Travalgar

Pengangkatan Napoleon Bonaparte sebagai Kaisar Perancis pada tahun 1804 telah membuka babakan baru pada sejarah Eropa. Ambisinya adalah menguasai seluruh jazirah Eropa. Untuk itulah, Napoleon kemudian mem-bangun kekuatan militeraya secara menakjubkan dan menjalin persekutuan dengan negara-negara yang tidak memusuhinya. Di daratan, dapat dikatakan Napoleon berhasil memperoleh keunggulan. Pasukan Perancis berhasil melibas sebagian besar lawan-lawannya, seperti Austria, Prusia dan Belanda. Namun, am-bisi Napoleon menjadi seorang “Kaisar Eropa” yang sesungguhnya, terganjal oleh musuh utamanya, yaitu Kerajaan Inggris.

Sebelum menyatakan perang dengan negeri yang secara geografis dipisahkan oleh Selat Channel dan Benua Eropa tersebut, Perancis menjalin perdamaian melalui Perjanjian Amiens pada tahun 1802. Perdamaian yang hanya “seumur jagung”, karena tahun 1803 Napoleon kembali memaklumkan perang dengan Inggris. Bahkan untuk mencapai kemenangan yang menentukan. Napoleon berencana untuk mendaratkan pasukannya ke daratan Inggris. Disinilah, Napoleon harus menghadapi sebuah kenyataan, bahwa untuk mewujudkan rencananya tersebut, terlebih dahulu harus mencapai keunggulan mutlak di laut. Masalahnya, untuk Angkatan Laut Perancis harus berhadapan langsung dengan AL Inggris yang terkenal tangguh. Semboyan British Rule The Waves, bukanlah omong-kosong belaka, namun sebuah realita. Kedigjayaan AL Inggris terpantul pada luasnya British Empire yang mencakup hampir semua bangsa di dunia. Menaklukkan AL Inggris, menjadi obsesi terbesar Perancis, untuk bisa menguasai Eropa.

Aliansi Angkatan Laut Dan Strategi Pengalihan

Kekhawatiran Napoleon ter-hadap dominasi AL Inggris, ter-utama di perairan sekitar Selat Channel, sangat wajar, karena itulah satu-satunya penghalang terbesar dan terberat jika hendak mendaratkan bala-tentara Pe-rancis ke tanah Inggris. Selain itu, AL Inggris juga telah melakukan blokade laut terhadap armada Perancis dan sekutu-sekutunya. Kondisi ini menyulitkan Perancis untuk berhubungan dengan dunia luar melalui laut. Padahal Napoleon berharap Perancis dapat menghimpun dan mengkonsoli-dasi kekuatannya secara maksi-mal untuk memenangkan perang dari koloni-koloninya. Namun jika mempertimbangkan harus berduel dengan AL Inggris, Napoleon harus berpikir dua kali.

Sebagai langkah awal menghimpun kekuatan AL yang besar dan kuat. Napoleon kemudian beraliansi dengan beberapa negara yang memiliki masalah dengan Inggris, seperti Spanyol dan Belanda. Perancis sebenarnya memiliki kekuatan AL yang memadai. Di Brest terkumpul 22 ka-pal perang, di Toulon ada 12 ka-pal, dan di Rochefort dan Ferrol berkumpul skuadron kapal yang berukuran lebih kecil. Selain itu, Perancis juga diperkuat oleh 32 kapal perang dari L’Armada Ke-rajaan Spanyol. Sepintas tampak ada ketidak-imbangan antara ke-kuatan AL Inggris dengan gabung-an AL Perancis-Spanyol.

Namun, sebagai “penguasa samudera sejati” sudah tentu Inggris pun telah menerapkan strategi dan taktik yang tepat untuk menghantam setiap kapal penyerbu yang coba-coba masuk ke perairan mereka, termasuk mengkonsolidasi kekuatan dari koloni-koloni dan sekutunya. Satu armada di bawah komando Admiral Cornwallis bertugas mencegat setiap gerakan penyerbuan melalui Selat Channel dan mem-blokade Brest. Sementara itu, armada pimpinan Admiral Lord Horatio Nelson memblokade Toulon dan Laut Tengah. Khusus bagi Nelson, mendapat tugas tam-bahan yaitu menaklukkan Pe-rancis di laut. Guna mengalihkan sekaligus mengacaukan konsen-trasi AL Inggris, Napoleon menerapkan taktik dan strategi kamuflase atau manuver pe-nyesatan. Tujuannya, menjauh-kan perkuatan AL Inggris dari Selat Channel dan mengacaukan manuvernya untuk terlambat ber-konsolidasi, agar tidak menjadi ancaman terhadap pendaratan Perancis di Inggris.

Bagian terpenting dari manuver Napoleon yang eksentrik tersebut, adalah pengalihan armadanya di Toulon untuk ber-gabung dengan armada di Brest, serta kapal-kapal lain yang ber-hasil meloloskan diri dari pen-cegatan armada Inggris. Sementara itu, untuk lebih meyakinkan, Napoleon menggerakkan pasukan daratnya ke Eropa bagian timur sekaligus menekan Prusia. Seolah semua manuver penyesatan ter-sebut, mengkamuflase rencananya mendaratkan 4 divisi elitenya Imperial Armee Grandee ke Inggris sekaligus menggabungkan seluruh armada Perancis-Spanyol di Selat Channel.

Reaksi Cepat Nelson

Tanggal 18 April 1805, Admiral Nelson menerima laporan yang mengejutkan, bahwa 10 hari sebelumnya kapal-kapal perang Perancis telah nampak di Tanjung de Gata, dan itu berarti armada musuh tidak bergerak ke arah timur melainkan ke Atlantik. la juga mengetahui bahwa, armada Perancis tersebut di pimpin oleh Vice Admiral Pierre de Ville-neuve. Nelson segera bereaksi memerintahkan armadanya ber-gerak menghadang armada Perancis. Namun Nelson ter-lambat, musuh telah memasuki perairan selatan Spanyol. Guna mencegat Villeneuve agar tidak memasuki Selat Channel, Nelson memerintahkan Admiral Cornwallis (Panglima Skuadron Blokade di Brest) untuk meng-hadangnya. Satu eskader yang terdiri atas 15 ship of the line pim-pinan Vice Admiral Sir Robert Calder segera melesat meng-hadang. Tanpa disadari, pihak Inggris telah masuk perangkap Napoleon, Brest dan Rochefort tidak terlindungi, Sang Kaisar segera memerintahkan Admiral Ganteaume (Komandan Eskader Brest) untuk secepatnya bertolak ke Selat. Sayangnya, rencana Napoleon jadi berantakan, karena sikap terlalu berhati-hati admiral tua tersebut yang enggan meng-gerakkan armadanya.

Armada Villeneuve yang terdiri atas 20 ship of the line dan 7 fregat dengan segera terlibat pertempuran laut yang sengit dengan armada Calder di sebelah barat Teluk Finisterre pada tanggal 22 Juli. Calder berhasil mengatasi perlawanan Villeneuve, yang me-larikan diri dengan sisa armada-nya ke Ferrol. Sebagian besar kapal Perancis dalam keadaan rusak berat, dan parahnya, moril pasukan Perancis melorot drastis akibat sakit, kurang makan dan minum. Sementara itu, selusin kapal Perancis dari Armada Admiral Gourdon (Komandan Eskader Ferrol) tak lebih sekadar “barak terapung”. Kondisi inilah, yang menyebabkan Villeneuve frustasi dan meyakini strategi Napoleon telah berantakan. Napoleon yang tidak dapat menerima kegagalan Villeneuve justru memerintahkannya untuk segera bergerak ke Selat Channel.

“Nelson’s Touch” Di Trafalgar

Di Cadiz, Admiral Villeneuve yang tengah mengkonsolidasi armadanya dengan kapal-kapal Spanyol, mendapat tekanan politik yang hebat dari para perwira di Paris, termasuk Napoleon. Padahal saat itu, Villeneuve tengah menghadapi kendala serius di lingkungan komandonya, seperti awak kapal yang belum berpengalaman, logistik yang kurang, wabah penyakit, kondisi kapal yang diperbaiki ala kadarnya hingga sikap para komandan kapal Spanyol yang tampak setengah hati membantu Perancis. Memang, tak dapat dipungkiri, Spanyol tidak bermaksud se-penuhnya mendukung Imperium Perancis, melainkan sebatas “hanya membantu” mengalahkan Inggris di Laut Tengah dan Atlantik. Tanggal 18 Oktober, pe-rintah menyerang armada Inggris di Channel kembali dikeluarkan oleh Napoleon, tanpa peduli ke-sulitan Villeneuve. Sementara itu, di pihak Inggris, justru sebaliknya. Admiral Nelson berhasil menggabungkan armadanya dengan Divisi Vice Admiral Cuthbert Collingwood, dan didukung prajurit yang handal, berpengalaman dan disiplin. Armada Inggris yang tengah haus musuh tersebut telah menghadang dan siap melakukan pengejaran di mulut bagian barat Selat Gibraltar.

Armada gabungan Spanyol-Perancis yang berkekuatan 33 kapal perang bertolak dari Cadiz tanggal 19 Oktober pukul 6 pagi menuju Gibraltar untuk menjebol blokade Nelson dan akan ber-gabung dengan armada Perancis di Channel. Kekuatan gabungan ini, terdiri atas armada Perancis: 18 kapal dan Spanyol: 15 kapal. Armada Perancis dipimpin oleh Villeneuve berkedudukan di kapal benderanya Bucentaure (80 meriam), sedangkan Spanyol dipimpin Admiral Gravina yang berada di Principe de Asturias (112 meriam). Malang bagi Villeneuve, angin bertiup pelan, sehingga kapal-kapal bergerak lamban.

Pada tanggal 21 Oktober, di perairan Trafalgar, manuver Villeneuve terpantau jelas oleh Nelson yang kemudian segera me-merintahkan penghadangan. Armada Inggris berkekuatan 27 kapal, yang dipimpin langsung oleh Admiral Nelson yang ber-kedudukan di kapal benderanya HMS Victory (100 meriam), dan komandan keduanya Collingwood berada di HMS Royal Sovereign (100 meriam). Melihat situasi yang tidak menguntungkan ter-sebut, Villeneuve mengambil ini-siatif berbalik arah kembali ke Cadiz dan bermaksud berlindung disana. Nelson yang tidak ingin “mangsanya” lolos, segera memerintahkan pengejaran.

“England expects that every man will do his duty!”

Taktik yang digelar Nelson ter-bilang revolusioner untuk ukuran awal abad ke-19, yaitu dengan memotong jalur lintasan musuh menjadi 3 bagian, mematahkan garis pertahanan musuh dan kemudian kedua kolom serempak melepaskan tembakan untuk menciptakan suatu kekacauan umum. Taktik yang cukup berbahaya, ka-rena menempatkan kapal pertama sebagai ujung tombak menjadi bulan-bulanan tembakan musuh, sebelum kapal lain membantunya. Nelson memang menolak taktik perang tradisional masa itu, yaitu membentuk garis di depan dimana dua kekuatan saling berhadapan dan melepaskan tembakan berun-tun. Taktik Nelson inilah yang ke-mudian hari dikenang sebagai “Sentuhan Nelson (The Nelson’s Touch)”.

Keadaan lain yang menguntungkan pihak Inggris, adalah kekacauan di garis pertahanan Perancis-Spanyol. Instruksi Villeneuve untuk berbalik arah telah mengacaukan formasi garis pertahanan, karena kapal-kapal saling bermanuver dan sibuk membentuk kelompok-kelompok, padahal musuh hanya tinggal berjarak 5 mil. Kekacauan tersebut, menyebabkan para perwira Spanyol dikemudian hari, menyebut armada gabungan ini se-bagai “Armada Terkutuk”. Situasi inilah yang berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Nelson untuk memotong garis pertahanan musuh dan mendapatkan posisi se-rang yang lebih baik. Pertempuran Laut Trafalgar berkobar dengan sengitnya pada tanggal 21 Oktober 1805. Kapal-kapal saling melepaskan tembakan dan jika posisi berdekatan pasukan dari kedua pihak dapat saling berlompatan ke kapal musuh.

Berakhirnya Ambisi Napoleon

Taktik radikal Nelson yang dikenang sebagai “Nelson’s Touch” telah mengubah AL Inggris, yang di atas kertas kalah jumlah, menjadi pemenang mutlak tanpa ada satupun kapalnya yang tenggelam. Namun kemenangan gemilang Inggris tersebut harus ditebus dengan harga mahal, yaitu gugurnya Admiral Sir Horatio Nelson. Panglima jenius AL Kerajaan Inggris gugur setelah ter-tembus peluru dari penembak jitu Perancis asal Tyrol yang banyak berada di kapal Redoubtable, ketika tengah berdiri sambil mem-beri semangat pasukannya di quarter-deck. Nelson tertembak pada jarak 15 meter dari Redoubtable pukul 13.15 dan meninggal 3 jam kemudian. Sebagai pengganti Nelson, adalah perwira keduanya Admiral Hardy. Armada gabungan Perancis-Spanyol kehilangan 18 kapal dari 33 kapal dengan korban tewas 5.860 orang dan 20.000 terluka. Sementara itu, Panglima AL Perancis Admiral Pierre-Charles de Villeneuve dan kapal benderanya Bucentaure tertangkap Inggris. Korban di pihak Inggris mencapai 1.690 orang gugur. Kapal-kapal dari armada gabungan Perancis-Spanyol yang tersisa berhasil meloloskan diri ke Cadiz.

Trafalgar telah menjadi contoh mengenai keunggulan Inggris di bidang persenjataan, taktik perang laut dan industri maritim. Kapal-kapal Inggris memiliki kemampuan manuver lebih baik dibandingkan kapal Perancis-Spanyol dan dipersenjatai dengan meriam yang berdaya-jangkau lebih jauh.

Namun meskipun demikian, kekalahan Perancis-Spanyol dalam Pertempuran Laut Trafalgar 1805 sesungguhnya lebih disebabkan oleh kekeliruan mereka sendiri, dibandingkan keunggulan lawan. Trafalgar menjadi saksi sejarah yang kian meneguhkan dominasi Inggris di lautan dan memupuskan ambisi Napoleon untuk menaklukkan Inggris.

Sejak itu. Napoleon lebih memfokuskan perhatiannya pada penaklukan secara kontinental., itulah perintah Nelson kepada seluruh anak buahnya yang menyambutnya dengan sorakan kegirangan, seolah tidak gentar sedikitpun menyongsong musuh yang lebih besar. Dalam menekan musuh-musuhnya. Nelson membagi kekuatannya menjadi 2 kolom. Kolom pertama dipimpin langsung olehnya dengan Victory berada di posisi ujung tombak, dan kolom kedua dipimpin Collingwood dengan ujung tombak

sumber: http://warofweekly.blogspot.com

SILAKAN BERI KOMENTAR

Temui Kami di Facebook

Statistik

  • 36Dibaca Hari Ini:
  • 1839Dibaca Kemarin:
  • 13973Dibaca Per Bulan:
  • 346869Total Pengunjung:
  • 32Pengunjung Hari ini:
  • 13306Kunjungan Per Bulan:
  • 0Pengunjung Online: