TINJAUAN SINGKAT ASAL-USUL DAN SEJARAH KERAJAAN PAJANG (KORT BESCHOUWING EN GESCHIEDENIS VAN PAJANG KONINKRIJK) 1549 – 1589

Oleh. Sudarno

I

PENDAHULUAN

Perlu saya sampaikan di sini bahwa untuk merekonstruksi sejarah Sejarah Indonesia abad XVI dan sebelumnya pasti terdapat banyak kesulitan. Kesulitannya adalah berkenaan ketersediaan sumber sejarahnya. Sumber-sumber sejarah yang digunakan untuk penulisan artikel ini hanya berasal dari beberapa serat-serat babad, kronik, hikayat dan sejenisnya serta buku-buku teks yang relevan. Bukti-bukti sejarah relevan sezaman yang lebih dapat dipercaya tidak ada sama sekali. Sumber yang berupa kisah kronik itu sudah pasti ditulis tidak pada zamannya, dan ada beberapa versi sehingga terdapat perbedaan-perbedaan tentang nama-nama tokoh, nama tempat, dan angka tahunnya yang perlu didekati dengan metode historis-filologis.

Saya menyadari bahwa artikel ini masih banyak kekurangannya, sehingga saya sangat mengharapkan masukan-masukan, kritik, dan saran dari peserta seminar ini.

II

ASAL-USUL

Wilayah pedalaman Jawa Tengan yang sejak abad X tidak lagi menjadi pusat kekuasaan suatu kerajaan semenjak Gunung Merapi meletus. Baru enam abad kemudian tepatnya pada pertengahan kedua abad XVI muncul kekuatan baru yaitu Kerajaan Pajang. Kerajaan Pajang, menurut ceritera babad, merupakan penerus Kerajaan Majapahit melalui Kadipaten Pengging di daerah pedalaman Jawa Tengah dan Kerajaan Demak di daerah pantai utara Jawa. Pada awalnya Kadipaten Pengging adalah sebagai bawahaan dari Kerajaan Majapahit. Majapahit direbut oleh Demak, konsekwensinya Penging harus mengakui keberadaan Kerajaan Demak. Setelah Demak jatuh, Pengging muncul sebagai kerajaan yang menjadi embrio Kerajaan Pajang, yaitu kerajaan Islam pertama yang mempunyai pengaruh luas di Jawa Tengah.

Menurut ceritera babad, Kerajaan Pajang ini merupakan kelanjutan dari kerajaan kecil yang berada di daerah Pengging yang dikuasai oleh seorang adipati, yaitu Ki Ageng Pengging alias Andayaningrat . Daerah Pengging itu – sekarang termasuk wilayah Kabupaten Boyolali – sebagai bawahan dari Kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit dikalahkan oleh Demak, kemudian kadipaten Pengging dikuasai oleh Kerajaan Demak.

Ki Ageng Pengging ini mempunyai dua orang putra, yaitu: Ki Kebo Kenanga dan Ki Kebo Kanigara. Ki Kebo Kanigara masih memeluk agama Hindu dan senang bertapa, di Gunung Merapi, sedang adiknya Ki Kebo Kenanga – sebagai penerus ayahnya menjadi adipati di Pengging – telah memeluk agama Islam, ajaran Seh Siti Jenar (Seh Lemah Abang). Ajaran Islam ini tidak disukai oleh kelompok Wali Songo yang mendukung kepemimpinan Demak. Aliran itu dianggap sebagai aliran sesat, yang dikenal dengan aliran jumbuhing kawula-gusti.

Dalam ajaran mistik Jawa, kata-kata jumbuhing kawula gusti (menyatunya hamba dan tuan) melukiskan tujuan tertinggi dalam hidup manusia, yaitu tercapainya kesatuan yang sesungguhnya (manunggal) dengan Tuhan. Uraian yang lebih rumit lagi karena kata kawula dan gusti menunjukkan status manusia yang paling rendah dan paling tinggi di dalam masyarakat. Dalam pemikiran orang Jawa, kesatuan kawula-gusti dilambangkan sebagai keris. Kedua bagian keris: sarungnya (warangka) dan matanya (curiga) diberikan penafsiran yang sangat bersifat mistik. Sarung disamakan dengan manusia dan matanya disamakan dengan Tuhan., jadi melukiskan hubungan yang mutlak ada, yang satu tidak sempurna tanpa kehadiran yang lain

Oleh karena keyakinannya itu, sehingga Adipati Pengging itu tidak mau tunduk kepada Raja Demak, bahkan terdengar berita oleh Raja Trenggana bahwa ia akan melakukan penyerangan ke Demak. Dengan alasan itu Raja Trenggana mengutus seorang wali yaitu Sunan Kudus pergi ke Pengging. Tujuannya adalah supaya Adipati Pengging (Ki Kebo Kenanga) tidak lagi menganut ajaran yang dianggap sesat itu dan mau tunduk kepada Raja Trenggana – yang sudah lama tidak mau menghadap kepadanya. Kebo Kenanga menolak permintaan utusan itu, sehingga akhirnya ia dibunuh oleh Sunan Kudus pada tahun 1530?. Semenjak itu, Kadipaten Pengging berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak secara mutlak.

Penyerangan dari Demak di daerah pesisir ke Pengging di daerah pedalaman ini merupakan kelanjutan proses pergerakan islamisasi dari para wali di daerah pesisir utara Jawa. Perlu dipahami bahwa masyarakat pedalaman pada saat itu masih kental dengan kepercayaan agama Hindunya atau masih ”kafir”. Ditambahkan pula Islam masuk ke daerah pedalaman menjadi sangat lamban. Akibatnya ajaran Seh Siti Jenar, yang telah diuraikan di atas, mudah berkembang di daerah pedalaman; dan sejak runtuhnya Kadipaten Pengging ini maka agama Islam sedikit demi sedikit mulai berkembang di daerah pedalaman Jawa Tengah.

Setelah Pengging jatuh ke dalam kekuasaan Demak, Jaka Tingkir diangkat menjadi Adipati Pengging. Secara genealogi, sebetulnya Jaka Tingkir ini adalah seorang putera dari Ki Kebo Kenanga – seorang Adipati Pengging yang telah dibunuh oleh Sunan Kudus dari Demak. Ia dilahirkan kira-kira pada tahun 1430 di desa Tingkir (sekarang termasuk daerah di Salatiga). Ia diberi nama Mas Karebet. Ketika itu ayahnya sedang bersama dengan Ki Ageng Tingkir menyelenggarakan pertunjukan wayang beber di sana. Oleh karena tinggal di desa Tingkir, maka ia juga disebut Jaka Tingkir, artinya sorang anak yang rupawan dari Tingkir. Ia adalah masih keturunan dari Brawijaya (Raja Majapahit), yaitu cucu dari Andayaningrat (Adipati Pengging)+ Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya). Silsilah yang selalu menarik ke garis keturunan orang besar (seperti raja, orang suci, dan sebagainya) tampaknya selalu mewarnai silsilah para raja di dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk melegitimasi kekuasaan seorang raja (penguasa) – yang berasal dari orang kebanyakan.

Setelah Ibunya meninggal dunia, Jaka Tingkir diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir. Ketika sudah dewasa ia senang berguru kepada orang-orang pandai seperti misalnya Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela; dan akrab bergaul dengan cucu Ki Ageng Sela: Ki Juru Mertani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Penjawi. Menurut Serat Babad Tanah Jawi, Ia dinasehati oleh gurunya, Sunan Kalijaga, agar mengabdi ke Kerajaan Demak. Di sana ia diterima sebagai perawat masjid Demak berpangkat lurah ganjur.

Karena ketekunan, kecerdasan, keterampilan, dan kesaktiannya – dikisahkan ia dapat melompati kolam di depan masjid Demak yang cukup lebar dengan cara menghadap ke belang – kemudian ia diangkat menjadi prajurit Demak dengan pangkat wiratamtama. Ketika Jaka Tingkir diberi tugas untuk menyeleksi penerimaan prajurit, ia melakukan kesalahan. Calon prajurit itu, Dadungawuk, meninggal sebab kena pukulan yang mematikan. Karena itulah ia tidak dihukum tapi diusir dari Demak. Ia mengembara dan tiba ke Sunan Giri. Sunan Giri menasehatinya agar kembali ke Demak karena diramal kelak ia akan menjadi raja. Di dalam perjalanannya ke Pesangrahan Pawata, ia menyusuri sungai dengan menggunakan rakit yang didukung oleh pasukan buaya yang sudah dikalahkannya, seperi yang terdapat pada Tembang Asmorodono yang terdiri dari 3 pupuh: 1. sampun anjog ing bengawan, 2. sigra milir kang getek sinangga bajul, 3. sampun prapta jajahan wukir Parwata. Di daerah pesangrahan Perwata masih daerah Kerajaan Demak, Jaka Tingkir melepas kerbau yang diberi mantra sehingga menjadi gila dan meresahkan warga masyarakat. Tidak ada yang bisa menjinakkan kerbau gila itu, namun Jaka Tingkir dengan mudah membunuhnya. Sebagai hadiah ia mendapat jabatan dari raja sebagai lurah wiratamtama, dan diberi puterinya yang bungsu bernama Ratu Alunan dan daerah Pajang.

III

KERAJAAN PAJANG

Sebelum menjelaskan Kerajaan Pajang, terlebih dahulu akan diuraikan sedikit. tentang akhir pemerintahan Kerajaan Demak. Raja Trenggana di Demak meninggal dunia pada tahun 1546. Ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Sunan Prawata. Sunan Prawata tidak lama memimpin Demak karena dibunuh oleh Aria Penangsang (saudara sepupunya) pada tahun 1549. Sebelum dibunuh Sunan Prawata telah membunuh ayah dari Aria Penangsang, yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen (adik Raja Trenggana).

Untuk memperbesar kekuasaan dan wilayahnya, Penangsang menyerang Kadipaten Pajang (Jaka Tingkir). Namun usahanya itu gagal. Sepeninggal suwaminya, Ratu Kalinyamat (Jepara) menganjak kerjasama dengan Jaka Tingkir untuk membalas serangan Penangsang. Ajakan itu ditolak karena mereka masih kerabat Kerajaan Demak dan satu perguruan Sunan Kudus. Akhirnya Jaka Tingkir mengeluarkan sayembara, siapa yang dapat membunuh Aria penangsang akan dihadiahi tanah Pati dan Mentaok (Mataram). Sayembara itu dikuti oleh dua orang cucu dari Ki Ageng Sela, yaitu Kia Ageng Pemanahan dan Ki Penjawai. Atas nasehat kakak iparnya ( Ki Juru Martani) Ki Ageng Pemanahan meminta kepada puteranya bernama Sutawijaya agar dapat membunuh Aria Penangsang. Dengan pusaka tombak Kyai Plreret, Aria penangsang dapat dibunuh. Kelak Sutawijaya ini menjadi Raja Mataram dengan gelar Senopati Ingalaga.

Setelah peristiwa tersebut, pada tahun 1549 Jaka Tingkir mewarisi kerajaan Demak dengan pusat pemerintahannya di daerah Pajang. Dengan mendapat restu dan dukungan para wali di bawah koordinasi Sunan Giri, ia menobatkan dirinya dengan menggunakan gelar Raja Hadiwijaya. Wilayah kekuasaan Pajang meliputi daerah di Jawa Tengah dan beberapa daerah di Jawa Timur – sebagian besar daerah di Jawa Timur telah melepaskan diri semenjak kematian Raja Trenggana.

Munculnya pajang bukan karena dinasti raja-raja yang berasal dari Pengging, tetapi kehadirannya adalah akibat tantangan hegemoni yang beruntun antara daerah pesisir dan daerah pedalaman. Ditambahkan lagi, setelah hegemoni di Jawa dipegang oleh Pajang kondisi sosial-ekonominya menjadi berbeda dengan daerah pesisir karena lebih memusatkan kegiatan bercorak agraris. Kondisi yang seperti ini mendorong penguasa kerajaan cenderung menyelenggarakan pemerintahannya bersifat feodalistis.

Ada kecenderungan kerajaan di jaman dahulu ingin mengukukuhkan hegemoninya di atas kerajaan-kerajaan lainnya. Oleh karena itu sering terjadi saling serang-menyerang antara kerajaan yang satu dengan yang lain. Demikian halnya Kerajaan Panjang, setelah memperoleh kemenangan dari perebutan kekuasaan antar pewaris Kerajaan Demak, juga berusaha memperluas wilayahnya terutama daerah bekas bawahan kerajaan Demak atau Majapahit; sekaligus juga melalukan penyebaran agama islam. Inilah barangkali embrio rasa perastuan dan kesatuan yang sulit diciptakan ketika kerajaan di Indonesia menghadapi penjajah yaitu pemerintah kolonial Belanda.

Di dalam rangka mengkonsolidasikan kekuasaannya, Raja Hadiwijaya mengangkat rekan-rekan seperjuangannya. Mas Manca dijadikan Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikaan menteri berpangkat ngabehi. Pada tahun 1568 Raja Hadiwijaya mengadakan pertemuan dengan para adipati dari Jawa Timur yang dulu setia kepada Demak di Giri Kedaton yang diprakarsai oleh Sunan Prapen. Pada kesempatan itu para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas daeraah-daerah/negeri-negeri di Jawa Timur. Sebagai ikatan politik, Panjiwiryakrama dari Surabaya (pimpinan persekutuan adipati di Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Raja Hadiwijaya. Madura dapat juga ditaklukan. Penguasanya yang bernama Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu. Kecuali Kadipaten Pasuruhan sampai jatuhnya Kerajaan Pajang belum juga dapat ditaklukannya.

Pada jaman Kerajaan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran yang sangat penting di dalam menentukan kebijakan politik kerajaan, sedang di jaman Pajang, peran para wali tersebut mulai memudar. Pertemuan majelis ulama tersebut tidak berjalan dengan rutin. Namun demikian peranan para wali dalam pengambilan kebijakan politik di pajang kadang-kadang masih terjadi. Misalnya ketika Sunan Kalijaga membantu pemecahan permasalahan yang terjadi antara Ki Ageng Pemanahan dengan Hadiwjaya mengenai tanah Mentaok (Mataram).Agar persoalan itu dapat dipecahkan, Sunan Kalijaga meminta kepada Ki Ageng Pemanahan bersumpah setia kepada Raja Pajang. Sebaaliknya Raja Pajang harus menyerahkan tanah Mataram kepada putera angkatnya yaitu Sutawijaya (putera Ki Ageng Pemanahan).

Seiring dengan perkembangan waktu, Kerajaan Mataram tumbuh sebagai pemerintahan yang kuat dan pesat sehingga tidak mau patuh lagi sowan (1587) ke Pajang. Ini membuat Raja Pajang kuwatir akan hal itu. Pada tahun 1582 meletus perang antara Pajang dan Mataram yang disebabkan Sutawijaya membela adik iparnya – yaitu Tumenggung Mayang yang dihukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya. Pajang melakukan serangan terlebih dahulu. Sebelum terjadi pertempuran di Prambanan para prajuritnya tercerai berai karena Gunung Merapi meletus. Dari Prambanan Hadiwijaya kembali ke kerajaannya. Namun sebelumnya ia singgah di Tembayat (di Klaten).

Karena sudah tua, ia merasakan bahwa kerajaannya akan berakhir dan akan diganti Mataram yang akan memerintah seluruh Jawa. Tak lama kemudian Hadiwijaya meninggal, jenazahnya dikebumikan di dukuh Butuh (di daerah Kab. Sragen) pada tahun 1589. Menurut ceritera Babad, Hadiwijaya meninggal sebagai akibat (jatuh dari gajah naik gajah?) ulah dari Juru Tamannya yang simpati terhadap Raja Mataram.

Setelah terjadi kekosongan kekuasaan terjadilah petikaian antara putera dan menantunya yaitu antara Pangeran Benowo melawan Aryo pangiri. Pangiri mendapat dukungan dari Sunan Kudus, sehingga dapat naik takhta di Kerajaan Pajang pada tahun 1589. Karena kecewa, Pangeran Benowo bersekutu dengan Sutawijaya melawan Aryo Pangiri di Pajang. Pangiri dapat dikalahkan, sehingga Benowo menjadi raja Pajang III.

Sejak itulah Kerajaan Pajang menjadi kadipaten Kerajaan Mataram. Sutawijaya pada tahun 1586 menobatkan dirinya sebagai raja dengan gelar Panembahan Senopati Khalifatullah Sayidin Panatagama.

…………………………………………………………………..

M.C. Riklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 60-63; B. Schrieke, Indonesian Sociologigal Studies, II, Bandung: W van Hoeve Ltd, hal. 319.

Baca Babad Pajang dan Babad Pajajaran Dumugi Demak.

H.J De Graaf, Geschiedenis van Indonesie, s’Gravenhage: N.V Uitgevrij W van Hoeve, 1949, hal. 96-99; Dalam Serat Babad Pajajaran Dumugi Demak, pada tembang dandhanggula-+.

Menurut De Graaf, Kerajaan Majapahit sebelum jatuh di bawah kekuasaan Demak masih menganut agama Hindu atau masih merupakan kerjaan ”kafir”. Lihat H.J. De Graaf dan Th. G. Th. Pegeaud, Kerajaan-Kerajaan Isalm di Jawa, Jakarta: 1986, hal. 12.

“…. Lama-lama Andayaningrat peputra samya jalu kekalih, kang sepuh ingaran Dyan Kebo Kanigara arine bagus respati ngelmine limpat Kebo Kenanga nami ….”, Lihat Serat Babad Pajajaran Dumugi Demak, pada tembang Durmo.

Soemarsaid Moertono, Negara dan Bina Usaha Negara di Jawa Masa Lama: Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI-XIX, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985. hal 25-26

H.J De Graaf, Geschiedenis van Indonesie, s’Gravenhage: N.V Uitgevrij W van Hoeve, 1949, hal. 96-99. Bandingkan dengan Serat Babad Pajajaran Dumugi Demak, pada tembang Durmo; Lihat juga Riklefs, op. Cit. Hal 60.

Baca Babad Pajang, dan Marwati Djoenoed Poespowardoyo dan Nugroho Natasusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka, 1976, hal. 295; Armando, The Suma Oriental of Tome Pires, (Terj.), Paris I, 1944, hal. 166

Soemarsaid Moertono, Negara dan Bina Usaha Negara di Jawa Masa Lama: Studi Tentang Masa Mataram II Abad XVI-XIX, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985.

De Graaf, 1986. loc.cit.; Lihat juga pada Babad Tanah Jawi dan Serat Babad Pajajaran Dumugi Demak.

Soemarsaid Moertono, loc.cit.

Dalam Serat Babad Pajajaran Dumugi Demak.

Ibid., Hoesein Djajadiningrat, Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten. Haalem: Joh. Enschede en Zonen, 1913

Hoesein Djajadiningrat, hal 307. Lihat juga Babad Pajang, bandinkan dengan Sajaran Banten..

Ricklefs, loc.cit., Lihat juga Babad Tanah Jawi; Babad Pajang; dan Babad Pajajaran Dumugi Demak.

Mawarti Djoenoed Poesponegoro dan Nugroho Ntosusant, op.cit, hal 314-315

Ibid.; De Graaf, 1986. loc.cit Lihat juga Kasultanan Pajang, Wikipedia (internet).

Ibid. Hikayat Sejarah Banten Rente-Rente.

Graaf, 1986, hal 82-87, Lihat Babad Paajang.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1834Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13932Dibaca Per Bulan:
  • 346833Total Pengunjung:
  • 1654Pengunjung Hari ini:
  • 13270Kunjungan Per Bulan:
  • 5Pengunjung Online: