TIPOLOGI KOTA BANTEN LAMA

Oleh: Halwany Michrob

Banten Lama memiliki beberapa ciri yang secara umum ditemukan pula pada kota-kota Islam yang sejaman di bagian-bagian lain di dunia. Sebagian besar pusat-pusat kegiatan yang terkemuka, sebagaimana Muslim di Indonesia dan Afrika, juga negara-negara Arab, memiliki istana, pasar-pasar dan mesjid-mesjid. Pemukiman dibagi menurut pekerjaan dan etnik, sebagaimana halnya kota-kota di abad pertengahan akhir di kota-kota Islam di dunia. Bahkan kota Banten sebagai kota Muslim terbesar di Indonesia, tidak hanya pada masanya, tetapi mungkin dalam seluruh sejarahnya, yang menjadi ciri umum pada kota-kota Muslim pada akhir abad-16.

Jika muncul kota-kota di Jawa ini berkoinsidensi dengan penyebaran Islam, dan unsur-unsur penyebaran kota menjadi umum pada banyak kota dalam dunia Islam, seseorang mungkin dapat meramalkan bahwa pola-pola pemukiman di dalam kota-kota di Jawa tentunya merupakan tiruan dari bentuk baku kota-kota Islam. Sebagaimana informasi sejarah telah menunjukkan bahwa asumsi ini tidaklah benar. Distribusi fisik dari tempat-tempat umum dan perseorangan di Banten Lama dan juga di mana pun melanjutkan tata letak tradisional dalam kompleks-kompleks orang Jawa pada masa sebelum Islam. Jawa dapat dikatakan telah memiliki pola sendiri di dalam urbanisasi, dengan beberapa unsur yang serupa dengan kota-kota yang sejaman pada bagian-bagian lain di Asia Tenggara. Kita menggambarkan bahwa kota-kota tersusun dari kegiatan individu-individu, dan jika kita menyimpulkan bahwa pengenalan Islam bukanlah merupakan hasil suatu perubahan yang revolusioner di dalam tata cara hidup orang Jawa, lebih sebagai hasil proses evoluasi secara bertahap. Menurut data sejarah, kota Banten Lama yang terletak di pesisir utara Jawa Barat didirikan pada tanggal 8 Oktober 1526, merupakan salah satu pusat kegiatan kerajaan Islam yang berkembang dari abad ke-16 sampai dengan abad ke-19 M (Ambary, dkk, 1988).

Sejarah kota banyak dipengaruhi oleh demografi serta ekologi, struktur spesial, pola-pola okupasi serta faktor-faktor sosial penduduk kota (Kartodirdjo, 1975: 3-4). Dari struktur fisik, misalnya dapat dibedakan konstruksi tata ruang dan fungsi-fungsi bangunan yang berada di dalam dan di luar sektor benteng kota. Secara fisik, kebanyakan kota Muslim kuno berada pada silangan jalan pengangkutan darat, sungai, selat, teluk atau pantai laut bebas, yang amat potensial bagi kelancaran dan pengembangan lintas orang, barang dan jasa.

Pada tata ruang silangan tersebut, biasanya terdapat gudang- gundang, sarana transportasi, tempat penginapan, tempat ibadah, kantor-kantor urusan pajak dan cukai, rumah makan, toko-toko dan mungkin tempat hiburan.

Keterkaitan antara ekologi kota dan kehidupan sosial kota, antara lain terlihat pula dari perkembangan tempat-tempat pemu-kiman khusus atas dasar pembagian spesialisasi pekerjaan, seperti pendeta/ulama, parajurit, pedagang, pengrajin, yang pada umumnya tinggal pada cluster yang berbeda dan terpisah. Fungsi pertahanan, perdagangan dan administrasi pemerintahan memperoleh alokasi bagian dari kota. Susunan dan tata ruang menunjuk watak tertentu tipe-tipe pemukiman pada suatu kota.

Kota-kota kuno umumnya semula tumbuh sebagai pusat-pusat peribadatan, yang lambat laun berkembang menjadi pusat admi-nistrasi pemerintahan, perdagangan dan aspek kehidupan kosmopolit lainnya, seperti hiburan, permainan, olahraga, dan sebagainya. Kota-kota muslim kuno di Asia Tenggara, umumnya memiliki kecenderungan yang berawal dari pertumbuhan dan perkembangan kota yang beranjak dari pusat-pusat elite atau istana.

Ada pun kota-kota yang semula tumbuh sebagai pusat pertahanan, yang kemudian meluas dan mencakup daerah perdagangan dan industri/kerajinan. Pada masa kini bagian-bagian kota inilah yang kemudian menjadi bagian kota kuno yang sepi dan terasing. Ekplanasi kota sebagai pusat perdagangan, mungkin akan diawali dengan uraian-uraian mengenai pola-pola stratifikasi sosial, distribusi kekuasaan dan kekayaan, kedudukan masing-masing etnis atau ras, akibat-akibat introduksi teknologi baru, hubungan- hubungan antara pusat, sub-pusat, daerah penyangga, variabilitas sumberdaya dan komoditas yang diperdagangkan, daerah-daerah distribusi dan sebagainya (Lapidus, 1967: 88-91).

Dengan memperhatikan uraian teoritis yang dikemukakan di sini, akan dicoba untuk melihat sejauh mana keterangan mengenai sejarah perdagangan di Banten dapat ditelusuri melalui data arkeologi yang pada hakekatnya memiliki sifat yang terbatas. Data yang dipakai dalam kajian ini adalah tembikar dan hasil pertukangan logam yang dianggap sebagai salah satu jenis komoditi lokal yang masih dapat ditemukan di situs Banten. Artefak ini dipilih sebagai unit analisis dengan pertimbangan bahwa lokasi pembuatannya sudah diketahui.

Itu berarti bahwa sebaran tembikar dan kegiatan logam pada situs yang bukan “industri” tembikar atau logam akan dipandang sebagai akibat mengalirnya barang ke tempat konsumen. Aliran barang itu tentunya dapat diamati dengan melihat persamaan dan perbedaan tipe tembikar atau logam antar situs dalam kota.

Sudah tentu kajian ini belum sampai pada penjelasan mengenai pola distribusi, mengingat belum semua situs di Banten ini digarap secara menyeluruh. Satu hal yang dapat dicatat di sini bahwa kajian ini hanya berusaha mengidentifikasi ada tidaknya gejala aliran barang di dalam dan di luar kota Banten Lama.

Dari pengamatan gambar kota Banten di jaman kerajaan bercorak Islam baik menurut De Houtman (1595 – 1597), Kortumunde (1615), denah kota tahun 1624 (Atlas VOC tahun 1670), peta Valentijn tahun 1726 dan peta Surruriers (1902), menunjukkan bahwa kota Banten dikelilingi tembok kota yang terbuat dari bata, planologi kota tampak jelas tertata dengan baik.

Berdasarkan peta Serruriers (1902), dapat diketahui adanya 33 perkampungan yang dapat dibagi dalam lima kelompok atas dasar masyarakat dan kegiatannya, yaitu:

1.Kelompok atas dasar status kekuasaan/pemerintahan, yaitu Kaloran (pemukiman Pangeran Lor), Kawangsan (pemukiman Pangeran Wangsa), Kapurba (pemukiman Pangeran Purba), Kawiragunan (pemukiman Pangeran Wiraguna), Kebantenan (pemukiman Pejabat Pemerintah), Kamandalika (pemukiman Pangeran Mandalika), Keraton (pemukiman Sultan dan keluarganya), dan Kesatrian (pemukiman tentara).

2.Kelompok atas dasar sosial ekonomi, terdiri dari Pamarican (tempat penyimpanan marica), Pabean (tempat menarik pajak), Penjaringan (tempat pemukiman nelayan), Pasulaman (tempat kerajinan sulam), Kagongan (tempat pembuatan gong), Pamaranggan (tempat pembuatan keris), Pawilahan (tempat kerajinan bambu), Pakawatan (tempat pembuatan jala), Pratok (tempat pembuatan obat), Kapandean (tempat pembuatan senjata), dan Pajantra (tempat kerajinan tenun).

3.Kelompok atas dasar keagamaan, terdiri dari Kafakihan (pemukiman kaum ulama), dan Kesunyatan (pemukiman orang suci).

4.Kelompok atas dasar ras dan suku, yaitu Kebalen (pemukiman orang Bali), Karoya (pemukiman orang Karoya), Pakojan (pemukiman orang Koja dari India), dan Karangantu (pemukiman orang asing lainnya); dan

5. Kelompok yang tidak diketahui statusnya, yaitu Kasemen, Tambak, Kajoran, Cemara, Karang Kepaten, Pasar Anyar, Pegebangan, dan Langen Maita.

Walaupun berita-berita sejarah tentang Banten sebelum abad ke-16 sangat sedikit yang sudah ditemukan, namun dapat diduga bahwa pada abad ke-12, menurut Tome Pires, kerajaan Sunda memiki sekurang-kurangnya enam buah pelabuhan, yaitu Banten, Pontang, Tenggara, Kalapa dan Cimanuk (Cotessao, 1944:170). Banten yang pada masa itu berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda, merupakan salah satu pelabuhan penting di antara lima pelabuhan lainnya.

Mengenai perdagangan ke Jawa dan Sunda, Tome Pires antara lain menyatakan bahwa pelayaran ke Jawa dilakukan antara bulan Januari di dalam musim yang pertama dan orang akan kembali pada bulan Mei atau sesudahnya sampai bulan Agustus atau September pada tahun itu juga. Selanjutnya Pires menyatakan bahwa dalam hal pengangkutan ke Sunda mereka (para pedagang Malaka) akan memberi 50% dari nilai barang yang diangkut, karena mereka akan mendapatkan lada hitam dan budak. Sunda merupakan negeri perdagangan, keuntungannya lebih besar karena pelayaran ke sana mudah dan tidak lama (Pires, 1944: 281-283).

Sedangkan keterangan mengenai susunan pemerintahan kerajaan Sunda, Tome Pires menyatakan bahwa setelah raja Sunda yang bergelar Sang Briang dan wakilnya yang disebut Cocunan, setelahnya baru Bendahara yang dijuluki Maco bumy yakni jabatan bagi penguasa kota-kota dan tempat pelabuahan-pelabuhan. Sunda memiliki satuan-satuan angkatan darat dan laut, seperti pula dinyatakan oleh De Barros (Tjandrasasmita, 1977: 12).

Menurut orang-orang Portugis di pelabuhan Sunda Kalapa banyak lada, beras dan asam, emas, sayuran, hewan potong (sapi, lembu, babi dan kambing) serta buah-buahan, yang banyak pula di ekspor ke Malaka yang sudah diduduki Portugis sejak tahun 1511.

Orang-orang Portugis berusaha memperoleh izin mendirikan benteng di Kalapa yang kemudian keinginan tersebut disambut gembira oleh Raja Pajajaran, sebagai salah satu dampak perjanjian persahabatan antara Portugis dan Raja Pajajaran yang ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1522. Tentu saja hal ini menimbulkan kemarahan orang-orang Islam yang sudah menjadi populasi utama di kota-kota Demak, Cirebon dan Banten.

Pokok pembahasan di dalam makalah ini berkenaan dengan usaha untuk memperoleh keterangan tentang perdagangan kuno di kota Banten Lama, melalui data arkeologis di satu pihak dan data sejarah di pihak lain.

Transaksi di pasar dilakukan secara langsung dengan mempergunakan mata uang sebagai alat pembayaran. Bentuk transaksi lain adalah barter yang dilakukan orang Cina untuk meperoleh lada (Volker, 1954).

Akhirnya dapat dicatat bahwa kegiatan perdagangan memberi pengaruh yang besar terhadap masyarakat kota Banten yang berstuktur kompleks seperti tercermin pula dalam susunan ruangnya yang dicatat oleh Serrurier (1902).

2 Komentar

  • Nugroho Wahyu

    Oct 31, 2010

    Slalu membuat kagum akan kota banten... mau tau donk cerita ttg jembatan penghubung yang sekarang sudah gak ke pake di sekitar mesjid banten..

  • Irpan Arfani

    Nov 10, 2010

    Waa..ah.. siip juga ya.. Harus bangga donk jadi orang Banten. Hidup Banten....!

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 1369Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 15306Dibaca Per Bulan:
  • 348095Total Pengunjung:
  • 1258Pengunjung Hari ini:
  • 14532Kunjungan Per Bulan:
  • 7Pengunjung Online: