TOPIK DALAM PENELITIAN SEJARAH

Oleh : Dedi sambas

Sebelum melakukan penelitian sejarah, langkah pertama yang harus dilakukan ialah menetapkan topik yang akan diteliti. Topik yang diteliti haruslah merupakan topik yang layak untuk dijadikan penelitian dan bukan merupakan pengulangan atau duplikasi dari penelitian sebelumnya. Kelayakan topik penelitian sejarah dapat dilihat dari ketersediaan sumber yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk penelitian. Jangan sampai kita menetapkan topik yang menarik untuk diteliti, tetapi sumbernya ternyata tidak ada. Berbeda dengan penelitian ilmu pengetahuan lainnya, penelitian sejarah sangat bergantung pada ketersediaan sumber. Jadi, topik yang diteliti harus merupakan hal yang baru dan diharapkan dapat memberikan informasi yang baru atau ditemukan suatu teori baru. Pemilihan topik ini penting agar penelitian sejarah lebih terarah dan terfokus pada masalah yang akan diteliti. Untuk mengarahkan masalah yang akan diteliti dalam topik tersebut, sebaiknya kita ajukan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi masalah yang akan diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi sebagai berikut ini.

Pertama apa (what) yang akan kita teliti, apakah kita akan meneliti aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, keluarga, militer, dan lain-lain. Pertanyaan tentang apa, lebih melihat pada aspek-aspek yang akan kita teliti. Misalnya kita ingin membuat sejarah desa kita, maka apanya yang ingin kita lihat dari desa tersebut, apakah ekonominya, sosialnya, politiknya, budayanya, dan aspek-aspek lainnya.

Kedua, yaitu siapa (who) yang akan diteliti. Dalam menulis sejarah desa misalnya, kita harus menetapkan siapa-siapa saja yang akan kita teliti, atau kelompok-kelompok sosial mana yang akan diteliti, apakah para tokohnya, masyarakat petani, masyarakat pengrajin, aparat desanya, kaum wanitanya, dan lain-lain. Kalau kita ingin meneliti bagaimana perkembangan sosial ekonomi suatu desa, maka salah satu komponen yang harus kita teliti yaitu kaum petani dan pengrajin dari desa tersebut. Pengrajin dan petani ini perlu kita teliti karena kelompok inilah yang berhubungan langsung dengan kehidupan ekonomi. Kita bisa melihat berapa jumlah petani dan pengrajin di desa tersebut, berapa pendapatannya, bagaimana cara mereka bekerja, berapa jumlah produksi yang dihasilkannya, dan lain-lainnya.

Ketiga, pertanyaan yang diajukan yaitu di mana (where) yang akan kita teliti. Pertanyaan ini merupakan aspek spasial atau keruangan yang menjadi ciri dari disiplin ilmu sejarah. Spasial dapat berupa tempat atau geografis yang akan diteliti. Apakah kita akan meneliti kota atau desa, atau wilayah yang bersifat administratif seperti desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Kalau kita meneliti geografis desa, maka harus jelas batasan geografisdesa yang kita teliti.

Keempat, yang diajukan adalah kapan (when). Maksud dari pertanyaan ini adalah menyangkut aspek batasan waktu atau periodisasi yang akan dijadikan objek penelitiannya. Salah satu ciri penting dari ilmu sejarah adalah adanya konteks waktu. Misalnya perubahan sosial desa 1950-1955. Penetapan angka tahun ini harus memiliki pertimbangan-pertimbangan yang bersifat akademis, misalnya karena pada tahun tersebut merupakan awal dari perubahan sampai dengan tahun menurunnya perubahan-perubahan penting. Perubahan tersebut bisa dalam konteks sosial, ekonomi, politik, dan konteks lainnya.

Kelima, pertanyaan berikutnya yaitu mengapa (why). Pertanyaan ini lebih bersifat analitis dan mendalam. Dengan contoh tema penulisan tentang perubahan sosial desa 1950-1955, pertanyaan mengapa dapat menyangkut mengapa pada tahun tersebut terjadi perubahan sosial? Perubahan sosial ini bisa dilihat dari berbagai ciri, misalkan status pekerjaan, pemilikan tanah, pendidikan, dan lain-lain. Perubahan pada status pekerjaan misalnya perubahan dari petani menjadi buruh bangunan, menjadi buruh perkebunan, menjadi buruh pabrik, dan perubahan ke arah pekerjaan-pekerjaan lainnya. Perubahan pemilikan tanah bisa dilihat, misalnya adanya pemilikan lahan yang semakin sempit atau pemindahan pemilikan dari penduduk setempat ke orang lain atau orang di luar desanya. Perubahan sosial dalam pendidikan, misalnya terjadi peningkatan masyarakat yang terlibat langsung dalam pendidikan sekolah,jumlah anak yang sekolah baik di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah,maupun di tingkat Perguruan Tinggi semakin meningkat. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial, misalnya akibat kebijakan-kebijakan politik pemerintah atau bisa saja merupakan akibat terjadinya perubahan geografis atau iklim. Dari pertanyaan mengapa, dapat dicari jawaban yang lebih mendalam dengan mengajukan pertanyaan bagaimana (How) perubahan itu terjadi. Pertanyaan bagaimana ini, misalnya bagaimana hubungan kebijakan politik pemerintah terhadap perubahan social di pedesaan. Misalnya, kebijakan pemerintah yang mengembangkan sector industri berakibat berdirinya pabrik-pabrik di daerah pedesaan. Sektor industriini kemudian memakan lahan pertanian yang ada di pedesaan. Akibatnya, penduduk yang berpenghidupan dari pertanian beralih ke sektor industri. Akibat perubahan iklim, misalnya terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga para petani berpindah pekerjaan dari mengerjakan atau menggarap sawah, menjadi buruh bangunan di kota.

Pertanyaan-pertanyaan di atas amatlah penting dalam menetapkan topic penelitian. Fungsi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk mengarahkan ketika kita mencari sumber-sumber yang akan dijadikan data penelitian. Misalnya kita ingin melihat bagaimana perubahan sosial yang dicirikan dengan perubahan status pekerjaan, maka kita harus mencari apa saja pekerjaan masyarakat pedesaan tersebut, berapa jumlahnya, apa saja produk yang dihasilkan, dan berapa jumlah pendapatan mereka selama kurun waktu yang telah kita tentukan.

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 38Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13975Dibaca Per Bulan:
  • 346871Total Pengunjung:
  • 34Pengunjung Hari ini:
  • 13308Kunjungan Per Bulan:
  • 0Pengunjung Online: