TIPOLOGI GERAKAN SEMPALAN DI KALANGAN UMAT ISLAM INDONESIA: Analisis Sosiologi Dan Fungsional

Nunu Burhanuddin

Pendahuluan

Fenomena aliran sesat atau gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia dewasa ini menjadi sangat populer seiring dengan sepak terjang dan catatan yang menyertainya. Belakangan ramai diberitakan keberadaan aliran sesat yang mengajarkan ajaran yang menyimpang dari mainstream, atau aliran dan agama yang menjadi induknya. Yang muncul di permukaan, kebanyakan lahir dari Islam sebagai aliran induknya, seperti shalat dengan dwi-bahasa di Malang, aliran Ahmadiyah dan seseorang yang mengaku memiliki nabi terakhir atau punya kitab suci sendiri seperti di Brebes, Tangerang, Tulungagung dan lain sebagainya. Padahal sejatinya tidak hanya monopoli Islam, agama lain juga memiliki kecenderungan berkembangnya aliran yang sama, seperti di Bandung beberapa waktu lalu dengan Sekte Hari Kiamat yang menginduk pada agama Nasrani.

Aliran sesat atau gerakan sempalan menunjuk berbagai gerakan atau aliran agama yang dianggap menyimpang (devian) dari aqidah, ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat yang baku. Istilah “sempalan” itu sendiri ini memiliki konotasi negatif, seperti protes terhadap dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran dan fanatisme.

Di Indonesia kesan negatif terhadap kelompok sempalan semakin menguat setelah kecenderungan gerakannya menjadi ancaman terhadap stabilitas dan keamanan berbangsa dan bernegara. Fakta terbaru tentang stigma ini seperti terlihat dari kelompok Ahmadiyyah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat yang mengarah kepada perilaku anarkis. Tak pelak pemerintah merasa perlu membatasi gerakan-gerakan sempalan untuk mewujudkan keamanan dalam berbangsa dan bernegara. Keterlibatan pemerintah yang terkesan intervensi terhadap kelompok sempalan sangat beralasan, lantaran gerakan yang pernah dicap “sempalan” pada umumnya telah dilarang atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa contoh yang terkenal adalah Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, kelompok Mujahidin Warsidi (Lampung), Syi’ah, Baha’i, Inkarus Sunnah, Darul Arqam (Malaysia), al-Qiyadah al-Islamiyah, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawwuf berfaham wahdatul wujud, Tarekat Mufarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah, Lia Eden, dan lain-lain.

Tulisan ini berupaya membuat tipologi kelompok-kelompok sempalan yang ada di kalangan umat Islam di Indonesia dan menelusuri faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut dengan berbagai lingkar konsentriknya.

Gerakan Sempalan: Istilah dan Latar Belakang Historis

1. Pengertian Gerakan Sempalan

Istilah ini konon pertama kali dipakai oleh Abdurrahman Wahid sebagai pengganti kata “splinter group”, kata yang tidak mempunyai konotasi khusus aliran agama, tetapi dipakai untuk kelompok kecil yang memisahkan diri (menyempal) dari partai atau organisasi sosial dan politik. Untuk “splinter group” yang merupakan aliran agama, kata “sekte” lazim dipakai.1

Berbicara tentang gerakan sempalan selalu bertolak dari suatu pengertian tentang ortodoksi atau mainstream (aliran induk). Artinya, tanpa ortodoksi maka takkan ada sempalan. Oleh karena itu, gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi. Karena menyempal, maka dihinakan sebagai aliran sesat dan dengan demikian ajarannya juga dianggap menyimpang.

Untuk menentukan yang sempalan, pertama-tama harus didefinisikan mainstream yang ortodoks. Menurut Martin Van Bruinessen, untuk kasus umat Islam di Indonesia, barangkali ortodoksi adalah aliran induk yang diwakili oleh badan-badan ulama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU).2 MUI sebagai lembaga ulama bentukan pemerintah sangat mendominasi ortodoksi ini, sehingga apa yang dinyatakan sesat oleh MUI akan dijadikan rujukan oleh pemerintah, meski Muhammadiyah atau NU berbeda pendapat. Jadi, ortodoksi merupakan paham yang dianut mayoritas ulama dan terkadang didukung oleh penguasa.

Sementara itu penilaian sesat atau tidak sesat sangat tergantung pada apa kata ajaran induk yang menjadi mainstream. lni tentunya menimbulkan kesulitan dalam bersikap. Padahal lahirnya aliran baru selalu dipandang sebagai kompetitor bagi aliran lama apalagi yang mayoritas. Suasana persaingan dan keterancaman terkadang menyertai perjalanan sejarah aliran-aliran itu. Masing-masing mengukuhkan dirinya sebagai ‘yang benar’ seraya menyatakan sesat bagi aliran yang lain.

Jika yang dimaksud dengan aliran induk atau ortodoksi adalah ahl al-sunnah wa al-jama’ah, maka yang menyimpang dari ahl al-sunnah wa al-Jamaah merupakan sempalan dan sesat. Ketika terjadi konflik antara lslam tradisionalis dan modernis awal abad ke-20, maka yang sempalan dan sesat adalah lslam modernis, karena Islam tradisionalis selalu mengklaim diri sebagai penganut ahl al-sunnah wa al-jama’ah (pengikut Rasulullah dan teman-teman setianya).

Di Indonesia, ketika Islam modernis berubah wujud menjadi Muhammadiyah dan Islam tradisionalis bermetamorfosis menjadi Nahdlatul Ulama (NU) justru keduanya menjadi aliran induk dan keduanya berhak menggunakan stempel sesat bagi aliran yang lain. Kesimpulannya, yang sesat bisa berubah menjadi tidak sesat, bila pengikutnya makin banyak atau pemerintah rnengakuinya sebagai aliran resmi penguasa, seperti kasus aliran Mu’tazilah di era Islam klasik.

Menurut Van Bruinessen, asumsi tentang relasi gerakan sempalan dengan ortodoksi bukan tanpa kendala, sebab istilah “ortodoksi” sendiri seringkali berubah-ubah. Adakalanya sesuatu itu bisa berubah menurut zaman dan tempat, dan yang “sempalan” pun berubah menjadi bersifat kontekstual sesuai dengan zaman yang melingkupnya. Sebagai illustrasi aliran keagamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan “mainstream” Islam yang ortodoks, dan yang menyimpang darinya adalah sempalan. Lalu, ketika terjadi konflik besar antara kalangan Islam modernis dan kalangan “tradisionalis”, kaum modernis merupakan sempalan dan sesat, dan sebaliknya para modernis menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus. Itulah sebabnya, kriteria yang tepat untuk mengukur garakan sempalan, kata Bruinessen, adalah kriteria sosiologis, bukan teologis. Artinya, gerakan sempalan yang dimaksud adalah kelompok atau gerakan yang sengaja memisahkan diri dari “mainstream” umat, mereka yang cenderung eksklusif dan seringkali kritis terhadap para ulama yang mapan.3

2. Penyebab Lahirnya Gerakan Sempalan

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi lahirnya berbagai gerakan sempalan, sebagai berikut.

Pertama, Peran ortodoksi yang tidak akomodatif. Secara sosiologi, “ortodoksi” dan “sempalan” bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; dan demikian gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan protes sosial atau politik.

Sebagai contoh, faham aqidah Asy’ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa ‘Abbasiyah pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu’tazili (yang waktu itu didukung oleh penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang sekarang dipandang sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis “gerakan sempalan”. Bahwa akhirnya faham Asy’ari-lah yang menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin bukan contoh yang terbaik — golongan Asy’ari tidak dengan sengaja memisahkan diri dari sebuah “mainstream” yang sudah mapan; faham yang mereka anut berkembang dalam dialog terus-menerus dengan para lawannya. Contoh yang lebih tepat adalah gerakan Islam reformis Indonesia pada awal abad ini (seperti Al Irsyad4 dan Muhammadiyah)5 yang dengan tegas menentang “ortodoksi” tradisional yang dianut mayoritas ulama, dan dari sudut itu merupakan gerakan sempalan.

Kedua, Dalam beberapa kasus terkait gerakan sempalan, latar belakang pendidikan dan pengetahuan agama para anggotanya relatif rendah dan bahkan sama sekali tidak mengerti dasar-dasar agama yang dianutnya, tetapi demikian kebutaan terhadap dasar-dasar agama ini diimbangi semangat keagamaan yang tinggi. Sebagian besar mereka sangat idealis dan sangat ingin mengabdi kepada agama dan masyarakat, meski mereka kecewa melihat bahwa kebanyakan tokoh-tokoh dan figur senantiasa siap berkompromi dalam menghadapi masalah politik dan sosial. Dalam pada ini para ulama tidak memberi penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab semua penyakit sosial tadi, apalagi memberikan jalan keluar yang konkrit dan jelas. Ketidakpuasan inilah yang kemudian menjerumuskan mereka untuk mencari ajaran atau aliran baru yang dipandang memuaskan.

Ketiga, Terdapat jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama (baca: ulama dan kalangan cendekiawan Muslim) dan kalangan muda yang frustrasi tetapi idealis, sehingga kalangan yang disebut terakhir cenderung terhambat untuk menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih moderat dan produktif. Mereka kemudian menjadi radikal karena masih dangkalnya pengetahuan agama. Tidak mengherankan kalau kritik dan serangan kelompok sempalan terhadap ulama “orto-doks” terkadang lebih keras daripada terhadap koruptor dan penguasa zalim sekalipun.6

Keempat, Sebagai akibat urbanisasi dan monetarisasi ekonomi, banyak ikatan sosial yang tradisional semakin longgar atau terputus. Dalam desa tradisional, setiap orang adalah anggota sebuah komunitas yang cukup intim, dengan kontrol sosial yang ketat tetapi juga dengan sistem perlindungan dan jaminan sosial. Jaringan keluarga yang luas melibatkan setiap individu dalam sebuah sistem hak dan kewajiban yang — sampai batas tertentu — menjamin kesejahteraannya. Dalam masyarakat kota modern, sebaliknya, setiap orang berhubungan dengan jauh lebih banyak orang lain, tetapi hubungan ini sangat dangkal dan tidak mengandung tanggungjawab yang berarti. Komunitas, seperti di desa atau di keluarga besar, sudah tidak ada lagi, dan kehidupan telah menjadi lebih individualis. Itu berarti bahwa dari satu segi setiap orang lebih bebas; tetapi dari segi lain, tidak ada lagi perlindungan yang betul-betul memberikan jaminan. Dalam keadaan seperti ini banyak orang merasa terisolir, dan merasa bahwa tak ada orang yang betul-betul bisa mereka percayai — karena sistem kontrol sosial dengan segala sanksinya sudah tidak ada lagi, dan karena orang lain juga lebih mengutamakan kepentingan individual masing-masing.7

Akibatnya dalam situasi seperti ini aliran agama sering dipandang bisa memenuhi kekosongan yang telah terjadi karena menghilangnya komunitas keluarga besar dan desa. Namun untuk dapat berfungsi sebagai komunitas, aliran ini mestinya cukup kecil jumlah anggotanya, sehingga mereka bisa saling mengenal. Aspek komunitas dan solidaritas antara sesama anggota diperkuat lagi kalau aliran ini membedakan diri dengan tajam dari dunia sekitarnya.8

Dari beberapa alasan yang menyeret lahirnya gerakan sempalan di atas, agaknya daya tarik aliran yang bersifat eksklusif (yaitu menghindar dari hubungan dengan umat lainnya) menjadi penyebab utama yang memicu tumbuh suburnya gerakan sempalan di kalangan umat Islam di Indonesia. Eksklusifitas ini kemudian diperparah dengan minimnya pengetahuan dan dasar-dasar keagamaan, sehingga mereka mudah terjebak dan terpedaya oleh aliran sesat atau gerakan sempalan tersebut.

Gerakan Sempalan Di Dunia Barat: Kerangka Teoritis

Untuk memahami tipologi gerakan sempalan di kalangan umat Islam, terutama yang ada di Indonesia ada baiknya mengelaborasi terlebih dahulu pandangan dua sosiolog agama Jerman yang mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai sekte dan gerakan sempalan, yakni Max Weber dan Ernst Troeltsch.

Max Weber terkenal dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte protestan dalam perkembangan semangat kapitalisme di Eropa, serta teorinya mengenai kepemimpinan karismatik.9 Sedangkan Troeltsch, teman dekat Weber, mengembang-kan beberapa ide Max Weber dalam studinya mengenai munculnya gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.10

Troeltsch membedakan dua jenis wadah umat beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu tipe gereja dan tipe sekte. Contoh paling murni dari tipe gereja adalah Gereja Katolik abad pertengahan. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha mencakup dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai wadah yang established (mapan), mereka cenderung konservatif, formalistik, dan berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan ekonomi.

Sebaliknya, tipe sekte, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama anggotanya berjalan secara egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya bersifat sukarela dimana orang tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte biasanya bersikap kaku kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada nilai moral yang ketat, serta mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material. Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih murni, lebih konsisten dengan wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam antara para penganutnya yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh kekurangan serta dosa. Seringkali, kata Troeltsch, sekte- sekte muncul pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan pendidikan rendah, dan baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering cenderung memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak budaya dan ilmu pengetahuan sekuler.

Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul sebagai oposisi terhadap ortodoksi (baca: gereja), yaitu gerakan mistisisme. Gerakan mistisisme, menurut Troeltsch, memusatkan perhatian kepada peng-hayatan ruhani-individual, terlepas dari sikapnya terhadap masyarakat sekitar. Penganutnya bisa saja dari kalangan yang sudah mapan (establishment), bisa juga dari kalangan yang tak setuju dengan tatanan masyarakat yang berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik kepada ajaran agama yang formal, apalagi kepada lembaga-lembaga agama (gereja, dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka adalah hubungan langsung antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya).

Kajian berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog agama dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya denominasi.11 Niebuhr melihat bahwa sekte-sekte muncul sebagai gerakan protes terhadap konservatisme dan kekakuan gereja (dan negara), kemudian lambat laun menjadi lebih lunak, mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak anggota yang telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota sudah tidak sama lagi, bibit-bibit hierarki internal telah ditanam, kalangan pendeta-pendeta muncul, yang mulai mengklaim bahwa orang awam memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte itu sudah mulai menjadi semacam gereja sendiri dan lahirlah gerakan sempalan baru, yang kemudian berkembang menjadi denominasi.

Teori Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap situasi Amerika Serikat yang sangat unik dimana semua gereja di sana memang merupakan denominasi yang berasal dari gerakan sempalan. Siklus perkembangan yang begitu jelas, agaknya berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat terdiri dari para immigran, yang telah datang secara bergelombang. Setiap gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah hingga datangnya gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik. Pendatang baru yang miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal; dengan kenaikan status mereka sekte itu lambat laun menghilangkan radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru.

Gerakan Sempalan di Kalangan Umat Islam di Indonesia: Analisis Sosiologi

Untuk mengurai fenomena gerakan sempalan di kalangan umat Islam di Indonesia penulis terlebih dahulu mengelaborasi pandangan Bryan Wilson,12 seorang sosiolog asal Inggris, yang menyebutkan tujuh tipe sekte atau gerakan sempalan. Tipologi ini disusun Wilson berdasarkan sikap sekte-sekte terhadap dunia sekitar yang kesemuanya hampir secara nyata terwakili dan berkembang di Indonesia.

Ketujuh tipe sekte atau gerakan sempalan ini adalah sebagai berikut. Pertama, Conversionist, yakni gerakan sempalan yang mengarahkan perhatiannya kepada perbaikan moral individu dengan kegiatan utamanya men-tobat-kan orang luar. Di Indonesia gerakan yang mirip tipe ini adalah gerakan dakwah seperti jemaah Tabligh. Kedua, Revolusioner, suatu gerakan sempalan yang mengharapkan perubahan masyarakat secara radikal, misalnya gerakan messianistik. Ketiga, Introversionis, kelompok yang mencari kesucian diri sendiri tanpa mempedulikan masyarakat luas. Keempat, Manipulationist atau gnostic (“ber-ma’rifat”), yakni suatu gerakan sempalan yang cenderung tidak peduli terhadap keselamatan dunia sekitar, akan tetapi mereka mengklaim bahwa mereka memiliki ilmu khusus yang biasanya dirahasiakan dari orang luar, seperti aliran kebatinan dengan amalan-amalan khusus dan sistem bai’at. Kelima, Thaumaturgical, yakni gerakan sekte yang mengembangkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan alam gaib. Keenam, tipe reformis, yakni gerakan yang melihat usaha reformasi sosial sebagai kewajiban esensial agama, dan ketujuh tipe utopian, yakni suatu gerakan sekte yang berusaha menciptakan suatu komunitas ideal sebagai teladan untuk masyarakat luas.13

Tipologi yang dibuat Wilson di atas cukup memberi gambaran secara umum tentang berbagai gerakan sempalan atau sekte yang berkembang di dunia Barat terutama dalam kaitannya dengan sikap sekte-sekte tersebut terhadap ortodoksi (baca: Gereja) yang menjadi mainstream di Eropa. Dalam pada ini meski gerakan sempalan di kalangan umat Islam di Indonesia cukup berbeda dengan yang terjadi di dunia Barat-Eropa lantaran perbedaan latar belakang sosiologis, tetapi beberapa gerakan sempalan yang muncul di Nusantara memiliki kesamaan dalam sikap dan perilaku mereka ketika berhubungan dengan ortodoksi (baca: agama Islam) sebagai sebuah mainstream di Nusantara.

Beberapa gerakan sempalan yang muncul dan berkembang di kalangan umat Islam di Indonesia tersebut di antaranya gerakan sempalan radikal, gerakan messianistik, conver-sionist, introversionis, gnostic, thaumaturgical, dan lain-lain.

1. Tipologi Gerakan Sempalan Radikal dan Mengecoh

Sejarah mencatat akar gerakan sempalan yang paling awal muncul di dunia Islam adalah gerakan Khawarij,14 satu sekte aliran Kalam yang keluar dari barisan yang mapan, yakni barisan Ali bin Abi Thalib. Gerakan sempalan ini muncul jauh-jauh hari sebelum adanya modernisasi. Kemunculan gerakan Khawarij bermula dari kekecewaan para pendukung kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang menerima usul perdamaian dari para musuh mereka, Muawiyyah bin Sufyan, dalam peristiwa Shiffin, yang di situ Khalifah Ali bin Abi Thalib mengalami kekalahan diplomatis dan kehilangan kekuasaan “de jure”-nya.15

Munculnya Khawarij ke pentas dunia Islam membenarkan asumsi bahwa gerakan sempalan muncul sebagai protes atau kritik terhadap kekuasaan dominan yang menjadi mainstream saat itu. Gerakan ini kemudian berpengaruh dan meluas ke berbagai penjuru dunia dalam bentuk yang berbeda, lebih dinamis hingga memuncul istilah Khawarij modern.

Istilah Khawarij modern agaknya cukup relevan dinisbahkan kepada gerakan-gerakan yang mengatasnakan Islam, tetapi justeru mengotori kesucian Islam dengan cara memutarbalikkan pemahaman otentik atas Islam yang telah dikemas dengan baik dan tepat oleh para ulama yang kompeten dan bertanggung jawab. Mereka, dengan tanpa ragu, menegakan tengah menawarkan kebenaran yang lebih otentik daripada kebenaran-kebenaran yang telah ditawarkan oleh para ulama yang memiliki otoritas untuk menjelaskan kebenaran Islam dari beningnya hati, kokohnya iman, kedalaman pengetahuan dan kecerdasannya dalam mengemas penjelasan atas Islam terhadap umat.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justeru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.16

Menurut Syaikh Abdullah Yusuf Ali dalam The Holy Quran, ayat ini berbicara tentang fakta otentik masa lalu yang hendak mempertahankan kepalsuan (termasuk kepercayaan takhayyul), dan melakukan perlawanan terhadap ortodoksi, yakni cahaya Islam yang abadi. Mereka tak ubahnya seolah-olah orang bersahaja yang hendak meniup lampu listrik yang dapat dilakukannya seperti terhadap lilin yang menyala. Melalui mulut-mulut mereka hendak memadamkan cahaya Allah yang padahal cahaya itu akan lebih bersinar untuk memperolok mereka.17

Jika dicermati lebih lanjut kelompok yang digambarkan Syaikh Yusuf Ali di atas tertuju kepada orang-orang atau kelompok yang mengecoh, yakni mengatasnamakan Islam tetapi justru memutarbalikkan ajaran-ajaran yang otentik. Kelompok ini, kata Al-Syahrastani, berupaya memproklamirkan dirinya sebagai penjual dirinya untuk memperoleh keridhaan Allah dan mengorbankan dirinya untuk Allah, tetapi justru mengotori otentisitas ajaran-ajaran agama dengan memalingkan makna otentiknya ke makna yang dangkal dan cenderung dipaksakan.18 Inilah prototipe Khawarij yang dalam sejarah Ilmu Kalam cukup menggemparkan dengan pandangan-pandangan sempit, fanatik dan radikal.

Di Indonesia, gerakan yang termasuk ketogori ini adalah NII (sebutan untuk Negara Islam Indonesia). Gerakan sempalan NII merupakan gerakan bawah tanah yang tak pernah pupus. Sejarah mencatat keberadaan NII pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949 dengan basis gerakan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Gerakan serupa kemudian meluas di Sulawesi Selatan dengan di pimpin Kahar Muzakar pada 20 Januari 1952. Kemudian disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh pada 21 September 1953.19

Dalam perkembangannya upaya pembentukan negara dalam negara ini semuanya berhasil dipatahkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Tetapi demikian, upaya mendirikan Negara Islam Indonesia terus dilakukan. Menurut Al-Chaidar, hingga kini terdapat 14 faksi yang setia memperjuangkan berdirinya kembali NII. Semisal Faksi Abdullah Sungkar, Faksi Abdul Fatah Wiranagapati, Faksi Mahfud Sidik, Faksi Aceh, Faksi Sulawesi Selatan, Faksi Madura, Faksi Kahwi 7, Faksi Kahwi 9, serta beberapa faksi lainnya. Basis NII sendiri berada di tiga tempat. Untuk wilayah Jawa, basis NII berada di Garut. Wilayah Sumatera berbasis di Aceh, dan untuk bagian Indonesia Timur berbasis di Sulawesi. Jumlah penganut ajaran NII ini telah mencapai sekitar 18 juta orang. Berbagai kalangan terlibat dalam kelompok ini. Mulai dari rakyat bisa, petani, mahasiswa, militer, hingga pejabat, kesemuanya tersebar di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.20

Di antara faksi atau kelompok yang ada tidak terdapat perbedaan yang mencolok. Hanya saja, Al Chaidar menuding ada satu kelompok yang menyimpang jauh dari misi dan falsafah awal gerakan NII. Mereka adalah kelompok Kahwi 9 yang dipimpin oleh Abu Toto. “Kelompok ini memperbolehkan anggota tidak salat, serta melakukan hal yang dilarang agama,” katanya. Tudingan Al Chaidar tentu bukan tanpa alasan, sebab beberapa tahun yang lalu, kelompok NII Kahwi 9 ini sempat membikin geger kota Bandung dan sekitarnya. Sejumlah kampus di Bandung, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil di susupi oleh kelompok ini.

Penyimpangan terhadap ajaran Islam yang otentik –seperti dilakukan beberapa mahasiswa yang telah dicuci otaknya itu— terlihat dalam perilaku mereka yang memperbolehkan melawan orang tua, mencuri, ataupun mening-galkan shalat. Tak hanya itu, para anggotanya pun diwajibkan membayar iuran bulanan dalam jumlah ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Akibatnya, tak jarang para anggota yang kebanyakan mahasiswa, harus berhutang ke sana ke mari atau bahkan mencuri.21 Memang, tampaknya berkembangnya ajaran NII sukar untuk dibendung, terlebih lagi begitu banyak kelompok sempalan yang timbul yang terlindungi di bawah payung demokrasi dan kebebasan berekspresi. Persoalannya kemudian, akankah gerakan sempalan ini menjadi ancaman bagi pemerintahan yang sah? Menurut Al Chaidar, terlalu sulit memastikan jawaban dari pertanyaan ini, sebab gerakan ke arah itu masih tampak samar meski pemerintahan saat ini dinilainya oleh mereka sebagai pemerintahan yang zalim.

Selain NII, nama lain yang sama adalah Dârul Islam. Kelompok ini dapat dianggap gerakan sempalan, baik dalam arti bahwa mereka tidak dibenarkan oleh lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa mereka memisahkan diri dari mayoritas. Yang dianggap sesat oleh mayoritas umat bukanlah persoalan akidah atau ibadah melainkan amal politik mereka. Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi Negara Islam Indonesia (NII) atau Dârul Islam, merekalah yang menentukan ortodoksi dan membentuk “mainstream” Islam. Seandainya itu yang terjadi, tidak mustahil sebagian “mainstream” Islam sekarang inilah yang mereka anggap sebagai “sempalan”.

2. Tipologi Gerakan Sempalan Messianistik

Konsep mesianisme terjadi tidak hanya di dunia Islam, akan tetapi terjadi pula di berbagai agama dan kepercayaan lainnya. Di dalam Hindu, ada kepercayaan bahwa suatu saat nanti Krisna yang menitis pada Kalkhi akan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Sementara itu orang-orang Kristen percaya bahwa suatu saat nanti Yesus akan datang lagi. Karena itu dalam agama Kristen terdapat aliran Advent, yang berarti kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman. Bahkan di dalam agama-agama lokal di Nusantara terdapat kepercayaan akan datangnya Ratu Adil atau Satria Piningit. Jadi, konsep Messianisme ini merupakan ilham yang memicu lahirnya gerakan sempalan, apakah namanya Imam Mahdi, Mesiah, al-Masih, Ratu Adil ataupun Satria Piningit. Itu semua dinyatakan oleh hampir seluruh agama sebagai sesuatu yang universal.

Kemunculan Messiah, Ratu Adil, Imam Mahdi atau lainnya dipandang perlu untuk untuk memberikan jawaban terhadap masalah sosial yang mereka hadapi. Seperti halnya di Indonesia yang dirundung krisis dan penderitaan yang kian lama kian terpuruk, kehidupan rakyat makin menderita, dan orang-orang mengalami frustasi demi frustasi. Bahkan beberapa kali ganti presiden dianggap tidak menambah makmur tetapi malah terpuruk. Dalam situasi seperti itu, orang cenderung mencari jawaban yang paling hebat dan ilusif dengan mendatangkan juru selamat. Di daerah Jawa, misalnya, ekspresi psikologis ini nampak dengan adanya kepercayaan tentang akan munculnya Satria Piningit, sosok sosok yang selama ini tersembunyi dan akan muncul untuk menyelamatkan kita.

Berpijak dari teori Troeltsch, kemunculan sosok Messiah, Ratu Adil, Imam Mahdi atau Satria Piningit itu pada mulanya hanyalah pengakuan kaum sempalan semata. Pada mulanya mereka mengatakan kepada para pengikutnya bahwa Satria Piningit atau Imam Mahdi masih ditunggu (al-muntazhar), dan mereka hanyalah para tentaranya yang menunggu. Lama-kelamaan, pemimpinnya sendirilah yang mengaku bahwa dialah Satria Piningit, Imam Mahdi, atau Messiah yang dijanjikan.22 Tentunya saja, solusi yang ditawarkan para pengaku messiah tersebut hanyalah isapan jempol, yang tidak memberikan apa-apa terhadap himpitan hidup yang mereka alami.

Di Indonesia, gerakan messianistik ini muncul dalam berbagai bentuk aliran keagaaman baru seperti Jamaah al-Qiyadah al-Islamiyyah. Kelompok ini muncul di Jakarta dan mulai pertengahan 2006 tercium menyebarkan keyakinannya di kota Yogyakarta dengan sasarannya para mahasiswa, yang secara umum merupakan kaum intelektual dalam dunia ilmu pengetahuan tetapi miskin dalam penghayatan keagamaan. Dari hasil penelusuran tentang kelompok ini diperoleh informasi tentang ajaran-ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang jauh dinilai menyimpang dari pokok-pokok Ajaran Islam, antara lain:

1. Mereka menghilangkan Rukun Islam yang telah dipegangi oleh seluruh Kaum Muslimin dan jelas-jelas bersumber dari hadits-hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits yang diterima oleh seluruh kaum muslimin dari kalangan Ahlussunnah.

2. Mereka menganggap bahwa pimpinannya adalah Rasulullah yaitu bernama Al-Masih Al Maw’ud (Al-Masih yang dijanjikan).

3. Menghilangkan syariat shalat lima waktu dalam sehari semalam, dengan diganti shalat lail. Bagi mereka dalam dunia yang kotor seperti sekarang ini syariat Islam tidak perlu diterapkan dan demikian tidak layak kaum muslimin melakukan shalat lima waktu.

4. Menganggap orang yang tidak masuk kepada kelompoknya dan mengakui bahwa pemimpin mereka adalah Rasul adalah orang musyrik.23

5. Dalam dakwah, mereka menerapkan istilah sittati ayyâm (enam hari) yang mereka terjemahkan menjadi enam tahapan, yaitu tahapan sirran (diam-diam, sembunyi-sembunyi, bergerilya), tahapan jahran (terang-terangan), tahapan hijrah, tahapan qital (peperangan), tahapan futuh (ekspansi), serta tahapan khilafah (pemerintahan).24

Aliran ini juga berusaha menyatukan ajaran trinitas yang ada pada agama Nasrani dengan mengajarkan bahwa Tuhan Bapak adalah Rab, Yesus adalah Al-Malik, Ruhul Quddus adalah Ilah. Inilah bentuk penakwilan sesat yang ditengarai sebagai upaya pembusukan (baca: pemurtadan) dari agama yang benar. Sungguh, seandainya al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. boleh ditakwilkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaedah-kaedah penafsiran sebagaimana dipahami kalangan salaful ummah, maka akan jadi apa Islam yang mulia itu ditengah pemeluknya? Pada titik ini kita dapat memahami bahwa al-Qiyadah Al-Islamiyyah merupakan sebuah sample dari sekian banyak paham yang melecehkan al-Quran dengan cara melakukan interpretasi atau takwil yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.

3. Gerakan Sempalan dan Fenomena Kekebalan

Tipologi lain dari gerakan sempalan yang berkembang di kalangan umat Islam di Indonesia adalah gerakan thaumaturgical (baca: gerakan tarekat bernuansa mistik). Gerakan ini dikategorikan sempalan lantaran bersikap revolusioner terhadap kaum penjajah serta kalangan penguasa yang berkolaborasi dengan kaum kolonial. Sikap revolusioner mereka tumbuh pada tarekat itu sendiri lantaran jumlah dan latar belakang sosial penganutnya, struktur organisasinya (vertikal-hierarkis), serta aspek thaumaturgical-nya (kekebalan, kesaktian) yang dimiliki oleh mereka.25

Pada sekitar tahun 1915-1930, semua tarekat yang ada di Nusantara mengalami kemerosotan pengaruh karena berkembangnya organisasi modern Islam yang bersifat sosial dan politik, terutama Sarekat Islam (disingkat SI). Walaupun SI merupakan organisasi modern dengan pemimpin-pemimpin berpendidikan Barat, cabang-cabang lokalnya ada yang mirip tarekat, khususnya pada masa awalnya. Misalnya, Djokroaminoto, tokoh SI saat itu, terkadang disambut sebagai Ratu Adil dan diminta membagikan air suci. Lalu, ada juga Kyai tarekat yang masuk SI dengan semua penganutnya dan berusaha mempergunakan SI sebagai wajah formal tarekatnya.26

Di Jambi, sebuah aliran kekebalan atau disebut “Ilmu Abang” mencoba meniru Sarekat Islam yang dikembangkan oleh Djokroaminoto, yang kemudian menamakan diri mereka dengan Sarekat Abang. Mereka kemudian mencoba mengambil alih cabang lokal Sarekat Islam dan menampilkan figurnya sebagai sosok yang mirip dengan Satria Piningit, sebagaimana halnya dengan Djokroaminoto yang digadang-gadang sebagai Ratu Adil.27

Gerakan sempalan thaumaturgical, juga berkembang dalam bentuk pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan atas alam gaib. Pengobatan secara batin, kekebalan, kesaktian, dan kekuatan “paranormal” lainnya merupakan daya tarik aliran-aliran jenis ini, dan membuat para anggotanya yakin akan kebenarannya. Di Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran kebatinan dan sekte Islam, seperti Muslimin-Muslimat (di Jawa Barat). Tentu saja, model pengembangan kekebalan, kesaktian dan kekuatan paranormal yang menjadi daya magis aliran ini perlu dilihat dari sisi kemurnian akidah Islam sebagai ajaran suci yang berdasar pada fondasi tawhid, yang terlepas dari syirik.

4. Gerakan Sempalan Introversionis

Fenomena lain yang juga menonjol di ranah Nusantara adalah gerakan sempalan keagamaan dengan ciri aktivisme politik dan sosial. Gerakan ini muncul pasca pemberontakan-pemberontakan tahun 1926 serta lahirna kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda hingga menjadi lebih repressif. Pada masa ini banyak pejuang dan pemimpin-pemimpin nasionalis yang dibuang dan dipenjarakan. Dalam situasi seperti ini muncullah aliran-aliran agama baru yang introversionis, yakni berpaling dari aktivitas sosial dan politik kepada penghayatan agama secara individual, dan yang bersifat mistis (sufistik). Dasawarsa 1930-an ditandai dengan lahirnya berbagai aliran kebatinan yang masih ada sampai sekarang, seperti Pangestu dan Sumarah, dan juga masuk dan berkembangnya dua tarekat baru, yaitu Tijaniyah dan Idrisiyah.

Menurut Van Bruinessen, korelasi antara represi politik dengan timbulnya aliran sufistik yang introversionis terlihat lebih jelas ketika partai Masyumi dibubarkan. Neo-tarekat seperti Shiddiqiyah, dan juga Islam Jama’ah timbul di kalangan bekas penganut Masyumi di Jawa Timur. Di daerah lain juga cukup banyak kasus bekas aktivis Masyumi yang masuk aliran mistik. Setelah penumpasan PKI, neo-tarekat Shiddiqiyah dan Wahidiyah, serta tarekat lama Syattariyah di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan pesat dengan masuknya orang-orang dari kalangan abangan. Mereka masuk ke dalam tarekat dengan alasan yang dapat dimengerti, yakni membuktikan identitasnya sebagai Muslim dan sikap non-politik mereka.28

Analisis lebih tajam dikemukakan oleh Wilson, bahwa gerakan sufistik introversionis yang semula revolusioner akan cenderung untuk tidak lagi bekerja untuk transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya (baca: semacam uzlah kolektif) apabila harapan-harapan eskatologis tidak terpenuhi. Mereka mencari kesucian diri sendiri tanpa mempedulikan masyarakat luas. Wilson menyebut gerakan Samin29 di Jawa sebagai kasus sempalan yang telah menjadi intro-versionis.

Belakangan fenomena sufistik menyeruak ke kalangan menengah di ibu kota dengan ditandai berkembangnya kecenderungan kepada mistisisme, seperti dicerminkan dalam majalah Amanah. Mistisisme kelas menengah ini lebih bersifat “individualisme religius” dimana majalah tersebut sering menyoroti “pengalaman rohani” tokoh-tokoh terkenal. Rubrik renungan tasawwuf dalam majalah ini juga cenderung kepada individualisme, dengan menyinggung hubungan pribadi dengan Tuhan semata, dan sejenisnya. Ini berarti tarekat dan aliran mistik lainnya cukup mendapat tempat untuk berkembang dalam semua kalangan masyarakat, suatu fenomena yang agaknya berkaitan erat dengan depolitisasi Islam.

5. Gerakan Conversionist

Tipologi conversionist cenderung memperhatikan perbaikan moral individu. Dalam pandangannya, dunia akan baik apabila moral individu-individu diperbaiki, dan karenanya kegiatan utama kelompok ini adalah usaha untuk meng-convert, men-tobat-kan orang luar. Gerakan yang masuk kategori ini adalah gerakan usrah dan jamaah tabligh yang notabene merupakan gerakan import dari Bangladesh.

Dalam melakukan dakwah-nya kelompok jamaah Tabligh cenderung meratifikasi amalan-amalan Rasulullah yang dipahami secara literal. Menurut penganut jamaah ini, setiap umat diharuskan untuk “khuruj”30 (keluar) sebagaimana Rasulullah melakukannya dari Mekkah ke Madinah. Amalan khuruj yang dilembagakan oleh kelompok ini pada dasarnya merupakan amalan sunnah Nabi. Hanya saja, dalam prakteknya amalan ini cenderung memaksakan “program” ketimbang mengedepankan kemaslahatan jamaah.

Dalam sebuah wawancara, penulis pernah mendapatkan informasi dari seorang jamaah tentang konsekwensi khuruj. Salah seorang anggota jamaah tersebut mengatakan sebagai berikut:

“Seorang jamaah yang tergabung dengan kelompok ini diharuskan mengikuti program “khuruj” selama kurang lebih 6 sampai 9 bulan dengan resiko meninggalkan keluarga dan orang-orang yang semestinya dilindungi. Inilah praktek jihad yang dilakukan zaman ini untuk mem-bangun dan menyadarkan orang-orang agar mau dan rajin beribadah. Meski program ini cenderung menuntut anggotanya untuk mengeluarkan hartanya demi suksesnya program tersebut, tetapi tidak sedikit jamaah yang rela mengeluarkan hartanya hingga sawah dan ladangnya habis terjual”.31

Dilihat dari ajaran dan praktik amal ibadah maupun akidahnya kelompok ini tidak nampak sebagai kelompok sempalan apalagi sesat. Hanya saja, eksklusifitas mereka tidak jarang mengarah kepada pencitraan komunitas mereka sebagai komunitas teladan yang menganggap diri mereka sebagai alternatif yang lebih Islami.

Selain Jamaah Tabligh, terdapat kelompok lain yang lebih ekstrim semisal kelompok usrah yang marak di kampus-kampus, kelompok Isa Bugis (dulu di Sukabumi, sekarang di Lampung), dan Darul Arqam Malaysia dengan “Islamic Village-“nya. Secara tegas kelompok ini menawarkan suatu alternatif dengan cara berdakwah melalui contoh teladan komunitas mereka. Lagi-lagi komunitas utopian mereka menempatkannya sebagai bagian dari gerakan sempalan yang senderung eksklusif. Eksklusifitas sekte-sekte tersebut bahkan semakin nampak dilihat dari kecenderungan mereka pada pemutlakan hasil ijtihad. Dengan berbagai dalih dan alasan mereka mencoba memutlakan hasil ijtihad.32

6. Gerakan Sempalan Messianis-Introversonis

Ada tiga kelompok yang mewakili tipologi ini, yaitu Ahmadiyah (Qadian), Baha’i dan Syi’ah. Ketiganya tidak lahir dari rahim kalangan umat Islam Indonesia sendiri, melainkan diimport dari luar negeri ketika sudah mapan. Pada masa awalnya, ketiganya mempunyai aspek messianis, namun kemudian berubah menjadi introver-sionis, tanpa sama sekali menghilangkan semangat awalnya. Pemimpin karismatik aslinya (Ghulam Ahmad, Baha’ullah, Duabelas Imam) tetap merupakan titik fokus penghormatan dan cinta yang luar biasa.

Pertama, Syi’ah. Dalam kelompok inisemangat revolusioner kadang-kadang tumbuh lagi (seperti terakhir terlihat di Iran sejak 1977), dan itulah agaknya yang merupakan daya tarik utama faham Syi’ah bagi para pengagumnya di Indonesia. Kelompok ini termasuk sempalan di Indonesia, terutama dilihat dari ideologi politik-keagaamaan yang cenderung berseberangan dengan paham mayoritas Sunni yang mendominasi kultur Nusantara.

Kedua, Ahmadiyah Qadian. Kelompok ini telah menampilkan diri (di India-Pakistan dan juga di Indonesia) terutama sebagai sekte reformis, yang belakangan menjadi sangat introversionis dan menghindar dari kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Sejatinya Ahmadiyah pernah memainkan peranan penting dalam proses pengislaman kaum terdidik di Indonesia pada masa penjajahan. Dalam Jong Islamieten Bond dan Sarekat Islam, misalnya, pengaruh Ahmadiyyah cukup signifikan. Akan tetapi, setelah organisasi modernis lainnya berkembang, Ahmadiyah justru menghilang-kan fungsinya sebagai pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam dan lebih menonjolkan aspirasi faham kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Dari sisi inilah Ahmadiyah Qadian bisa dilihat sebagai simptom konsolidasi ortodoksi Islam di Indonesia.

Ketiga, Sekte Baha’i. Kelompok ini dsinyalir mempunyai beberapa penganut di Indonesia yang berasal dari luar kalangan Islam. Keanggotaan Baha’i yang lebih mengakomodasi dari luar penganut Islam menjadikannya sebagai gerakan sempalan yang bukan dari kalangan Islam.

Tiga gerakan ini memainkan peranan sangat berlainan di Indonesia dan meraih penganut dari kalangan yang berbeda. Gerakan Syi’ah adalah yang paling dinamis lantaran melancarkan gerakan protes, baik terhadap situasi politik maupun kepemim-pinan ulama Sunni. Kepedulian sosial seperti perhatian terhadap kaum lemah dan masyarakat marginal menjadi daya magis kelompok ini. Yang lebih menakjubkan, kaum Syi’ah cenderung meminimalisir penekanan kepada dimensi politik, dan justru meningkatkan minat kepada tradisi intelektual Syi’ah yang berpusat di Iran. Dan di antara semua gerakan sempalan masa kini yang berkembang di Indonesia tampaknya gerakan Syi’ah lebih berpotensi menjadi suatu denominasi, di samping gerakan pemurni dan pembaharu Sunni.

Penutup

Bagian penutup dari makalah ini difokuskan kepada analisis fungsional terkait keberadaan kelompok-kelompok yang dijustifikasi sebagai sempalan.

Pertama, Kehadiran gerakan sempalan di kalangan umat Islam di Indonesia dapat dilihat sebagai aspek dari proses pengislaman yang sudah mulai berlangsung enam atau tujuh abad yang lalu dan masih terus berlangsung. Sementara itu kehadiran gerakan yang sempalan dapat dilihat sebagai kritik terhadap ortodoksi yang telah ada. Selama dialog antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung, fenomena ini mempunyai fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan semakin terasingnya gerakan sempalan tadi justru mengandung bahaya yang lebih besar. Maka, apabila ortodoksi tidak responsif dan komunikatif lagi dan hanya bereaksi dengan melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan salah satu sebab penyimpangan “ekstrim” ini.

Kedua, Menyikapi keberadaan kelompok-kelompok sempalan di atas haruslah arif, objektif dan proporsional. Seyogyanya keberadaan kelompok-kelompok atau aliran-aliran tersebut diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar dan penilaian masyarakat. Hal ini disebabkan karena suatu keyakinan adalah idea yang bersedia untuk bertindak, dan agama bagi manusia bersifat fungsional dan dinamis.33 Dalam konteks ini, agama, aliran ataupun keyakinan tertentu adalah diperlukan apabila berguna bagi kehidupan, artinya dapat memberi pengaruh bagi kehidupan manusia. Bahkan, dalam teori fungsional dikatakan “sesuatu yang berfungsi dan bermanfaat maka ia akan bertahan dan tak tergoyah-kan”.34

Itulah sebabnya, kita meyakini bahwa kebenaran hakiki tidak akan ter-butakan oleh apapun dan usaha apapun dan sebaliknya kesesatan dan kebusukan tidak akan menipu daya kita karena yang sesat dan busuk pasti akan tercium kesesatan dan kebusukannya. Imam Ali berkata, “Orang yang mencari kebenaran dan tidak menemukannya adalah lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukan-nya. Oleh karena itu, kelompok-kelompok sempalan tersebut tidak perlu dikriminal-isasikan, dan biarkan sejarahlah yang akan menentukan apakah mereka benar dan akan tetap eksis atau menjadi buih lalu pergi.

Ketiga, Meski kita dapat menyerahkan penilaian tentang gerakan sempalan tersebut kepada mekanisme pasar, akan tetapi sebagai muslim kita perlu berhati-hati dan mawas diri untuk membentengi setiap jengkal langkah kita agar tidak terseret dan terjebak kepada tipu daya orang-orang sesat. Dalam kaitan ini, suatu hari Rasulullah Saw. pernah memberi nasihat yang menyebabkan hati tergetar dan air mata berlinang, lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!” Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memimpin kamu adalah seorang budak. Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kamu masih hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib atas kamu untuk berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang terbimbing dan lurus. Gigitlah ia dengan gigi gerahammu, dan jauhilah olehmu berbagai perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Wallahu a’lam ***)

Daftar Pustaka

Abdullah, Amin, Falsafah Kalam Di Era Post Modernisme, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995

Abdullah, Taufik, (Ed.), Sekte-sekte protestan dan Semangat Kapitalisme”, dalam Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi, Jakarta: LP3ES, 1979

Abdurrahman, Moeslim, “Sufisme di Kediri”, dalam Sufisme di Indonesia, Dialog, edisi khusus, Maret 1978

Al-Syahrastani, Muhamad Ibn Abd al-Karim, Kitab al-Milal wa al-Nihal, (Muhammad Ibn Fath Allah al-Badran (Ed.), Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1967

Ali, Abdullah Yusuf Ali, The Holy Quran, Text, Translation and Commentary, alih bahasa Ali Audah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995

Bruinessen, Martin Van, “Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya” (“Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural background”), Ulumul Qur’an vol. III no. 1, 1992

________, “Duit, jodoh, dukun: Remarks on cultural change among poor migrants to Bandung”, Masyarakat Indonesia XV, 1988

Ba’abduh, Luqman bin Muhammad, Mereka Adalah Teroris: Bantahan terhadap Buku Aku Melawan Teroris karya Imam Samudra, Malang: Pustaka Qaulan Sadida, 2005

Ernest, Gellner, Posmodernism, Reason and Religion, New York: Routledge, 1992

Ernst Troeltsch, The Social Teachings of the Christian Churches. London, 1931

Hasyim, Muh. Fathoni, dkk, Islam Samin, Sinkretisme Tradisi Samin dan Islam di Jepang Bojonegoro, dalam ISTIQRA, Jurnal Penelitian Islam Indonesia, Volume 03, Nomor 01, 2004

Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, Damaskus: Maktabah al-Bayan, 1374 H

Kamal Pasya, Musthafa, Muhammadiyyah Sebagai Gerakan Islam, Perspketif Historis dan Ideologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000

Korver, A.P.E., Sarekat Islam 1912-1916. Amsterdam University, 1982

Kurtz, Paul (ed.), Tradisi Pragmatisme, Jakarta: Yayasan Obor, 1994

Nasution, Harun, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press, 1992

_______, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1975

Niebuhr, Richard, The Social Sources of Denominationalism. New York: Holt, 1929

Rokhmad, Ali, Aliran Sesat dan Hegemoni Ortodoksi, http://www. Arokhm./mfp./html

Romdhoni, Ali, (ed), Nalar Islam Nusantara: Studi Islam ala Muhammadiyyah, Al-Irsyad, Persis dan Nu, Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2007

Robertson, Roland, (ed.), Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, Jakarta: Rajawali, 1988

Sartono Kartodirdjo, The Peasant’s Revolt of Banten in 1888. The Hague: Nijhoff, 1966

Sartono Kartodirdjo (Ed.), Sarekat Islam Lokal, Jakarta: Arsip Nasional, 1975

Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum: Akal dan Hati sejak Thales sampai James, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1569Dibaca Hari Ini:
  • 1035Dibaca Kemarin:
  • 13667Dibaca Per Bulan:
  • 346636Total Pengunjung:
  • 1457Pengunjung Hari ini:
  • 13073Kunjungan Per Bulan:
  • 14Pengunjung Online: