Persia) sebagai dampak invasi militer Alexander ke Persia dan India bagian barat. Sedangkan Kubilai Khan lebih tertarik dan terpesona dengan keagungan dan kemegahan budaya China, setelah berhasil menganeksasinya.

Menurut ahli sosiologi, konflik baik yang terjadi melalui peperangan maupun perundingan dapat menyebabkan timbulnya kelompok baru dan mengembangkan identitas strukturalnya. Namun ketika konflik mengemuka dengan out-groups, maka hal ini dapat menyebabkan kuatnya identitas diri para anggota kelompoknya. Perang yang terjadi bertahun-tahun di Timur Tengah telah memperkuat identitas diri bangsa Arab-Israel. Kelompok keagamaan, kelompok etnis, dan kelompok politik sering berhasil mengatasi berbagai macam hambatan karena konflik menjalankan fungsi positifnya dalam memperkuat identitas in-groups.

KONTRADIKSI PERADABAN YUNANI-PERSIA

A. Peradaban Yunani

Peradaban Yunani merupakan salah satu peradaban yang mencapai tingkat kemajuan yang spektakuler di dunia kuno. Peradaban spektakuler lainnya antara lain: Mesir, Mesopotamia, India dan China. Kalau Mesir, Mesopotamia, dan China merupakan peradaban di lembah sungai, maka Yunani merupakan peradaban yang berkembang di laut.

Pada zaman kuno, Laut Tengah merupakan pusat perdagangan dan pertumbuhan ekonomi yang utama. Letaknya yang berada di tengah-tengah antara Eropa, Afrika, dan Asia memungkinkan terjadinya kontak perdagangan, politik, dan kultural antar kawasan. Karenanya tidak mengherankan apabila di kawasan Laut Tengah berkembang peradaban yang maju, sejak peradaban Minoa, Mycenae, Yunani, dan kemudian Romawi.

Athena merupakan salah satu city state yang menjadi icon kemajuan peradaban Yunani. Karakteristik budaya Yunani yang sampai saat ini menjadi icon budaya Barat adalah kebebasan dan demokrasi. Hal tersebut tergambar dalam pidato Leotychides sesaat sebelum terjadi pertempuran di Mycale sebagai berikut:

“Men of Ionia, listen, if you can hear me, to what I have to say. The Persians, in any case, won’t understand a word of it. When the battle begins, let each man of you first remember Freedom – and secondly our password, Hera. … Either the Persians would not know what he had said and the Ionians would be persuaded to leave them, or if words were reported to the Persians they would mistrust their Greek subjects”.

Dalam hal ini Pericles menyatakan bahwa pemungutan suara, jaminan persamaan bagi warga, dan pengakuan atas perbedaan diantara individu merupakan pilar terpenting dalam peradaban Yunani. Sedemikian bangganya bangsa Athena dengan demokrasi, persamaan hak, dan pencapaian budayanya sehingga mereka menyebut bagian dunia yang didiami oleh masyarakat yang beradab dengan sebutan oikoumene.

Mereka menyebut masyarakatnya beradab, dan menganggap bangsa lain sebagai orang aneh dan asing. Di telinga bangsa Yunani kata-kata yang terdengar dari ucapan orang aneh tersebut berbunyi bar-bar, bar-bar, sehingga mereka dianggap sebagai bangsa bar-bar yang berarti bangsa di luar bangsa Yunani. Suatu hal yang membedakan bangsa Yunani berbeda dengan komunitas manusia lainnya adalah polis. Menurut mereka polis mempunyai arti yang lebih dari sekedar kota. Polis adalah negara yang merdeka dan berdaulat dalam makna yang sesungguhnya. Polis membuat undang-undang yang berlaku di dalam kota, sedangkan keluar polis menyatakan perang kepada polis lain bila dianggap perlu. Polis memerintah dirinya sendiri. Yang diperintah adalah yang memerintah. Seperti yang dipaparkan oleh Aristoteles bahwa warga kota berganti-ganti diperintah dan memerintah.

Perbedaan dalam diri bangsa Yunani sedemikian mendasar, karena pemerintahan dijalankan dengan semacam perselisihan. Setiap warga berhak memilih dan berbicara di dalam majelis yang membuat undang-undang. Mereka juga berhak duduk sebagai juri di pengadilan. Bahkan banyak pegawai kantor yang direkrut melalui undian hanya demi memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh warga kota untuk ambil bagian dalam pemerintahan.

Peradaban Yunani tidak dapat dipisahkan dengan agama atau kepercayaannya. Pesta olahraga Olimpiade maupun pertunjukan drama di amphitheatre hanyalah merupakan perkembangan lebih lanjut dari upacara keagamaan. Demikian juga dengan arsitektur dan kesusasteraan yang mempunyai makna keagamaan yang tinggi. Aspek keagamaan dalam peradaban Yunani tidak hanya semata-mata agama, tetapi juga mencerminkan aspek-aspek kehidupan lainnya. Mereka tidak membuat batas yang jelas antara agama dan negara, tetapi mengidentikkan satu dengan lainnya. Perasaan keagamaan dan patriotisme sering diekspresikan sebagai kesetiaan kepada agama maupun negara. Undang-undang yang penting disyahkan oleh majelis untuk kemudian diukir di batu serta disimpan di Acropolis.

B. Peradaban Persia

Persia merupakan salah satu elemen peradaban Timur yang berlokasi di Iran sekarang. Iran terletak di daerah lembah Mesopotamia, sebuah kawasan dengan peradaban yang maju pada saat itu. Oleh kebanyakan ahli daerah tersebut dikenal dengan “the cradle of civilization” atau lahirnya peradaban. Sementara istilah lain yang sering disebutkan antara lain “the fertile crescent’ untuk menyebut daerah yang subur, sementara julukan “the Levant” menunjuk kepada arah (dimana bangsa Arab menyebut masyriq). Imperium Persia didirikan oleh Cyrus pada 549 BC. Setelah berhasil mendirikan kekaisaran, Cyrus berusaha untuk menguasai wilayah-wilayah di sekitarnya. Pertama kali bangsa Persia mengalahkan Chaldea, kemudian memperluas wilayahnya dengan menyerang Babylonia. Perluasan wilayah dilanjutkan oleh Cambyses dengan menganeksasi Mesir. Pada masa Darius I kekuasaan Persia telah membentang luas dari Laut Kaspia, India sampai ke Timur Tengah.

Kerajaan Persia merupakan sebuah kerajaan dalam arti modern karena di dalam kerajaan ini ditemukan negara-negara yang sebenarnya merdeka, namun memelihara individualitas, adat-istiadat maupun hukum-hukumnya sendiri. Kerajaan Persia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap bangsa-bangsa yang dikuasainya serta pada saat yang bersamaan membiarkan masing-masing bangsa dengan karakter, sifat dan budayanya sendiri.

Secara politis, kekuasaan Persia atas wilayah-wilayah yang dikuasainya dijalankan secara terpusat. Untuk kepentingan administratif, wilayah Persia di bagi ke dalam beberapa provinsi yang dikepalai oleh seorang satraps. Satraps merupakan kepala adminisrasi dan memimpin pasukan apabila sedang terjadi peperangan. Tanggung jawab lain dari satraps adalah mengumpulkan pajak.

Untuk menjaga loyalitas satraps raja mengirimkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasiya. Akibat dari sistem kekuasaan yang demikian adalah digunakannya tindakan-tindakan represif oleh aparat kekuasaan. Kadang-kadang terjadi perampasan barang atau hasil panen untuk memenuhi kuota pajak yang ditetapkan oleh raja. Tugas keamanan yang dibebankan kepada satraps juga menyebabkan satraps bertindak kejam dalam menangani berbagai masalah.

Untuk memahami peradaban suatu bangsa, kita harus memahami agama atau kepercayaan yang dianut oleh penduduknya. Pada umumnya agama bangsa Persia adalah Zoroastrianism dengan kitab suci yang disebut dengan Zend Avesta. Inti dari Zoroastrianism adalah perjuangan antara pencipta dunia (Ahuramazda) sebagai dewa api (the god of light) melawan Ahriman ( the god of darkness) sebagai dewa kegelapan. Tugas manusia adalah membantu dewa api dalam perjuangannya melawan dewa kegelapan. Seluruh raja Persia mendukung perjuangan Ahuramazda dengan mendukung peranan dewa api di muka bumi, menegakkan keadilan dan berperan menurut kebenaran. Dengan kepercayaan inilah raja-raja Persia mendapatkan legitimasi atas kekuasaan yang dipegangnya. Rakyat mematuhi seluruh kebijakan raja karena menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh raja sudah benar dalam rangka membantu dewa api dalam mewujudkan keadilan di muka bumi ini. Inilah salah satu karakteristik pemerintahan di dunia Timur, yang tentu berbeda dengan dunia Barat (Yunani) yang mendasarkan pemerintahannya prinsip-prinsip demokrasi dengan mengutamakan kebebasan serta terpenuhinya hak rakyatnya.

KRONOLOGI PERANG YUNANI-PERSIA

A. Latar Belakang

Di bawah kekuasaan Darius I, Persia merupakan sebuah kekuatan baru yang berusaha memperluas wilayah kekuasaanya. Setelah berhasil menguasai Lydia, wilayah kekuasaan Persia meluas sampai di daerah pantai Asia Kecil. Penguasaan Persia atas wilayah-wilayah di Asia Kecil yang dihuni oleh bangsa Yunani, khususnya suku Ionia, dirasakan sebagai sebuah penindasan.

Bangsa Yunani menjunjung tinggi kebebasan dan kemerdekaan. Mereka bermigrasi dari daerah asal mereka dengan tujuan untuk mendapat menikmati kebebasan tersebut. Dapat dikatakan bahwa kebebasan dan kemerdekaan merupakan jiwa mereka, sehingga penguasaan Persia dianggap sebagai perampasan atas jiwa kebebasan dan kemerdekaan mereka. Akibatnya koloni-koloni Yunani di Asia Kecil melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Persia. Salah satu pemberontakan tersebut dilakukan oleh Aristagoras dari Miletus pada tahun 495 SM.

Aristagoras menyadari bahwa Persia dibawah kekuasaan Darius I merupakan sebuah imperium yang besar dan memiliki kekuatan militer yang cukup disegani. Untuk menghadapinya, maka Aristagoras meminta bantuan kepada Yunani, khususnya kepada Sparta yang dikenal memiliki kemampuan militer yang hebat. Akan tetapi Sparta menolak memberikan bantuan karena menyadari bahwa mereka tidak akan sanggup untuk menghadapi kekuatan militer Persia. Miletus kemudian mencari bantuan ke Athena, daerah asal mereka (bangsa Ionia dan Achaia) yang tetap dianggap sebagai Fatherland. Athena memberikan bantuan 30.000 tentara dengan 20 buah kapal perang. Dengan bantuan dari Athena, Aristagoras melakukan pemberontakan dengan menyerang tentara Persia di Lade pada tahun 495 SM. Akan tetapi pemberontakan Miletus dapat ditumpas oleh Darius I. Meskipun telah berhasil menghancurkan Miletus, tetapi Darius I belum merasa puas. Ia ingin memberikan balasan terhadap Athena yang telah berani membantu kaum pemberontak. Darius berkeyakinan bahwa suatu saat nanti Yunani akan kembali membantu saudara-saudara mereka di Asia Kecil untuk melepaskan diri dari kekuasaan Persia.

B. Episode Pertama (490 SM)

Pada tahun 490 SM pasukan Persia di bawah pimpinan Datis dan Artaphernes berangkat dari Pulau Samos berlayar menyusuri Laut Aegea dan mendarat di Pulau Delos. Setelah merampas dan menghancurkan beberapa pulau, pasukan Persia bergerak menuju ke pantai Euboea dengan tujuan menduduki kota Eritrea. Setelah berhasil menaklukkan kota dagang Eritrea, pasukan Persia bermaksud menyeberang ke Attica dengan tujuan utama Athena. Atas nasehat Hippias, tiran Yunani yang menjadi penasehat Darius I, pasukan Persia bermalam di Marathon, sebuah tempat yang jaraknya sekitar 35 kilometer dari Athena. Marathon dijadikan basis serangan karena letaknya yang dekat dengan Athena. Di samping itu di Marathon pasukan Persia juga dapat mengerahkan pasukan kavallerinya, karena daerah ini merupakan sebuah dataran rendah.

Mendengar pendaratan pasukan Persia di Marathon, Athena berusaha mencari bantuan ke polis-polis Yunani lainnya. Athena mengirimkan Phedipiades ke Sparta guna meminta bantuan pasukan untuk menghadapi pasukan Persia. Namun Sparta tidak bersedia berperang sebelum bulan purnama, karena menurut kepercayaan mereka pertempuran sebelum bulan purnama akan mendatangkan kekalahan. Setelah melakukan persiapan selama 7 hari pasukan Athena di bawah pimpinan Callimachus dan Miltiades bergerak ke Marathon. Miltiades menyatakan “Tidak pernah terjadi dalam sejarah kita, Athena dalam keadaan bahaya seperti sekarang ini. Seandainya kita dikuasai oleh Persia, maka Hippias akan memulihkan kekuasaannya, dan ada sedikit keraguan apakah kesengsaraan akan terjadi. Namun apabila berperang dan menang, kota kita ini akan menjadi terkenal diantara kota-kota di Yunani”.

(Pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 10 September 490 SM).

Pidato Miltiades tersebut berhasil membakar semangat pasukan Yunani sehingga meskipun kalah dalam jumlah pasukan, mereka dapat memukul pasukan Persia ke bibir pantai Euboea dan mengalahkan mereka. Dalam pertempuran tersebut sebanyak 6400 orang pasukan Persia tewas, sedangkan Yunani kehilangan 192 orang prajuritnya. Akhirnya pasukan Persia mengundurkan diri dari Marathon melalui jalan laut. Pasukan Persia terus bergerak mundur melalui tanjung Sunium dan kembali ke Asia Barat.

Sementara itu pasukan dari Sparta yang datang beberapa hari setelah pertempuran hanya dapat menyaksikan Marathon yang sudah kosong. Kemenangan Athena atas Persia menaikkan prestise dan wibawa Athena di mata polis-polis Yunani yang lain. Miltiades disanjung oleh hampir seluruh polis Yunani karena kecakapan dan kecerdasannya dalam memimpin pasukan Athena.

C. Episode Kedua (480 SM)

Sepeninggal Darius, kekaisaran Persia diambilalih oleh puteranya, Xerxes. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan di Mesir, rasa percaya diri Xerxes atas kekuatan militernya meningkat. Sebagai orang Persia yang mempunyai agama dan jalan hidup yang diwarisi dari para leluhurnya, Xerxes sangat tersinggung dengan kekalahan bangsa Persia atas Athena di Marathon pada tahun 490 BC. Dalam kaitan dengan hal tersebut Xerxes mengungkapkan: “Kita, bangsa Persia mempunyai sebuah jalan hidup yang diwarisi dari para leluhur untuk diikuti. … Ini merupakan bimbingan Tuhan dan apabila diikuti kita akan mendapat kemakmuran yang besar. … Saya akan menyeberangi Hellespont dan berjalan melalui Eropa ke Yunani, dan menghukum Athena atas penghinaan yang mereka lakukan kepada ayahku dan kepada kita.

Persiapan untuk melakukan serangan kembali ke Yunani telah dilakukan sejak tahun 483 SM. Xerxes memerintahkan kepada seluruh satraps (provinsi) untuk mengirimkan tentaranya guna berperang melawan Yunani. Pada tahun 481 SM pasukan Persia berkumpul di Sardis, ibukota Lydia, yang dijadikan pangkalan militer oleh Persia. Pasukan Persia kali ini dipimpin oleh Mardonius, Achaemenes, Masistes, dan Artemesia. Angkatan darat Persia bergerak ke arah barat daya berusaha menyeberangi Laut Marmora dengan membangun jembatan darurat. Diperlukan kira-kira 300 buah kapal untuk membangun jembatan penyeberangan ini. Selama 7 hari penuh seluruh pasukan Persia berhasil diseberangkan melalui jembatan tersebut.

Gerakan pasukan Persia yang sangat cepat tersebut membuat polis-polis di Yunani merasa cemas. Mereka kemudian mengadakan musyawarah di Corinthia yang memutuskan untuk menghadang pasukan Persia di Thermophylae. Pasukan Yunani, yang dipimpin oleh Leonidas, raja Sparta, menghadang pasukan Persia di Thermophylae pada tahun 480 SM. Pada awalnya pasukan Yunani mendapat tempat yang strategis sehingga lebih menguasai medan pertempuran. Akan tetapi secara tiba- tiba pasukan Persia berhasil menusuk pertahanan pasukan Yunani dengan cara mendaki jalan sempit di pegunungan. Ephialtes, seorang Yunani yang memberitahukan adanya jalan tersebut kepada Xerxes. Dengan gerakan tersebut maka pasukan Yunani menjadi terkepung. Dalam pertempuran tersebut raja Leonidas dan sebagian besar pasukan Yunani terbunuh. Kemenangan ini membuka jalan ke Athena yang jaraknya tinggal 85 mil atau kurang dari 2 hari bila ditempuh dengan perjalanan darat. Setelah jatuhnya Thermophylae, angkatan darat Persia bergerak memasuki Boeotia dan Attica. Athena berhasil diduduki tanpa perlawanan yang berarti. Sesuai dengan sumpahnya, maka Xerxes memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan dan membakar kota tersebut. Penduduk Athena berusaha menyelamatkan diri ke Peloponnesos, sedangkan sebagian penduduk lainnya berlindung Acropolis.

Pada saat angkatan darat Persia memasuki Attica dan Athena, angkatan lautnya bergerak memasuki perairan Artemisium. Sebenarnya angkatan laut Yunani di bawah pimpinan Eurybiades telah siaga di Artemisium untuk mencegatnya. Serangan pertama angkatan laut Yunani terhadap angkatan laut Persia dilancarkan pada tahun 480 SM. Pertempuran antara angkatan laut Persia menghadapi angkatan laut Yunani di Artemisium berlangsung selama tiga hari. Dengan taktiknya yang cukup jitu, angkatan laut Yunani dapat memancing sebagian besar kapal-kapal Persia untuk bergerak ke Teluk Salamis. berdasarkan perhitungan kalender Yulian peristiwa tersebut kemungkinan besar terjadi tanggal 17 -20 September 480 SM.

D. Titik Balik Kemenangan Yunani

Salamis merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di Teluk Saronic. Letak Pulau Salamis tidak menguntungkan dalam strategi militer, karena diapit oleh Semenanjung Attica, Semenanjung Peloponnesos, Pegunungan Aegaleos, dan Pulau Aegina di sebelah selatan. Angkatan laut Persia yang tidak memahami wilayah perairan di Yunani, berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Mereka terjebak di perairan yang sempit di Pulau Salamis dengan Pegunungan Aegaleos di belakang mereka. Hal ini menyebabkan angkatan laut Persia tidak dapat mengerahkan kekuatannya secara maksimal. Sementara itu angkatan laut Yunani berada di dalam posisi yang menguntungkan. Mereka berada di wilayah perairan yang luas sehingga dapat mengerahkan kekuatannya secara maksimal serta mengembangkan taktik perangnya.

Pertempuran di Salamis pada tahun 480 SM. merupakan titik balik (turning point) yang amat menentukan. Bagi bangsa Yunani, pertempuran di Salamis merupakan awal kebangkitannya sehingga mereka dapat meraih kemenangan dalam pertempuran-pertempuran berikutnya. Sementara itu bagi bangsa Persia pertempuran ini merupakan awal dari kekalahannya, sehingga memaksa Xerxes untuk segera meninggalkan Yunani. Kekuatan pasukan Yunani yang berjumlah 380 kapal perang berhadapan dengan 800 kapal perang Persia. Dalam pertempuran di Salamis ini angkatan laut Persia mengalami kekalahan karena kesalahan taktik dan strategi. Mereka berada di perairan yang sempit sehingga tidak dapat membentuk formasi serangan sesuai dengan taktik perang yang direncanakan. Di samping itu mereka juga mendapat serangan dari darat oleh angkatan darat Yunani dibawah pimpinan Aristides yang berhasil didaratkan di Psyttaleia, Hal ini menyebabkan pasukan Persia berada dalam keadaan yang sangat kritis karena harus menghadapi pasukan darat dan laut dalam waktu yang bersamaan. Posisi mereka terjepit sehingga banyak prajurit Persia menjadi korban. pertempuran di Salamis terjadi selama tiga hari yaitu mulai tanggal 29 September sampai tanggal 2 Oktober 480 SM.

Xerxes yang menyaksikan pertempuran tersebut dari Pegunungan Aegaleos memutuskan untuk menerobos formasi kapal-kapal Yunani dan langsung mundur. Keputusan ini diambil untuk menghindari kerugian lebih besar yang akan dialami pasukannya. Xerxes memulai gerakan mundurnya pada malam hari dengan rute yang sama pada waktu mereka berangkat ke Yunani. Setelah melalui perjalanan yang berat selama 48 hari, akhirnya Xerxes sampai di Hellespon. Kemenangan bangsa Yunani dalam pertempuran di Salamis menumbuhkan moral dan semangat juang mereka. Setelah berhasil memukul mundur angkatan laut Persia di Salamis, pasukan Yunani menghimpun kekuatan untuk menghancurkan angkatan darat Persia yang masih bertahan di Attica. Melalui beberapa pertempuran antara lain di Plataea, Mycale dan lain-lain, pasukan Yunani dapat mengalahkan pasukan Persia. Kemenangan ini dianggap sebagai kemenangan peradaban Barat yang memiliki karakteristik kebebasan dan demokrasi atas peradaban Timur dengan karakteristik despotisme. diperkirakan Xerxes sampai di Hellespon pada tanggal 15 November 480 SM.

SIMPULAN

Menurut Huttington, pasca runtuhnya komunisme, persoalan pokok yang menjadi sebab meletusnya konflik bukan lagi persoalan ideologi, politik maupun persoalan ekonomi, tetapi peradaban. Budaya, bahasa, agama atau kepercayaan serta pengalaman historis merupakan elemen-elemen penting yang mendasari dan membentuk sebuah peradaban. Sebuah peradaban adalah bentuk budaya yang paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat dan tataran yang paling luas dari identitas budaya kelompok masyarakat manusia yang dibedakan secara nyata dari makhluk-makhluk lainnya.

Menurut ahli sosiologi, konflik, baik yang terjadi melalui peperangan maupun perundingan dapat menyebabkan timbulnya kelompok baru dan mengembangkan identitas strukturalnya. Namun ketika konflik mengemuka dengan out-groups, maka hal ini dapat menyebabkan kuatnya identitas diri para anggota kelompoknya. Perang Yunani-Persia merupakan representasi dari persaingan antara dua bangsa yang memiliki perbedaan peradaban dan kebudayaan. Masing-masing kelompok sangat yakin dengan kebenaran dan kekuatan pranata-pranata sosialnya. Hal inilah yang sebenarnya patut untuk dicatat sebagai perang antarperadaban.

Peperangan itu sendiri berlangsung dalam dua episode yaitu pertama terjadi pada tahun 490 SM. dan kedua terjadi sepuluh tahun kemudian. Dalam dua episode peperangan tersebut, bangsa Yunani berhasil mengalahkan bangsa Persia. Herodotus dengan lengkap dan detail mencatat kisah peperangan tersebut dalam karyanya ”The Historie” khususnya mulai bagian 7 sampai bagian 9. Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan kemenangan tersebut berarti bangsa Yunani memiliki tingkat peradaban yang lebih tinggi dibandingkan dengan Persia. Pertanyaan ini menjadi sangat menarik apabila dikaitkan dengan apa yang dilakukan oleh Alexander the Great kira-kira seabad sesudahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bambang Purwanto. (2006). Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta: Ombak.

Easton, Stewart C. (1955). The Heritage of the Past: From the Earliest Times to the Close of the Middle Ages. New York: Holt Rinehart and Winston.

Farmer, Paul. (1951), The European World: A Historical Introduction, New York:: Alfred A Knopf.

Gootschalk, Louis. (1986). Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Herodotus. (1977). The Historie (translated by Audbrey de Selincourt), Harmondsworth: Penguin Books.

Huttington, Samuel P. (2005). Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (terj. M. Sadat Ismail), Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Kuntowijoyo, (2005), Peran Borjuasi Dalam Transformasi Eropa, Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kuntowijoyo. (2008). Penjelasan Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Poloma, Margaret M,. (2004). Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Raja Grafindo.

Romein, JM., (1956). Aera Eropa: Peradaban Eropa sebagai Penyimpangan Pola Umum, Jakarta: CV Ganaco.

Sugihardjo Soemobroto, & Budiawan. (1989). Sejarah Peradaban Barat Klasik: Dari Prasejarah Hingga Runtuhnya Romawi. Yogyakarta: Liberty.

Thucydides, (1957). The History of The Peloponesian War, London: J.M. Dent & Sons Ltd.

Toynbee, AJ. (1963). Greek Civilization and Character. New York: Mentor Book.

Toynbee, AJ. (2004), Sejarah Umat Manusia: Uraian Analitis, Kronologis, Naratif dan Komparatif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Terbitan dan Internet

Herodotus. (1942). “The Persian Wars” (translated by George Rawlinson) tersedia dalam gopher://gopher.vt.edu:10010/10/33 didownload pada tanggal 10 April 2008.

Huntington, Samuel P. (1993) “The Clash of Civilizations And the Remaking of World Order” tersedia dalam http://www.washingtonpost.com/wpsrv/style/longterm/books/chap1/clashofcivilizations.htm didownload pada tanggal 20 Juni 2008.

Katimin (2007). “Menuju Tata Dunia Baru: Hubungan Barat Islam (Perspektif Historis-Politis)”, Analytica Islamica, Vol. 9, No. 1, 2007. hlm. 162-168.

Wheeler, Kevin. (2001). “The Persian Wars” tersedia dalam www.geocities.com/ caesarkevin/battle/greekbattle didownload pada tanggal 20 Juni 2007.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 608Dibaca Hari Ini:
  • 1996Dibaca Kemarin:
  • 16541Dibaca Per Bulan:
  • 349252Total Pengunjung:
  • 574Pengunjung Hari ini:
  • 15689Kunjungan Per Bulan:
  • 6Pengunjung Online: